Ameera

Ameera
Part~121



Sejak memiliki mobil, Awan ke kantornya tak lagi menggunakan motornya dan membiarkan kuda besinya itu terbengkalai di garasi rumahnya.


"Mas, aku boleh pakai motornya nggak ?" tanya Ameera pagi itu saat mereka sedang sarapan bersama.


"Mau kemana sayang ?" Awan langsung menghentikan kunyahannya.


"Buat ke rumah mama atau tante Selvi mas." sahut Ameera, karena biasanya ia kesana naik ojek atau taksi. Namun sejak suaminya itu mengambil mobil ia harus lebih berhemat lagi.


Awan nampak berpikir sejenak, sebenarnya ia tak tega membiarkan istrinya itu membawa motor meski wanita itu bisa mengendarainya.


"Ayolah mas, kalau aku beli makanan di depan juga lebih dekat tidak usah jalan kaki lagi." bujuk Ameera dengan wajah memelas.


"Baiklah, tapi kamu pakai jika benar-benar perlu saja ya. Aku nggak suka kamu terlalu banyak keluyuran, karena di luar sana pasti banyak laki-laki yang melirikmu." sahut Awan pada akhirnya meskipun ia kurang rela.


"Terima kasih ya mas." Ameera langsung tersenyum senang, sebenarnya ada hal penting kenapa ia menginginkan motor itu karena dia sedang berbisnis pakaian dan kosmetik dengan tetangganya yang baru ia kenal.


Ameera yang kasihan gaji suaminya selalu habis untuk keperluan rumah tangga dan mobilnya. Akhirnya ia berusaha juga untuk mencari uang sendiri, Ameera akan buktikan pada ibu mertuanya jika ia bukan wanita yang suka menghabiskan uang suaminya saja.


"Sayang, aku lihat kamu sering di hubungi oleh tetangga kita itu memang dia ada perlu apa ?" selidik Awan, sebenarnya sudah lama ia curiga dengan istrinya itu.


Ameera nampak melebarkan matanya, lalu terlihat salah tingkah. Sepertinya lebih baik ia jujur saja.


"Sebenarnya aku ada bisnis kecil-kecilan bareng dia mas, aku bantuin dia promosikan jualannya. Meski untungnya tak seberapa paling tidak bisa ku tabung." akhirnya Ameera berkata jujur.


"Memang bulanan yang ku kasih masih kurang ?" sinis Awan, meski ia memberikannya tak sebanyak seperti sebelumnya tapi menurutnya masih cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Apalagi akhir-akhir ini ia sering lembur agar dapat pemasukan lebih.


"Bukan begitu mas, sebenarnya aku terlalu lama berdiam diri di rumah juga bosan. Lagipula bisnis itu juga tak menyita banyak waktu, boleh ya mas? aku janji tidak akan melupakan tugasku sebagai istri." mohon Ameera lagi-lagi dengan wajah memelasnya.


Awan nampak menghela napasnya sejenak. "Maafkan aku yang membuatmu harus susah begini." ucapnya kemudian.


"Aku tidak susah kok mas dan tidak juga menderita, aku senang dengan pekerjaanku ini percayalah." Ameera langsung menggenggam tangan pria itu untuk meyakinkan.


Awan mengangguk ragu. "Tapi tolong jangan terlalu lelah." ucapnya kemudian.


"Terima kasih mas." Ameera merasa lega akhirnya usahanya di restui oleh suaminya itu semoga ke depannya bisnisnya semakin sukses.


Kini tak terasa hampir dua bulan Ameera berbisnis kecil-kecilan dan keuntungannya lumayan untuk ia tabung dan memenuhi kekurangan kebutuhan rumah tangga. Berapa pun yang suaminya berikan, Ameera tak pernah mengeluh karena ia masih mempunyai uang tabungannya sendiri.


"Mas hari ini kamu jadikan mengajak ku jalan-jalan rasanya sudah lama sekali kita tak pergi keluar." ucap Ameera pagi itu, karena akhir-akhir ini suaminya selalu lembur dan kebetulan hari ini sedang tanggal merah.


"Jadi dong sayang, hari ini kamu mau kemana akan ku temani." sahut Awan yang masih bergelung dengan selimutnya, matanya nampak terpejam sepertinya pria itu masih sangat mengantuk.


"Ke rumah bunda dan ayah saja gimana mas, kita sudah lama tak kesana." ajak Ameera yang langsung membuat suaminya itu membuka matanya.


"Kamu kok keramas sayang, memang sudah selesai ?" tanya Awan saat melihat istrinya itu membungkus rambutnya dengan handuk, mengingat beberapa hari ini wanita itu mendapatkan periode bulanannya. Meski hingga tahun kedua pernikahannya mereka belum mendapatkan momongan, Awan sedikit pun tak pernah mempermasalahkannya.


"Hm." Ameera mengangguk kecil.


"Ya sudah, tunggu ya aku mau mandi dulu." Awan langsung bergegas beranjak dari tidurnya.


"Ini masih pagi mas, nggak sekarang juga jalannya." teriak Ameera saat suaminya terburu-buru masuk ke dalam kamar mandinya.


"Bukan itu sayang." sahut Awan lalu segera menutup pintu kamar mandinya dan tak berapa lama pria itu keluar dengan handuk yang melilit di bawah pusarnya.


"Kau harus bertanggung jawab sayang karena sudah membiarkan milikku berpuasa seminggu ini." ucap Awan seraya mengungkung istrinya itu lalu langsung m3lum4t bibirnya dengan rakus dan setelah itu terjadilah apa yang memang harus terjadi.


Siang harinya Ameera baru mengerjapkan matanya setelah tertidur akibat kelelahan karena bercinta dengan suaminya itu.


"Mas kok nggak bangunin aku sih." protesnya saat melihat jam di atas nakas yang menunjukkan pukul dua siang.


"Kamu kelihatan lelah sayang jadi mana tega aku bangunin." sahut Awan yang sedang menonton televisi tak jauh darinya itu, wajahnya terlihat puas setelah mendapatkan kebutuhan biologis dari wanita itu.


"Kita nggak jadi ke rumah bunda dong mas." cebik Ameera padahal ia ingin sekali pergi mengunjungi orang tuanya.


"Jadi jalannya sayang, tapi ke tempat lain saja ya ini sudah hampir sore." ajak Awan kemudian yang langsung membuat wanita itu tersenyum senang, tak apalah tidak ke rumah orang tuanya yang penting ia bisa jalan-jalan meski hanya sebentar.


Setiap hari menghabiskan waktunya di rumah membuatnya merasa sangat jenuh karena bisnisnya pun kini bisa ia pantau juga dari rumahnya.


Ameera segera beranjak dari tidurnya namun tiba-tiba wanita itu meringis saat merasakan perih di daerah intimnya. Hasrat suaminya memang benar-benar luar biasa hingga membuat pria itu tak bisa bermain hanya sebentar saja.


"Masih sakit ya ?" Awan langsung beranjak lalu menghampiri istrinya itu.


Ameera menggelengkan kepalanya. "Cuma sedikit." dustanya kemudian, ia tak ingin banyak mengeluh karena takut di anggap istri yang tak mampu melayani suaminya dengan baik.


"Maafkan aku ya." Awan langsung membantu istrinya itu ke kamar mandi, bagaimana pun juga wanita itu kesakitan karena ulahnya.


Beberapa saat kemudian Anne dan Awan telah siap untuk pergi, mereka memutuskan untuk menonton bioskop saja. Menghabiskan waktu berdua yang akhir-akhir ini jarang sekali mereka lakukan karena kesibukan Awan di kantornya yang sering lembur.


"Awan, Ameera."


Tiba-tiba seseorang berteriak dari luar rumahnya, Ameera yang baru keluar dari kamarnya langsung mengintip dari jendela.


"Mama mas." ucapnya kemudian.


"Ya sudah bukain saja, sayang." timpal Awan.


Ameera segera membuka pintu dan menyuruh ibu mertuanya itu untuk masuk. "Silakan masuk ma." ucapnya kemudian.


"Awan mana ?" tanya nyonya Amanda yang sepertinya enggan untuk masuk, wanita itu nampak berdiri di teras dengan kaca mata hitamnya dan sebuah kipas di tangannya.


"Sebentar ma, Meera panggil dulu." Ameera kembali masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil sang suami.


"Ada apa ma ?" tanya Awan kemudian.


"Anterin mama ke kondangan dong Wan." ajak ibunya itu tiba-tiba.


"Nggak bisa ma, aku mau jalan sama istriku." tolak Awan.


"Oh jadi kamu nggak mau nganterin ibumu yang sudah melahirkanmu ini ?" sungut nyonya Amanda.


"Mama kan punya mobil sendiri." timpal Awan.


"Pokoknya mama nggak mau tahu kamu harus anterin mama, titik." tegas nyonya Amanda tak mau di bantah.


"Sudah nggak apa-apa mas, anterin mama saja." bisik Ameera, ia mencoba bersabar meski entah sampai kapan karena setiap suaminya libur ibu mertuanya itu selalu mengganggunya dengan berbagai alasan dan jika suaminya menolak maka sumpah serapah akan terlontar dari bibirnya itu.