Ameera

Ameera
part 1 "kematian"



"Lakukan tugas kalian dengan baik, bila ada yang menghalangi kalian bunuh saja!"


"Baik Bos!"


Perkataan itu menjadi akhir dari rapat organisasi gelap yang ditekuni oleh Deena. Beberapa tahun terakhir ia bekerja sebagai pembunuh bayaran dari organisasi mafia terkenal di Inggris 'Red Snow'.


Keahliannya dalam mengatur strategi dan mudah mengubah informasi diri membuatnya nyaris tak terkalahkan. Perempuan jenius dengan paras cantik itu membuat dirinya menjadi buronan nomor 1 FBI yang dicari-cari.


Banyak orang yang ingin menangkapnya dan mengambil hadiah milyaran dollar yang diberikan sebagai hasil menangkap sang buronan. Tetapi, sudah berkali-kali tidak ada yang bisa menyentuh Deena seujung rambut pun.


"Bagaimana dengan pesta  nanti malam?" Tanya Sierra tanpa mengalihkan pandangannya dari pistol hasil buatannya sendiri.


"Sebagai pengalihan, kita akan hadir. Biarkan yang lain menjalankan rencana awal. " Deena tidak terlalu ambil pusing dalam rencana pembunuhan kali ini. Menurutnya, hal itu hanyalah sebagian kecil dari niat jahatnya.


"Perintahkan para bawahan untuk bergerak sesuai dengan apa yang sudah kita susun. Jangan ada yang bergerak sembarangan!" Deena melesatkan satu peluru tepat di tengah-tengah sasaran,"bunuh apa yang harus dibunuh dan ambil apa yang kita perlukan."


Nada dingin dan tegas itu membuat Sierra tersenyum. Temannya itu tak berubah sama sekali. Ia cukup heran jika sudah berganti menjadi manusia biasa yang normal. Aneh rasanya jika melihat dia yang seperti itu.


"Kau tenang saja. Setelah mendapatkan berlian itu kita bisa menjadi bangsawan nomor 1 di dunia."


Deena mengalihkan pandangannya kearah Sierra. Raut wajahnya nampak kebingungan untuk sesaat,"Dimana Die?"


"Dia sedang mempersiapkan  semua hal yang kita perlukan."


Die, rekan satu tim Deena. Nama Die ia pilih sebagai nama samaran karena menurut temannya itu semua hal yang pernah ia alami terasa mati. Tidak ada harapan, tidak ada penyesalan. Dalam 23 tahun hidupnya, Die adalah sosok yang dingin dan kejam. Tidak suka berbaur dengan hal-hal yang menurutnya merepotkan terlebih ia tidak pernah hadir disaat rapat tetua.


Die adalah sosok perempuan tangguh tetapi terlalu pandai dalam segala hal. Ia mampu meniru setiap wajah manusia maupun karakter dunia anime hanya dengan satu sapuan make-up. Lahir dari sebuah keluarga yang tak mencintainya membuat Die merasa dunianya seakan tiada. Tidak ada hal yang bisa ia harapkan dari keluarganya itu.


Tetapi, sejak mengenal organisasi Red Snow hidupnya mulai berubah. Ambisinya untuk membalas dendam kian menjadi-jadi, bayangan masa lalu selalu menghantui dirinya sekaligus menjadi penyemangat untuknya balas dendam.


.


.


.


.


Ameera berdiri gelisah dari balkon kamarnya. Rasa tidak tenang terus menerus menggerogoti tubuhnya. Ada rasa rindu akan Papanya yang kini tinggal di kastil yang ada di Inggris.


Jauh dari keluarga aslinya yang ada di Eropa membuatnya tak bisa berbuat banyak. Awalnya Ameera mengira perpisahan antara papa dan neneknya adalah hal yang biasa terjadi. Namun, sekarang Ameera baru mengerti satu hal... ada yang disembunyikan oleh papanya.


"Apa yang kau lakukan disini Ameera?"


Ameera terlonjak kaget saat Rania tiba-tiba menepuk pundaknya. Bahkan, langkah kakinya pun tak terdengar sama sekali.


"Kau membuatku kaget saja."


Rania tergelak, "bagaimana kau tidak kaget? Aku sudah berdiri dibelakang mu dalam waktu yang lama, tapi kau bahkan tidak menyadari kehadiran ku."


Ameera tersenyum kikuk. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali, "maafkan aku, kupikir kau tidak ada di sana."


"Lupakan saja. Kita akan berangkat 5 menit lagi, jangan sampai terlambat."


"Tentu, ini adalah pesta besar yang diadakan oleh Angkatan kita."


.


.


.


.


.


Bumpkin, South Kensington, Westfield


21.45 p.m


Meriah. Adalah satu kata untuk malam ini, seluruh restaurant yang telah disewa untuk acara reuni itu terlihat ramai oleh sebagian besar angkatan Ameera. Lampu terang dengan hiasan emas yang ada didalam ruangan membuat nuansa semakin menjadi  daya tarik tersendiri.


Sebagian besar dari mereka adalah pengusaha kaya dan dari kalangan terhormat. Tidak heran jika mereka dengan mudah mendapat tiket VVIP untuk bergabung dalam ruangan pribadi President Suite.


"Pesta yang menarik." Monaco menyisir pandangannya ke penjuru ruangan. Benar-benar pesta bangsawan.


"Jangan lupa tujuan awal kita kemari."


Monaco mengangguk sebagai jawaban atas perkataan Leonard.


"Heheh... Zilong tidak pernah gagal dalam berbisnis."


Monaco menyunggingkan senyumnya. Perkataan Leonard barusan seolah-olah telah meremehkan kemampuan keturunan William.


Sedangkan di tempat lain. Ameera semakin merasa gelisah meski suasana ruangan tengah ramai begini. Ketiga temannya bahkan menatap aneh sikap yang di tunjukkan oleh Ameera.


"Ada apa dengamu Ameera?" Tanya Rania to the point. Matanya terlalu bosan melihat sikap Ameera yang tiba-tiba terlihat begitu tidak tenang.


"Perasaanku tidak enak. Entah mengapa aku teringat papa."


Rania mengerti. Dulu dia juga pernah ada dalam posisi Ameera saat kedua orangtua nya pergi selamanya.


"Pergilah Meera, lihat papamu. Aku lelah melihat kau tidak tenang begitu."


Tanpa pikir panjang, Ameera bergegas pergi setelah mendapat persetujuan dari ketiga temannya. Meninggalkan suasana pesta reuni yang nampak ramai tapi terasa sepi bagi Ameera.


"Yo! Bukankah ini para pecundang itu?"


Ketiganya melirik kearah sumber suara. Tatapan mata mereka seketika berubah ketika tahu siapa pemilik suara tadi.


"Cih, gayamu saja yang besar tapi otakmu ternyata kecil."


Komentar pedas dari Rania itu membuat Lea melotot tajam. Dirinya sudah pasti tidak terima dikatakan manusia berotak kecil.


"Sudahlah Lea, kita pergi saja dari sini."


Jika saja Emallia tidak menahan Lea, sudah bisa dipastikan kalau acara ini akan memancing keributan. Ini bukanlah tujuan Emallia yang sebenarnya.


Paaaatsss..


Benar saja, selang beberapa menit setelah kepergian Emma, lampu tiba-tiba mati. Suasana menjadi hening, beberapa orang menyalakan senter dari hp masing-masing.


"Haaaaaaaaahhh... sudah mulai ya." Richard menghela nafas lelah. Pesta kali ini benar-benar tidak sesuai ekspetasinya. Ia berharap kalau pesta ini akan meriah dengan banyaknya kaum hawa yang membuatnya senang.


"Mereka sungguh tidak sabaran."


Leonard mengangguk menyetujui perkataan Monaco.


Dor dor dor!


Praaaankkk!


"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhh."


Teriakan melengking itu menjadi pembuka bahwa mereka harus segera bergerak. Pecahan kaca dan suara tembakan memenuhi ruangan.


"Sial! Tempat ini terlalu gelap." Monaco mengumpat berkali-kali saat tembakannya melesat sesaat.


"Jangan sampai lengah Monaco."


Monaco tahu. Mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan detail. Perlengkapan yang canggih tak akan bisa menahan mereka begitu saja walau mereka harus menembak dalam kegelapan.


"Pesta dimulai!"


.


.


.


Ameera bergegas turun dari dalam mobil dan berlari kencang saat melihat pintu rumahnya terbuka lebar.


Ameera terkejut saat mendapati rumahnya yang berantakan seperti tidak terurus. Tubuhnya gemetar hebat saat melihat tumpukan mayat yang berserakan bagai kertas didalam rumahnya. Seluruh pekerja dan beberapa orang asing mati terkapar tak berdaya.


Matanya menangkap sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan topeng perak di wajahnya tengah menodongkan pistol tepat pada orang yang Ameera kenal.


Orang itu... sudah mati!


"PAPA!"


.


.


.


Tbc...