Ameera

Ameera
Part~71



Pagi itu Ameera mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya melalui jendela kaca di kamarnya.


Lalu di lihatnya sang suami nampak tertidur pulas di sampingnya, mungkin karena hari minggu jadi pria itu enggan untuk bangun pagi.


Kemudian ia segera beranjak dari tidurnya untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaannya semalam.


Beberapa saat kemudian Ameera yang membuka pintu balkonnya nampak terkejut saat mendengar suara ibu mertuanya dari arah bawah.


Karena penasaran ia lantas melangkahkan kaki ke balkon dan pandangannya langsung ke arah luar pagar rumahnya yang nampak sang ibu mertua sedang berbincang dengan tetangga depan rumahnya.


"Bu, barusan saya lihat bibik datang lagi ya ?" tanya tetangga tersebut pada nyonya Amanda.


"Iya bu, mau bagaimana lagi saya punya menantu tidak bisa ngapa-ngapain." sahut nyonya Amanda menjelek-jelekkan menantunya sendiri.


Ameera yang mendengar itu hanya bisa menghela napasnya pelan, ternyata apapun yang ia lakukan tak ada nilainya di mata wanita itu.


"Tapi menantu kan bukan pembantu, bu." sanggah tetangga tersebut yang sepertinya masih mempunyai hati nurani di banding ibu mertuanya itu.


"Tapi menantu saya kan nggak kerja bu jadi wajarlah bantu-bantu saya, masa ya mau makan tidur saja." sahut nyonya Amanda mengalir begitu saja tanpa menyaring perkataannya terlebih dahulu.


"Ya sudah bu saya masuk dulu mau bersiap-siap jalan sama suami mumpung libur." imbuhnya lagi, kemudian berlalu masuk kedalam gerbang rumahnya.


Sementara tetangganya tersebut nampak menggelengkan kepalanya, sudah puluhan tahun ia bertetangga dengan wanita itu namun sifatnya tak pernah berubah tetap sombong dan pelit.


Sementara Ameera segera masuk kembali ke dalam kamarnya, niatnya ingin mencari udara segar justru membuat hatinya terasa sakit.


"Sayang, kamu kenapa ?" Awan yang baru keluar dari kamar mandi nampak menatap Ameera yang lagi termenung di atas sofa.


"Nggak apa-apa, mas. Kangen sama ayah sama bunda." sahut Ameera.


"Mau kesana ?" Awan berjalan mendekati sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Ameera menggeleng. "Kalau kesana harus menginap jadi nunggu weekend depan saja." sahutnya kemudian.


"Yasudah bagaimana kalau jalan-jalan saja ?" tawar Awan setelah mengenakan pakaiannya.


"Kemana ?" Ameera mendadak bersemangat.


Beberapa hari ini ia sangat sibuk dengan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya dan ia butuh liburan sejenak untuk menyegarkan pikirannya kembali.


Karena meski ARTnya sudah kembali ia juga tidak mungkin berpangku tangan, bekerja saja ibu mertuanya itu tak menganggapnya.


Apalagi kalau ia diam saja, bisa-bisa wanita itu akan murka padanya.


"Jalan-jalan keliling kota? mall? atau alun-alun ?" Awan menawarkan beberapa tempat.


"Bagaimana jika alun-alun kota saja ?" tanpa berpikir panjang Ameera langsung menyetujui dan setelah itu mereka segera berangkat.


Beberapa saat kemudian Awan nampak memarkirkan mobilnya setelah sampai di alun-alun kota tersebut.


"Mas nyewa sepeda yuk !!" ajak Ameera, sepertinya ia ingin bernostalgia dengan masa kecilnya.


"Bisa ?" Awan mengangkat sebelah alisnya berniat mengejek.


"Bisa dong." Ameera nampak percaya diri.


"Yaudah, ayo !!" Awan mengajak istrinya itu ke stan penyewaan sepeda.


Setelah memilih sepeda yang cocok mereka segera menaikinya dan mulai mengelilingi taman yang ada di alun-alun tersebut.


Mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang berkencan, saling becanda dan menggoda sesekali.


Awan yang sedari kecil asing dengan tempat-tempat umum seperti itu nampak sangat menikmati sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Karena masa kecilnya hingga remaja ibunya selalu mengajaknya ke pusat-pusat perbelanjaan modern.


"Mas beli cilok yuk !!" ajak Ameera setelah lelah bersepeda.


"Cilok apa ?" Awan nampak bingung.


"Jadi mas nggak tahu cilok ?" Ameera menahan untuk tidak tertawa.


Awan menggeleng. "Apa itu makanan atau mainan ?" tanyanya tak mengerti.


Ameera yang sedari tadi menahan tawanya akhirnya pecah juga saat mendengar jawaban polos sang suami.


"Ayo, nanti juga tahu." Ameera langsung menarik tangan Awan lalu membawanya ke penjual cilok yang mangkal tak jauh dari sana.


Awan yang melihat makanan berbentuk bulat di dalam panci nampak mengerutkan keningnya.


"Apa itu bakso ?" tanyanya tak mengerti.


"Bukan bakso, bentuknya saja seperti bakso tapi rasanya kenyal-kenyal enak." Ameera menjelaskan yang langsung membuat Awan semakin mengkerutkan dahinya.


Awan yang tak berselera langsung menggelengkan kepalanya, baginya itu adalah makanan asing yang tidak pernah ia tahu sebelumnya.


Setelah membeli sebungkus dengan harga sepuluh ribu, mereka segera duduk di bangku taman.


"Enak banget loh mas." Ameera menikmati jajanan kesukaannya itu.


"Nggak mau." sahut Awan tak tertarik.


Ameera yang merasa gemas dengan suaminya nampak tersenyum penuh arti.


"Mas mau ku cium nggak ?" ucapnya menggoda suaminya itu.


"Siapa takut." sahut Awan tanpa berpikir macam-macam.


"Beneran ya ?" Ameera memastikan.


"Iya sayang." Awan terlihat pasrah.


Ameera mengedarkan pandangannya ke sekitar yang nampak sepi karena hari mulai siang dan panas yang terik membuat kebanyakan orang enggan keluar rumah.


Tak mau membuang waktu Ameera langsung mendekatkan wajahnya lalu m3lum4t bibir suaminya itu dan tanpa pria itu sangka tiba-tiba sang istri memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya.


Setelah misinya berhasil, Ameera segera melepaskan panggutannya lalu menjauhkan wajahnya sembari tertawa senang.


Awan terdiam, ia seperti sedang merasakan sesuatu lalu tanpa Ameera duga suaminya itu langsung merebut cilok yang ada di tangannya.


Seperti baru merasakan makanan yang sangat enak, Awan nampak makan dengan rakus cilok tersebut.


"Mas kok di habiskan ?" Ameera langsung merengut saat cilok miliknya sudah tandas tak bersisa.


"Habis enak sayang." sahut Awan tanpa perasaan bersalah sama sekali.


"Makanya tadi beli." Ameera bersungut-sungut.


"Yasudah ayo !!" ajak Awan namun Ameera masih bergeming.


"Penjualnya sudah pergi." sahutnya dengan kesal.


"Bagaimana kalau beli es krim saja ?" Awan nampak melihat penjual es krim tak jauh dari sana.


"Boleh." Ameera langsung tersenyum saat melihat makanan favoritnya itu, kemudian mereka segera beranjak dari duduknya.


Menjelang sore mereka baru kembali kerumah setelah seharian menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan.


Keesokan harinya.....


"Mas, aku kerja ya." mohon Ameera saat suaminya hendak pergi ke kantornya.


"Nggak sayang, kamu tetap di rumah." tolak Awan dengan tegas.


"Ayolah, mas." mohon Ameera tak menyerah.


"Tidak tetap tidak sayang, kamu di rumah saja dari pada di kantor nanti di godain sama para lelaki di sana." keukeh Awan.


"Memang kalau di rumah sudah pasti nggak ada yang godain apa ?" gerutu Ameera yang masih terdengar jelas di telinga Awan.


"Kamu kan di rumah terus siapa yang mau godain? palingan security atau abang-abang penjual makanan di ruko depan sana." tukas Awan yang semakin membuat istrinya itu kesal.


"Yasudah aku berangkat dulu ya." Awan nampak mencium kening istrinya, kedua pipinya serta mencuri sedikit kecupan di bibirnya.


Setelah suaminya itu pergi Ameera segera masuk kembali kedalam rumahnya lalu mulai membantu pekerjaan ARTnya.


"Mama di rumah saja ?" tanya Ameera saat melihat ibu mertuanya nampak menggunakan pakaian rumahan, padahal biasanya setelah suami dan anaknya berangkat ke kantor wanita itu juga ikutan pergi entah kemana.


"Mama lagi nggak enak badan, bisa tolong belikan mama bubur di ruko depan ?" pinta wanita paruh baya itu.


"Bisa, ma. Mama tunggu sebentar ya." Ameera yang mengkhawatirkan ibu mertuanya itu segera berlalu pergi untuk membelikan makanan yang di minta.


Setelah keluar dari kompleks perumahannya Ameera berjalan menuju sebuah restoran langganannya di salah satu ruko yang berdiri di pinggir jalan tersebut.


Ia segera memesan seporsi bubur ayam buat ibu mertuanya serta sebungkus nasi ayam buat dirinya sendiri.


Sembari menunggu pesanan Ameera nampak duduk di sebuah kursi sembari bermain games di ponselnya.


Saking asyiknya ia sampai tak menyadari jika sedang di perhatikan oleh seseorang.


"Terima kasih ya pak." ucap Ameera setelah menerima pesanannya, setelah itu ia berlalu pulang.


Sementara itu seorang pria tampan berwajah oriental yang sedang menikmati kopinya nampak memperhatikan kepergian Ameera dengan menaikkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.


"Cantik." gumamnya.