
"Oh ya Wan, mama kemarin ke Mall tak sengaja ketemu mantan pacarmu yang dulu pernah menginap di sini ituloh." tukas nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera menghentikan kunyahannya.
Awan berdecih kesal. "Apaan sih ma, sudah berlalu juga kenapa di bahas lagi ?" tegurnya kemudian.
"Mama nggak bahas masa lalumu, tapi mama cerita habis ketemu Aghata." sela nyonya Amanda tak mau kalah.
"Aghata dulu pernah menginap di sini karena sakit." imbuhnya lagi menatap Ameera yang nampak sedang mengunyah makanannya dengan malas.
"Iya ma." angguk Ameera menanggapi.
"Entahlah mereka putus gara-gara apa dulu, mama juga lupa." nyonya Amanda setengah menggerutu.
"Sudah cukup ma, mama benar-benar membuatku tidak nyaman." Awan langsung beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Ameera kemudian membawanya pergi dari sana meski makanan di piringnya belum sepenuhnya habis.
"Mas, kenapa sih jadi emosi begini? apa Mas takut mama akan menceritakan semua kebenarannya ?" Ameera langsung menghempaskan tangan Awan sesampainya ia di kamarnya.
"Kebenaran apa sih sayang? Aghata memang pernah tidur di sini karena waktu itu lagi sakit dan tidurnya pun di kamar bawah." Awan menjelaskan.
Ameera nampak menghela napasnya pelan entah ia harus mempercayai siapa, kemudian ia menghempaskan bobot tubuhnya di atas ranjang dan bersamaan itu terdengar notifikasi di ponselnya.
"Mas kenapa tidak di balas, apa kamu tidak merindukan sentuhanku, merindukan ciumanku dan merindukan tubuh polosku ?"
Ameera melebarkan matanya saat membaca pesan di notifikasinya itu, pesan itu selalu di tujukan untuk Awan lalu kenapa di kirim di ponselnya? padahal wanita itu pasti tahu nomor ponsel pria itu.
Sepertinya benar kata suaminya, wanita itu hanya ingin membuatnya dan Awan berantem.
Lagipula bukannya sejak menikah ia sudah memutuskan untuk menutup masa lalunya, jadi kenapa ia harus terpancing dengan omongan wanita itu? toh sekarang dialah pemenangnya karena sudah di pilih oleh Awan untuk menjadi istrinya.
"Baiklah, sepertinya kamu sengaja mau mengajak main-main denganku." gumamnya kemudian dengan tersenyum miring menatap ponselnya.
Awan yang melihat istrinya terdiam nampak khawatir, "Sayang, kau baik-baik saja ?" tanyanya kemudian.
"Apa kamu keberatan jika aku membalas pesan ini ?" pancing Ameera kemudian.
"Mau balas apa ?" Awan mengerutkan keningnya tak mengerti saat melihat istrinya yang nampak tersenyum penuh arti itu.
"Terserah aku dong." sahut Ameera.
Awan nampak berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk dengan ragu. "Jangan terlalu di tanggapi perkataan dia, kalau dia berani suruh menghubungi ku langsung." ucapnya kemudian namun itu justru membuat Ameera memicing menatapnya.
"Oh jadi mas minta di hubungi sama tuh mantan ?" cibir Ameera yang langsung membuat Awan merasa gemas, lalu mendorong istrinya itu ke ranjang lalu ia segera mengungkungnya.
"Lepaskan mas, aku mau membalas pesan itu dulu." Ameera meronta namun cekalan Awan di kedua pergelangan tangannya tak membuatnya bisa berkutik.
"Dari tadi pagi kamu sudah menguji kesabaranku sayang dan sekarang kamu harus merasakan akibatnya." Awan langsung membungkam bibir istrinya itu dengan ciumannya yang rakus.
"Mas, tunggu dulu aku mau membalasnya sebentar." mohon Ameera saat sang suami baru melepaskan panggutannya.
"Ya balas sudah sayang." Awan mulai menyusuri leher putih wanita itu lalu mendaratkan ciumannya di sana hingga membuat Ameera menahan napasnya sejenak.
"Kenapa diam? balas sudah." Awan mengangkat kepalanya menatap istrinya itu yang nampak memejamkan matanya menikmati sentuhannya.
Ameera membuka matanya lalu langsung membuang mukanya saat menyadari Awan sedang memperhatikannya, bisa kepedean tuh laki jika mengetahui ia juga menikmati sentuhannya.
"Kenapa tidak di balas, hm ?" Awan menaikkan sebelah alisnya.
"Bagaimana aku membalasnya, kamu tak memberiku kesempatan." gerutu Ameera lalu segera membuka ponselnya kembali dan mulai mengetik sesuatu.
"Siang mbaknya yang lagi gatal dan minta di garukin sama suami orang, terserah mbaknya mau ngomong apa intinya sekarang saya dan suami saya sedang berbahagia." Ameera membalas pesan di ponselnya itu dan tak lupa ia menyisipkan sebuah foto Awan dari belakang yang nampak sedang mencumbunya.
Tak lama kemudian ada balasan dari sang peneror. "Yakin bahagia dengan sisa saya ?" balasnya mengejek.
"Meski sisa, mbaknya tetap maukan? udahan ya mbak, suami saya sudah tak bisa di kondisikan lagi nih. Maklum kami pasang halal yang bebas melakukannya tanpa rasa takut di kejar dosa." balasnya lagi, kemudian ia mulai menyimpan ponselnya saat tiba-tiba suaminya sudah memasukinya dan selanjutnya terjadilah yang harus terjadi.
Hingga sore hari suaminya itu baru melepaskannya, sungguh badannya terasa remuk dan kini ia terlelap dengan selimut menutupi tubuh polosnya.
Awan yang baru keluar dari kamar mandi nampak mengulas senyum puasnya saat melihat sang istri tertidur pulas, kemudian ia mengambil ponsel wanita itu lalu langsung terkekeh saat melihat beberapa balasan yang telah di kirimnya.
Ia lega karena istrinya tak terpengaruh oleh teror Aghata, karena baginya hanya wanita itu yang sekarang menempati sepenuh hatinya tak peduli berapa banyak wanita yang dulu pernah singgah di hatinya.
Satu bulan kemudian dokter menyatakan kondisi Awan sudah pulih seperti sedia kala dan itu di sambut bahagia oleh keluarganya.
Ameera bersyukur akhirnya usaha dan doanya untuk kesembuhan sang suami kini terwujud.
Ia juga bersyukur wanita yang mengaku sebagai mantan Awan kini sudah berhenti mengganggunya, mungkin sudah lelah karena tidak berhasil dengan tujuannya yang akan memisahkannya dengan sang suami.
"Jadi mulai besok mas sudah mulai kerja lagi ?" Ameera merasa senang karena suaminya bisa bekerja lagi, namun ia juga sedih karena Awan pasti akan meninggalkannya bersama ibu mertuanya seharian.
"Hm, kamu senang ?" Awan menatap wanita yang sedang tiduran di sampingnya itu.
"Hm." Ameera mengangguk, bagaimana pun juga ia tidak akan membebankan pikirannya pada suaminya tersebut.
"Baiklah, ayo tidur." ajak Awan seraya menarik selimutnya lebih ke atas, lalu ia melingkarkan tangannya pada istrinya yang mengambil posisi memunggunginya itu.
"Mas, nanti kalau di kantor pusat ada yang kosong aku boleh kerja lagi kan ?" mohon Ameera yang langsung membuat Awan mengurai pelukannya.
"Maksud kamu ?" tanyanya tak mengerti.
Ameera mengubah posisinya menghadap pria itu. "Aku ingin bekerja mas, aku bosan kalau di rumah terus." sahutnya memberikan alasan, padahal ia takut menghadapi sang ibu mertuanya.
Ingin sekali ia mengajak suaminya itu untuk tinggal terpisah dari orang tuanya, meski harus menyewa rumah pun tak masalah tapi ia menyadari jika saat ini Awan tidak mempunyai apa-apa lagi.
Berbulan-bulan tidak bekerja membuat pria itu tak mempunyai tabungan, bahkan untuk makan pun kini mereka mengandalkan orang tuanya.
"Aku nggak setuju sayang, kewajiban istri itu di rumah. Soal nafkah kamu jangan khawatir aku akan memberikan lebih dari yang kamu bayangkan asal kamu selalu di rumah." tegas Awan, ia tidak mau istrinya akan di goda oleh teman-temannya kantor seperti waktu di kantor cabang dulu.
"Tapi, mas...."
"Tidur sayang atau mau ku buat sekalian tidak bisa tidur semalaman ?" ancam Awan yang langsung membuat Ameera mengambil posisi lalu memejamkan matanya.
Keesokan harinya....
"Ini apa bu ?" ART di rumah tersebut nampak terkejut saat tiba-tiba majikannya itu memberikan sebuah amplop tebal padanya pagi itu.
"Bibik sementara cuti saja dulu." sahut nyonya Amanda.
"Maksudnya saya di pecat ?" ART tersebut langsung muram.
"Tidak di pecat, bukannya bibik sudah lama tidak pulang kampung ?" bujuk nyonya Amanda yang langsung membuat ARTnya itu lega.
"Iya bu, saya mau. Tapi saya boleh agak lamaan dikit, soalnya sudah kangen sekali sama anak-anak." pinta ART tersebut.
"Boleh bik, nanti kalau butuh bibik saya langsung telepon." sahut nyonya Amanda.
Sementara itu Ameera yang baru menuruni anak tangga bersama Awan nampak terkejut saat melihat ART di rumahnya membawa tas pakaian berukuran besar.
"Loh bibik mau kemana ?" tanya Awan penasaran.
"Bibik mau cuti pulang kampung, mas." sahut sang ART yang langsung membuat Ameera memucat, jika ARTnya pulang bisa di pastikan sepanjang hari ia akan tinggal berdua dengan ibu mertuanya tersebut.