Ameera

Ameera
Part~89



"Dokter memanggil saya ?" tanya Ameera saat baru masuk ke dalam ruangan dokter Steven.


"Bu Ameera, silakan duduk." Dokter Steven langsung mempersilakan Ameera duduk.


"Gini saya ada kenalan Dokter kandungan yang terkenal bagus, banyak pasien yang berhasil hamil setelah promil dengan beliau tapi prakteknya di luar kota. Kalau ibu mau akan saya buatkan janji dengan beliau." ucap Dokter Steven yang langsung membuat Ameera nampak senang.


"Beneran dok ?" tanyanya memastikan.


"Benar, bu." sahut dokter tersebut.


"Tapi saya akan bicara dengan suami saya dulu dok." Ameera nampak antusias, setelah berbincang sebentar Ameera segera menyudahi saat ada telepon dari adiknya.


Sementara itu Awan yang baru selesai meeting nampak berpapasan dengan dokter Steven.


"Siang pak Awan." sapa dokter Steven duluan.


"Siang juga dok." sahut Awan menjabat tangan dokter tersebut.


"Mumpung bertemu dokter di sini, boleh saya bicara sebentar." imbuh Awan kemudian.


"Silakan pak Awan ada yang bisa saya bantu." sahut dokter Steven.


"Begini dok akhir-akhir ini saya mendengar kasak-kusuk di kantor ini jika istri saya sering datang ke ruangan dokter." ujar Awan to the point.


"Benar sekali pak Awan, bu Ameera memang sering datang ke ruangan saya untuk membicarakan tentang program kehamilan." terang dokter Steven dengan jujur dan langsung membuat Awan merasa lega, ia percaya istrinya tidak akan macam-macam di belakangnya.


"Saya juga menyarankan bu Ameera untuk konsultasi dengan dokter kenalan saya, tapi kata beliau ingin mendiskusikan dulu dengan anda." imbuh dokter Steven lagi.


"Terima kasih banyak dok sudah menjadi teman bicara istri saya akhir-akhir ini." Awan terlihat lega.


"Sama-sama pak Awan." sahut dokter tersebut.


"Pak Awan jangan berpikir macam-macam, saya menghormati pak Awan dan bu Ameera. Saat kami berbincang pun selalu ada OB yang menemani." imbuh dokter Steven meyakinkan.


Mereka nampak berbincang sejenak, setelah itu kembali ke ruangannya masing-masing.


Saat Awan akan masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba bu Dewi menghampiri bersama dua orang karyawan lainnya.


"Pak Awan boleh berbicara sebentar." ucapnya kemudian.


"Iya bu Dewi silakan !!" sahut Awan.


"Sebelumnya saya minta maaf ya pak jika lancang, tapi saya harus mengatakan jika Bu Ameera akhir-akhir ini sering sekali mengunjungi kantor dokter Steven dan itu menjadi gosip para karyawan di kantor ini." terang bu Dewi yang sok menjadi pahlawan kesiangan padahal awal mula gosip juga dari wanita itu.


"Terima kasih ya bu Dewi atas pemberitahuannya." sahut Awan dengan wajah biasa saja.


"Pak Awan tidak terkejut ?" Bu Dewi dan karyawan lainnya nampak bingung dengan reaksi Awan yang biasa saja.


"Saya sudah tahu bu, istri saya sedang konsultasi mengenai program kehamilan dengan dokter Steven, beliau memberikan banyak sekali masukan pada istri saya termasuk mengenalkan dokter kandungan yang tepat." sahut Awan kemudian yang langsung membuat bu Dewi dan teman-temannya nampak menelan ludahnya.


"Begitu ya, pak." ujar bu Dewi dengan perasaan malu sekaligus kesal.


"Benar bu, kalau sudah tidak ada yang ingin di bicarakan silakan kembali ke ruangan ibu." ujar Awan menatap bergantian ketiga karyawan tersebut.


"Ba-baik, pak." sahut Bu Dewi dan teman-temannya kemudian langsung ngacir pergi.


Sementara Awan nampak geleng-geleng kepala, kemudian ia segera masuk ke dalam ruangannya.


Sore itu Ameera lagi-lagi pulang cepat, hingga sampai rumah baru menunjukkan pukul 4 sore.


Dari pada diam diri menunggu suaminya pulang, ia nampak merapikan lemari pakaiannya.


"Ibu lagi ngapain ?" tiba-tiba tanpa permisi Mala masuk kedalam kamarnya yang kebetulan tidak ia tutup dengan rapat.


"Lagi beres-beres." sahut Ameera dengan malas, rasanya masih sangat kesal melihat wajah pembantunya itu tapi Mala justru bersikap seperti tak ada masalah padahal gadis itu jelas-jelas bersalah.


"Bajunya ibu bagus-bagus ngemis di mana ?" ucap Mala yang langsung membuat Ameera tercengang.


Deg!!


Namun saat ia akan membuka mulutnya untuk menegur tiba-tiba Awan masuk ke dalam kamarnya.


"Jaga bicaramu Mala !!" bentak Awan yang langsung membuat Ameera dan Mala menoleh padanya.


Dengan wajah menunduk Mala segera beranjak. "Maaf, pak." ucapnya saat melewati Awan.


"Makin lama saya lihat kamu makin ngelunjak ya mentang-mentang di bela oleh Mama." Awan mengangkat tangannya untuk memukul tapi Ameera langsung mencegahnya.


"Pembantu tak tahu di untung." umpat Awan dengan kesal, ingin rasanya ia menendang gadis itu dari rumahnya tapi ia sama sekali tak punya kuasa karena ibunya selalu membelanya.


"Aku baik-baik saja, mas." Ameera mencoba menenangkan.


"Ayo mandi aku sudah siapkan air panas." imbuhnya lagi.


"Hm." Awan langsung beranjak ke kamar mandi dan Ameera segera merapikan pakaiannya serta tas kerja suaminya.


Beberapa saat kemudian Awan dan Ameera nampak duduk santai di sofa kamarnya, mereka terlihat menonton acara televisi bersama.


"Mas, ada yang mau ku omongin." ucap Ameera membuka obrolan.


Awan yang sedang fokus dengan ponselnya langsung menatap istrinya itu.


"Akhir-akhir ini kan aku sering ngobrol dengan dokter Steven mengenai promil, beliau menyarankan kita untuk konsultasi di dokter kenalannya tapi ada di luar kota." ucap Ameera.


Awan nampak menatap istrinya sejenak, ia merasa senang karena pada akhirnya wanita itu berkata jujur padanya jika sering bertemu dengan dokter Steven di kantornya.


Lagi pula Awan percaya, gadis sepolos istrinya itu mana mungkin bermain api di belakangnya.


"Nanti kalau kerjaan longgar kita kesana ya." sahut Ameera kemudian yang langsung di anggukin sang istri.


"Bagaimana kalau sekarang kita buat dulu siapa tahu jadi." imbuh Awan namun sepertinya tak di mengerti oleh sang istri.


"Buat apa mas ?" tanyanya tak mengerti.


Awan yang merasa gemas langsung saja mendekatkan wajahnya lalu m3lum4t bibir istrinya itu dengan lembut.


Menghadapi wanita seperti Ameera memang tidak perlu banyak kata, tapi harus dengan tindakan agar cepat di mengerti.


Sekejap kemudian wanita itu nampak polos karena ulah suaminya dan kini mereka berpindah tempat ke ranjangnya dan selanjutnya hanya suara d3s4h4n dari keduanya yang terdengar.


Keesokan harinya....


Setelah bertempur semalaman dengan suaminya, Ameera nampak enggan untuk bangun karena tubuhnya sangat kelelahan.


Tapi tinggal di tempat mertua tidaklah mudah, meski sudah ada pembantu mau tak mau ia harus ikut mengerjakan pekerjaan rumah.


"Mau kemana sayang ?" Awan nampak menahan tangan sang istri saat wanita itu akan beranjak dari ranjangnya.


"Bangun mas, tidak enak sama mama bangun siang." sahut Ameera.


"Biarkan saja, lagipula ada pembantu kesayangannya mama itu juga. Kamu kembali saja tidur nanti ku pesankan makanan di depan." larang Awan.


"Tapi mas..." Ameera nampak serba salah.


"Tidur atau ku tiduri sayang ?" ujar Awan yang langsung membuat Ameera kembali merebahkan tubuhnya di sisihnya.


"Dasar pemaksa." gerutu Ameera, namun matanya yang masih mengantuk membuat wanita itu kembali tertidur tak lama kemudian.


Siang harinya saat Awan pergi membeli makanan untuknya tiba-tiba Mala datang ke kamar Ameera.


Ameera yang sedang merapikan tempat tidurnya nampak terkejut dengan kedatangan pembantunya tersebut.


"Bu coba ibu lihat, saya baru saja dari Mall dan nyonya membelikan saya banyak sekali baju." Mala nampak memamerkan tumpukan baju baru pada Ameera.


"Bersyukur dan jangan lupa ucapkan terima kasih." Ameera nampak bersikap biasa saja, meski jauh di dasar hatinya ia merasa iri.


Bukan karena ia tak mampu beli tapi kenapa ibu mertuanya lebih menyayangi pembantunya dari pada dirinya yang notabennya menantunya sendiri.


Setelah pamer baju pada Ameera, Mala segera berlalu pergi. Saat bertemu Awan di ambang pintu gadis itu nampak menunduk dan buru-buru pergi.


"Ngapain lagi dia ?" tanya Awan kemudian.


"Nggak apa-apa kok mas, Mala cuma memberitahu ku jika baru di belikan baju oleh Mama di Mall." sahut Ameera mencoba bersikap biasa saja.


Tapi wajahnya yang sendu tak luput dari pengawasan sang suami.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Awan segera menemui ibunya untuk meminta penjelasan.


"Mama sangat keterlaluan." ucap Awan saat masuk ke dalam kamar wanita yang melahirkannya itu.


.


NB : Guys maaf ya jika cerita dan tokoh Ameera tidak sesuai keinginan kalian, karena ini kisah nyata jadi saya tulis berdasarkan cerita narasumber dan yang belum baca novel terbaru saya "Istri kedua tuan Mafia" boleh mampir sudah 10 bab, terima kasih 🙏🙏