
💥Cemburu tanda sayang dan rasa itu tidak di larang, tapi jangan cemburu yang berlebihan sebab hanya akan menghancurkan sebuah hubungan💥
Malam itu Ameera merebahkan tubuhnya di atas kasur busanya setelah seharian lelah bekerja.
Baru juga terlelap ia nampak terkejut saat ponselnya berdering nyaring.
"Meera, kunci kamarku mana ?" ucap Awan saat Ameera baru mengangkat panggilannya.
"Kamu sudah datang? sebentar ya." sahut Ameera setelah itu mematikan panggilan Awan.
Ameera nampak mengambil kunci yang masih ia simpan di dalam tasnya, kemudian ia segera berlalu ke kamar Awan.
"Katanya minta kunci, tapi orangnya nggak ada." gerutu Ameera saat tak melihat keberadaan Awan di sana.
Tak berapa lama kemudian ponselnya berdering lagi, lalu ia segera menjawabnya.
"Tungguin dulu ya, masih macet. Kalau kamu capek berdiri, tunggu saja di kamarku sebentar lagi aku datang." mohon Awan dari ujung telepon.
Ameera nampak menghela napasnya. "Hm, baiklah." sahut Ameera lalu ia mematikan panggilannya.
Setelah berpikir sejenak, ia nampak membuka pintu kamar Awan lalu ia masuk ke dalam.
Ia takut jika mondar-mandir di depan pintu kamar pria itu akan jadi gosip jika ada yang melihatnya.
Lagipula ia percaya Awan tidak akan berbuat macam-macam, dua kali ia tidur di kamar pria itu tapi dia sama sekali tak berbuat lebih selain mencuri ciumannya.
Ameera nampak menunggu Awan sembari bermain game di ponselnya dan tak berapa lama Awan membuka pintu kamarnya.
"Syukurlah kamu sudah pulang, aku sangat mengantuk." keluh Ameera sembari beranjak dari duduknya.
Awan langsung meletakkan tas kerjanya di atas nakas dan penampilannya nampak sedikit berantakan.
"Terima kasih." ucapnya.
"Kamu mau kemana ?" imbuhnya lagi saat Ameera beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Tentu saja kembali ke kamarku, aku sangat mengantuk." keluh Ameera, namun saat ia akan membuka pintu Awan langsung mencegahnya.
"Tunggu." timpal pria itu sembari mendekati Ameera, lalu langsung memeluk gadis itu dari belakang.
"Aku merindukanmu." imbuhnya lagi sembari menghirup dalam-dalam aroma rambut Ameera yang harum.
"Mas tolong lepaskan aku." mohon Ameera saat mencium bau asap rokok yang menguar dari tubuh Awan bahkan ia mencium sedikit bau alkohol.
Awan sepertinya tak mengindahkan permohonan Ameera, pria itu semakin mengeratkan pelukannya lalu mulai mengecupi kulit leher gadis itu.
Rambut Ameera yang di kucir kuda, membuat Awan dengan leluasa mengeksplor kulit leher putihnya.
Ameera yang baru merasakan di sentuh seorang pria selain ciuman, darahnya langsung berdesir hebat.
Tubuhnya meremang, napasnya terengah-engah dan kakinya mendadak lemas seperti jelly.
"Mas tolong lepaskan aku." mohonnya lagi saat merasakan tengkuknya di gigit kecil-kecil oleh Awan bahkan pria itu nampak menghisapnya hingga membuatnya langsung mendesah kecil.
Ada perasaan yang tak biasa yang baru ia rasakan, tubuhnya seakan menikmati perlakuan pria itu namun hatinya berkeras menolak hingga ia mencoba untuk meronta.
Mendapatkan penolakan dari kekasihnya, tak membuat Awan menyerah begitu saja. Pria itu nampak memutar tubuh kekasihnya hingga kini menghadap ke arahnya.
Kemudian sedikit mendorongnya ke dinding belakangnya, lalu mencekal kedua tangan Ameera di atas kepalanya.
Setelah itu Awan langsung m3lum4t bibirnya dengan rakus, menyesapnya lalu sedikit menggigit bibir bawahnya saat gadis itu enggan membukanya.
Setelah puas bermain-main dengan bibir kekasihnya tersebut, kini Awan nampak menurunkan ciumannya ke leher putih gadis itu lalu memberikannya banyak kissmark di sana.
"Mas." Ameera nampak memohon, air matanya sudah mengalir deras membasahi pipinya hingga membuat Awan seperti tersadar dengan tindakannya.
"Maafkan aku." ucapnya seraya melepaskan cekalan tangannya pada tangan Ameera.
"Kamu keterlaluan, mas." sungut Ameera setelah itu ia berlalu meninggalkan kamar kekasihnya tersebut.
Namun saat membuka pintu kamar Awan hujan turun begitu deras, entah sejak kapan padahal tadi belum ada tanda-tanda hujan.
Ameera tetap saja melangkah, namun tiba-tiba bunyi petir menyambar nyaring hingga membuat Ameera terlonjak kaget.
Kakinya langsung lemas, tubuhnya bergetar serta jantungnya berdetak kencang, jujur ia sangat takut saat ini.
Namun tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluknya memberikan rasa nyaman. "Kamu baik-baik saja, sayang ?" tanya Awan dengan khawatir.
"Aku takut, mas." Ameera seakan masih trauma saat mengingat cahaya petir di hadapannya tadi.
"Jangan takut sayang, aku di sini akan selalu melindungimu." tukas Awan meyakinkan, lalu ia membawa Ameera kembali masuk ke dalam kamarnya.
Gairahnya yang sudah memuncak semakin menginginkan gadis yang berada dalam pelukannya tersebut.
Tak berpikir panjang Awan langsung membawa Ameera yang sedang ketakutan ke atas ranjangnya.
"Mas, apa yang kamu lakukan." protes Ameera saat menyadari kini dirinya sudah berada di atas ranjang kekasihnya tersebut.
"Aku sayang sama kamu, tolong jangan tinggalkan aku." mohon Awan yang kini berada di atas tubuh Ameera.
"Mas, sadar mas. Apa kamu sedang mabuk ?" teriak Ameera saat Awan mencekal kedua tangannya.
"Ya aku mabuk, aku mabuk kamu Ameera tolong jangan tinggalkan aku." mohon Awan dengan pandangan berkabut, rasa untuk memiliki gadis itu begitu besar.
Ia sangat takut kehilangan Ameera, ia takut Fajar mengambilnya darinya. Apalagi pria itu sudah pernah mengambil kesucian gadis itu.
"Mas, ku mohon lepaskan aku." mohon Ameera, ia mulai menitikkan air matanya, cekalan Awan begitu terasa menyakitkan.
Tubuh kekar itu terasa menyesakkan saat menindih tubuh kecilnya yang sudah lemah kehabisan tenaga.
Sepertinya pendengaran Awan sudah tergantikan oleh hasrat dan obsesi untuk memiliki Ameera hingga ia tak menghiraukan bagaimana gadis itu memohon dengan isakan tangis yang terdengar memilukan.
Hujan yang sangat deras dan di sertai petir yang saling bersahutan seakan mendukung pria itu untuk menjadikan kekasihnya sebagai miliknya seutuhnya.
Pria itu mulai melucuti pakaian gadis itu satu persatu lalu melemparkannya ke sembarangan arah, tak peduli bagaimana Ameera meronta di sisa tenaganya.
Setelah membuat sang kekasih polos tanpa benang yang menutupi tubuhnya, Awan nampak melepaskan pakaiannya sendiri hingga kini mereka terlihat sama-sama tak berbusana.
Setelah itu Awan kembali m3lum4t bibir Ameera dengan rakus dan menuntut, kemudian ia menurunkan ciumannya ke leher gadis itu yang nampak terdapat banyak kissmark karena ulahnya tadi.
Ia menggigit kecil-kecil lalu menyesapnya dengan penuh perasaan hingga membuat Ameera mau tak mau mendesah nikmat.
Lalu Awan menurunkan lagi bibirnya semakin ke bawah hingga kini ia berada di depan kedua gundukan indah milik Ameera yang terlihat menantang di hadapannya.
Pandangan Awan menggelap, naluri kelelakiannya langsung menuntunnya untuk m3lum4t puncak yang masih memerah itu hingga membuat Ameera mendesah berkali-kali.
Mendengar d3s4h4n Ameera membuat Awan semakin menggila, suara indah gadis itu membuatnya semakin melakukannya lebih dalam lagi.
"Mas ku mohon jangan lakukan ?" mohon Ameera dengan berderai air mata saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana sedang berusaha mengoyak miliknya yang selama ini selalu ia jaga.