
London, Inggris tahun 2020
The Ivy Rest.
19.30 p.m
.
.
.
Tak tak tak tak
Bising dan sibuk, adalah dua hal yang patut menggambarkan keadaan saat ini. Bunyi pisau dapur khusus koki terkenal menggema di seluruh ruangan.
Beberapa orang tengah sibuk mempersiapkan Romantic Dinner untuk tamu spesial malam ini. Tamu yang dihormati oleh setiap orang. Memiliki kepribadian unik, mungkin begitulah rumor yang dikatakan orang-orang.
"Zilong! Provide the last menu for the cover. "
"Yes chef!"
Pria yang dipanggil Zilong itu berteriak dengan tegas tatkala souce chef-nya mengatakan untuk segera menyediakan menu penutup makan malam kali ini.
Tak heran mengapa semua orang sibuk mempersiapkan hidangan terbaik Resto The Ivy. Seorang putri dari kalangan terhormat dan teman-temannya yang juga merupakan putri bangsawan akan menikmati makan malam di sini. Tentu saja hal ini tertutup dari publik. Dan malam ini adalah malam penting bagi mereka.
"hey friend, what will you provide for tonight's closing menu? (Hei teman, apa yang akan kau hidangkan untuk menu penutup malam ini? "
Zilong menengok kearah temannya Rico. Salah satu teman yang mengajaknya berbicara pertama kali saat dia baru saja bekerja di sini.
"nothing special, I will only provide a menu that I learned while working at the hotel first." Zilong menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari menu penutup yang akan ia hidangkan beberapa menit lagi.
"I hope that doesn't disappoint tonight's guest," Ucap Rico menepuk sebelah pundak Zilong.
"of course not. when can a Zilong disappoint a VVIP guest? moreover, he and his friends were noble daughters from noble circles." Zilong berucap pasti dengan penuh keyakinan.
Beginilah pekerjaan Zilong. Jika waktu malam ia akan bekerja pada resto terkenal di London ini. Kemudian waktu pagi ia gunakan untuk 'berbisnis'.
.
.
.
.
"Aku pulang duluan kawan."
"hati-hatilah dijalan. jangan menyetir dengan ngebut, jalanan akan semakin ramai nanti."
Rico menyunggingkan senyumnya mendengar nasihat dari Zilong,"tenang saja kawan. Aku tahu batasan untuk mengemudi, aku masih sayang nyawaku ini."
kedengarannya memang simpel. apa yang Rico Ucapkan adalah sebuah kata yang mudah untuk di keluarkan tetapi sulit untuk dikerjakan. terkadang, sebagian orang bisa saja melanggar perintah lalu lintas lalu mengebut dijalan raya dan memganggu pengemudi lainnya. tetapi, itu adalah hal terbodoh yang akan dilakukan oleh Rico.
Zilong tersenyum sembari bertos ria untuk mengakhiri pekerjaannya malam ini bersama Rico.
Laki-laki itu masih setia berdiri dibalik pagar resto. Seperti, tengah menanti hal yang menurutnya menarik.
Benar saja, selang beberapa menit sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti tepat didepan resto. Matanya masih menatap sosok perempuan cantik dari keluarga bangsawan yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.
Gadis itu masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Gadis cantik dan bertalenta yang menjadi primadona kampus Oxford University.
"Kita bertemu lagi cantik."
Zilong tersenyum ceria saat sosok yang ia tunggu telah hilang dibalik pintu resto. Matanya kembali menatap surat undangan reuni yang ada ditangan kirinya.
"Pesta yang menarik."
.
.
.
.
"Apa kau akan datang ke acara reuni besok malam?" Rania memulai obrolan terlebih dahulu. Menurutnya tak ada hal yang lebih unik untuk dibahas selain acara yang akan diadakan selama 5 tahun sekali itu.
"Aku merasa malas, tapi... kupikir akan sayang jika dilewatkan. Bagaimana menurutmu?" Denia kembali melirik teman yang ada disampingnya. Teman yang berhati dingin, cerdas dan intelektual itu tersenyum penuh arti. Tatapannya bagai mengintimidasi seseorang.
"Kita akan pergi. Jangan lewatkan hal yang menarik."
"Bagus!" Elleonora berteriak semangat, "ini yang aku tunggu-tunggu."
"Apa yang akan kalian lakukan besok malam?"
"Tentu saja bersenang-senang dengan pria tampan." Jawaban enteng dari Rania itu membuat Elleonora sang penanya mendecih tak suka. Pasalnya, temannya itu selalu menomor satukan pria ketimbang pekerjaan.
"Aku hanya ingin berpesta sampai puas. Yaaah, jika ada keributan mungkin akan lebih seru lagi." Denia menjawab lesu. Baginya, jika tidak ada keributan saat pesta itu sangat membosankan.
"Apakah dia akan hadir?"
"Siapa maksud mu? "
Ameera menaikkan sebelah alisnya, "tentu saja Emalia Dscaumend curzon."
Jawaban Ameera membuat ketiganya sontak mengeluarkan hufur O yang panjang.
"Ck, dia bukan saingan berat Meera, aku cukup bosan jika harus bersdebat dengannya."
Elleonora mengangguk menyetujui perkataan Denia. Perempuan menyebalkan dengan jutaan taktik liar itu membuat mereka ingin muntah saat itu juga.
"Sudahlah. Lain kali kita bahas hal ini, sekarang... cepat habiskan makanan kalian lalu kita pulang."
.
.
.
.
.
Wuuuuuusssssshhh
"Kapan kau akan sampai?"
"Tunggu! Aku sedang dalam perjalanan."
Tut.
Richard, pria yang menjadi salah satu keturunan keluarga kerajaan uni Eropa itu kembali membelah gelapnya malam dengan motor besar yang ia miliki. Menerobos angin malam yang dingin menusuk kulit.
Pertemuan mendadak yang diadakan oleh teman-temannya membuatnya beringas dijalan. Menurut Richard, hal ini sangat menggembirakan dalam hidupnya selama lebih dari 25 tahun terakhir.
"Apa aku terlambat?"
Tanpa banyak berkomentar, Richard yang sudah sampai memilih duduk diantara Monaco dan Leonard. Tangannya mengambil 1 kaleng soda dan segera menenggaknya hingga tandas tak bersisa.
"Bagaimana bisa kalian menyiksa ku seperti ini? Mengadakan pertemuan mendadak."
Benar, rasanya Richard ingin membunuh semua temannya itu. Karena secara tiba-tiba ia harus datang ke tempat club malam tanpa mandi terlebih dahulu. Membelah angin malam tanpa menggunakan baju pengaman biasa, hanya menggunakan satu set pakaian biasa tapi tetap terlihat keren.
"Hmm... "
Richard menatap kesal Zilong yang sedang tertawa mengejeknya.
"Bagaimana 'bisnis' mu kawan? Apa berjalan lancar?"
"Tentu. Semua berjalan dengan semestinya. "
Baik Richard, Monaco maupun Leonard sama-sama mengerti arti perkataan Zilong dengan yang dimaksud berjalan lancar.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Monaco serius. Pria keturunan zaman kerajaan mesir kuno itu menatap Zilong dengan tatapan tajam seperti biasanya.
"Aku hanya ingin bermain sebentar saja. Waktu senggangku terbilang cukup banyak."
"Bagaimana dengan perusahaan Jeeva's?"
"Heh, perusahaan kecil begitu tidak sebanding dengan perusahaan milik keluarga William."
Zilong tersenyum aneh saat mendegar pertanyaan Leonard, tangannya sesekali menggoyangkan gelas berisi red wine yang ia minum.
"Apa kau masih bekerja di restaurant?"
"yaaaahh... begitulah."
"bagaimana dengan pekerjaan harianmu? apa kau masih bersenang-senang?"
"itu belum cukup jika dikatakan senang, semuanya hanyalah pembuka saja untuk saat ini"
zilong menatap nanar wine yang ada ditangannya.
Tak
"Ya, dan semua ini baru awal."
Suasana menjadi canggung dan mencekam. Wine milik Zilong bermunculan riak-riak yang sangat Zilong sukai.
"Awal untuk sebuah kehancuran"
.
.
.
tbc..