Ameera

Ameera
Ameera gadis yang sabar



💥Orang yang kuat dan sabar adalah orang yang mampu menyembunyikan perasaan sedihnya kepada orang lain dan senantiasa mengukhir senyuman dengan ikhkas💥


Malam itu Awan langsung di bawa oleh orang tuanya ke rumah sakit setelah berkali-kali memuntahkan darah.


Pria itu terlihat lemah, nampak jarum infus menancap di punggung tangannya bahkan wajahnya yang tadinya segar kini pucat pasi seperti tak teraliri darah.


"Mas, yang semangat ya." Ameera menggenggam tangan Awan yang nampak lemah, biasanya pria itu selalu mendominasinya tapi kini bahkan seperti tak bertenaga.


"Semangat kalau ada kamu, sayang." sahut Awan menatap kekasihnya tersebut.


"Kalau mengantuk tidurlah, terima kasih semalaman sudah menemaniku." imbuhnya lagi mengingat gadis itu tak tidur semalaman.


"Nggak apa-apa mas, nanti kalau ngantuk aku akan tidur." sahut Ameera, ekor matanya melirik kedua orang tua Awan yang kini masih terlelap tidur di sofa panjang meski jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Mereka terlihat sangat nyenyak seakan tidak sedang menjaga orang sakit.


"Memang sekarang nggak ngantuk ?" tanya Awan seraya melihat lingkaran hitam di sekitar mata Ameera.


"Ngantuk, tapi nanti aja ya. Aku masih ingin menemanimu." sahut Ameera hingga membuat Awan merasa bersalah.


"Sini peluk." tukasnya kemudian seraya mengangkat kedua tangannya hingga membuat Ameera langsung masuk ke dalam pelukannya.


"Terima kasih, sayang." imbuhnya lagi seraya memeluk kekasihnya itu.


"Sama-sama, mas." sahut Ameera, lalu mengurai pelukannya.


Kemudiam mereka nampak saling menatap, namun saat wajah mereka mulai mendekat tiba-tiba pintu di ketuk dari luar dan tak berapa lama seorang petugas membawa nampan berisi sarapan buat Awan.


"Sial, mengganggu saja." gerutu Awan.


Ameera yang mendengarnya langsung memberikan sebuah cubitan kecil hingga membuat Awan meringis kesakitan.


"Sarapannya pak, di habiskan ya biar cepat sembuh." ucap petugas tersebut.


"Terima kasih mbak." sahut Ameera mengulas senyumnya.


Setelah itu ia mengambil semangkok bubur. "Mas, ayo makan ku suapi ya." ucapnya, namun tiba-tiba mangkuk yang di bawanya itu langsung di rebut oleh nyonya Amanda yang entah sejak kapan bangun.


"Sini biar saya yang menyuapi anak saya." ucapnya dengan nada ketus.


"I-iya tante." Ameera langsung menggeser tubuhnya.


"Ma, biar Ameera saja." mohon Awan.


"Sudah, kamu anak mama jadi sudah sewajarnya mama yang urus kamu saat sakit." tegas nyonya Amanda lalu mulai menyuapi Awan.


Ameera yang mendengar itu hanya bisa menghela napasnya, padahal semalaman ia yang merawat Awan. Sedangkan ibunya itu tidur dengan sangat pulas.


"Awan bisa makan sendiri, ma." Awan langsung mengambil mengkok di tangan ibunya lalu memakannya sendiri.


Merasa tidak di butuhkan lagi, Ameera memilih untuk membersihkan dirinya dan setelah itu ia akan mencari sarapan untuk mengganjal perutnya yang dari semalam belum terisi makanan.


"Kalau ngantuk tidur saja, Meer." perintah nyonya Amanda setelah Ameera baru masuk ke dalam ruangan Awan.


Gadis itu nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan vvip tersebut yang sudah nampak rapi dan sepertinya pak Djoyo juga sudah pulang.


"Iya tante, saya masih mau menemani Mas Awan." sahut Ameera.


"Sudah nggak apa-apa, tidur saja. Biar saya yang merawat putra saya." tegas nyonya Amanda lalu menatap jam di ponselnya.


"Sudah siang juga." imbuhnya lagi.


"Baik tante." Ameera mau tak mau menuruti perkataan calon ibu mertuanya tersebut.


Lalu ia segera merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang semalem di pakai oleh mereka tidur.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


Nyonya Amanda yang sedang duduk langsung menyahut dan menyuruhnya untuk masuk, sepertinya wanita paruh baya itu sudah mengetahui siapa yang datang.


Sejenak senyumnya langsung merekah saat melihat beberapa wanita dengan dandanan menor melangkah masuk.


"Duh nak Awan, kok bisa sakit sih tante sampai nggak percaya saat mendengar kabar itu." ucap salah satu dari mereka dengan wajah cemas.


"Saya baik-baik saja tante." sahut Awan mengulas senyum kecilnya.


"Loh itu siapa jeng ?" tanya mereka saat melihat Ameera yang sedang duduk di sofa dengan rambut berantakan.


Sebelumnya gadis itu langsung terbangun saat mendengar suara ribut, padahal ia masih sangat mengantuk karena baru saja terlelap.


"Dia teman kerjanya Awan." sahut nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera tersentak.


"Oh cuma teman kerja ya." timpal yang lainnya dengan nada kelegaan.


Merasa tidak di anggap Ameera segera berlalu keluar dan sesampainya di luar ia langsung menumpahkan air matanya.


"Beruntung kamu jeng, ada mbak itu yang menemanimu di rumah sakit." ucap salah satu dari mereka hingga terdengar oleh Ameera yang nampak bersandar di balik pintu.


"Beruntung apanya dia kerjanya tidur terus, malah saya yang repot sendirian." sahut nyonya Amanda dengan nada ketus.


"Ma." sela Awan dari atas ranjangnya, ia tidak terima jika ibunya menjelek-jelekkan kekasihnya.


Ingin sekali ia membela Ameera tapi ia seperti tak punya tenaga untuk berdebat.


Sementara Ameera yang tidak ingin mendengar dirinya semakin di jelekkan ia langsung berjalan menjauh lalu duduk di kursi yang berada tak jauh dari sana.


Seandainya ia tak mencintai Awan, mungkin ia sudah pergi karena calon ibu mertuanya selalu bersikap sinis padanya. Namun rasa cintanya begitu besar hingga membuatnya rela bertahan.


"Temannya nak Awan ya ?" ucap seseorang hingga membuyarkan lamunan Ameera, lalu ia segera menghapus air matanya.


"I-iya tante." sahut Ameera dengan memaksakan senyumnya menatap wanita paruh baya itu.


"Jangan di ambil hati ya ucapan jeng Amanda, sikapnya memang seperti itu. Kamu harus banyak-banyak bersabar menghadapinya." nasihat wanita itu yang langsung membuat Ameera menganggukkan kepalanya, ternyata di antara para wanita kaya tadi masih ada yang baik batinnya.


"Terima kasih, tante." sahut Ameera.


"Ayo masuk, nak Awan mencarimu." ajak wanita itu kemudian.


Sesampainya di kamar Awan, Ameera seperti enggan untuk mendekat saat melihat nyonya Amanda yang nampak melengos saat menatapnya.


"Sayang, kemarilah !!" perintah Awan dengan wajah memohon.


Ameera yang tidak tega melihat Awan memelas langsung mendekat lalu pria itu menariknya hingga ia terduduk di sisinya, kemudian langsung memeluknya.


"Tante-tante, gadis ini adalah calon istri saya. Mohon doanya ya sebentar lagi kami akan menikah." tegas Awan yang membuat semua orang di sana langsung terkejut begitu juga dengan nyonya Amanda.


Wanita paruh baya itu tak menyangka Awan tega mempermalukannya di hadapan teman-teman sosialitanya, padahal sebelumnya putranya itu hanya diam saja seakan mendukung semua perkataannya.


"Serius nak Awan? tapi bukannya tadi kata jeng Amanda kalian cuma teman dekat di kantor ?" tanya salah satu dari mereka dengan wajah kecewa.


"Setelah saya sembuh, kami akan segera menikah tante. Mohon doanya ya." tegas Awan lagi yang langsung membuat beberapa dari mereka nampak kecewa karena gagal membuat Awan menjadi menantunya.


"Mas, terima kasih." ucap Ameera saat kini mereka hanya berdua di ruangan tersebut, karena nyonya Amanda sedang mengantar teman-temannya.


"Kamu calon istriku, sudah seharusnya aku membelamu." sahut Awan menatap lembut Ameera.


"Terima kasih." ucap Ameera lagi.


"Terima kasih saja, hm ?" Awan menaikkan sebelah alisnya menggoda Ameera.


"Mas jangan modus deh." cebik Ameera.


"Ayolah sayang, aku kangen." Awan mendekatkan wajahnya.


"Mas mau ngapain ?" Ameera menjauh, namun Awan langsung memegang tengkuknya lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.


Hingga Ameera tersengal, pria itu baru melepaskannya. Lalu ia terkekeh. "Kenapa rasanya semakin nikmat." ucapnya seraya menatap bibir Ameera yang sedikit bengkak.


"Mesum." rutuk Ameera, ia langsung memukul pelan dada Awan dan bersamaan itu nyonya Amanda masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa kamu pukul anak saya ?" ucapnya dengan mata memicing.