
💥Hubungan yang benar adalah dua orang yang tidak sempurna tapi menolak untuk menyerah satu sama lainnya💥
"Sayang, katakan kamu kenapa ?" Awan langsung mendekati Ameera saat wanita itu baru keluar dari kamar mandi.
Ameera melebarkan matanya, ia pikir pria itu sudah keluar dari kamarnya. Padahal tadi ia sengaja berlama-lama saat mandi.
"Kenapa masih di sini Mas? istirahatlah ini sudah malam." perintahnya kemudian.
"Bagaimana aku bisa istirahat kalau wajahmu murung begitu, katakan kamu kenapa ?" Awan menatap wajah Ameera yang terlihat sembab seperti habis menangis.
"Aku nggak murung kok mas, aku cuma lelah saja." sahut Ameera dengan memaksakan senyumnya menatap Awan.
"Kamu berubah sayang, bahkan saat ku sentuh pun kamu menghindar. Katakan sebenarnya apa yang terjadi denganmu ?" desak Awan.
"Aku nggak apa-apa mas, cuma capek saja. Tolong keluarlah aku mau istirahat." sahut Ameera menatap tegas Awan.
"Bohong, apa kemarin waktu kamu pulang orang tuamu mengatakan sesuatu ?" selidik Awan.
"Jangan bawa-bawa orang tuaku, mas." tegas Ameera.
"Lalu kenapa kamu berubah ?" Awan semakin tak mengerti.
"Kembalilah ke kamarmu mas, aku mau istirahat." tukas Ameera, setelah itu ia berlalu menjauh namun Awan yang menahan kesabaran dari tadi langsung meraih pinggang gadis itu lalu menariknya ke dalam pelukannya.
"Mas apa-apaan sih...." Ameera langsung menjeda ucapannya saat Awan sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Pria itu nampak m3lum4t bibir Ameera dengan rakus dan tak memberikan jeda bahkan saat gadis itu tersengal ia sepertinya tidak peduli.
Awan terus saja menciumnya seraya membawa Ameera ke kasurnya lalu ia mengungkung tubuh mungil itu setelah mendorongnya hingga jatuh di atas kasur.
Ameera tersentak, namun tubuhnya yang lelah tak kuasa menolak saat pria itu melucuti seluruh pakaiannya.
Hingga kini keduanya nampak polos tanpa benang sedikit pun yang menutup tubuh mereka.
"Mas, ku mohon jangan lakukan lagi." mohon Ameera dengan berderai air mata saat Awan berusaha menembus pertahanannya, apalagi saat mengingat ia kini dalam masa subur.
Awan sepertinya sudah gelap mata, rasa takutnya akan kehilangan gadis itu membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Ia terus saja membuai Ameera dengan memainkan titik-titik sensitifnya dan bersamaan itu miliknya di bawa sana berusaha untuk menyatu.
"Mas." Ameera berteriak saat Awan berhasil memasukinya, periode masa subur yang ia alami membuat pria itu tak kesulitan menembus pertahanannya.
"Jangan berteriak sayang, apa kamu mau seluruh penghuni mess ini melihat kita." lirih Awan dengan suara beratnya, pinggulnya nampak bergerak pelan menghujam milik kekasihnya tersebut.
"Kamu jahat mas." Ameera nampak terisak.
"Maafkan ku sayang, hanya ini cara agar kamu tidak meninggalkan ku. Aku tahu pasti orang tuamu melarangmu untuk berhubungan denganku kan ?" tuding Awan, dengan sedikit mempercepat tempo hujamannya hingga membuat Ameera langsung menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya agar tidak berteriak.
Setelah itu ia tak mempunyai kesempatan untuk mengumpat pria itu, karena Awan sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Hingga beberapa saat kemudian d3s4h4n panjang Awan menandakan pria itu sudah sampai pada puncaknya.
Pria itu terus saja menggerakkan pinggulnya semakin dalam agar benih yang ia keluarkan akan tumbuh di rahim gadis itu.
Setelah itu ia nampak ambruk di atas tubuh Ameera tanpa melepas penyatuannya.
"Tidak sakit seperti waktu itu kan ?" lirihnya kemudian seraya mengusap keringat di wajah gadis itu dan napasnya pun nampak naik turun.
Ameera yang polos langsung menggeleng, namun setelah menyadari kemarahannya pada pria itu ia langsung mendorong tubuhnya hingga penyatuan mereka terlepas dan tubuh Awan jatuh ke sampingnya.
Lalu Ameera segera beranjak namun Awan langsung menariknya lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku tidak mau kamu pergi meninggalkan ku." Awan semakin mengeratkan pelukannya, tak peduli pukulan Ameera terasa sakit di tubuhnya.
Setelah puas memukul Awan, Ameera nampak menangis dalam pelukan pria itu.
"Aku juga nggak mau seperti ini mas, tapi kita di takdirkan bukan untuk bersatu." rintihnya bercampur isak tangis dan itu membuat Awan langsung melebarkan matanya, sudah ia duga pasti ada yang tidak beres.
"Siapa yang bilang kita tidak bisa bersatu sayang, katakan? apa orang tuamu ?" Awan mulai geram.
"Orang tuamu." sahut Ameera yang langsung membuat Awan menatapnya tak percaya, setahu dia orang tuanya sudah menyetujui hubungannya dengan kekasihnya itu makanya ia tega membiarkan Ameera pergi sendiri menemui mereka.
"Apa ?" ucapnya tak percaya.
"Orang tuamu mas dan keluarga besarmu telah membuka mataku jika kita memang berbeda dan perbedaan itu tidak akan pernah bisa menyatu." tegas Ameera, lalu menjauhkan dirinya saat pelukan pria itu mulai mengendur.
Lantas ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Aku tidak peduli." jawab Awan dengan menahan emosinya.
"Tapi aku peduli, mas. Tolong lepaskan aku, kembalilah pada keluargamu. Jangan pernah memikirkan aku lagi, karena aku bisa memikirkan diriku sendiri." mohon Ameera dengan isak tangisnya menatap Awan.
Melihat Ameera memelas, mata Awan nampak mengembun dan tangannya terkepal erat.
"Baiklah jika itu yang kamu mau, tapi jangan terkejut jika nanti kamu akan melihat mayatku." ancam Awan hingga membuat Ameera tersentak.
"Mas, kamu jangan macam-macam." Ameera langsung mencekal lengan Awan saat pria itu akan pergi.
"Kamu mau aku pergikan? baiklah tapi aku pergi bukan ke ke orang tuaku tapi aku akan pergi ke sang pencipta." Awan melepaskan cekalan tangan Ameera kemudian ia memunguti pakaiannya lalu segera memakainya.
"Mas, kamu mau kemana ?" Ameera langsung melilitkan selimut menutupi tubuhnya lalu mengejar Awan yang akan membuka pinta.
"Mas, kamu jangan macam-macam." Ameera langsung memeluk Awan dari belakang.
"Ku mohon jangan pernah lakukan hal bodoh yang di benci oleh Tuhan." imbuhnya dengan lirih.
"Untuk apa aku hidup sayang, jika tak bersamamu." Awan nampak menatap langit-langit agar air matanya tidak jatuh.
"Lalu aku harus bagaimana, mas ?" Ameera masih memeluk kekasihnya itu, sungguh ia sangat frustrasi saat ini.
Awan langsung memutar tubuhnya lalu menatap Ameera. "Jika mereka tidak bisa menerimamu, aku yang akan menjauh dari mereka." tegas Awan menatap Ameera.
"Tapi mas...."
"Kita yang menjalani hidup kita, bukan mereka. Asal kamu bisa menerimaku yang tidak punya apa-apa ini, aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Karena mungkin aku bukan siapa-siapa jika tanpa mereka." sela Awan dengan nada memohon.
Ameera nampak menelisik kejujuran di mata pria itu, kemudian ia mengangguk. "Aku suka kamu yang tidak punya apa-apa." ucapnya kemudian.
"Terima kasih." Awan langsung membawa Ameera ke dalam pelukannya.
Mereka nampak saling berpelukan, menyalurkan segala rasa yang terasa menyesakkan dada dan nampak air mata Awan jatuh tanpa bisa ia bendung.
Namun ia segera menghapusnya sebelum Ameera melihatnya.
"Mas menjauhlah, aku masih marah sama kamu." Ameera langsung mendorong tubuh Awan saat mengingat bagaimana pria itu telah memperkosanya untuk kedua kalinya.
Namun Awan tetap memeluknya tak peduli bagaimana gadis itu meronta. "Aku akan melakukannya lagi jika kamu menyuruhku pergi." tegas Awan menatap manik gadis itu.
"Dasar pemaksa." sungut Ameera lalu memukuli dada bidangnya.
"Ayo kita menikah ?" tukas Awan yang langsung membuat Ameera menghentikan pukulannya lalu menatap kesungguhan pria itu.