
"Kau berhasil Emallia?"
Emallia atau perempuan dengan nama samaran Deena itu menggeleng,"saya gagal mendapatkan kunci itu. Tapi, saya sudah memasang alat pelacak ditubuhnya. Seharusnya mereka tidak jauh dari lokasi ini."
Ema menyodorkan sebuah maps dengan titik kecil merah yang ada di handphonenya. Hal tersebut membuat Sang ketua tersenyum licik.
"Cari mereka sampai dapat. Bawa orang yang bersangkutan hidup atau mati!"
"Baik. Saya pergi dulu."
"Tunggu dulu."
Ema mengerutkan keningnya. Tumben sekali bos-nya itu memerintahkannya untuk tidak pergi setelah berbincang-bincang. Biasanya, ia tidak pernah melakukan hal ini.
"Ada apa bos?"
"Ada yang ingin aku kenalkan padamu," Pria itu tersenyum penuh arti. Matanya melirik kearah pintu, "Masuklah." Perintahnya.
Alis Ema sedikit terangkat saat melihat sosok laki-laki berambut merah berwajah tampan. Wajahnya sama persis seperti salah satu tokoh anime Jepang Naruto, yaitu Gaara.
"Dia adalah partner mu mulai sekarang."
"Hmm?? Aku tidak butuh partner, aku tidak butuh orang yang menyusahkan sepertinya bos."protes Ema tak Terima jika ia harus memiliki rekan yang lain selain ke 2 temannya.
" Bekerjalah dengan baik Ema, aku percaya padanya."
Ema merasa heran akan sikap bos nya hari ini. Biasanya pria itu tidak terlalu percaya dengan siapapun kecuali padanya dan kedua temannya yang lain. Tapi mengapa hari ini ia sangat yakin dengan orang asing didepannya ini?
"Terserah kau saja."
Ketuanya hanya bisa tersenyum karena Ema mau menerima partner pilihannya.
"Aku pergi dulu."
Kenston. Ketua organisasi ilegal yang sudah berdiri sejak beberapa tahun terakhir itu tersenyum semringah menatap Ema yang sudah hilang dibalik pintu. Selangkah lagi rencananya akan berhasil.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana? Kau dapat petunjuk?" Tanya Monaco saat mereka ber tiga sudah sampai di markas besar.
"Ada. 2 orang yang menembak di acara reuni itu berasal dari organisasi Red Snow. Aku melihat tatto bunga melati yang ada di lengannya."
"Kau tahu bagaimana wajahnya?" Tanya Leonard serius.
"Tidak. Aku hanya ingat waktu itu mereka berdua seperti mencari sesuatu yang berharga. Mereka memeriksa satu persatu leher dari korbannya."
Monaco berfikir sejenak mengenai perkataan Richard.
"Tidak salah lagi. Mereka mencari kunci itu."
"Jadi... menurutmu, ada seseorang dari Angkatan kita yang memilikinya?" Tebak Leonard.
"Tepat sekali. Mereka sejak awal sudah tahu pemilik kalung itu akan hadir dalam acara reuni kali ini. Jadi mereka mempersiapkan kekacauan ini dari awal kita masuk ruangan."
"Lalu bagaimana dengan Zilong? Jika pemilik kalung itu ada saat acara reuni, apakah dia pergi ketempat yang salah?"
Leonard mengira jika rencana kali ini akan berjalan lancar. Seharusnya mereka adalah orang pertama yang menemukan kunci itu. Ternyata, rencana mereka sudah meleset jauh.
Liontin berbentuk kunci perak itu bukanlah barang biasa. Itu adalah sebuah kunci pintu harta yang ada di Mesir. Konon katanya, segitiga piramid yang dibangun dalam zaman kerajaan Ramesses II memiliki kekayaan yang berlimpah ruah. Sebuah piramida raksasa yang penuh dengan emas dan harta benda lainnya juga memiliki catatan mistis didalamnya.
Hanya keluarga yang bersangkutan yang memilikinya, seperti Keturunan Monaco. Tapi Monaco sama sekali tidak memilikinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kunci yang seharusnya milik keluarga Monaco ada pada tangan orang lain? Bagaimana bisa itu terjadi? Sepertinya, mereka harus segera menuntaskan semua kejadian ini.
"Lalu bagaimana?"
"Kita akan bicarakan ini setelah Zilong kembali." Titah Monaco mutlak. Sebenarnya, pria bernama Monaco itu bernama asli Andrei. Hanya saja teman-temannya selalu mengucapkan kata Monaco karena lebih enak didengar dan pas di lidah.
"Ok. Kita tunggu Zilong."
.
.
.
.
"Kau kenapa?" Tanya Zilong melihat Ameera yang duduk dengan tidak nyaman.
"Aku merasa tidak enak"
"Kita tidak akan bisa diikuti lagi."
"Maksud mu, mobil ini anti radar?"
Zilong hanya tersenyum kecil dan itu sukses membuat Ameera kembali tercengang untuk yang kesekian kalinya.
Matanya menatap kosong jalan raya yang ia lewati, kenangan pahit itu kembali teringat bagaikan memori yang hampir hilang malah kembali lagi. Kejadian dimana semua kebenaran tentang musuh dan keluarganya terungkap. Awal sebuah kebencian dan ambisi untuk menghancurkan semuanya.
Zilong bukanlah anak kandung dari keluarga bangsawan yang sesungguhnya. Ia di adopsi ketika ia hampir mati dijalanan. Saat itu, ia masih berumur 7 tahun. Ia tinggal dengan pamannya di tempat terpencil, jauh dari kota dan keindahan harta benda. Orangtuanya meninggal sewaktu ia baru saja dilahirkan. Dan terisa hanyalah pamannya.
*Flashback on
Beberapa tahun yang lalu..
Tempat terpencil luar kota
Hutan
23.45
"Paman pasti akan senang aku membawakan dia daging kelinci." Zilong tersenyum gembira saat melihat hewan buruan yang akan ia nikmati bersama pamannya. Baju lusuh yang sudah basah akibat berendam dan kotor terkena pasir akibat berburu itu menjadi keasyikan tersendiri untuknya. Ia pikir jika itu adalah bukti betapa tangguhnya dirinya.
Zilong berjalan kearah belakang rumah dan menaruh kayu kering yang ia kumpulkan. Kakinya melangkah riang hendak memasuki ruangan yang terbuat dari pagar bambu.
"Eh?" Zilong bersembunyi dibalik pagar ketika matanya menangkap sosok pria tua tinggi dan beberapa pria asing yang berada di sekitarnya. Zilong menatap pintu rumahnya yang terbuka lebar, matanya menatap nanar pria yang sedang berdiri diambang pintu dengan senyuman licik yang ia sunggingkan.
Apa yang terjadi? Bagaimana dengan pamannya?
"Pamaaaaann!!! Zilong berlari kencang saat sekelompok pria tadi meninggalkan rumahnya, meninggalkan kelinci yang ia buru tergeletak di tanah.
Alangkah kagetnya ia ketika melihat tubuh sang paman terluka, darah yang mengalir disekujur tubuhya membuat hatinya teriris. Ia berlari kencang memeluk tubuh pamannya yang lemah.
" Pamaaaaaannn!! "
Zilong menangis. Ia takut, ia sungguh tidak bisa membayangkan jika keluarga satu-satunya pergi meninggalkaannya lagi. Sudah cukup ia hidup tanpa orangtua, Ia tidak ingin hidup tanpa pamannya lagi.
Wajahnya bersimbah airmata, matanya memerah karena bengkak, tangannya memeluk erat tubuh sang paman. Bibirnya terus berteriak agar sang paman segera bangun dan membuka matanya lalu hidup seperti biasanya.
"Uhuk uhuk, Zi... long..., "
Zilong terbelalak, "paman jangan tinggalkan aku. Paman harus hidup."
"Bu... nuh, bu-bunuh merek... a uhuk."
"Paman jangan bicara lagi. Paman harus bertahan hiks."
"Zilong... rebut kalung itu, itu adalah kunci milik kekuarga Monaco uhuk... me-mereka yang mem-uhuk membunuh orangtuamu."
Deg deg...
Zilong menatap lekat pintu rumahnya. Bayang-bayang pria asing yang tadi ia temui terlihat jelas disana. Ia membencinya, ia benci senyuman licik yang ia lihat beberapa menit lalu. Ia berjanji akan membunuhnya seperti mereka membunuh pamannya.
"Uhuk... uhuk."
Atensi Zilong teralihkan,"tidak! Paman harus bertahan, ini perintahku!"
"Nak, pergi... pergi lah sejauh mungkin... hiduplah dengan baik."
"Tidak! Pamaaaan! TIDAAAAAAAAKK! PAMAAAAAANN!"
Runtuh sudah segala harapan Zilong yang ingin berbahagia dengan pamannya. Ia ingin hidup dengan damai tapi semuanya seolah-olah tidak mengizinkan Zilong.
"Hiks.. Aku membencimu paman, kau berjanji hiks akan tetap hiks ada di sisiku sampai hiks aku besar nanti. Hiks, inikah yang kau hiks sebut bersama hiks selamanya?"
Malam itu adalah malam panjang yang ia lalui. Hujan turun dengan deras seolah-olah ikut menangisi kepergian sang paman yang ia makamkan seorang diri. Rintikan hujan yang menggores luka hati itu membuat Zilong lemah dan tidak berdaya.
Jika dulu, ia sangat menyukai hujan. Karena, saat itu sang paman akan membuatkannya ubi bakar, menyelimutinya dengan selimut tebal hasil karyanya dari bulu-bulu hewan buas yang sering ia buru. Tetapi, malam itu adalah malam dimana ia membenci hujan. Pamannya meninggal. Satu-satunya keluarga yang ia punya lenyap begitu saja.
Zilong menghentikan langkahnya, ia mendongak keatas menghadap langit malam yang begitu gelap, "apa kau sedang mempermainkan aku Tuhan? Apa kau senang melihat aku begini? Hiks... kenapa? Kenapa kau rebut semua yang aku miliki? KENAPA?! "
Teriakannya teredam dalam derasnya hujan. Kakinya terasa lemas dan mati rasa hingga ia jatuh terduduk bersimpuh ditanah. Air matanya bercampur dengan air hujan yang ikut membasahi seluruh tubuhnya. Matanya berkunang, ia tak dapat bertahan lebih lama lagi.
"Apa a-aku akan ma...ti?"
Semuanya terasa kabur. Namun sebelum ia benar-benar pingsan, matanya masih bisa menangkap siluet seseorang yang tengah berjalan kearahnya. Dan detik berikutnya semuanya gelap.
.
.
.
Tbc*...