
"Pi-pindah gimana maksudnya ?" Nyonya Amanda nampak syok saat mendengar ucapan putranya tersebut.
"Bukan pindah ma, kebetulan di kampung sedang ada acara nikahan keluarga jadi ayah dan bunda meminta kami untuk hadir." Ameera langsung menyela saat sang suami akan menjawab.
"Berapa hari ?" tiba-tiba pak Djoyo yang baru datang langsung menimpali.
"Satu minggu, pa." sahut Ameera.
"Satu minggu tapi kenapa bawa koper segede itu ?" Nyonya Amanda menatap dua koper milik anak dan menantunya tersebut.
"Biar kami tidak beli lagi pakaian di sana, ma." sahut Ameera beralasan, semoga ibu mertuanya tidak curiga karena ia ingin pergi dari rumah itu dengan baik-baik tanpa keributan dan pernikahan saudaranya hanyalah sebagai alasannya saja.
"Tidak bisakah lebih cepat dari itu? satu hari atau dua hari saja." ucap nyonya Amanda.
Entah kenapa nadanya terdengar memohon, pasti karena tak ingin berpisah lama dari putranya dan bukan dengannya dan itu membuat Ameera sangat miris.
Namun sebisa mungkin ia tak ingin membuat suaminya itu durhaka pada orang tuanya, biarlah Allah yang akan membalas semuanya.
Ia pernah mendengar jika seorang ibu adalah tangan kedua Allah, entah doa yang di panjatkan baik atau buruk ke anaknya Allah pasti akan mengabulkannya.
Jadi ia tak ingin mengalami hal buruk akibat sumpah serapah dari seorang yang bernama ibu.
"Tidak bisa ma, sebagai keluarga kita juga wajib mengikuti prosesi adat dan satu minggu itu sebenarnya sudah sangat singkat." kini Awan yang menimpali, terpaksa dia berbohong demi sang istri. Karena wanita itu tak ingin dirinya ribut dengan orang tuanya sendiri.
Sungguh ia sangat bersyukur mempunyai istri seperti Ameera, wanita itu tidak hanya memikirkan perasaan dirinya saja tapi juga perasaan orang tuanya agar hubungan mereka tetap baik-baik saja meski sebenarnya sudah tak baik.
"Ya kalian datang sebagai tamu saja dan besok kembali." ucap Nyonya Amanda tak mau tahu.
"Sudah biarkan saja ma, lagipula Ameera juga sudah lama tidak pulang mengunjungi orang tuanya." tegas pak Djoyo.
"Palingan nggak lama mereka juga kembali, orang di kampung masih sepi." sambungnya lagi.
Nyonya Amanda nampak menghela napasnya sejenak. "Baiklah, nanti kabari terus mama ya Wan." akhirnya wanita itu menyetujui meski dengan berat hati.
"Seperti baru kali ini saja ku tinggal, ma. Sebelum menikah aku juga pernah kerja di luar kota cukup lama." tukas Awan.
"Bedalah, dulu kamu kerja dan sekarang kamu tinggal bersama orang lain. Mama takut kamu lupa balik." cibir Nyonya Amanda seraya melirik ke arah menantunya tersebut.
"Ma...." Awan menjeda ucapannya saat Ameera merangkul lengannya.
"Sudah mas, sudah." lirih Ameera yang tak ingin berdebat.
"Kami pergi dulu." Awan langsung mengambil punggung tangan ibunya itu lalu menciumnya dengan takzim dan di ikuti oleh sang istri.
"Mobilnya kamu tinggal, kamu naik taksi saja kesana." ucap nyonya Amanda tiba-tiba, tentu saja ia takkan membiarkan putranya itu membawa mobil agar tidak betah di sana dan cepat kembali.
"Tapi ma...." Awan langsung memicing.
"Kalian di sana cuma menghadiri acara nikahan kan? jadi mama rasa mobil tidak terlalu di perlukan." tegas nyonya Amanda.
"Sudah mas, nggak apa-apa." bujuk Ameera, tak apa ia tak menggunakan mobil asal bisa meninggalkan rumah yang baginya seperti neraka itu.
Satu tahun lebih ia tinggal di sana namun sama sekali tak ada kebahagiaan yang ia dapatkan, setiap ucapan yang keluar dari bibir sang mertua selalu sukses membuat hatinya panas.
Awan nampak menghela napas beratnya, kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih kini mereka telah tiba di kediaman Ameera yang masih sangat asri karena berada jauh dari perkotaan.
Bahkan sawah-sawah pun masih membentang luas di pinggir jalan raya dan sulit mereka lihat di kota yang sudah di penuhi oleh gedung-gedung pencakar langit.
"Loh kalian ?" Bu Ana ibunda Ameera langsung terkejut saat melihat anak dan menantunya keluar dari sebuah taksi.
"Bunda." Ameera langsung berhambur ke pelukan sang ibu, rasanya sudah lama sekali ia tak bertemu wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Inikan bukan hari libur, kenapa kalian datang kesini ?" tanya bu Ana menatap anak dan menantunya itu bergantian.
"Kami sangat merindukan ayah dan bunda." kini Awan yang menimpali.
"Beneran kalian sedang tidak ada masalah ?" bu Ana sepertinya masih belum puas dengan jawaban anak menantunya itu.
"Kami hanya ingin ganti suasana bun, masa kami tinggal di rumah mama terus. Sekarang gantian dong tinggal di sini biar adil." terang Awan memberikan penjelasan, mungkin hanya untuk sementara waktu karena jika ia sudah mendapatkan rumah maka mereka akan segera pindah.
"Baiklah-baiklah, ayo masuk." Bu Ana langsung mengajak anak dan menantunya itu untuk masuk ke dalam rumahnya, meski tidak bertingkat dan semewah rumah besannya tapi rumahnya itu cukup luas dengan beberapa kamar.
Bu Ana yang melihat putrinya nampak rapi, bersih dan memakai banyak perhiasan nampak tersenyum lega, rupanya anak menantunya itu sudah menjaga putrinya dengan baik.
Namun tanpa wanita itu tahu sang putri benar-benar mendapatkan tekanan batin sejak menikah, Ameera yang tak ingin orang tuanya kecewa sengaja menampilkan yang baiknya saja.
Seperti ketika pulang ke rumahnya, Ameera selalu memakai pakaian yang bagus dan mahal, memakai banyak perhiasan dan memenuhi dompetnya dengan lembaran uang agar ketika sang ibu mengeceknya tidak akan mencurigai keadaannya.
Kadang ia berpikir dirinya sangat bodoh, namun setiap manusia punya pilihan dan pilihannya adalah tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya.
Biarlah apa yang ia alami cukup dirinya yang tahu dan akan ia jadikan pelajaran hidup untuk mendewasakannya, Ia percaya Allah mempunyai rencana indah bagi hambanya yang bersabar.
"Ini motor buat kalian ke kantor." ucap ayahnya Ameera sore itu saat pria itu baru pulang bekerja, pria yang bekerja di perusahaan BUMN itu nampak berpenampilan sederhana meski pekerjaannya lumayan mentereng untuk orang kampung.
Hanya saja ayah Ameera tak pernah menikmati penghasilannya sendiri, pria itu selalu menggunakannya untuk membantu orang-orang di sekitarnya yang kesusahan.
"Ini masih baru yah ?" Ameera nampak terkejut saat melihat motor baru yang baru turun dari mobil pick up tersebut.
"Maafkan ayah ya nak, ayah hanya bisa memberikan ini untuk kalian." ucap pria yang paruh baya itu.
"Tidak usah repot-repot yah, kami bisa membelinya sendiri." Awan merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, kalian punya uang di tabung saja untuk masa depan kalian." sahut pria itu.
Awan nampak sangat bersyukur, sungguh kehidupan keluarganya dan keluarga sang istri sangat berbanding terbalik.
Keluarganya sangat mendewakan harta, namun keluarga mertuanya itu sangat bersahaja bahkan sejak ia tinggal bersama mereka tak jarang mertuanya itu membagikan rejekinya pada para tetangganya yang kesulitan.
Hari pun telah berganti dan tak terasa sudah lebih dari satu minggu Awan dan Ameera pergi dari rumah, nyonya Amanda yang menyadari itu nampak gelisah.
"Pa, bagaimana ini mereka juga belum kembali ?" ucapnya pada sang suami sore itu.
"Coba hubungi Awan." Timpal pak Djoyo.
Nyonya Amanda bergegas menghubungi putranya tersebut, namun ponselnya sedang tak aktif.
"Tidak bisa di hubungi." sahutnya dengan wajah kecewa.
"Palingan sebentar lagi juga pulang, ma. Mereka mana betah tinggal di kampung." timpal pak Djoyo.
"Mudah-mudahan." Nyonya Amanda mencoba percaya, putranya yang ia besarkan dengan kelimpahan materi pasti tidak akan tahan tinggal di sana dan tanpa mobil pula.
Malam harinya, pak Djoyo yang mempunyai firasat kurang baik nampak masuk ke dalam kamar putranya di lantai atas rumahnya.
Pria itu langsung menuju ke arah lemari lalu membukanya dan betapa kagetnya pria itu saat melihat lemari tersebut sudah kosong.
Tak ada satupun pakaian yang Awan maupun Ameera tinggalkan dan sepertinya mereka sudah merencanakan kepergiannya.
"Ma, ternyata Awan dan Ameera memang sudah berencana pergi dari rumah ini karena semua pakaiannya mereka bawa." ucap pak Djoyo yang langsung membuat istrinya itu nampak syok.
.
Sory ya guys jika tokoh Ameera terlihat lemah di sini, karena ini real story dan bukan halu yang bisa kita setting alurnya. Sosok Ameera sering kita temui di kehidupan nyata yang lebih memilih diam untuk menghindari pertengkaran karena Ameera ini tipe wanita introvert.