Ameera

Ameera
Part~75



"Eyang." Awan langsung berjalan mendekat sembari menggandeng tangan sang istri.


"Eyang bagaimana kabarnya ?" tanyanya kemudian sambil mencium tangannya lalu mengecup kedua pipi wanita cantik yang sudah tak lagi muda itu.


"Eyang sangat baik, lalu bagaimana kabarmu ?" tanya Eyang balik.


"Baik Eyang, oh ya kenalkan Eyang ini istri Awan." Awan memperkenalkan Ameera pada neneknya tersebut.


Eyang menatap Ameera dengan seksama dan itu membuat Ameera semakin gugup.


"Ayo duduk dekat Eyang." perintahnya kemudian seraya menggeser duduknya agar Ameera duduk di sisinya.


Ameera tercengang, namun ia segera mendaratkan bobot tubuhnya di kursi samping neneknya tersebut.


"Terima kasih, Eyang." Ameera mencium tangan neneknya itu dengan takdzim.


"Sama-sama, kamu juga cucuku tak ada bedanya dengan yang lain." sahut Eyang dengan mengulas senyumnya.


Lalu pandangannya tak sengaja ke leher putih Ameera, kemudian ia seperti menahan senyumnya.


"Apa Awan serakus itu ?" bisiknya kemudian.


Ameera yang tak mengerti langsung mengangguk saja, mungkin neneknya itu sedang membicarakan suaminya yang memang doyan makan.


"Eyang berharap akan segera memiliki cicit." imbuhnya lagi berbisik yang langsung membuat Ameera mengulas senyumnya, ia merasa sangat di terima oleh neneknya tersebut meski jauh dari dasar lubuk hatinya ada perasaan khawatir karena sampai sekarang belum kunjung hamil juga.


"Iya, nek." Ameera mengangguk.


"Eyang sepertinya langsung cocok sama Ameera, dia pantas menjadi istrinya Awan. Benar begitu Manda ?" Eyang berbicara menatap anak menantunya yang duduk agak menjauh tersebut.


"I-iya, ma." sahut nyonya Amanda dengan menganggukkan kepalanya, lalu pandangannya datar ke arah Ameera.


"Baguslah, jaga menantumu baik-baik Manda karena tidak semua wanita seperti dia." tegas Eyang.


Nyonya Amanda mendesah pelan kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Iya, ma." sahutnya pelan.


Setelah itu mereka berlanjut menikmati hidangan yang sudah di persiapkan.


Sepanjang acara Ameera selalu duduk di samping neneknya itu, karena ia memang tak di perolehkan untuk pergi kemana-mana.


"Nek, boleh tanya sesuatu ?" Ameera berbicara dengan berbisik.


"Silakan !!" sahut Eyang.


"Wanita itu siapa, nek ?" Ameera menunjuk wanita cantik yang nampak sedang duduk bersama saudara sepupu Awan.


Sebenarnya Ameera tak peduli siapa dia tapi cara wanita itu menatap Awan membuatnya risih, wanita itu seakan terang-terangan mengagumi suaminya.


"Dia teman kuliahnya Adel kebetulan berasal dari luar kota jadi sama Adel di ajak kemari." sahut Eyang, Adel adalah saudara sepupu Awan.


"Oh." Ameera mengangguk pelan.


"Kenapa? kamu cemburu karena dari tadi gadis itu memperhatikan suamimu ?" Eyang langsung menebak.


"Hm." Ameera mengangguk kecil, ada rasa tidak terima jika miliknya di sukai oleh orang lain.


"Kenapa harus khawatir? coba kamu perhatikan suamimu di manapun dan dengan siapa dia berbicara pandangannya tak lepas dari kamu." tutur Eyang yang langsung membuat Ameera melirik Awan yang nampak sesekali menatapnya saat sedang ngobrol dengan saudaranya yang lain.


Mata mereka bertemu, namun Ameera segera mengalihkan pandangannya.


"Jadi apalagi yang kamu cemburukan di saat seluruh hati dan pikirannya ada bersamamu." imbuhnya lagi menasihati cucu menantunya tersebut.


Ameera merasa lega, kemudian ia mengulas senyumnya. "Eyang benar." ucapnya dengan nada kelegaan.


"Lagi ngomongin apa sepertinya seru?" tiba-tiba Awan berjalan mendekati istrinya itu.


"Nggak ada kok mas, ya kan Eyang ?" dusta Ameera yang langsung di anggukin oleh neneknya itu.


Awan terkekeh, lalu saat melihat belahan dada milik istrinya yang sedikit terbuka membuat pria itu menelan ludahnya.


Lalu di pandanginya istrinya yang malam itu terlihat sangat cantik dengan dandanan naturalnya.


"Sayang, bisa ikut sebentar." ajaknya kemudian dengan nada berbisik.


"Mau kemana mas ?" Ameera menaikkan sebelah alisnya tak mengerti, ia sudah terlanjur nyaman duduk berduaan dengan neneknya jadi rasanya enggan untuk beranjak.


"Sebentar saja." mohon Awan.


"Baiklah, Eyang sebentar ya." Ameera mengangguk setelah itu ia berpamitan dengan sang nenek.


"Mas, kita ngapain kesini ?" Ameera nampak bingung, namun Awan justru langsung m3lum4t bibirnya dengan rakus.


Pria itu memepet tubuh istrinya ke tembok belakangnya lalu ia semakin memperdalam ciumannya.


Di lum4tnya bibir ranum itu dengan menuntut hingga membuat istrinya tersengal karena kehabisan napas.


"Mas kamu apa-apaan sih, bagaimana kalau ada yang melihat ?" protes Ameera setelah suaminya melepaskan panggutannya.


"Aku merindukanmu." sahut Awan dengan wajah tak bersalah.


"Tapi bagaimana kalau ada yang melihatnya ?" Ameera mengedarkan pandangannya.


"Kalau ada ya biarkan saja sayang, palingan mereka juga kepingin." seloroh Awan sembari terkekeh.


Ameera menyipitkan matanya, tak biasanya suaminya tertawa lepas seperti itu.


"Senang banget sepertinya, mas ?" tanyanya menyelidik.


"Masa sih ?" Awan menaikkan sebelah alisnya menggoda wanita itu.


"Hm, pasti senang karena sedari tadi di lihatin cewek cantik." sindir Ameera yang langsung membuat Awan menyurutkan senyumnya.


"Kamu ngomong apa sih, sayang ?" tanyanya tak mengerti.


"Temannya Adel dari tadi perhatiin mas terus, kamu pasti senang kan ?" cibir Ameera.


"Aku tidak tahu sayang dan aku tidak peduli." tegas Awan.


"Lalu kenapa mas tiba-tiba senang begitu ?" Ameera penasaran, namun itu justru membuat Awan tergelak. Istrinya selalu saja menggemaskan jika sedang cemburu.


"Sayang dengarkan, aku bahagia karena kamu di terima baik oleh nenek bahkan sepertinya nenek lebih menyukaimu dari pada cucunya yang lain." Awan menjelaskan dengan memegang kedua lengan istrinya itu.


"Beneran ?" Ameera masih tak percaya.


"Beneran sayang." Awan meyakinkan yang langsung membuat wanita itu mengulas seutas senyumnya.


"Aku juga senang ternyata nenek tak seperti bayanganku." ucapnya ikut senang, karena sebelumnya ia pikir neneknya itu lebih galak dari pada ibu mertuanya.


Tak berapa lama kemudian Awan nampak melihat bayangan seseorang yang seperti sedang memperhatikannya. Kemudian ia memepet tubuh istrinya ke tembok lalu m3lum4t bibirnya lagi.


Ameera yang mendapatkan serangan tiba-tiba langsung melebarkan matanya, namun setelah itu ia membalas ciuman suaminya yang mungkin saja sedang merindukannya seperti ucapan pria itu tadi.


Disisi lain nampak seorang wanita yang sedang melihat pasangan mesra tak jauh darinya itu langsung menghentakkan kakinya pergi.


"Seperti tak tahu tempat saja." gerutunya berapi-api, wanita itu adalah sahabat Adel sepupunya Awan yang sedari tadi memperhatikan pria itu.


Setelah memastikan seseorang yang mengintipnya pergi, Awan segera melepaskan panggutannya.


"Ayo pulang." ajaknya kemudian.


"Tapi acaranya belum selesai, mas."


"Udah nggak apa-apa." sahut Awan, lalu mengajak istrinya meninggalkan taman tersebut dan berpamitan pulang pada keluarga besarnya.


Sesampainya di rumah Ameera melihat ibu mertuanya itu nampak diam membisu.


"Mama baik-baik saja ?" tanyanya kemudian.


"Hm, mama mengantuk." sahut nyonya Amanda kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Ameera yang masih bingung dengan sikap ibu mertuanya nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ada apa dengan mama, tak biasanya diam seperti itu bahkan di rumah Eyang tadi juga banyak diam ?" gumamnya dalam hati, kemudian ia segera menaiki anak tangga menyusul suaminya yang sudah masuk kamarnya duluan.


Sementara itu nyonya Amanda yang sedang berada di kamarnya nampak menggerutu kesal.


"Bagaimana bisa mama langsung suka sama Ameera, sementara aku sampai sekarang masih berusaha membuat mama menyukaiku." gumamnya dengan kesal.


Kemudian tak berapa lama ponselnya berdering nyaring, lalu ia segera menjawabnya.


"Kak Manda, aku sama Bela sudah sampai di rumah tante. Kapan kak Manda pulang? kami sudah kangen." ucap seseorang dari ujung telepon.


"Jadi Bela ikut juga? baiklah besok aku kesana sama Awan." sahut nyonya Amanda dengan antusias.


Wajah kesalnya mendadak ceria saat saudara sepupunya itu menghubunginya, entah apa yang sedang ia pikirkan. Namun senyumnya tak berhenti sampai ia naik ke peraduannya.