
Malam ini Ameera sengaja tak memejamkan matanya mesti ia sangat mengantuk setelah usai menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
Satu jam lagi jarum jam akan menunjukkan pergantian waktu dan itu artinya usianya akan bertambah, ya Ameera sedang menunggu hari kelahirannya tiba.
Setiap tahun ia selalu antusias karena suaminya selalu memberikan kejutan atau kata-kata romantis padanya yang membuatnya selalu merasa menjadi wanita berharga.
Akhirnya waktu itu tiba, lebih baik Ameera pura-pura tidur saja agar kejutan yang di berikan sang suami terlihat sempurna meski ia bisa menebaknya duluan.
Namun hingga 30 menit berlalu tak ada tanda-tanda suaminya itu bergerak dari tidurnya. "Mungkin sebentar lagi."
Ameera yakin pria itu takkan melupakan hari spesialnya, karena setiap tahun semenjak mereka masih pacaran Awan selalu memberikannya kejutan di tengah malam.
Pernah suatu kali lupa namun keesokan harinya suaminya langsung memberikan ucapan romantis.
Satu jam pun berlalu namun dengkuran suaminya semakin keras, pertanda jika pria itu semakin terlelap mengarungi mimpinya.
"Apa dia benar-benar lupa ?" Ameera mulai uring-uringan, sebenarnya tahun ini adalah tahun terberat menurutnya. Selain karena ayahnya telah pergi selamanya, rumah tangganya juga sedang di goda oleh wanita lain.
Meskipun suaminya telah bersumpah telah mengabaikan wanita penggoda itu tetap saja membuatnya masih was-was, harusnya pria itu memecatnya mengingat ia sebagai seorang manager mempunyai hak untuk itu.
Namun dengan alasan wanita penggoda itu sangat berkompeten dalam pekerjaan, membuat suaminya tetap mempertahankannya dan tidak akan mencampuradukkan dengan masalah pribadi.
"Kenapa kamu melupakan hari ulang tahunku sih mas, apa kamu mendadak pikun akibat akhir-akhir ini kita sering bertengkar ?"
Ameera merasa kecewa, ia sudah membuat gerakan atau suara-suara agar suaminya terbangun namun pria itu hanya menanggapinya dengan merubah posisi tidur menjadi memunggunginya.
"Aku membencimu." desis Ameera, kemudian ia pun juga langsung memunggungi pria itu sampai pada akhirnya ia terlelap dengan sendirinya.
Keesokan harinya....
Pagi itu Ameera mengerjapkan matanya saat mendengar alarm di ponselnya berdering, lantas ia mematikannya.
Lalu mengambil ponsel suaminya untuk mengecek sosial medianya siapa tahu ada pesan masuk dari wanita penggoda itu.
"Sudah tak sabar untuk melihatnya mengagumiku saat aku memakai gaun pesta."
Sebuah status yang di tulis oleh Cindy di media sosialnya dengan menyertakan sebuah potret undangan pesta kantor.
Ameera memang sengaja tak memblokir akun medsos wanita penggoda itu agar ia bisa memantaunya setiap saat.
"Jadi mau ada pesta di kantor, kenapa mas Awan tidak bilang padaku ?"
Pikiran Ameera mulai di penuhi dengan kecurigaan, kemudian wanita itu memutuskan untuk segera bangun dan menyiapkan sarapan.
Beberapa saat Ameera kembali ke kamar untuk membangunkan sang suami, sebenarnya ia masih kesal dengan pria itu tapi mau bagaimana lagi karena suaminya juga harus segera bangun untuk pergi bekerja.
Mengingat cicilan rumahnya belum lunas hingga membuat mereka tak bisa bersantai meski hanya sejenak, Ia pun juga bekerja keras untuk memajukan bisnisnya agar mempunyai tabungan sendiri karena penghasilan suaminya benar-benar habis untuk membayar cicilan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Mas, bangun." ucap Ameera seraya menggoyang lengan suaminya itu.
"Sudah pagi ya." ucap Awan setelah mengerjapkan matanya.
"Hm, sepertinya tidurmu sangat nyenyak mas ?" sindir Ameera saat melihat wajah segar pria itu, berbeda sekali dengannya yang semalam tak dapat memejamkan matanya.
Berharap mendapatkan ucapan selamat ulang tahun romantis dari pria itu namun nyatanya ia justru di tinggal tidur begitu saja setelah suaminya itu puas membuatnya kelelahan.
"Menyebalkan."
"Ayo mas bangun." ucap Ameera lagi saat sang suami kembali memejamkan matanya, sepertinya pria itu masih sangat mengantuk.
"Ntar lagi." sahut Awan singkat.
"Mas !!" panggil Ameera lagi.
"Mas, bangun sudah siang." teriak Ameera dengan nyaring yang langsung membuat Awan berjingkat karena kaget.
"Iya bangun, astaga." Awan segera bangkit dari tidurnya seraya menggerutu kesal.
Di tinggal begitu saja membuat Ameera semakin kesal, padahal biasanya suaminya itu suka menggodanya hingga membuat pria itu urung mandi dan lebih memilih bermalas-malasan di atas ranjang bersamanya.
Namun kini pria itu sama sekali tak melakukan hal itu, malah wajahnya terlihat kesal seraya berlalu ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Awan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di bawah pusarnya, biasanya pria itu akan selalu menggodanya untuk mengajaknya kembali bercinta, meski terkadang ia menolak atau justru mengiyakannya.
Namun pagi ini pria bersikap cuek dan wajahnya terlihat di tekuk, mungkin masih kesal karena ia membangunkannya dengan cara mengagetinya.
"Mas, ingat nggak ini hari apa ?" pancing Ameera kemudian.
"Hari selasa, memang kenapa ?" sahut Awan seraya berganti pakaian.
"Tanggal berapa ?" ucap Ameera lagi.
"21."
"Bulan ?"
"April, sayang. Masa lupa sih, ya udah aku berangkat dulu ya." sahut Awan seraya mengambil tas kerjanya.
"Sarapan dulu mas." tawar Ameera sembari mengikuti langkah pria itu.
"Aku buru-buru ada meeting pagi ini, hati-hati di rumah ya." Awan langsung mengecup kening istrinya itu lalu segera pergi.
"Kok gitu." Ameera terlihat kesal, suaminya itu tak hanya melupakan hari ulang tahunnya tapi juga mulai tak berselera dengan sarapan buatannya meski hanya roti bakar dan telur mata sapi.
"Benar-benar keterlaluan kamu mas." Ameera langsung menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi, lalu mengambil dua porsi roti bakar sekaligus. Dari pada mubazir ia akan menghabiskan semuanya.
"Hari ini kamu sudah membuatku kecewa mas, lihat saja aku juga akan membuatmu lebih kecewa lagi."
Setelah menghabiskan sarapannya Ameera segera membersihkan dirinya kemudian bergegas pergi menggunakan mobilnya.
Hari ini ia akan ke salon, selain untuk merawat tubuhnya ia juga akan melakukan suatu hal yang bikin suaminya itu naik pitam.
"Aku akan mengecat rambutku, biar saja dia marah aku tak peduli."
Ameera memutuskan untuk mengecat rambutnya, hal yang paling tidak di sukai suaminya tapi ia sebenarnya sangat suka. Dahulu saat mereka masih pacaran, Ameera pernah mengecat rambutnya namun baru beberapa saat pria itu kembali membawanya ke salon untuk di cat hitam kembali.
Setelah hampir tiga jam berada di salon Ameera kembali pulang dengan penampilan baru, rambutnya yang di cat warna cokelat terang membuatnya terlihat lebih segar.
Hari itu Ameera juga tidak masak apapun, ia kecewa karena masakannya tadi pagi tak di sentuh oleh suaminya itu. Intinya hari ini ia ingin bermalas-malasan di rumah untuk membuat pria itu kesal.
Sore harinya saat suaminya akan tiba di rumahnya, Ameera segera berganti pakaian. Pria itu paling tidak suka jika ia mengenakan celana pendek hotpants jika berada di luar rumah dan kali ini Ameera memakainya saat main ke rumah tetangganya.
"Wah cik Meera rambutnya baru ya ?" tanya Meli wanita muda yang biasanya menjadi teman ngobrol Ameera saat sedang kesepian.
"Iya cik, ingin mengganti suasana saja." sahut Ameera seraya tersenyum manis pada wanita berwajah oriental itu.
"Nah itu mas Awannya sudah datang." ucap Meli saat melihat motor Awan berhenti di depan pagar rumahnya.
"Nggak apa-apa cik, kita ngobrol saja dulu sebentar." timpal Ameera yang enggan untuk pulang, akhirnya mereka melanjutkan obrolannya kembali apalagi ada beberapa tetangga lain yang ikut bergabung juga.
Awan yang melihat istrinya berpenampilan lain nampak memicing, tanpa berkata-kata lagi pria itu segera masuk ke dalam rumahnya.
"Marah saja kamu mas, aku juga punya alasan untuk marah."