Ameera

Ameera
Awan penuh dengan modus



💥Cinta itu seperti angin, kamu tidak bisa melihatnya tapi kamu bisa merasakannya💥


"Kamu sudah datang ?" Awan nampak terkejut saat melihat Ameera sudah duduk manis di kursi kerjanya, padahal sedari tadi ia sudah menunggunya di lobby.


Ameera melihat Awan sekilas kemudian ia kembali menatap komputernya, lebih baik ia fokus dengan pekerjaannya.


"Meera ?" Awan berjalan mendekati.


"Hm." Ameera hanya berdehem tanpa menatapnya.


"Kamu marah ?" tanya Awan kemudian sembari menarik kursinya lalu membawanya ke depan meja Ameera, setelah itu ia duduk disana.


"Aku lagi sibuk, tolong jangan ganggu." sahut Ameera dengan ketus.


"Aku tidak mengganggu kok." tukas Awan yang nampak sedang bersendekap di kursinya.


Laki-laki itu sama sekali tak berkedip menatap Ameera. "Apa benar perkataan laki-laki sialan itu jika kamu sudah tidur dengannya ?" gumamnya.


Rasanya tidak mungkin jika Ameera yang sepolos itu bisa melakukan hal di luar batas, bahkan berciuman saja sangat saku.


Awan nampak menghela napas panjangnya, saat pikirannya sedang beradu argumen mengenai gadis di hadapan tersebut.


"Kamu tidak kerja ?" Ameera mengernyit saat melihat Awan yang belum bergeming dari hadapannya.


"Hari ini aku kerja sore." sahut Awan.


"Terus kenapa masuk pagi ?" Ameera semakin mengernyit.


"Ingin saja." sahut Awan dengan enteng.


Ameera segera beranjak dari duduknya, berdua saja bersama Awan di dalam ruangannya itu sangat berbahaya pikirnya.


"Kamu mau kemana ?" tanya Awan saat Ameera akan pergi.


"Bukan urusanmu." sahut Ameera kemudian berlalu.


Awan nampak menghela napasnya, meski Ameera sangat polos tapi gadis itu susah sekali di dekati.


Ia jadi iri dengan Fajar yang begitu mudah mendekati Ameera padahal jika di bandingkan dengannya, ia merasa lebih mempunyai segalanya.


Kemudian ia nampak tersenyum menyeringai saat menatap komputer milik Ameera, entah apa yang sedang ia rencanakan.


Sementara itu Ameera yang baru kembali dari toilet nampak lega saat melihat Awan tak berada di ruangannya lagi.


"Syukurlah." gumamnya.


Ia langsung melangkah menuju meja kerjanya lalu menghempaskan tubuhnya di sana.


Namun saat ia akan melanjutkan pekerjaannya, ia melihat ada yang aneh dengan komputernya tersebut.


"Kok nggak bisa, perasaan tadi baik-baik saja." gerutunya sembari mengecek komputernya.


"Bagaimana ini, siang ini sudah mau di kirim ke pusat lagi." imbuhnya lagi sedikit panik.


"Mas Derry nggak masuk lagi." Ameera nampak mondar-mandir sembari berpikir, entah kenapa atasannya itu tiba-tiba tidak masuk kerja.


"Ada apa Meera ?" pak Mario yang kebetulan lewat depan ruangannya yang tak sepenuhnya tertutup itu langsung menyapa karyawan kesayangannya tersebut.


"Komputer saya tiba-tiba eror pak." sahut Ameera dengan nada memelas.


"Sebentar saya panggilkan Awan." ucap Pak Mario lalu mengambil ponselnya di dalam saku celananya.


"Tidak usah pak...." tolak Ameera, namun pak Mario tetap saja menghubungi Awan.


"Sebentar lagi dia kesini." sela pak Mario, setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Ameera menghela napas panjang, ia tak kuasa untuk menolak perintah managernya tersebut.


Beberapa saat kemudian Awan nampak masuk ke dalam ruangannya. "Apa ada masalah ?" ucapnya kemudian.


"Komputerku tiba-tiba eror, mas." keluh Ameera yang terlihat sedang duduk di kursi kerjanya.


Ameera langsung beranjak lalu mempersilakan Awan untuk duduk di kursinya.


"Bagaimana ?" tanya Ameera saat Awan mulai memeriksanya.


"Mudah saja." sahut Awan yang langsung membuat Ameera bernapas lega.


"Benarkah ?" ucapnya lega.


"Kemarilah, duduk sini akan ku ajari memperbaiki jika eror lagi !!" Awan nampak menepuk pahanya agar Ameera duduk di sana.


Namun bukannya di sambut dengan senang hati, Ameera justru melotot menatapnya.


"Mau di benerin nggak ?" ucap Awan lagi saat Ameera mulai bersungut-sungut.


"Ya nggak duduk di paha mas Awan juga kali." protes Ameera dengan kesal.


"Nggak mau ya sudah padahal sekalian mau ku bantu nyusun laporannya ." Awan hendak beranjak, namun Ameera langsung menahan tangannya.


Mendapatkan sentuhan tiba-tiba dari kulit mulus Ameera, Awan merasakan darahnya berdesir hebat.


"Aku ambil kursi satu lagi ya." mohon Ameera dengan wajah memelas.


"Baiklah." sahut Awan pada akhirnya.


Ameera langsung menarik kursi satu lagi lalu membawanya ke sebelah kursi kerjanya.


"Duduklah di kursimu, aku duduk di situ aja." Awan beranjak dari duduknya lalu mempersilakan Ameera buat duduk di kursinya sendiri


Tanpa berpikir macam-macam, Ameera langsung duduk di kursinya. "Terus bagaimana ini, mas ?" Ameera menatap komputernya yang masih seperti sebelumnya.


"Aku akan memperbaikinya." Awan nampak melingkarkan tangan kanannya pada tubuh Ameera agar bisa menjangkau keyboard yang berada di hadapan gadis itu.


Kini posisi Ameera seakan sedang berada dalam pelukan Awan.


Merasa ada yang tidak beres dengan posisi mereka, Ameera langsung protes. "Mas, tangannya nggak gini juga kali. Heran sama mas Awan ini, ada ya buat laporan kayak gini." protesnya.


"Astaga Oneng-Oneng, kamu nggak lihat apa posisi keyboard ada di depanmu." tukas Awan memberikan alasan.


"Kalau aku menjangkau dari sini itu susah karena terhalang lenganmu." imbuhnya seraya mempraktekkan, ia sengaja memepetkan lengannya pada lengan Ameera seolah ia tidak bisa bergerak.


Ameera nampak menggaruk kepalanya bingung. "Sudah jangan banyak berpikir, mau laporanmu beres nggak ?" bujuk Awan kemudian.


"Ya sudah deh terserah mas Awan saja yang penting komputerku benar dan laporanku cepat selesai." pada akhirnya Ameera mengangguk pasrah tanpa berpikir macam-macam, baginya laporannya saat ini yang lebih penting dan itu membuat Awan merasa gemas sendiri.


"Astaga Oneng, kenapa kamu polos sekali. Bagaimana bisa Fajar mengatakan yang tidak-tidak tentang kamu." gumam Awan, ia nampak mengendus harum rambut Ameera yang mungkin setelah ini akan menjadi candu baginya.


Awan terpaksa melakukan segala cara agar bisa dekat dengan gadis itu, karena jika ia melakukannya dengan cara normal Ameera pasti akan menolaknya mentah-mentah.


Setelah Ameera bisa kembali mengoperasikan komputernya, Awan memperhatikannya dengan meletakkan dagunya di pundak Ameera.


Ameera yang merasakan tiba-tiba pundaknya terasa lelah langsung menoleh ke samping. "Astaga, mas." Ameera langsung menjorokkan wajah Awan dengan tangannya.


"Udah sana pergi, sudah bisa juga ini. Aku mau buat laporan." omel Ameera dengan kesal saat Awan tak kunjung pergi.


Bukannya marah karena di omeli, tapi Awan justru gemas melihatnya.


Kemudian ia segera beranjak dari duduknya, sebelum dirinya khilaf lalu menerkam gadis itu.


Sebelumnya ia tidak pernah merasakan sebegitu besarnya menginginkan seorang wanita.


Namun lain halnya dengan Ameera, gadis itu seolah mempunyai sihir di balik kepolosannya.


Ameera selalu berhasil membangunkan miliknya, meski hanya sekedar menatapnya.


Sementara itu Ameera yang melihat kepergian Awan nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kayaknya akhir-akhir ini aku makin bodoh deh kalau ketemu mas Awan, akunya yang bodoh atau Mas Awannya yang terlalu pintar ya ?"