
Awan nampak menghela napasnya, ia merasa sangat sehat jadi kenapa harus ikut periksa juga, rasanya enggan harus mengeluarkan cairan percintaannya di rumah sakit.
"Nanti ya sayang, kalau pekerjaanku longgar." sahutnya menanggapi permintaan sang istri yang ingin mengajaknya pergi ke dokter kandungan.
"Beneran ya mas, tolong usahakan cari waktu longgar." mohon Ameera lagi.
"Iya sayang." Awan meyakinkan lalu beranjak dari duduknya.
"Terima kasih." Ameera nampak tersenyum simpul.
"Ya udah aku berangkat dulu ya." Awan mendekati istrinya lalu mengecup keningnya dan mencuri sedikit kecupan di bibirnya, setelah itu pria itu segera pergi ke kantornya.
Sementara itu pak Djoyo yang baru menghentikan mobilnya di depan restoran Selvi nampak mengangkat sudut bibirnya saat melihat wanita itu sedang memberikan arahan pada beberapa karyawannya.
"Mas, tumben pagi-pagi dah mampir ?" tanya Selvi saat pak Djoyo sudah duduk di ujung ruangan dengan wajah di tekuk.
"Saya lapar Vi, ada makanan tidak ?" tanya pak Djoyo kemudian.
"Loh memang mas nggak sarapan ?" Selvi nampak mengerutkan dahinya.
"Nggak berselera Vi, setiap melihatnya selera makanku langsung hilang." sahut pak Djoyo.
"Baiklah, tunggu di sini sebentar ya mas aku ambilkan. Tadi kebetulan aku buat bubur ayam buat sarapan anak-anak." Selvi segera beranjak dari duduknya, kemudian ia bergegas ke belakang.
Tak berapa lama wanita cantik nan modis itu nampak kembali dengan nampan di tangannya.
"Bubur ayam spesial buat mas." ucapnya seraya menghidangkannya di hadapan pak Djoyo.
"Sepertinya sangat enak dan terlihat menarik seperti yang buat." puji pak Djoyo dengan pandangan menggoda.
"Mas bisa aja, ayo di makan selagi hangat." sahut Selvi seraya mendudukkan dirinya di seberang pria itu.
"Tapi ini kebanyakan Vi." pak Djoyo melihat semangkuk bubur penuh di hadapannya itu.
"Yaudah mas habisi aja nggak apa-apa, biar tambah semangat kerjanya." bujuk Selvi kemudian.
"Bagi dua ya, kamu pasti belum sarapan juga kan ?" pak Djoyo ganti membujuk wanita cantik di depannya itu.
"Aku mah gampang mas, yang penting mas dulu biar nggak lapar di kantor nanti." tolak Selvi.
"Saya nggak suka penolakan Vi." entah sadar atau tidak pak Djoyo nampak mengulurkan sesendok bubur ke depan bibir Selvi yang langsung membuat wanita itu melebarkan matanya.
Semoga ini hanya mimpi, pikirnya. Karena perbuatan pria itu sudah melewati batas pertemanan di antara mereka.
"Ayo aakkhh !!" pak Djoyo memerintahkan wanita itu agar segera membuka bibirnya.
Akhirnya pertahanan Selvi runtuh, dengan ragu wanita itu membuka bibirnya dan menerima suapan dari pria di hadapannya itu.
"Makan yang banyak, biar tubuhmu sedikit berisi." pak Djoyo memberikan suapannya lagi setelah dirinya memakannya juga tentunya.
Dan tak berapa lama semangkuk bubur ayam itu telah tandas tak bersisa.
"Terima kasih." Selvi berkaca-kaca, wanita itu nampak terharu dengan perlakuan pak Djoyo padanya.
"Nanti malam jangan pulang dulu, aku antar sekalian." ucap pak Djoyo sedikit posesif.
"Nggak usah mas, aku bawa kendaraan." Selvi menolak dengan halus, sepertinya wanita itu takut melewati batasan yang sudah ia pasang sejak kenal dengan pria itu.
"Saya tidak suka di bantah, Vi." tegas pak Djoyo seraya beranjak dari duduknya.
Selvi nampak terdiam, hatinya sedang bimbang antara menolak dan menerima tawaran pria itu.
"Saya pergi dulu." pak Djoyo mengusap lembut puncak kepala wanita itu kemudian segera berlalu pergi.
"Tidak, ini salah."
Dan benar saja malam itu pak Djoyo nampak datang saat wanita itu baru akan menutup pintu restorannya, karyawannya pun sudah pulang semuanya.
"Aku kira tidak datang, mas. Ini aku baru mau pulang." seru Selvi dengan mengulas senyumnya seperti biasanya, sepertinya wanita itu sangat senang sekali tersenyum hingga membuat pak Djoyo langsung jatuh cinta padanya.
"Saya lembur Vi." sahut pak Djoyo yang nampak kelelahan.
"Bagaimana, restoran ramai ?" tanya pak Djoyo kemudian.
"Masih sepi, mas. Entahlah rasanya mau ku tutup dan membuka usaha lain saja." sahut Selvi sedikit mengeluh, namun saat melihat wajah lelah pak Djoyo wanita itu langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Sudah makan mas ?" tanya Selvi, rasanya sangat kasihan melihat pria di hadapannya itu terlalu lelah bekerja.
"Belum, apa kamu masih ada sisa makanan ?" tanya pak Djoyo dengan wajah memelas.
"Kalau mas mau aku masakin sebentar ya ?" tawar Selvi.
"Boleh." pak Djoyo terlihat bersemangat kemudian segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tersebut yang sebagian lampunya telah di padamkan.
Sedangkan Selvi nampak menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil lalu mengekori langkah pria itu.
Beberapa saat kemudian wanita cantik yang selalu berpenampilan modis itu nampak membawa nampan berisi kwetiau goreng dengan beberapa sayuran.
"Sepertinya sangat enak." puji pak Djoyo seraya mengambil garpu.
"Jangan di makan dulu mas itu masih sangat panas." Selvi yang berdiri di samping pria itu langsung menahan tangan saat pak Djoyo hendak menyuapkan mie tersebut ke dalam mulutnya.
"Baiklah, ayo duduk sini jangan berdiri terus." pak Djoyo menatap Selvi lalu menepuk kursi di sebelahnya.
Selvi nampak ragu namun ia tetap menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah pria itu.
"Kamu sangat cantik, Vi." puji pak Djoyo yang langsung membuat pipi Selvi bersemu merah.
"Bisa aja, mas."
"Beneran kamu sangat cantik." pak Djoyo menatap intens wanita di sebelahnya itu.
Namun Selvi langsung menunduk malu dan tanpa wanita itu duga pak Djoyo meraih dagunya lalu mengangkatnya agar menghadap pria itu.
Pandangan mereka nampak saling bertemu dan tiba-tiba wajah keduanya saling mendekat lalu pertemuan dua bibir itu pun tak terelakkan lagi.
Pak Djoyo yang sudah lama sekali tak menyentuh wanita tiba-tiba gairahnya kembali membara bersama Selvi.
Pria itu nampak m3lum4t dan menyesap bibir wanita itu bergantian, begitu juga dengan Selvi yang haus akan belaian seorang pria sejak bercerai dua tahun lalu nampak membalas ciuman pak Djoyo.
Bahkan wanita itu sedikit membuka bibirnya seakan mempersilakan pria itu untuk memperdalam ciumannya.
Malam yang makin larut membuat keduanya semakin jatuh ke dalam lumpur dosa, kini keduanya telah berada di sebuah kamar dengan tubuh polos tanpa sedikit pun benang yang menutupi.
Pak Djoyo yang tadinya ingin makan kini justru memakan wanita itu, wanita yang akhir-akhir ini membuatnya seperti jatuh cinta lagi.
Tak peduli bagaimana statusnya saat ini namun gairah akan wanita itu butuh ia tuntaskan segera.
Jam menunjukkan pukul 11 malam dan aktivitas panas mereka baru saja berakhir.
"Maafkan aku." pak Djoyo nampak membawa Selvi ke dalam pelukannya saat wanita itu terisak.
Selvi sudah berusaha untuk menolak tapi pak Djoyo selalu membuatnya patuh dan akhirnya ia terbuai dengan sentuhan-sentuhan lembut pria itu.
"Aku akan bertanggung jawab, vi. Aku akan menikahimu." ucap pak Djoyo yang langsung membuat Selvi melotot.
"Lalu bagaimana dengan istrinya, mas ?" Selvi mulai merutuki dirinya sendiri, seharusnya dari awal ia menjauhi pria itu.