
Awan yang baru keluar dari toilet nampak memperhatikan Ameera dan Bela yang sedang berada di meja makan.
Bela terlihat melempar sendok sayur ke atas mangkok rendang dengan kasar hingga membuat pakaian Ameera terkena noda bumbu.
Saat Awan akan menghampiri tiba-tiba Ameera berlari ke pintu belakang.
"Bela, apa yang kamu lakukan pada istriku ?" tegur Awan dengan menatap tajam gadis itu.
"Aku nggak sengaja kok mas." Bela membela diri.
"Tidak sengaja bagaimana? Jelas-jelas aku lihat kamu sengaja melakukannya, apa ini attitude yang di ajarkan oleh ibumu? jika itu benar aku bersyukur tidak pernah menikah denganmu." tegas Awan yang langsung membuat Bela berkaca-kaca lalu berlari pergi meninggalkan meja makan tersebut.
Di sisi lain Ameera nampak terisak di bangku taman setelah Bela menyinggung perasaannya tadi, ia harus bagaimana lagi agar keluarga suaminya bisa menerima kehadirannya.
Karena pernikahan sejogyanya bukan hanya tentang suami dan istri melainkan juga kedua belah pihak keluarga.
Lalu bagaimana pernikahan bisa di katakan bahagia jika masih saja ada keluarga yang menentangnya.
"Maaf." ucap Awan yang tiba-tiba duduk di samping istrinya dan sontak membuat wanita itu menatapnya.
"Maaf atas sikap keluargaku." ulang Awan yang nampak merasa bersalah, kemudian di hapusnya air mata di wajah sang istri lalu di bawanya wanita itu ke dalam pelukannya.
Awan membiarkan istrinya menangis sesenggukan dalam pelukannya, hatinya terasa nyeri saat mendengar isak tangis wanita itu.
Harusnya ia tak membawa istrinya ke rumah Omanya atau bahkan ia akan membawanya menjauh dari keluarganya.
"Maafkan aku karena aku bukan keturunan bangsawan atau ekspatriat seperti keluargamu, maafkan aku yang di lahirkan hanya dari kalangan biasa." ucap Ameera setelah tangisnya mereda dan itu membuat Awan langsung mengurai pelukannya.
"Kamu bicara apa sih sayang, bukankah dari awal aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu? tolong jangan bicara seperti itu lagi ya." terang Awan, lalu kembali memeluknya.
"Tapi bagaimana pun juga perbedaan itu seperti jurang di mata keluarga mu mas." terang Ameera.
"Sudah jangan di bahas lagi, apapun yang terjadi aku akan selalu ada bersamamu sampai nanti sampai akhir hayat." Awan meyakinkan.
Ameera mengangkat wajahnya menatap suaminya itu. "Janji ?" ucapnya
"Iya janji sayang." sahut Awan seraya menautkan jari kelingkingnya pada jari sang istri, kemudian wanita itu kembali bersandar di bahunya.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar deheman seorang pria hingga membuat mereka langsung menoleh ke sumber suara.
"Papa ?" ucap Awan saat melihat ayahnya berjalan mendekat ke arahnya.
"Jangan di ambil hati dengan perkataan mereka, papa juga kurang terlalu suka dengan keluarga ibumu." ucap pak Djoyo menasihati.
"Tapi mereka keterlaluan, pa." Awan nampak mengadu.
"Sudah Wan, jangan buat keributan di sini. Bagaimana pun juga mereka orang tua yang harus kamu hormati." nasihat pak Djoyo lagi.
"Lebih baik kalian pulang sekarang, besok kerja kan ?" imbuh pak Djoyo seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Awan menghela napasnya sejenak. "Ya pa." angguknya kemudian, lalu ia mengajak sang istri beranjak dari duduknya.
"Oma benar-benar kecewa karena sama sekali tidak di hargai oleh istrimu." tegur Oma tiba-tiba saat Awan dan Ameera hendak pamitan.
"Oma bicara apa sih ?" Awan yang tak mengerti maksud sang oma langsung menyelanya.
"Pikirkan sendirilah datang ke rumah orang tua tapi kok nggak ada sopan-sopannya." sewot Oma yang tak jelas marah karena apa.
Awan nampak mengepalkan tangannya, namun Ameera yang sangat paham dengan watak suaminya langsung menenangkan.
"Sudah mas nggak apa-apa." bisiknya dengan lembut.
"Maaf Oma, jika Ameera ada salah." Ameera segera mengambil tangan sang Oma lalu menciumnya dengan takzim.
Setelah itu Awan langsung menarik tangan istrinya itu lalu membawanya keluar dari rumah tersebut.
"Ini terakhir kalinya kita menginjakkan kaki di rumah ini." geram Awan seraya menutup pintu mobilnya dengan kasar.
"Tapi bukan begitu juga caranya." kesal Awan.
"Udah mas, udah jangan di bahas lagi ya." Ameera menatap lembut suaminya lalu mengusap-usap lengan pria itu.
Awan yang mengendarai mobilnya perlahan mengulas senyumnya kemudian menggenggam tangan istrinya itu lalu di ciumnya beberapa kali dengan gemas.
Beberapa hari kemudian....
"Wan, lusa Oma mau mengajak liburan ke puncak. Kamu ikut ya." ajak nyonya Amanda malam itu saat Awan mengambil air dingin.
"Kami tidak ikut, mama saja." sahut Awan lalu menengguk minumannya.
"Kamu harus ikutlah." sahut nyonya Amanda seraya menarik kursi lalu duduk di sana, wanita itu nampak memakai piyama tidurnya.
"Kalau tujuannya hanya ingin mempermalukan istriku, aku tidak ikut ma." tegas Awan, lalu mengembalikan botol minumannya tersebut kedalam kulkas lalu menutup pintunya sedikit kasar.
"Tidak ada yang mempermalukan Ameera, istrimu saja yang tidak mau membaur dengan kami." ucap nyonya Amanda.
"Bagaimana istriku bisa membaur ma, kalau kalian saja tidak mau merangkulnya dan mengajaknya bicara." tegur Awan masih dengan perasaan kesal.
"Setelah ku pikir-pikir sepertinya aku akan mengajak istriku tinggal sendiri ma." imbuh Awan yang langsung membuat sang ibu melebarkan matanya.
"Tidak bisa, kamu putra satu-satunya di rumah ini dan sampai kapan pun kamu akan tetap tinggal di sini." tegasnya kemudian.
Awan menghela napasnya. "Kalau mama mau aku betah di sini tolong sedikit saja hargai istriku, ma." mohonnya kemudian.
"Memang mama kurang menghargai apa ?" gerutu nyonya Amanda dengan kesal, karena di mata putranya itu hanya ada Ameera seorang bahkan perhatian untuknya pun sekarang berkurang.
Lagi-lagi Awan menghela napasnya, sangat sulit menghadapi sang ibu yang mempunyai sifat keras kepada seperti dirinya.
"Saya lelah ma." ucap Awan pada akhirnya, ia nampak menahan emosinya lalu melangkah pergi meninggalkan ibunya tersebut.
Keesokan harinya....
"Selamat pagi." nyonya Amanda tersenyum lebar saat menyambut anak dan menantunya itu.
Ameera tertegun, tak biasanya ibu mertuanya bersikap manis seperti itu.
"Pagi, ma." Ameera membalas sapaan mertuanya itu.
"Pagi, nak. Ayo sarapan." sahut nyonya Amanda lagi-lagi dengan nada manis.
Ameera dan Awan segera duduk, Ameera yang heran dengan sikap sang ibu mertua nampak berbisik pada sang suami.
"Mama baik-baik saja, mas ?" bisiknya.
Awan mengangguk sembari mengulas senyumnya, mungkin sang ibu mendadak berubah setelah semalam ia mengancam akan pergi dari rumah.
"Terima kasih, ma." ucap Ameera saat sang mertua memberikan sepotong roti padanya, hal yang aneh baginya tapi ia menikmati perhatian wanita itu yang belum ia rasakan sebelumnya.
Dan pagi itu untuk pertama kalinya mereka nampak sarapan dengan suasana hangat dan Ameera berdoa semoga selamanya akan seperti ini.
"Besok kita akan liburan ke puncak, kalian bisa Berbulan madu di sana." ucap nyonya Amanda setelah selesai menyantap makanannya.
Ameera yang mendengar itu nampak tercengang, sejak menikah mereka memang tidak pernah berbulan madu karena waktu itu Awan sedang sakit parah.
Lagipula berbulan madu atau tidak, tetap saja sang suami akan membuatnya lelah di mana pun itu.
"Bagaimana Meera apa kamu setuju ?" tanya nyonya Amanda saat anak dan menantunya itu tak menanggapinya.
"Sa-saya terserah mas Awan saja ma." sahut Ameera, wajahnya nampak memerah saat membayangkan pikirannya sendiri.
Sementara Awan yang melihat itu nampak tersenyum kecil. "Baiklah." angguknya menyetujui yang langsung membuat sang ibu berbinar bahagia, entah apa yang wanita rencanakan.