
Setelah kepergian sang suami, Ameera kembali masuk kedalam rumahnya dan segera mengunci pintunya dari dalam.
"Meer, mama ada urusan sebentar. Kamu di rumah saja ya dan berhubung bibik sedang cuti kamu bisakan sementara waktu membantu mama menggantikan pekerjaan bibik ?" perintah nyonya Amanda dengan lembut, wanita itu terlihat rapi dengan pakaian mahalnya.
"Hah." Ameera terpaku mendengar penuturan ibu mertuanya itu.
"Tolong ya nak, mama sudah setua ini tidak mungkin mengerjakan semuanya." imbuh nyonya Amanda dengan nada memohon.
"I-iya, ma." Ameera yang serba salah langsung mengangguk, lagipula ia juga ingin berbakti sebagai menantu.
"Yaudah kalau begitu mama pergi dulu ya." nyonya Amanda tersenyum senang, kemudian berlalu pergi.
"Aku harus mengerjakan apa ?" Ameera nampak mengedarkan pandangannya, dirinya yang tak tahu pekerjaan rumah nampak bingung.
Kemudian ia memutuskan untuk merapikan meja makan sisa mereka sarapan tadi.
"Kok sudah kosong." gumamnya saat melihat meja nampak kosong.
"Mungkin sudah di rapikan mama." gumamnya lagi, kemudian pandangannya tertuju ke tempat cucian piring kotor yang nampak menumpuk.
Setelah mencuci semuanya lalu ia mengambil sapu untuk membersihkan seluruh ruangan di rumah tersebut dan tak lupa ia juga mengepel lantainya.
Hingga tengah hari Ameera baru selesai membersihkan rumahnya, meski kerjanya sangat lambat tapi rumah mertuanya tersebut terlihat sangat bersih.
Merasa perutnya keroncongan setelah bekerja keras, wanita itu pergi ke dapur untuk mengisi perutnya, namun disana sama sekali tak ada makanan.
Meja makan yang tadi pagi penuh makanan kini kosong melompong, entah di mana ibu mertuanya itu menyimpannya karena ia tak menemukannya di manapun.
Lalu ia berinisiatif untuk memasak saja, tapi saat membuka lemari pendingin ia melebarkan matanya karena sama sekali tak ada bahan makanan di sana.
Lemari pendingin tersebut nampak kosong melompong, tak ada isinya. Mungkin ibu mertuanya pergi untuk berbelanja pikirnya.
Akhirnya perutnya yang keroncongan ia isi dengan air minum sebanyak mungkin agar menambah tenaganya, karena masih ada setrikaan pakaian yang perlu ia kerjakan.
Hingga sore hari Ameera baru menyelesaikan pekerjaannya, ia terlihat sangat lemas karena seharian tidak makan sesuatu kecuali tadi pagi hanya sedikit nasi goreng.
Sebenarnya ia ingin membeli makanan di luar tapi ia belum hafal daerah sini dan takut kesasar.
Melihat jam yang menunjukkan sebentar lagi suaminya pulang, Ameera bergegas membersihkan dirinya di kamarnya.
Meski kini ia hanya seorang ibu rumah tangga tapi ia ingin terlihat cantik saat suaminya itu pulang.
Sambil menunggu sang suami, Ameera yang terlihat sudah segar langsung merebahkan dirinya di sofa sembari membaca majalah.
Karena saking lelahnya dan lemas menahan lapar tak berapa lama kemudian ia tertidur pulas.
Sementara itu Awan yang baru pulang dari kantornya langsung menghampiri sang ibu yang terlihat sedang menata makanan di atas meja makan.
"Kok sendirian ma, Ameera mana ?" tanyanya saat tak melihat sang istri.
"Dari pagi di kamar belum keluar." sahut nyonya Amanda.
"Oh, wah mama masak banyak nih ?" Awan melihat berbagai macam lauk terhidang di meja makan.
"Iya, mama mau merayakan hari pertamamu kerja." tukas nyonya Amanda.
"Jangan capek-capek ma, mama pasti mengerjakannya seharian." Awan terlihat kasihan melihat sang ibu.
"Nggak apa-apa ayo cepat mandi, baru kita makan malam bersama." perintah sang ibu yang langsung di anggukin putranya.
Awan segera melangkahkan kakinya dengan semangat menuju kamarnya, sungguh ia sangat merindukan istrinya itu.
Saat baru membuka pintu kamarnya ia langsung mengulas senyumnya ketika melihat wanita itu tertidur pulas diatas sofa.
Lalu di ambilnya sebuah majalah yang hampir terlepas dari tangan istrinya itu.
Tak mau mengganggu sang istri yang sedang tidur, Awan segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat seharian bekerja.
Beberapa saat kemudian Ameera mengerjapkan matanya saat merasakan kecupan hangat di bibirnya.
"Mas, sudah pulang ?" Ameera langsung beranjak duduk saat melihat suaminya yang sudah terlihat segar itu tersenyum padanya.
"Iya mas maaf, tadi aku membaca majalah lalu ketiduran." Ameera merasa bersalah karena tak menyambut kedatangan suaminya tersebut.
"Nggak apa-apa, ayo makan mama masak banyak loh." ajak Awan kemudian yang langsung membuat Ameera tercengang.
"Kok diam, ayo !!" ajak Awan lagi sembari menarik tangan istrinya itu.
"I-iya, mas." Ameera segera beranjak.
Saat menuruni anak tangga Ameera mencium bau makanan yang langsung membuat cacing di perutnya meronta.
Ia langsung terkejut saat melihat beraneka ragam lauk terhidang di meja makannya, nampak semangkok daging rendang, opor ayam, sambal goreng dan sayur lodeh.
"Kapan mama masak ini semua ?" gumamnya, padahal baru satu jam setengah ia masuk kamarnya dan sebelum masuk kamarnya tadi ibunya itu juga belum pulang.
"Mungkin mama lagi ada acara masak-masak di tempat saudaranya." gumamnya lagi, mengingat ibunya di kampung juga sering masak-masak bersama saudaranya dan setiap pulang akan di bawakan bekal.
"Ayo makan, ini masakan mama semua loh." ajak nyonya Amanda setelah keluar dari kamarnya bersama sang suami.
Ameera yang memang sudah kelaparan langsung melahap makanannya setelah sebelumnya mengambilkan untuk suaminya.
"Pelan-pelan sayang." Awan memberikannya segelas air putih saat istrinya tersedak.
"Maaf, mas." Ameera merasa tak enak hati, karena saking laparnya ia makan dengan terburu-buru hingga tersedak dan nyonya Amanda yang melihat itu hanya menatapnya dengan datar.
"Sayang tumben hari ini kamu makannya banyak? begitu dong biar badanmu sedikit berisi." ucap Awan saat mereka bersiap untuk tidur.
"Nggak apa-apa mas, masakan mama enak." dusta Ameera, untuk saat ini ia tidak akan mengatakan pada Awan jika ia seharian kelaparan.
Ia tidak mau jika suami dan sang ibu bertengkar hanya karena dirinya, karena itu akan membuat ia semakin di benci oleh ibu mertuanya tersebut.
Keesokan harinya....
"Mas, tahu nggak orang jual makanan di dekat sini ?" tanya Ameera pagi itu.
"Kenapa memangnya ?" Awan mengerutkan keningnya menatap istrinya itu.
"Pengen ngemil mas." dusta Ameera, sebenarnya ia hanya ingin jaga-jaga saja jika tak ada makanan lagi seperti kemarin.
"Ada sayang, kamu keluar sedikit ke jalan raya nanti banyak orang jualan disana." sahut Awan kemudian.
"Beneran, mas ?" Ameera seperti mendapatkan angin segar, ia tidak mau kelaparan lagi seperti kemarin jika memang sang ibu tak memberikannya makanan.
"Ada, ini ambillah jika kamu ingin jajan." Awan mengambil dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang pada istrinya itu.
"Terima kasih, mas." Ameera mengulas senyumnya.
Setelah suaminya pergi ke kantor, Ameera melihat ibu mertuanya juga pergi seperti kemarin. Entah kemana ibunya itu pergi, ia tidak peduli.
Sesuai dugaannya, meja makan nampak kosong seperti kemarin begitu juga dengan isi kulkas. Di dapurnya sama sekali tak ada bahan makanan yang bisa ia masak.
Pada akhirnya setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, ia pergi kejalan raya untuk membeli makanan.
Hingga beberapa hari kemudian, nyonya Amanda selalu seperti itu. Pergi pagi dan pulang menjelang sore, wanita itu seakan tidak betah berada di rumahnya sendiri.
Namun Ameera tidak peduli, ia tetap melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya dan saat lapar ia akan membelinya di luar.
"Ma, kenapa melamun ?" Awan yang baru pulang nampak melihat ibunya duduk di meja makan dengan pandangan kosong.
"Eh nak, kamu sudah pulang ?" nyonya Amanda langsung mengulas senyumnya menatap putranya tersebut.
"Mama kenapa melamun ?" tanya Awan lagi.
"Mama bingung sama istrimu, kenapa tidak mau makan masakan mama padahal mama setiap hari masak banyak." keluh nyonya Amanda menatap berbagai macam makanan di atas meja makannya.
"Mama nggak bohongkan ?" Awan nampak menelisik.
"Ngapain mama bohong, istrimu itu lebih suka beli dari pada makan masakan mama padahal mama sudah capek-capek loh masak." tuduh nyonya Amanda dengan mata berkaca-kaca yang langsung membuat Awan mengeraskan rahangnya.
"Nanti aku kasih tahu Ameera, ma." Awan mengusap punggung ibunya, lalu ia segera naik ke kamarnya dengan perasaan kesal.