Ameera

Ameera
Part~135



"Mas, pesan dari siapa ?" ulang Ameera saat suaminya tak menjawabnya.


"Iklan provider sayang nggak penting." sahut Awan setelah menghapus chat dari Karen tanpa membalasnya terlebih dahulu.


Untuk pertama kalinya pria itu berbohong pada sang istri dan berharap ke depannya tidak akan terjadi lagi.


"Ya sudah yuk bobo." ajak Awan kemudian seraya membawa wanita kesayangannya itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku." gumamnya dalam hati.


Keesokan harinya....


"Nggak sarapan dulu, mas ?" Ameera menatap suaminya yang baru keluar dari kamarnya, langsung mengambil sepatunya lalu segera memakainya padahal biasanya pria itu selalu menyempatkan sarapan dahulu.


"Mama menyuruh untuk sarapan di sana, katanya sedang masak banyak." sahut Awan.


"Oh." Ameera nampak kecewa padahal ia juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Nggak apa-apa kan, sayang? atau aku sarapan saja di rumah dan ku batalkan ke rumah mama ?" tawar Awan saat menatap istrinya yang nampak keberatan.


"Nggak apa-apa mas, mas pergi saja dari pada nanti mama marah." Ameera langsung menggelengkan kepalanya tak masalah, ia juga tak ingin menjadikan suaminya itu durhaka pada orang tuanya.


"Terima kasih ya." Awan langsung mengacak puncak kepala wanita yang sangat ia cintai itu dengan sayang, setelah itu bergegas pergi ke rumah orang tuanya.


"Mama pikir kamu tidak datang ?" Nyonya Amanda langsung girang saat melihat kedatangan putra satu-satunya itu.


"Ayo duduklah, mama masak makanan kesukaanmu !!" imbuhnya lagi seraya menarik kursi untuk anak lelakinya itu.


Setelah itu mereka mulai sarapan paginya, Awan yang memang menyukai masakan sang ibu terlihat sangat lahap.


"Ameera mana bisa masak seperti ini." ucap nyonya Amanda di sela kunyahannya.


"Masakan dia juga enak Ma, tapi kalau pagi aku melarangnya untuk masak berat. Cukup roti dan teh sudah cukup." timpal Awan membela sang istri.


"Orang dia juga nganggur, sekali-sekali lah masak berat kalau pagi. Memang Karen wanita karir mana sempat seperti itu." sahut nyonya Amanda yang langsung membuat Awan menghentikan kunyahannya.


Pria itu nampak menghela napasnya dengan kasar, lalu kembali menyantap makanannya yang masih sisa setengah tanpa berniat menimpali perkataan sang ibu.


"Oh ya Wan, bagaimana menurutmu dengan Karen? mama benar-benar tak menyangka pergaulan dia benar-benar kelas elit." ucap wanita paruh baya itu.


"Biasa saja." Sahut Awan tak terlalu peduli.


"Tapi mama berharap hubungan kalian tak biasa." timpal Nyonya Amanda kemudian.


"Kami hanya rekan kerja Ma, tak lebih. Lagipula aku tak berniat menghianati istriku." tegas Awan.


"Halah wanita mandul itu masih saja kamu pertahankan, mending sama Karen meski dia janda tapi kaya raya dan sederajat dengan kita, dia juga sudah terbukti bisa melahirkan anak." cibir Nyonya Amanda kemudian.


"Aku sudah kenyang, Ma." Awan segera menyudahi sarapannya, lalu segera beranjak dari duduknya.


"Pikirkan baik-baik saran Mama, Wan." seru nyonya Amanda saat putranya itu berlalu pergi.


"Sepertinya aku harus segera membuatnya berpisah dari Ameera, cukup 10 tahun anakku menderita bersama wanita itu." imbuhnya saat putranya itu hilang dari pandangannya.


Sesampainya di kantornya, Awan langsung di sambut oleh Karen dengan senyuman manisnya. Entahlah sejak kejadian waktu itu, wanita itu mulai berani mendekatinya.


Entah hanya sekedar menyapa atau memberikannya perhatian-perhatian kecil seperti mengingatkannya untuk tidak telat makan.


Sementara itu Ameera yang sedang membersihkan rumahnya setelah sang suami pergi nampak berjalan tergopoh-gopoh saat mendengar ponselnya berdering nyaring.


"Assalamualaikum Ma." ucapnya setelah mendial tombol hijau di layar ponselnya.


"Wa'alaikumsalam, Meera tadi Awan makan masakan mama lumayan banyak. Coba kalau pagi itu kamu masak agar suamimu itu lebih terpenuhi gizinya jangan setiap hari sarapan roti." tegur nyonya Amanda dati ujung telepon.


"Iya nanti Meera usahakan, Ma." sahut Ameera.


"Jangan nanti-nanti tapi mulai besok, jika kamu memang tak sanggup mengurus putraku di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik yang mau mengurusnya." terang nyonya Amanda tak mau di bantah, lalu segera mematikan sambungan teleponnya sepihak.


"Astagfirullah Ma." Ameera langsung tercengang dengan perkataan ibu mertuanya itu hingga seharian ini wanita itu nampak kepikiran.


Ia tak menyangka ibu mertuanya tega mengatakan hal itu padahal selama ini seluruh hidupnya ia abdikan untuk putranya tersebut.


Tiba-tiba Ameera merindukan sang ibu, ia ingin merasakan hangatnya pelukan wanita itu agar bisa meredakan gejolak hatinya yang sedang tak baik-baik saja.


"Mas, aku besok ke rumah Bunda ya." mohon Ameera malam itu saat suaminya baru pulang.


"Kok, mendadak ?" Awan menautkan alisnya menatap istrinya itu.


"Bunda sakit ?" imbuhnya kemudian.


Ameera menggelengkan kepalanya. "Aku hanya rindu." sahutnya.


"Baiklah, tapi aku tak bisa menemanimu di kantor lagi banyak kerjaan." timpal Awan.


"Nggak apa-apa, mas. Nanti kamu jemput saja, biar berangkatnya aku naik taksi." sahut Anne yang langsung di angguki oleh sang suami.


Keesokan harinya....


Ameera yang sudah berada di rumah ibunya itu tak tega jika harus mengutarakan segala masalah rumah tangganya, akhirnya ia hanya bisa memendamnya seorang diri.


Sejak sang ayah meninggal, ibunya juga seperti tak mempunyai semangat untuk hidup. Seolah telah kehilangan separuh jiwanya.


"Pak ustad."


Ameera langsung ingat pada seseorang yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri, seorang pria yang akhir-akhir ini selalu peduli pada keluarganya sejak ayahnya tiada.


Akhirnya Ameera memberanikan diri menyambangi rumah pria itu, selama ini nasihat-nasihat pria yang bergelar ustad itu selalu membuat pikirannya tenang.


"Ummi ada ustad ?" tanya Ameera berbasa-basi setelah memberikan salam pada pria itu, pria yang masih terlihat muda dan tampan.


"Ummi sedang ada pengajian sebentar lagi juga selesai, ayo duduklah !!" pas ustad segera mempersilakan Ameera untuk duduk di teras rumahnya, meski hubungan mereka dekat seperti keluarga tapi pria itu tak ingin sembarang memasukkan seorang wanita sebelum sang istri datang.


"Katakan, jika itu akan membuatmu lebih baik !!" ucapnya kemudian seakan tahu permasalahan Ameera, selama ini pria itu dan sang istri memang sering menjadi penasehat para warga mengingat ilmu agama yang di kuasainya.


Tanpa bisa ia tahan, Ameera segera menceritakan semua permasalahan rumah tangganya selama ini hingga hubungannya dengan sang ibu mertua.


"Jodoh, rezeki dan maut adalah ketentuan Allah dan itu mutlak. Kita sebagai manusia selain berusaha juga harus berdoa, lalu kenapa Allah belum kunjung mengabulkan permohonan kita itu karena Allah menginginkan kita untuk lebih serius lagi bertakwa padanya dan juga jangan lupa untuk selalu menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Mulailah introspeksi dari diri sendiri, apakah selama ini sudah baik sholatmu dan mulai belajarlah untuk menutup aurat karena janji Allah itu nyata bagi semua hambanya yang bertakwa." nasihat pak ustad yang membuat Ameera sedikit lebih lega, selama ini ia memang merasa jauh dari sang maha pencipta.


"Terima kasih pak ustad, terima kasih banyak." Ameera merasa bersyukur di hidupnya masih mempunyai seseorang sebagai pengganti sang ayah yang selalu menasihatinya, meski ustad tersebut lebih cocok menjadi sang kakak karena masih sangat muda.


Sore itu Awan yang sedang bersiap untuk menjemput istrinya di rumah sang ibu mertua nampak memicing saat melihat sebuah potret yang di kirim ibunya di ponselnya.


Sebuah potret di mana sang istri sedang bercengkerama akrab dengan seorang pria hingga membuat darahnya seketika mendidih.


"Apa wanita seperti itu yang kamu anggap wanita baik-baik Wan ?"