Ameera

Ameera
Sentuhan Awan yang memabukkan



šŸ’„Pasangan paling bahagia di dunia ini, tidak memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka milikišŸ’„


21+


"Karena aku yang menang, jadi waktunya aku yang memberi kamu hukuman." ucap Awan saat giliran ia memenangkan permainan kartu tersebut.


"Baiklah, cepat katakan." ucap Ameera tak sabar.


"Hukumannya...." Awan sengaja menjeda ucapannya hingga membuat Ameera semakin tak sabar.


"Cepat katakan, mas." ucapnya sedikit berteriak.


"Cium aku." sahut Awan to the point.


"Apa ?" Ameera langsung melotot.


"Hukumanmu harus mencium aku." ujar Awan menegaskan.


Ameera nampak menggetok kepalanya sendiri. "Kenapa aku nggak kepikiran kesana sih, Mas Awan kan mesum." gerutunya dengan lirih.


"Nggak ada yang lain apa, Mas ?" mohonnya kemudian.


"Nggak ada." tegas Awan.


"Tapi aku malu, mas." Ameera nampak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hukuman tetap hukuman sayang atau mau yang lebih dari itu ?" goda Awan hingga membuat Ameera langsung menatapnya lalu menggelengkan kepalanya.


"Nggak mau." ketusnya.


"Ya sudah ayo." perintah Awan.


"Janji cuma cium doangkan ?" Ameera memastikan.


"Iya, asal kamu melakukannya seperti aku biasa menciummu." sahut Awan yang langsung membuat Ameera menelan ludahnya.


"Itu mah bukan hukuman tapi modus." lirihnya.


"Bagaimana? jadi mau yang lebih dari sekedar ciuman ?" tukas Awan saat Ameera banyak berpikir.


"Nggak-nggak." Ameera langsung menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku malu." keluh Ameera.


"Kenapa malu, sayang? kamu tidak hanya pernah merasakan bibirku bahkan milikku sudah pernah kamu rasakan juga." tukas Awan yang langsung membuat Ameera melotot menatapnya.


"Nggak usah di jelaskan juga mas, nggak tahu malu banget sih." gerutu Ameera dengan kesal.


"Kenapa harus malu, orang kita juga pernah polosan berdua bahkan setiap inci tubuhmu sudah pernah ku rasakan." goda Awan dan itu membuat wajah Ameera semakin memerah.


"Mas." teriak Ameera kemudian.


"Dasar mesum." imbuhnya lagi.


"Makanya buruan." Awan nampak memajukan wajahnya ke arah Ameera.


"Merem !!" perintah Ameera.


"Baiklah, tapi harus sama seperti aku menciummu." tegas Awan.


"Iya-iya dasar modus." gerutu Ameera.


Setelah Awan memejamkan matanya Ameera nampak memajukan bibirnya hingga kini menempel pada bibir Awan, terasa basah dan kenyal pikirnya.


Kemudian ia nampak memejamkan matanya lalu m3lum4t bibir sang kekasih dengan lembut.


Awan yang merasakan betapa lembutnya bibir Ameera, nampak membuka sedikit matanya.


"Kenapa kamu polos sekali sayang, bukannya kamu bisa menolak dengan sedikit ancaman dan saat itu aku pasti akan luluh tapi jujur aku suka kamu yang seperti ini, polos dan penurut dengan begitu aku benar-benar merasa kamu sayangi." gumam Awan, ia menyadari dirinya yang teramat mesum selalu saja melakukan segala cara agar gadis polos itu jatuh ke dalam pelukannya.


Setelah itu ia nampak membuka bibirnya agar gadis itu semakin memperdalam ciumannya.


Ameera yang mulai terbuai dengan tindakannya sendiri nampak memasukkan lidahnya ke dalam bibir Awan lalu mengobrak-abrik pertahanan pria itu.


Awan m3nd3s4h pelan, ia tak tahan jika tak membalas ciuman kekasihnya tersebut.


Kini mereka nampak saling membalas, saling m3lum4t dan menyesap satu sama lainnya dan tanpa Ameera sadari kini ia sudah berada di bawah kungkungan sang kekasih.


Mereka seakan lupa dengan kesepakatan sebelumnya, karena keduanya kini terlihat sangat menikmati dengan saling mendesah.


Kemudian Awan menurunkan ciumannya ke leher putih Ameera, mengecupinya dan menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Lalu tangannya nampak merangkak turun, lalu masuk ke dalam kaos gadis itu. Saat menyentuh gundukan kenyal yang ada di dalam sana, ia langsung m3r3m4snya dengan lembut hingga membuat Ameera tanpa sadar mengeluarkan d3s4h4nny4.


Seakan mendapatkan lampu hijau, Awan langsung menyingkap kaos beserta br4 gadis itu hingga kini memperlihatkan isinya yang seakan sedang menantangnya untuk segera m3lum4tnya.


Tak mau menunggu lama Awan langsung m3r3m4snya dengan lembut lalu m3lum4t puncaknya secara bergantian hingga membuat Ameera kini seperti berada di awang-awang.


Gadis itu nampak terbuai dengan sentuhan sang kekasih, pria itu sepertinya sangat hafal dengan titik-titik sensitifnya hingga membuatnya lupa diri akan kenikmatan yang ia rasakan.


Di tengah memanjakan sang kekasih, Awan nampak menggeram saat miliknya di bawah sana terasa merangsek minta segera di keluarkan.


"Sayang, aku menginginkan mu." lirihnya dengan suara beratnya.


Mengikuti instingnya, Awan nampak semakin menurunkan tangannya. Menyingkap rok span gadis itu lalu membelai pahanya dengan lembut, kemudian semakin masuk ke dalam lalu membelai milik kekasihnya tersebut dari balik ****** ********.


Terasa sangat lembab dan basah dan itu membuat milik Awan semakin merangsek dari tempatnya seakan tahu di mana rumahnya.


Namun Awan mencoba untuk menjaga akal sehatnya, ia tidak akan melakukan perbuatan yang akan membuat kekasihnya itu membencinya.


Sepertinya membantu sang kekasih mendapatkan pelepasan itu lebih baik meski tanpa ia masuki.


Kemudian ia mencoba memberanikan diri memasukkan jarinya ke dalam lembah basah milik sang kekasih, membelainya hingga membuat gadis itu m3nd3s4h tak karuan.


Ameera tersentak, namun rasa nikmat yang ia rasakan membuatnya tak kuasa menolak.


"Mas." rintihnya di tengah kesadarannya.


"Nikmati sayang, jangan menolak reaksi tubuhmu." bisik Awan tepat di depan wajahnya, lalu mulai m3lum4t bibirnya kembali dan membiarkan jarinya di bawah sana memberikan kenikmatan pada gadis itu.


Tak berapa lama, Ameera nampak m3nd3s4h panjang saat merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tak mengerti, namun ia merasakan sebuah kenikmatan yang sulit di jelaskan.


Awan tersenyum menatap wajah kemerahan Ameera lalu membawa gadis yang tengah lunglai kehabisan tenaganya itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku." lirihnya.


Ameera yang berada dalam pelukan Awan, nampak merutuki dirinya sendiri karena sudah terbuai dengan sentuhan pria itu.


Sedangkan Awan yang merasakan miliknya semakin sesak langsung mengurai pelukannya, menarik selimut lalu menyelimuti sang kekasih yang hampir polos.


Kemudian ia segera berlalu menuju toilet. "Mas, mau kemana ?" tanya Ameera memperhatikan langkah Awan yang terburu-buru.


"Mandi sayang, istirahatlah." sahut Awan kemudian masuk ke dalam kamar mandi lalu menutupnya.


Sementara itu Ameera nampak bangun dari tidurnya lalu mengacak rambutnya dengan kasar, ia marah dengan dirinya sendiri yang tak mampu menolak sentuhan Awan.


Dengan tubuh masih bergetar ia segera bangun lalu menggapai tisu di atas nakas untuk membersihkan miliknya yang lembab.


Setelah itu ia segera merapikan pakaiannya, lalu mendudukkan dirinya di depan cermin untuk merapikan rambutnya yang berantakan.


Dua puluh menit berlalu, namun Awan masih berada di dalam kamar mandi.


"Mas Awan mandinya lama banget sih." gerutunya.


Dan tepat menit ke 30 Awan nampak membuka pintu kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


Ameera yang melihat Awan bertelanjang dada langsung memalingkan wajahnya, ia masih saja merasa malu meski perbuatannya tadi bersama pria itu sangat memalukan.


"Mas mandinya lama banget sih, kalah-kalah perempuan." tegurnya kemudian.


"Iya." sahut Awan sembari berganti pakaian.


"Memang mas ngapain aja, luluran ?" ledek Ameera.


"Buang calon presiden." sahut Awan sekenanya, namun itu justru membuat Ameera mengerutkan dahinya.


"Apa mas Awan nggak suka dengan salah satu calon presiden ya." gumamnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengingat sebentar lagi akan ada pemilihan presiden.


"Apa kamu mau istirahat dulu di sini ?" tawar Awan sembari melangkah mendekati sang kekasih.


Ameera langsung menggeleng."Nggak mau." tegasnya, baru beberapa jam saja ia di sini sudah di buat lupa diri oleh pria itu bagaimana kalau sampai menginap bisa-bisa kejadian di mes waktu itu akan terulang kembali.


"Baiklah, kamu pasti laparkan? kita makan dulu di bawah baru kembali ke mess." ajak Awan yang langsung di angguki oleh Ameera.


Kemudian mereka segera meninggalkan kamar hotel tersebut lalu menuju restoran yang ada di sana untuk makan siang yang sangat terlambat karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.


"Mas, kamu hari ini bolos kerja loh. Nanti bagaimana kalau kamu di pecat." ucap Ameera sembari melangkahkan kakinya.


"Nggak ada yang berani memecatku sayang bahkan pak Mario sekalipun, kamu tenang saja calon suamimu ini tidak akan jadi pengangguran." sahut Awan sembari menggandeng bahu Ameera.


Keesokan harinya....


Sore itu Ameera yang baru pulang dari kantornya nampak duduk di kursi depan kamarnya bersama Nita sahabatnya.


Mereka nampak asyik bercerita hingga tak menyadari kedatangan seseorang.


"Boleh gabung nih ?" ucapnya menatap Ameera.


Ameera yang melihat arsitek baru di kantornya langsung menelan ludahnya.


"I-iya pak." sahut Ameera.


Sementara Nita langsung bangkit dari duduknya saat Jonathan akan duduk.


"Nit, kamu mau kemana ?" cegah Ameera saat sahabatnya itu hendak pergi.


"Aku kebelet, Meer. Maaf ya." sahut Nita kemudian berlalu ke kamarnya.


"Ada apa dengannya tiba-tiba banget." gerutu Ameera menatap kepergian Nita.


Kemudian ia ikutan beranjak, namun Jonathan langsung menahannya. "Saya ingin berbicara sebentar." ucap pria berkulit putih serta bermata sipit itu.


"I-iya, pak." sahut Ameera seraya mengedarkan pandangannya, semoga saja kekasihnya yang cemburuan itu belum pulang.