
"Aku akan menikahimu tapi tanpa menceraikan istriku." tegas pak Djoyo yang langsung membuat Selvi tersentak.
"Maksud, mas ?" Selvi menjauhkan tubuhnya dari pria itu lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku mempunyai nama baik yang harus ku jaga Vi, tolong mengertilah. Aku sudah menikah hampir 24 tahun tidak mungkin tiba-tiba pisah begitu saja, bagaimana tanggapan keluarga besar nanti dan juga nama baik keluargaku di masyarakat." terang pak Djoyo berharap Selvi mengerti keadaannya, egois sekali memang.
"Maaf mas, aku tidak bisa. Lebih baik kita akhiri semuanya dan selanjutnya anggap saja kita tidak pernah saling mengenal." Selvi nampak kecewa, harusnya ia tidak terlalu terperdaya dengan pria itu.
Jika pada nyatanya semua pria sama saja, egois dan selalu menjunjung harga dirinya meski harus menyakiti seseorang.
"Kenapa tidak bisa? percayalah Vi, aku akan berusaha adil pada kalian." bujuk pak Djoyo sambil menahan tangan Selvi yang hendak beranjak.
"Maaf mas aku tidak bisa, apa kata orang nanti." keukeh Selvi kemudian menarik tangannya lalu segera turun dari ranjangnya dengan selimut melilit sebatas dadanya.
Pak Djoyo yang tak menyerah dengan penolakan Selvi langsung mengejarnya lalu memeluk wanita itu dari belakang.
"Tolong jangan pergi Vi, aku sudah terlanjur sayang sama kamu. Aku cinta kamu Vi." ucapnya yang langsung membuat Selvi mendengus kesal.
"Tolong kembalilah ke istri mas." mohon Selvi namun pak Djoyo langsung menolak.
"Lihat mataku Vi, apa kamu tidak melihat cintaku di sana." pak Djoyo nampak memasang wajah memelas.
"Tapi mas...."
"Tidak ada tapi-tapian semua sudah terjadi dan aku akan bertanggung jawab." tegas pak Djoyo lalu memungut pakaian mereka yang berserakan di atas lantai.
Setelah mengenakan pakaiannya pak Djoyo nampak mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu.
"Ambillah kamu bisa menggunakannya untuk membeli keperluanmu atau melengkapi kebutuhan di restoranmu." ucapnya seraya mengulurkan credit cardnya pada Selvi namun wanita itu langsung menolaknya.
"Aku bukan j4l4ng yang bisa kamu beli, mas. Simpan saja uangmu karena aku tidak membutuhkannya." Selvi nampak murka dan langsung meninggalkan pak Djoyo di dalam kamarnya.
Wanita itu duduk di salah satu kursi restorannya dan mulai terisak kembali.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Vi. Tolong maafkan aku." pak Djoyo kembali membujuk, meraih kedua tangan wanita itu lalu menggenggamnya dengan erat.
"Baiklah aku akan segera menceraikan istriku, tolong jangan seperti ini." pak Djoyo nampak berkaca-kaca saat melihat Selvi menangis tersedu-sedu.
"Aku cinta kamu Vi." imbuhnya seraya membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
Beberapa saat kemudian setelah berhasil menenangkan Selvi, pak Djoyo segera pulang karena Selvi memutuskan untuk tetap tinggal di restorannya.
"Syukurlah kamu sudah pulang, pa." nyonya Amanda menyambut kedatangan suaminya dengan wajah khawatir.
Suaminya terlihat berantakan, rambutnya acak-acakan serta kemejanya nampak kasut.
Sementara pak Djoyo yang baru keluar dari mobilnya tiba-tiba terbesit rasa kasihan saat melihat istrinya mengulas senyum untuknya.
Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul satu malam dan istrinya itu masih terjaga untuk menunggu kepulangannya.
"Hm."
Akhirnya pak Djoyo menanggapinya dengan berdehem kecil, sudut hatinya merasa bersalah karena telah menghianati pernikahannya dengan istrinya itu tapi mengingat apa yang wanita itu lakukan membuatnya langsung menepis penyesalan.
Sepertinya pria itu tak menyadari jika perbuatannya juga sama murahannya dengan sang istri.
"Papa darimana tumben jam segini baru pulang ?" tanya nyonya Amanda saat sang suami melewatinya hingga membuat pria itu menghentikan langkahnya.
"Lembur." sahutnya lalu kembali berjalan meninggalkan istrinya itu.
"Lembur? tapi kenapa parfum wanita begitu menyengat di bajumu pa? kamu Lembur atau..." ucapan nyonya Amanda tertahan karena pak Djoyo sudah menyelanya.
"Aku lelah." potong pak Djoyo seakan enggan membahasnya kemudian segera masuk ke dalam ruang kerjanya lalu menutupnya dari dalam.
"Kamu tidak sedang selingkuh kan, pa ?" lirih nyonya Amanda seraya menatap pintu tertutup di hadapannya itu, seketika ia kembali menyesali perbuatannya.
Seandainya waktu bisa di ulang ia tidak akan bermain api dengan pria lain.
"Lihat saja pa, besok pagi aku akan membuntutimu. Siapa pun wanita itu takkan ku biarkan merebut posisiku." geramnya dalam hati.
Sementara itu Ameera yang barus selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri nampak terlelap tidur.
Namun tidak dengan Awan, pria itu nampak merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya lalu pandangannya ke langit-langit kamarnya.
"Aku yakin yang di katakan mama benar, mbak Ameera itu mandul." ucap Arini tadi sore saat Awan mendapatkan telepon tiba-tiba dari sang adik.
"Di keluarga kita tidak ada keturunan mandul mas, coba lihat aku bahkan aku langsung hamil saat pertama kali berhubungan dengan mas Anton." ucap Arini lagi mengingat wanita itu hamil duluan sebelum menikah.
Awan nampak menghela napasnya saat ucapan sang adik tadi kembali terngiang di kepalanya.
Sudah tak terhitung berapa kali ia berhubungan intim dengan istrinya itu, namun hingga kini wanita itu tak kunjung hamil juga.
Meski ia belum terlalu mengharap kehadiran seorang anak dalam pernikahannya tetapi omongan orang di sekitarnya membuatnya sedikit terganggu apalagi ibunya.
Tidak ingin berspekulasi lebih jauh, Awan memutuskan untuk tidur dengan memeluk sang istri.
Keesokan harinya....
"Mas, kapan ada waktu longgar ?" tanya Ameera pagi itu saat membantu suaminya menyiapkan pakaian kerjanya.
"Nanti aku usahakan ya sayang." sahut Awan, ia bukan tak ada waktu tapi kadang ada kekhawatiran pada dirinya jika ternyata ia yang tidak subur.
Jika itu terjadi ia takut istrinya itu kecewa lalu meninggalkannya.
"Baiklah, tapi usahakan ya mas." mohon Ameera.
"Iya sayang, kamu jangan banyak pikiran ya. Ada anak atau tidak cintaku padamu tidak akan pernah berubah." sahut Awan seraya mengusap lembut puncak kepala wanita itu.
Sementara itu nyonya Amanda nampak berperilaku seperti biasanya, memakai daster lusuh, wajah tanpa make up dan menenteng sebuah sapu.
Wanita itu akan bertingkah seperti layaknya pembantu di hadapan suaminya agar pria itu empati dan mau kembali padanya.
"Papa tidak sarapan dulu ?" ucapnya saat melihat suaminya baru keluar dari ruang kerjanya.
"Aku terburu-buru ada kerjaan." sahut pak Djoyo beralasan dan itu membuat nyonya Amanda nampak mengulas senyumnya, karena sudah lama sekali pria itu tak mengindahkan perkataannya.
Namun saat melihat jarum jam yang baru menunjukkan pukul enam pagi membuat nyonya Amanda nampak mengernyit karena tak biasa pria itu berangkat sepagi ini.
Saat sang suami sedang memanaskan mobilnya, nyonya Amanda segera mengganti pakaiannya di kamarnya lalu segera menghubungi taksi langganannya.
Kini wanita itu nampat mengikuti mobil suaminya dengan sebuah taksi.
"Jangan sampai kehilangan jejaknya, pak." mohon nyonya Amanda pada sang sopir.
"Baik bu."
Beberapa saat kemudian mobil pak Djoyo nampak berhenti di sebuah restoran yang masih tertutup, namun pria itu terlihat mengetuknya dari luar hingga nampak seorang wanita cantik keluar dari restoran tersebut.
"Selvi ?"
Nyonya Amanda nampak terkejut saat melihat siapa wanita muda yang bersama dengan suaminya itu.
Meski tak kenal dekat tapi ia pernah beberapa kali bertemu saat salah satu teman sosialitanya mengadakan sebuah acara.
Melihat keakraban sang suami dengan wanita lain, nyonya Amanda langsung terbakar cemburu.
Wanita itu bergegas turun dari taksinya lalu segera melangkahkan kakinya menuju restoran yang pintunya sedikit terbuka itu.
"Papa !!" panggilnya hingga membuat pak Djoyo yang sedang memeluk Selvi langsung menoleh ke sumber suara.
"Ma....."