Ameera

Ameera
Viona mengetahui sesuatu ?



šŸ’„Tetaplah cengar cengir meski hati ketar ketiršŸ’„


"Ayo kita menikah ?" tukas Awan yang langsung membuat Ameera menghentikan pukulannya lalu menatap kesungguhan pria itu.


"Ayo menikah meski tanpa restu kedua orangtuaku !!" Awan menegaskan kata-katanya lagi.


"Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku, mereka tidak akan setuju jika orang tuamu tidak setuju ?" keluh Ameera.


"Cuti nanti kita bujuk mereka bersama ya !!" ajak Awan bersungguh-sungguh, menurutnya lebih mudah meyakinkan kedua orangtua Ameera dari pada orang tuanya sendiri.


Ia menyadari keluarganya masih menjunjung tinggi silsilah keluarga seperti bibit, bebet dan bobot saat mencari seorang menantu dan itu sudah menjadi aturan turun temurun.


"Hm." angguk Ameera, bagaimana pun juga ia sangat mencintai Awan.


Biarlah Tuhan yang menentukan akhir kisah cintanya, ia akan menjalani alurnya dan menikmati prosesnya.


"Mulai hari ini jangan pernah kemana-mana jika tidak ada aku, akan ku pastikan kemana pun kamu pergi itu selalu bersamaku." janji Awan yang langsung di angguki oleh Ameera, semoga saja pria itu tetap keukeh memegang janjinya.


Keesokan harinya.....


"Kenapa mama membohongiku dengan pura-pura menyetujui hubungan kami? dan pasti mama sudah merencanakan semuanya kan agar bisa menghina Ameera ?" tuding Awan pagi itu saat menghubungi orang tuanya.


"Mama tidak merencanakan apa-apa dan mama juga tidak ada menghina Ameera nak, coba tanya dia ada tidak mama marah atau menghinanya ?" kilah nyonya Amanda.


"Mama melakukannya melalui tante Ratna." tuding Awan lagi sesuai cerita Ameera semalam.


"Maafkan mama nak, mama hanya ingin yang terbaik buat kamu...." nyonya Amanda belum menyelesaikan perkataannya tapi Awan sudah menyelanya.


"Hanya Ameera yang terbaik buatku ma, nggak ada yang lain." sela Awan dengan nada tegas.


"Coba kamu pikirkan sekali lagi nak, di luaran sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik daripada Ameera." sepertinya nyonya Amanda masih belum menyerah untuk membujuk putranya tersebut.


"Terbaik buat mama tapi bukan untukku, bagiku hanya Ameera yang terbaik. Jika memang mama sama papa tidak menyetujui hubungan kami, aku terpaksa akan menikahi Ameera tanpa kalian." ancam Awan yang langsung membuat nyonya Amanda tersentak.


"Kamu jangan macam-macam, nak. Semua bisa di bicarakan." teriaknya kemudian.


"Hanya kematian yang bisa memisahkan ku dengan Ameera, Ma. Mama tahu kan bagaimana sifatku? aku bisa melakukan segala cara tanpa mama duga." tegas Awan lagi yang langsung membuat nyonya Amanda histeris.


Wanita paruh baya itu nampak terbelalak mendengar ancaman putranya itu.


"Sadar Nak, jangan gegabah. Baiklah mama dan papa akan merestui kalian." tukas nyonya Amanda pada akhirnya, meski terpaksa tapi ia juga tidak mau kehilangan putra satu-satunya itu yang sudah ia besarkan dengan penuh kasih sayang.


"Ku pegang janji mama." tegas Awan, setelah itu ia langsung mematikan panggilannya.


Ia terpaksa menggunakan ancaman agar orang tuanya mau menuruti keinginannya.


"Nih anak kenapa bisa keras kepala sekali sih." gerutu nyonya Amanda setelah Awan mematikan panggilannya secara sepihak.


"Kan nurun sifatmu." timpal pak Djoyo yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka, pria itu nampak menikmati segelas kopinya sembari membaca koran setelah menyelesaikan sarapannya.


"Papa meledekku ?" cebik nyonya Amanda.


"Terus papa harus bilang sifat keras kepalanya Awan nurun dari tetangga ?" pak Djoyo nampak menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya itu.


"Pokoknya mama nggak mau tahu, Awan harus menikah dengan gadis pilihan mama." tegas nyonya Amanda.


"Sudahlah Ma, restui saja mereka dari pada Awan jadi anak pembangkang." bujuk pak Djoyo.


"Enak saja, gadis itu tak bisa semudah itu masuk keluarga besar kita. Dulu mama yang punya segalanya saja masih di persulit sama keluargamu." gerutu nyonya Amanda mengingat masa lalunya hingga membuatnya menjadi egois seperti saat ini.


"Jadi ceritanya mama balas dendam? lagipula dulu mama di persulit bukan karena hal lain tapi masalah keyakinan kita yang berbeda." Pak Djoyo mengingatkan.


"Tetap sama aja mama di persulit juga." keukeh nyonya Amanda tak mau kalah.


"Sudahlah ma jangan marah-marah terus, nanti cantiknya hilang loh." goda pak Djoyo seraya mencubit dagu istrinya tersebut, namun nyonya Amanda yang masih kesal langsung menepis tangan suaminya itu.


"Pokoknya Mama nggak mau tahu." dengusnya, kemudian beranjak dari duduknya.


"Ma, mau kemana ?" pak Djoyo menahan kekehannya saat melihat istrinya ngambek.


"Malam ini papa tidur saja di kamar sebelah." sahut Nyonya Amanda seraya berlalu pergi.


Disisi lain Awan nampak menatap Ameera diam-diam dari kursi kerjanya saat gadis itu terlihat becanda dengan Nita dan sesekali terkekeh.


Sejak kejadian semalam, ia merasa semakin mencintai gadis itu. Hasratnya selalu timbul hanya dengan menatapnya saja.


Sepertinya ia harus segera menikahinya agar tidak semakin tersiksa menahan gairahnya yang menggebu-gebu.


Bahkan kini miliknya di bawah sana sudah meronta tak karuan. "Sialan." umpatnya yang langsung membuat Ameera dan Nita menatap ke arahnya.


"Aku sepertinya sakit." sahut Awan asal


"Serius." Ameera langsung bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekat.


"Hm." Awan mengangguk menatapnya.


"Sini ku lihat." Ameera langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi pria itu.


"Astaga, kamu agak panas mas." tukasnya dengan wajah cemas.


"Ya sudah mas pulang saja istirahat, mas ada stok obat kan ?" imbuhnya lagi.


"Kamu ikut ya ?" Awan memasang wajah memelas menatap Ameera.


"Mas kan masih kuat jalan, pulang sendirilah kerjaan ku masih banyak." tolak Ameera.


"Sebentar saja sayang, ayo." tanpa menunggu persetujuan Awan langsung menarik tangan Ameera lalu membawanya keluar ruangan tersebut.


"Titip ruangan, Nit." teriaknya kemudian sembari berlalu pergi.


Sementara Nita nampak menaikkan sebelah alisnya tak percaya. "Dasar kang modus." gerutunya kemudian.


"Mas, kok malah kesini sih ?" protes Ameera saat kekasihnya itu membawanya ke belakang kantornya dan bukannya pulang ke mes untuk mengambil obat.


"Aku kangen." sahut Awan menatap lekat gadis itu.


"Modus." sungut Ameera, sungguh ia masih sangat kesal dengan perbuatan pria itu semalam yang tega memperkosanya untuk kedua kalinya.


"Beneran aku kangen." Awan nampak menatap Ameera penuh hasrat, sejak menggauli gadis itu semalam ia seperti tak bisa lepas darinya.


"Kamu kan sakit mas, ayo ku temani ambil obat." Ameera mengingatkan.


"Aku cuma sakit kangen sayang." tukas Awan kemudian.


"Mana ada seperti itu, kamu jangan modus deh mas." sewot Ameera dengan kesal.


"Ya sudah kalau tidak percaya, lebih baik aku merokok lagi biar bisa mengobati kangen." ucap Awan seraya melirik kekasihnya itu.


"Kamu sebenarnya kangen aku apa rokok sih ?" Ameera nampak menyipitkan matanya.


"Kamu." sahut Awan.


"Beneran ?"


"Rokok juga." sahut Awan dengan tersenyum nyengir.


"Katanya sudah nggak merokok lagi." sungut Ameera.


"Ya nggak sayang, tapi kamu belum kasih penawarnya jadi ingat lagi." ucap Awan dengan menahan kekehannya.


"Dasar modus." cebik Ameera.


"Ya sudah merem." perintah Ameera kemudian yang langsung di turuti oleh Awan.


Pria itu nampak bersiap menerima ciuman dari kekasihnya tersebut, namun ia langsung kesal saat Ameera hanya mengecup pipinya dan bersamaan itu tiba-tiba seseorang berteriak histeris.


"Kalian kok berciuman ?" Viona nampak tak percaya saat melihat Ameera mencium pipi Awan.


Sementara Awan dan Ameera langsung menjauhkan wajahnya.


"Mati aku." gumam Ameera kemudian.


Sedangkan Awan nampak mendengus kesal karena Viona sudah mengganggunya. "Sialan." gerutunya.


"Bisa kalian jelaskan ?" Viona yang masih syok langsung meminta penjelasan.


"Kami pacaran, memang ada masalah ?" tegas Awan seraya merangkul bahu Ameera.


"Tidak mungkin, aku akan melaporkan kalian ke pak Mario." Viona menatap tajam Ameera, setelah itu ia berlalu pergi.


"Mas, bagaimana kalau aku di pecat ?" Ameera nampak cemas dengan wajah mendadak pucat.


"Kita hadapi saja sayang, mau gimana lagi ?" sahut Awan yang seperti tak ada beban, bahkan pria itu masih bisa tersenyum nyengir menatap Ameera.


"Mas, kenapa kamu bisa sesantai itu sih ?" protes Ameera.


"Terus bagaimana sayang? palingan kita di pecat atau sejelek-jekeknya kita akan di giring ke KUA." sahut Awan yang langsung membuat Ameera melotot menatapnya.