Ameera

Ameera
Keraguan Ayah Ameera



*šŸ’„**Sebaik-baiknya kesabaran adalah saat engkau lebih memilih diam, padahal emosimu sedang meronta ingin di dengarkanšŸ’„*


Malam itu Ameera yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sebatas dadanya nampak terlonjak kaget saat tiba-tiba pintu kamarnya di buka.


"Mas, ngapain kesini ?" teriaknya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, sepertinya gadis itu baru selesai membersihkan dirinya.


"Astaga, kamu seksi sekali sayang." Awan langsung melotot, kemudian ia berjalan mendekat hingga membuat Ameera melangkah mundur.


"Mas, menjauhlah aku mau ganti baju dulu." teriak Ameera sembari melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding belakangnya.


"Bagaimana aku bisa menjauh sayang, jika auramu menarikku untuk mendekat." wangi yang menguar dari tubuh gadis itu membuat Awan nampak tak sabar.


"Jangan becanda deh mas, nggak lucu tahu." cebik Ameera, ia hampir memukul dada bidang pria itu tapi mengingat sang kekasih sedang sakit ia mengurungkannya.


Namun justru kedua tangannya yang menggantung di udara itu langsung Awan pegang lalu dikuncinya di atas kepalanya.


Belum sempat protes pria itu sudah m3lum4t bibirnya dengan rakus dan menuntut, bahkan saat ia merasa kehabisan napas pun Awan enggan untuk melepaskannya.


Beberapa saat setelah puas merasakan manis bibirnya sang kekasih, Awan segera melepaskan panggutannya sebelum ia khilaf dan berbuat lebih jauh lagi.


"Kenapa rasanya makin manis sayang ?" godanya dengan wajah mesumnya.


"Dasar mesum." sungutnya seraya mengusap bibirnya yang basah karena ulah kekasihnya itu.


"Sudah keluar sana mas, aku mau ganti baju nih !!" mohonnya kemudian.


"Yaudah, tinggal ganti baju saja." sahut Awan seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ada di kamarnya.


"Bagaimana aku mau ganti baju kalau mas masih di sini ?" protes Ameera yang nampak bergeming di tempatnya dengan kedua tangannya menyilang di dada.


"Astaga sayang, kenapa malu? bahkan setiap jengkal....." Awan menggantung ucapannya saat Ameera menyelanya.


"Stop jangan di terusin." ucapnya dengan wajah bersungut-sungut, kemudian ia segera mengambil pakaiannya lalu membawanya ke dalam kamar mandi.


Ia menyesal kenapa tadi lupa membawa serta pakaian gantinya saat hendak mandi.


Sementara Awan nampak terkekeh melihat kepergian Ameera, namun kemudian ia meringis saat merasakan sakit di tubuhnya.


"Mas, kok masih di sini ?" tegur Ameera saat ia baru keluar dari kamar mandi.


"Mau tidurlah, ini kan kamarku." sahut Awan dengan enteng.


"Tolong dong mas jaim sedikit, di bawah ada mama sama papamu." mohon Ameera.


"Biarkan saja, pokoknya kita tidur bareng." keukeh Awan.


"Enak aja, nggak mau pokoknya. Tolong jaim sedikitlah mas, kasihan aku." tolak Ameera dengan nada memohon.


"Ngapain jaim, mereka sudah tahu kalau kita pernah tidur bersama. bahkan mereka juga tahu kalau kita...." lagi-lagi Awan menggantung ucapannya karena kekasihnya itu langsung memotong perkataannya.


"Stop !!" Ameera melotot.


"Dari mana mereka bisa tahu ?" imbuhnya lagi, rasanya malu sekali mendengar pria itu dengan gamblang menceritakan mereka pernah melewati malam bersamaan.


"Aku yang bilang ke papa." sahut Awan lagi-lagi dengan entengnya ia berbicara dan itu membuat Ameera langsung menepuk jidatnya.


"Ya Allah, mas. Jadi orang punya malu sedikit kenapa." Ameera rasanya ingin sekali mengubur dirinya di dasar bumi.


"Sudah nggak apa-apa, papa ngebolehin kok." bujuk Awan kemudian.


"Memang aku anak papamu? kenapa mas nggak minta izin sama ayahku ?" cebik Ameera.


"Nah itu nanti langkah selanjutnya yang penting kita sekarang bobo dulu yuk, buat adek juga nggak nolak." ajak Awan seraya menarik tangan Ameera ke kasurnya.


"Lepaskan mas, siapa juga yang mau tidur sama mas." Ameera langsung menghempaskan tangan Awan hingga membuat pria itu tiba-tiba berteriak kesakitan.


"Mas, kamu baik-baik saja ?" Ameera nampak khawatir.


"Sepertinya tulangku patah." sahut Awan.


"Hah, beneran? duh gimana nih mas, mana yang sakit ?" Ameera semakin panik, ia nampak berkeringat dingin dan sesekali melihat ke arah pintu.


Sungguh ia sangat takut jika calon mertuanya itu melihat dan akan menyalahkannya.


Awan yang melihat kepanikan Ameera nampak menahan kekehannya, sepertinya mengerjai sedikit kekasihnya itu akan sedikit menyenangkan.


"Sakit, sayang." keluh Awan dengan memegangi sebelah pahanya yang memang terasa sakit tapi tidak separah dugaan Ameera.


"Sakit ya, mas? ayo tidurlah di sini." Ameera langsung menepuk kasurnya agar Awan segera merebahkan dirinya dan itu tentu saja membuat sang tukang modus langsung bersorak dalam hati.


Dengan pelan Ameera menaikkan kaki Awan ke atas kasurnya hingga kini pria itu sepenuhnya berbaring dengan kaki berselonjor.


"Apa perlu ku obati ?" tanyanya kemudian.


"Mana obatnya ?" Ameera mengedarkan pandangannya mencari kotak obat.


"Di sini." Awan menepuk sisi kasurnya.


"Mana ?" dengan polosnya Ameera mencari obat di kasur yang di tepuk oleh Awan tadi.


"Tidur sini, aku pasti akan cepat sembuh." sahut Awan yang langsung membuat Ameera melotot menatapnya.


"Mas, modus ya ?" ucapnya bernada curiga.


"Beneran sayang, aku hanya butuh istirahat. Apalagi istirahatnya di temenin kamu pasti besok langsung sembuh." sahut Awan dengan wajah yang ia buat semelas mungkin.


"Beneran ?" telisik Ameera menatap pria itu.


"Nggak percaya ya sudah, mungkin kamu suka jika aku sakit terus." Awan hendak beranjak namun Ameera langsung menahannya.


"Baiklah, ku temani tidur tapi awas kalau macam-macam." tukasnya kemudian dengan nada ancaman.


"Nggak kok, satu macam saja." lirih Awan yang tak begitu jelas di telinga Ameera.


"Mas bilang apa tadi ?" tanyanya.


"Nggak, ayo tidur." Awan langsung memeluk Ameera dengan erat.


"Nggak memeluk gini juga kali mas." Ameera tiba-tiba merasa engap.


Sementara Awan justru mengeluarkan suara dengkuran. "Sudah tidur? cepat banget." gerutu Ameera saat melihat Awan sudah terlelap.


Kemudian ia juga segera memejamkan matanya, karena rasa kantuk bercampur lelah sudah menderanya.


Saat mendengar gadis itu mulai mendengkur halus, Awan langsung membuka matanya. Ia nampak mengulas senyumnya saat berhasil memperdaya sang kekasih.


Keesokan harinya....


Pagi itu setelah membersihkan dirinya, Ameera dan Awan segera keluar dari kamarnya.


"Pagi, ma, pa." sapa Awan dengan wajah cerianya.


"Pagi." sahut pak Djoyo yang terlihat sedang membaca koran di meja makan.


"Tunggu sebentar ya, sayang." ucap Awan kemudian pada Ameera, setelah itu berlalu pergi ke belakang dan meninggalkan gadis itu di sana.


Nyonya Amanda yang sedang menyiapkan sarapan bersama ARTya nampak melihat Ameera dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Kemudian ia tersenyum miring saat menatap rambut gadis itu yang basah.


Ameera memang baru saja mencuci rambutnya, ia merasa rambutnya bau setelah melakukan perjalanan jauh.


"Heran ya sama anak zaman sekarang, nikah aja belum tapi sudah berani tidur sekamar." sindirnya yang membuat Ameera yang baru datang langsung menatap calon ibu mertuanya yang nampak sibuk memotong sayuran.


"Benar bu, di kampung saya anak-anak sekolah banyak yang hamil karena pergaulannya yang bebas." sahut sang ART menanggapi.


"Nah itu, jadi wanita itu harus pintar-pintar menjaga dirinya. Jangan jadi wanita gampangan." tukas nyonya Amanda lagi.


Ameera yang mendengar itu nampak menghela napasnya, kemudian ia berjalan mendekat.


"Ma, apa ada yang bisa ku bantu ?" tawar Ameera yang merasa tidak enak jika berdiam diri.


"Bukannya kamu tidak bisa memasak ?" nyonya Amanda langsung menatap datar Ameera.


"Saya akan belajar, ma." sahut Ameera.


"Ya kita kapan sarapannya kalau nungguin kamu belajar ?" sewot nyonya Amanda kemudian.


"Sudah tunggu di meja makan saja, nanti Awan marah lagi." imbuhnya kemudian yang membuat Ameera mau tak mau mengikuti perintahnya.


"Apa-apa nggak bisa, terus bisanya apa." gerutu nyonya Amanda lirih, namun masih terdengar oleh Ameera.


Sedangkan Ameera nampak menghela napasnya setiap calon ibu mertuanya itu berbicara ketus padanya.


"Nak, apa kamu yakin akan menikah dengan nak Awan ?" ujar pak Andre keesokan harinya saat Ameera baru datang.


"Memang kenapa yah ?" Ameera menatap sang Ayah yang terlihat serius itu.


"Pernikahan itu tidak hanya menyatukan dua kepala nak, tapi juga menyatukan dua keluarga. Suksesnya rumah tangga itu tidak hanya tergantung pada pasangan tapi juga pihak keluarga." nasihat pak Andre.


"Maksud ayah apa ?" Ameera nampak tak mengerti.


"Ayah tahu, ibu mertuamu tidak menyukaimu. Jadi masih ada waktu jika kamu ingin mundur." sahut pak Andre dengan serius.


Sementara Ameera nampak terdiam, ia membenarkan perkataan sang ayah. Lalu apa ia akan mundur atau terus melanjutkan pernikahannya yang tinggal menghitung hari itu.