
Malam itu sesampainya di rumah Awan nampak melihat istrinya yang sedang asyik ngobrol dengan Rafael di ruang keluarganya.
"Mas, kapan pulang ?" Ameera nampak terperanjat saat tiba-tiba suaminya itu datang.
"Baru saja." sahut Awan lalu menaiki anak tangga dan meninggalkan istrinya itu begitu saja.
"Maaf mas, aku nggak tahu kalau mas sudah pulang." ucap Ameera seraya mengejar suaminya itu.
"Ya nggak tahulah orang kamu sibuk sama Rafa." sindir Awan tanpa menatap wajah istrinya itu.
"Aku juga baru turun kok mas, terus Rafa minta pendapat tentang kegiatannya di kampus." Ameera menjelaskan.
"Mau dari tadi pun siapa yang tahu." ucap Awan lalu membuka pintu kamarnya dengan kasar.
"Beneran mas." Ameera tak menyerah untuk meyakinkan.
"Sudahlah jika kamu mau nemenin Rafa, temanin saja dia." cibir Awan sembari meletakkan tas kerjanya lalu mulai membuka kancing kemejanya.
"Mas kok gitu sih ?" Ameera mulai terpancing emosinya.
"Mas sepertinya tak mempercayai perkataanku sama sekali." imbuh Ameera dengan kesal.
"Tapi kenyataannya seperti itu kan, kamu lebih memilih sibuk dengan Rafa dan tak mempedulikan suami yang baru saja pulang." tuduh Awan.
Ameera nampak menghela napasnya, sebenarnya ia tak ingin bertengkar dalam keadaan suaminya itu lelah tapi tuduhan demi tuduhan yang di lontarkan pria itu membuatnya kesal juga.
"Aku tidak sibuk dengan Rafa mas, mas jangan menuduhku sembarangan. Memang mas tahu sejak kapan aku ngobrol sama Rafa? itupun tidak sampai 5 menit, tapi sudahlah mungkin kamu lebih percaya sama mama dari pada sama istri sendiri. Tapi ku sarankan lain kali pasang cctv di setiap sudut rumah ini jadi saat kamu menuduh istrimu sendiri itu punya bukti." terang Ameera dengan mata berkaca-kaca, baru kali ini ia marah dengan panjang dan lebar pada suaminya itu.
Kemudian Ameera segera berlalu keluar, rasanya sakit sekali saat suami sendiri tak mempercayai perkataannya.
Ia mengerti suaminya itu sedang trauma dengan perselingkuhan ibunya tapi harusnya pria itu juga berpikir bagaimana sosok istrinya selama ini.
"Maafkan aku." Awan langsung memeluk istrinya dari belakang saat wanita itu akan meninggalkan kamarnya.
Ameera nampak terdiam, dadanya masih sesak sekali saat suaminya menuduhnya yang tidak-tidak.
"Sayang, maafkan aku." ulang Awan saat istrinya itu tak membalas maafnya.
"Tidak usah minta maaf mas, karena besok-besok kamu pasti akan menuduh aku lagi tanpa bukti dan hanya dari omongan orang lain." ucap Ameera, air matanya mulai jatuh ke pipinya.
Kemudian Awan memutar tubuh istrinya itu agar menghadap padanya.
"Aku janji tidak akan lagi." mohon Awan yang nampak bersalah, toh tadi yang ia lihat Ameera dan Rafael juga hanya ngobrol biasa tapi karena hasutan sang ibu ia mendadak tersulut.
Pria itu langsung menyeka air mata istrinya dengan lembut.
"Tidak usah berjanji mas jika suatu saat kamu akan melanggar, alangkah baiknya kamu membuktikan ucapanmu itu." tegas Ameera menatap suaminya itu.
Awan mengangguk lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku." ucapnya berkali-kali dengan perasaan menyesal.
Sementara itu pak Djoyo yang masih berada di restoran milik Selvi nampak lebih baik setelah menceritakan segala keluh kesahnya yang ia pendam selama ini.
"Kamu sendiri bagaimana ?" tanya pak Djoyo kemudian, rasanya tidak adil jika ia meminta wanita cantik di hadapannya itu untuk mendengarkan masalahnya sedangkan wanita itu juga pasti mempunyai masalah sendiri.
Beruntung ia mempunyai tabungan jadi bisa ia gunakan untuk membuka restorannya ini.
Karena keahliannya hanya memasak dan belum lagi mengingat usianya sudah kepala tiga jadi untuk mencari kerja kantoran pun sedikit susah.
"Maaf kalau saya sedikit lancang, ngomong-ngomong ayahnya anak-anak masih memberikan nafkah untuk mereka ?" tanya pak Djoyo dengan hati-hati.
Selvi nampak menggeleng pelan. "Aku masih mampu menghidupi mereka sendiri kok, mas." sahut Selvi yang mencoba untuk tegar meski terdengar getir.
"Aku lebih baik hidup pas-pasan mas dari pada berlebih tapi selalu makan hati." imbuh Selvi tak terasa butiran kristal membasahi pipinya saat mengingat bagaimana mantan suaminya itu suka bermain wanita.
Pak Djoyo yang seakan mengerti perasaan wanita di hadapannya itu langsung beranjak dari duduknya lalu pindah ke sisih wanita itu.
"Kamu wanita hebat, Vi." entah sadar atau tidak pak Djoyo nampak melingkarkan tangannya di bahu Selvi hingga membuat wanita itu semakin kencang menangis.
"Percayalah semua akan baik-baik saja." pak Djoyo membawa Selvi ke dalam pelukannya, lalu mengusap punggungnya dengan lembut.
Beberapa saat kemudian setelah merasa tenang, Selvi langsung menarik tubuhnya menjauh. "Maaf, mas." ucapnya menatap pria di sebelahnya itu.
Sejenak tatapan mereka beradu hingga membuat gelayar aneh dari keduanya, namun Selvi langsung menoleh ke arah lain.
Ia takut terbawa suasana mengingat saat ini hatinya sedang rapuh dan butuh seseorang untuk mengobatinya.
"Oh ya, mas nggak pulang kah? nanti orang rumah nyariin." ucap Selvi memecah keheningan mereka, toh malam pun hampir larut.
"Kamu mengusirku ?" pak Djoyo menatap datar Selvi.
"Nggak mas, tapi ini sudah malam dan aku juga mau tutup." sahut Selvi, mengingat karyawannya juga sudah pulang semua dan menyisakan dirinya dan pak Djoyo saja.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik." sahut pak Djoyo seraya beranjak dari duduknya.
"Mas, juga." balas Selvi.
"Terima kasih atas kopinya yang sangat nikmat ini." pak Djoyo nampak mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah lalu memberikannya pada wanita yang berdiri di hadapannya itu.
"Nggak usah mas, cuma kopi saja." tolak Selvi.
"Saya tidak suka di tolak Vi." pak Djoyo nampak memaksa dengan mengambil tangan wanita itu lalu meletakkan uang tersebut di atas telapak tangannya.
"Terima kasih, mas." Selvi nampak tak enak hati saat melihat kepergian pak Djoyo.
Sepanjang jalan pak Djoyo nampak tak berhenti mengulas senyumnya, ia merasa kembali seperti remaja yang baru merasakan getaran cinta.
"Tidak, ini salah." gumamnya mengingatkan dirinya sendiri jika ia bukan seorang pria single dan tak pantas jatuh cinta lagi pada wanita lain.
"Ya, sepertinya aku hanya kasihan padanya." gumamnya lagi, meski harus mengingkari gelanyar aneh yang mendadak ia rasakan saat bersentuhan dengan Selvi tadi.
"Syukurlah, kamu sudah pulang pa. Dari tadi aku mengkhawatirkan mu, karena tak biasanya papa pulang jam segini." ucap nyonya Amanda tiba-tiba yang langsung mengagetkan pak Djoyo yang baru keluar dari mobilnya malam itu.
Wajah Pak Djoyo yang tadinya nampak berseri-seri kini di tekuk di depan istrinya itu.
"Hm." pria itu hanya berdehem saat melewati istrinya itu tanpa berkata-kata, seakan wanita itu tak nampak di matanya.
"Pa, sampai kapan papa akan seperti ini ?" teriak nyonya Amanda pada akhirnya hingga menghentikan langkah suaminya itu.