Ameera

Ameera
Part~85



"Mas, ada yang datang." Ameera mendorong tubuh suaminya saat mendengar kamarnya di ketuk dari luar.


"Biarkan saja, sayang." Awan nampak enggan beranjak dari atas tubuh istrinya itu bahkan ia mulai menggerakkan miliknya kembali, sepertinya sekali saja tak cukup bagi pria itu.


"Mas..." protes Ameera namun suaminya sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya dan selanjutnya hanya suara ******* yang memenuhi kamar tersebut.


Sementara Mala yang masih berada di depan pintu kamar anak majikannya tersebut nampak menendang pintu dengan pelan saat samar-samar mendengar suara percintaan dari dalam.


Ia sudah berpenampilan terbaik malam ini namun sepertinya sia-sia saja karena tak di lihat oleh Awan, tapi ia tak menyerah untuk mendapatkan perhatian pria itu.


Apalagi istrinya itu tak di sukai oleh ibunya dan ia akan memanfatkan celah untuk mengambil hatinya.


"Cepat atau lambat aku yang akan berada di dalam sana." gumamnya dalam hati saat mendengar suara ******* dari dalam kamar tersebut yang semakin membuat hatinya panas.


"Bagaimana La, apa Awan sudah keluar ?" tanya nyonya Amanda saat melihat Mala menuruni anak tangga.


"Belum bu." sahut Mala.


"Kamu yang nyaring ketuk pintunya." perintah sang majikan.


"Sudah bu tapi pak Awan dan bu Ameera sedang....." Mala nampak menjeda perkataannya, rasanya muak sekali untuk mengatakannya.


"Sedang apa mereka ?" nyonya Amanda mengerutkan dahinya.


"I-itu bu, ber-cin-ta." lirih Mala yang langsung membuat nyonya Amanda geleng-geleng kepala, wajahnya nampak masam karena ternyata tak sesuai dugaannya.


"Ya sudah kamu pergi tidur sana." perintahnya kemudian yang langsung di anggukin oleh pembantunya itu.


"Tidak bisa di andalkan." gerutunya saat melihat gadis yang baru menginjak 18 tahun itu pergi ke kamarnya.


Keesokan harinya.....


"Mas masih marah ?" tanya Ameera yang berada dalam pelukan suaminya pagi itu, ia khawatir jika suaminya masih cemburu karena Tommy kemarin.


"Aku janji nggak akan lagi mas, lagipula aku sudah cuek tapi pak Tommy yang tidak mau menyerah." imbuh Ameera mencoba menjelaskan lagi.


"Baiklah, aku percaya tapi ada yang bikin aku sangat marah." terang Awan yang langsung membuat Ameera mendongakkan kepala menatapnya.


"Apa ?" tanyanya penasaran.


"Bisa tidak kamu tegas dengan teman-temanmu ?" ucap Awan.


"Tegas bagaimana ?" Ameera nampak tak mengerti.


"Kamu sedang di manfaatkan teman-temanmu sayang, apa kamu tidak sadar ?" tanya Awan balik.


Ameera langsung menggeleng. "Kasihan mereka mas...." ucapnya namun Awan langsung menyelanya.


"Kamu kasihan sama mereka? kamu tahu perusahaan gaji mereka berapa? bahkan pakaian, sepatu dan tas yang mereka kenakan itu branded semua sayang." terang Awan yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya, sungguh ia tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.


"Maaf." ucapnya pada akhirnya, ia nampak menyesal.


"Sudah nggak apa-apa, lain kali jangan lakukan itu lagi atau tidak kamu tidak boleh bekerja lagi di kantor." tegas Awan.


"Jangan mas, aku masih mau bekerja." mohon Ameera dengan wajah bantalnya, karena baru saja bangun tidur.


Awan yang nampak gemas langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya kembali, sifat polos wanita itu yang membuatnya selalu ingin melindunginya.


Beberapa saat kemudian setelah membersihkan dirinya Ameera dan Awan segera menuruni anak tangga dengan setelan kerjanya.


"Selamat pagi ma, pa." sapa Awan yang nampak bahagia pagi itu, senyumnya terus mengembang menyapa kedua orang tuanya tersebut.


"Pagi." sahut pak Djoyo seraya melipat surat kabar yang baru selesai ia baca.


"Mas, ini tempat dudukku." Ameera protes saat suaminya duduk di kursi yang biasa ia duduki.


"Ya sudah sini pangku." goda Awan seraya menepuk pahanya agar istrinya itu duduk di sana.


"Iya sayang, iya." melihat istrinya mulai ngambek, Awan langsung beranjak lalu mencubit hidung wanita itu dengan gemas.


Nyonya Amanda yang sedang duduk di seberang Ameera nampak menelisik wajah putra dan menantunya itu yang terlihat bahagia, seperti tak ada tanda-tanda sedang bertengkar seperti semalam.


Ehemm


Wanita paruh baya itu berdehem sebelum membuka suaranya yang langsung membuat Awan berhenti menggoda sang istri.


"Jadi apa sudah ada tanda-tanda kamu hamil, Meera ?" ucapnya kemudian.


Deg!!


Ameera langsung tersentak, sepotong roti yang sudah berada di depan bibirnya kini urung ia makan lalu ia taruh kembali ke dalam piringnya.


"Be-belum, ma." sahut Ameera gugup.


"Kenapa bisa lama sekali, perasaan dulu mama setelah menikah langsung hamil." terang nyonya Amanda.


"Kedua kakak saya juga begitu bu, habis menikah langsung hamil mungkin kami keturunan keluarga subur." timpal Mala yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Awan hingga membuat gadis belia itu seketika menunduk takut.


"Nanti kami akan konsultasi ke dokter, ma." ucap Ameera kemudian.


"Ya harus itu terutama kamu karena keturunan dari keluarga kami tidak ada kok yang mandul." tandas nyonya Amanda yang langsung di tegur oleh putranya.


"Stop Ma, kami memang belum ingin punya anak lagipula kami baru beberapa bulan menikah." tegur Awan dengan nada geram.


"Tapi paling tidak ya di periksakan dulu siapa tahu ada apa-apa kan dokter bisa mengobati." nyonya Amanda nampak merendahkan suaranya setelah sang suami menatap tajam padanya.


"Baik, ma. Nanti pulang kantor kami akan mampir ke rumah sakit." sahut Ameera menatap ibu mertuanya itu.


Sementara itu Mala yang duduk di sebelah nyonya Amanda nampak mencuri-curi pandang ke arah Awan, pria tampan berwajah blesteran itu entah kenapa makin hari makin tampan di matanya.


Ia jadi membayangkan bagaimana rasanya berada di bawah tubuh pria berperawakan atletis itu, memikirkan hal itu ia jadi merasa iri dengan Ameera.


Wanita cantik yang sedang duduk di samping pria itu sangat beruntung memiliki suami seperti Awan, padahal menurut nyonya besarnya asal usul wanita itu tak lebih seperti dirinya.


"Kami sudah selesai." Awan langsung beranjak dari duduknya meski sarapannya belum sepenuhnya habis, sungguh ia merasa kesal dengan sang ibu belum lagi pembantunya itu sedari tadi diam-diam memperhatikannya.


"Ma, kami pamit dulu." Ameera mencium tangan ibu dan ayah mertuanya dengan takzim, setelah itu mereka berangkat ke kantornya.


Siang harinya....


Siang itu Awan menyempatkan waktu makan siang bersama sang istri, sejak kejadian kemarin ia memang sengaja mengawasi wanita itu meski pria bernama Tommy sudah tak nampak batang hidungnya lagi.


"Mas, kita nanti sore jadi ke dokter kan ?" tanya Ameera di sela makan siangnya.


"Tidak perlu sayang, kita baik-baik saja jadi ngapain ke dokter." tandas Awan.


"Tapi mas, aku hanya ingin memastikan jika perkataan mama tidak benar." mohon Ameera dengan wajah memelas.


"Aku yakin kamu sehat sayang, hanya saja mungkin kita belum di percaya sama yang di Atas." Awan mencoba menenangkan, di usapnya dengan lembut punggung tangan wanita itu.


"Tapi aku ingin memastikan." lirih Ameera, sungguh perkataan ibu mertuanya membuatnya langsung kepikiran, bagaimana kalau dirinya benar-benar mandul.


"Baiklah, nanti sore kita cek sama-sama." ucap Awan pada akhirnya yang langsung membuat Ameera mengulas senyumnya meski hatinya masih belum tenang.


Sore harinya setelah pulang kantor Awan dan Ameera segera pergi ke sebuah rumah sakit swasta terbaik di kotanya tersebut.


"Dok, jadi bagaimana keadaan istri saya ?" tanya Awan saat dokter baru melakukan USG pada Ameera.


Dokter tersebut nampak menggerakkan alat usg ke sisi kanan dan kiri perut Ameera hingga menampakkan rahim wanita itu di sebuah layar.


"Bagaimana dok ?" Awan nampak tak sabar saat dokter tersebut tak kunjung menjawab.