
💥Ketika kamu benar tak seorang pun akan mengingatmu, tapi ketika kamu salah tak seorang pun akan melupakanmu💥
"Jadi benar kalian pacaran ?" tanya pak Mario seraya menatap Ameera dan Awan bergantian.
Beberapa waktu lalu setelah Viona melapor padanya, pria itu langsung memanggil Awan dan Ameera ke ruangannya siang itu.
Jika benar sesuai aduan Viona maka mereka harus menerima konsekuensinya, karena aturan di kantornya memang tidak memperbolehkan menjalin hubungan dengan rekan satu divisi.
Ameera nampak menunduk sembari m3r3m4s tangannya, wajahnya memucat dan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.
Namun lain halnya dengan Awan, pria itu terlihat santai seperti tak ada masalah. Seolah pemecatan dirinya bukan masalah besar.
"Benar." tegas Awan, tak ada rasa penyesalan di wajahnya bahkan pria itu seakan bangga menunjukkan pada atasannya itu jika Ameera adalah kekasihnya.
Sedangkan pak Mario nampak tercengang. "Sejak kapan ?" tanyanya kemudian.
"Beberapa bulan yang lalu, pak." sahut Awan seraya menggenggam tangan dingin Ameera.
"Astaga, kenapa kalian bisa teledor begini? kenapa tidak memberitahukan pada saya sebelumnya, kalau sudah begini saya tidak bisa membantu kalian. Karena Viona pasti sudah menyebarkan berita ini ke seluruh kantor dan cepat atau lambat orang pusat pasti akan mendengarnya." tegur pak Mario.
"Bagaimana mau bilang, bukannya bapak yang buat aturan seperti itu ?" tuding Awan tanpa ada perasaan takut.
"Sembarangan, itu aturan dari pusat." sergah pak Mario sedikit kesal.
"Jadi bagaimana pak, apa saya akan di pecat ?" tanya Ameera dengan wajah cemasnya.
Pak Mario menghela napas beratnya, Ameera adalah satu-satunya karyawan yang menjadi kepercayaannya.
Selain kerjanya bagus, gadis itu juga sangat jujur dalam mengelola keuangan perusahaan. Padahal celah untuk berbuat curang sangat terbuka, namun Ameera sama sekali tidak tergoda.
"Entahlah, kita tunggu keputusan dari pusat. Sementara waktu kalian bekerja seperti biasa saja." perintahnya kemudian.
"Baik pak." sahut Ameera, lalu menatap Awan yang nampak mengedikkan bahu menatapnya dan itu membuat Ameera semakin kesal.
"Ini semua gara-gara mas." sungutnya, kemudian ia berlalu meninggalkan ruangan managernya tersebut.
Saat melangkahkan kakinya sepanjang koridor kantornya nampak beberapa karyawan menatap tak suka padanya bahkan ada yang terang-terangan mencibirnya.
Bagaimana pun juga Awan adalah idola di kantornya, selain tampan pria itu juga sangat royal dan pasti mereka lebih membelanya.
"Sayang, tunggu !!" Awan langsung mengejar Ameera saat gadis itu meninggalkannya di kantor pak Mario.
"Apaan sih mas ?" Ameera langsung melepaskan tangan Awan yang mencekal pergelangan tangannya, namun pria itu semakin mengeratkan tangannya.
"Kita jalan bareng." sahut Awan.
"Iya, tapi lepaskan dulu tanganku. Nggak enak di liatin sama teman-teman di sini." Ameera memohon.
"Kalau nggak enak di kasih kucing." sahut Awan lalu menarik tangan Ameera agar mengikuti langkahnya.
"Susah ngomong sama, mas." gerutu Ameera, ia menunduk saat beberapa karyawan menatap ke arahnya.
Sementara Awan nampak sangat puas karena akhirnya ia bisa menunjukkan pada semua pria yang ada di kantornya jika Ameera adalah kekasihnya.
Keesokan harinya....
"Masih punya muka juga nongol di kantor." cibir seseorang saat Ameera melewati kerumunan karyawan wanita yang sedang ngerumpi pagi itu.
Ameera yang tak mau ambil pusing langsung saja melangkahkan kakinya, lagipula dirinya bukan penjahat yang harus di adili.
Kemudian saat melewati kubikel karyawan pria ia nampak mendengar mereka sedang membicarakan Awan.
"Baguslah kalau dia yang pergi dari sini, dari awal aku sudah tidak suka dengannya. Sejak ada dia, semua perempuan fokusnya hanya ke dia." ucap salah satu dari mereka.
"Jadi kamu setuju jika Ameera saja yang tetap di sini ?" tanya yang lainnya.
"Tentu saja, dulu sebelum ada dia Ameera sangat ramah sama kita tapi semenjak ada dia Ameera seperti ketakutan saat kita menyapanya. Dia pasti sudah mendapatkan ancaman dari pria itu." sahut yang lainnya lagi yang langsung di setujui oleh semua.
Mendengar hal itu Ameera nampak menghela napas panjangnya, ia menyadari sejak pacaran dengan Awan pergaulannya memang di batasi.
Siang harinya, Ameera dan Awan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya nampak terkejut saat mendengar keributan di luar ruangannya.
Karena penasaran mereka segera keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Sialan sepertinya mereka memanfaatkan keadaan ini." umpat Awan dengan kesal.
"Sepertinya aku saja yang akan resign." tegas Ameera pada akhirnya.
"Tidak, kita akan tetap di sini." sahut Awan dengan yakin.
"Bagaimana mungkin, orang kita sudah melanggar peraturan." sungut Ameera.
"Sudah-sudah semua tenanglah." pak Mario yang baru datang langsung menengahi hingga membuat semua karyawan yang protes langsung terdiam.
"Saya sudah mendapatkan surat keputusan dari pusat yang langsung di tanda tangani oleh pak Basuki pemilik perusahaan kita." imbuhnya lagi seraya menunjukkan sebuah amplop yang masih bersegel perusahaan, kemudian ia langsung membukanya lalu membacanya.
"Tidak akan ada yang pergi dari kantor cabang ini, baik Ameera maupun Awan. Karena mereka sebentar lagi akan menikah." ujar pak Mario yang juga nampak terkejut dengan isi memo dari pusat tersebut.
Apalagi Ameera, gadis itu nampak melotot tak percaya. Kemudian ia melirik memo yang di pegang oleh managernya tersebut dan di sana tertulis jika ia dan Awan akan segera menikah yang langsung di tanda tangani oleh pemilik perusahaan langsung.
Lantas ia melirik Awan yang berdiri di sebelahnya, pria itu nampak tersenyum puas dan itu membuat Ameera memicingkan matanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mas? apa perusahaan ini milik keluarga besarmu ?" Ameera bertanya-tanya dalam hati.
Begitu juga dengan para karyawan di sana, mereka bertanya-tanya sebenarnya siapa Awan dan Ameera hingga mendapatkan keistimewaan dari pusat.
"Baiklah sudah jelas ya, jadi jangan lagi ada yang protes." tegas pak Mario seraya menunjukan memo tersebut pada semua karyawan kantornya.
"Sialan." umpat Viona dengan kesal, padahal sebelumnya ia sudah mempengaruhi semua karyawan wanita agar mendukungnya untuk mengusir Ameera.
Namun rencananya yang sudah ia susun rapi kini berantakan, bahkan kabar jika gadis itu dan Awan akan segera menikah membuatnya langsung syok.
"Sudah Vi, ikhlaskan." seorang temannya langsung menenangkan lalu membawanya menjauh.
Sementara itu Ameera yang di bawa oleh Awan pergi makan siang nampak menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Mas, siapa sebenarnya pak Basuki? apa beliau termasuk keluarga besarmu ?" tanya Ameera dengan wajah penasaran.
Awan yang sedang fokus mengemudi nampak tersenyum menatapnya, kemudian ia fokus kembali ke jalanan depannya.
"Bos kitalah." sahutnya kemudian.
"Bohong, sekelas pak basuki ngapain ngurusin masalah karyawan cabang belum lagi beliau bilang kita akan menikah." sela Ameera masih dengan wajah penasarannya.
"Ya memang kita akan segera menikah." sahut Awan.
"Bohong." cebik Ameera.
"Beneran sayang, mama sudah menyetujui hubungan kita. Tinggal kamu bilang kapan siap, mama langsung melamarmu." Awan mencoba meyakinkan kekasihnya itu.
Ameera yang melihat kesungguhan pria itu, nampak berkaca-kaca. "Mas nggak bohongkan ?" tanyanya kemudian.
"Nggak, sayang." sahut Awan meyakinkan dan itu membuat air mata Ameera langsung mengalir deras.
"Sayang, kamu kenapa ?" Awan langsung menepikan mobilnya.
"Aku bahagia mas." sahut Ameera bercampur senyuman.
"Astaga sayang, kamu membuatku cemas saja." Awan langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Beberapa hari setelah itu, Ameera merasa tenang karena tidak harus kucing-kucingan lagi dengan teman kantornya.
Ia bebas bergandengan tangan dan menunjukkan pada dunia jika mereka pasangan yang saling mencintai.
Mengingat hal itu Ameera nampak tersenyum sendiri, namun ia langsung terkejut saat tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
"Iya mas." jawabnya kemudian.
"Sayang, bisa kamu ke kamarku sebentar? tapi berjanjilah jangan kaget atau panik." pinta Awan dari ujung telepon.
"Mas kamu baik-baik saja kan ?" Ameera mendadak cemas.
"Cepat kesini sayang." perintah Awan kemudian, lalu mematikan panggilannya.
"Kamu kenapa sih, Mas ?" Ameera yang tiba-tiba khawatir langsung bergegas ke kamar kekasihnya tersebut.