Ameera

Ameera
Malam pertama part III



💥Ketika kamu menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya💥


Setelah ibu mertuanya pergi Ameera segera menutup kembali pintu kamarnya, kemudian ia berlalu ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Di rumahnya masih banyak sekali tamu baik itu saudara atau para tetangga yang sedang membantu membereskan rumahnya.


Setelah rapi ia segera keluar dari kamarnya dengan senyum mengembang menyapa mereka semua.


"Cie pagi-pagi rambut sudah basah, berapa ronde semalam ?" bisik sang adik saat berpapasan dengannya.


"Apaan sih, dek." Ameera nampak tersipu malu, beruntung ucapan sang adik tak terdengar sampai telinga para saudara atau tetangganya.


"Meera, kami mau pulang ya." tiba-tiba tante Ratna adik dari pak Djoyo menghampirinya.


"Sekarang tante ?" Ameera terkejut, apa ia juga akan di ajak pulang juga pikirnya.


"Iya, kami semua akan kembali ke kota nanti kamu sama Awan menyusul ya." sahut tante Ratna yang langsung membuat Ameera lega.


"Baik tante." Ameera mengulas senyumnya, entah kenapa tantenya Awan itu tiba-tiba sangat baik padanya, padahal sebelumnya wanita itu yang mengatakan dirinya dan Awan sangat tidak cocok.


"Terima kasih sudah membuat pesta yang sangat mewah dan meriah." ucap tante Ratna yang nampak puas dengan pesta yang di buat kedua orangtua Ameera.


"Sama-sama tante." sahut Ameera.


Kini ia mengerti kenapa wanita itu secepat itu berubah, mungkin karena kedua orangtuanya membuatkan pesta yang lumayan mewah untuknya.


Pak Andre dan sang istri memang sengaja mengadakan pesta pernikahan mewah buat putrinya itu.


Meski ia bukan orang kaya seperti keluarga besannya tapi harga diri sang putri mereka junjung tinggi agar nanti saat masuk ke dalam keluarga Awan anaknya tersebut tak di rendahkan.


Keesokan harinya....


"Sayang, sampai kapan mereka akan berada di sini ?" keluh Awan saat melihat saudara dan para tetangga Ameera masih berkumpul di rumahnya padahal sudah dua hari lalu acara pernikahannya usai.


"Biasanya satu minggu mas, biasa di kampung memang seperti itu. Kami suka kumpul-kumpul." sahut Ameera.


"Terus kapan kita malam pertamanya ?" Awan nampak mendesah kesal, karena semalam ia di ajak oleh warga di sekitar rumah mertuanya itu main kartu hingga dini hari dan saat masuk ke kamar istrinya itu sudah terlelap tidur.


"Sabar ya." Ameera menatap kasihan suaminya itu.


"Yaudah kalau begitu nanti sore kita pulang ke rumahku ya." ajak Awan yang langsung membuat Ameera tersentak.


"Kok cepat banget sih mas, bukannya setelah satu minggu di sini baru kita baru balik ke rumah Mas ?" protes Ameera tak terima, sungguh ia masih merindukan keluarganya.


"Menolak keinginan suami itu dosa loh, sayang." tak mau berdebat akhirnya Awan menggunakan jurus andalannya.


Ameera nampak menghela napasnya. "Baiklah." ucapnya tak bersemangat.


Melihat istrinya muram Awan langsung menggenggam tangannya. "Katakan dengan jujur, apa kamu keberatan jika tinggal di rumahku ?" tanyanya seraya menatapnya intens.


Ameera terdiam, kemudian ia mulai terisak dan itu membuat Awan menjadi panik sendiri.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" ucapnya dengan khawatir.


"Aku takut, mas." Ameera semakin terisak dan Awan langsung membawanya kedalam pelukannya.


"Katakan apa yang membuatmu takut ?" tanyanya seraya mengusap lembut punggung istrinya itu.


"Aku takut sama mamamu, mas." sahut Ameera jujur.


"Kamu hanya belum kenal baik mama, aku yakin kamu akan menjadi menantu kesayangannya nanti. Lagipula ada aku yang akan selalu melindungimu." bujuk Awan yang langsung membuat Ameera mendongakkan kepalanya menatapnya.


"Janji !!" ucapnya seraya mengangkat jari kelingkingnya.


Cup


Awan yang merasa gemas langsung mengecup bibir istrinya itu, lalu ia menautkan jari kelingkingnya juga.


"Janji, sayang." ucapnya Kemudian yang langsung membuat Ameera menerbitkan senyumannya.


Setelah berhasil membujuk sang istri Awan segera bersiap-siap membawa istrinya itu pulang, meski mendapatkan penolakan dari mertuanya tapi berkat bujukannya akhirnya ia mendapatkan izin.


"Nak ini buat kamu, simpanlah !!" pak Andre memberikan sebuah amplop pada putrinya tersebut.


"Ini apa yah ?" Ameera memegang amplop yang terlihat tebal isinya itu.


"Uang jajanmu, kamu simpan saja !!" sahut pak Andre.


"Tapi yah, aku sudah punya suami." tolak Ameera dengan menyerahkan kembali amplop tersebut pada sang Ayah.


"Tapi suamimu tidak bekerja." timpal nyonya Anna yang baru masuk.


"Tapi, bun...."


"Kamu juga belum bekerja lagi kan? jadi simpan uang itu, nanti setiap bulan akan bunda transfer lagi." potong nyonya Anna.


"Lagipula Ayah dan bunda juga bekerja, jadi kamu jangan khawatir." imbuhnya lagi meyakinkan.


Pak Andre menghela napas beratnya, kemudian ia berlalu keluar kamarnya.


"Yah." Awan langsung berdiri saat Ayah mertuanya itu berjalan ke arahnya.


"Ayah titip Ameera, dia sekarang menjadi tanggung jawabmu." ucapnya dengan tegas.


"Iya, yah."


"Tolong bahagiakan dia dan jangan sekali-sekali membuatnya menangis." mohon pak Andre namun bernada tegas.


"Saya janji yah, akan selalu membahagiakan Ameera." Awan meyakinkan.


"Baiklah, kalian boleh pergi sekarang." ucap pak Andre saat melihat Ameera keluar dari kamarnya, matanya nampak mengembun melepas putri kesayangannya tersebut.


Kemudian Awan dan Ameera segera berpamitan karena hari mulai sore.


Setelah menempuh satu jam perjalanan, mereka sampai di kediaman Awan.


Ameera nampak menghela napasnya saat melihat rumah mewah dua lantai di depannya tersebut.


"Jangan takut, ada aku di sini." bisik Awan saat istrinya itu terlihat enggan melangkahkan kakinya.


Lalu ia segera mengajak wanita itu masuk ke dalam rumahnya.


"Kalian sudah kembali ?" nyonya Amanda nampak senang saat melihat Ameera dan Awan pulang lebih cepat padahal harusnya mereka berada satu minggu di rumah besannya tersebut.


"Iya ma, mas Awan minta pulang." sahut Ameera dengan jujur.


"Iyalah Awan sudah biasa tinggal di kota, mana betah tinggal di kampung." ucap nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera muram.


"Apa benar mas Awan memang nggak betah ?" gumam Ameera dalam hati.


Seakan mengetahui isi hati sang istri, Awan langsung menggenggam tangannya. "Aku betah kok ma, hanya saja di sana sangat ramai jadi waktu berduaan dengan istriku berkurang. Iyakan sayang ?" sela Awan lalu memandang Ameera meminta persetujuan.


Ameera nampak tercengang dengan perkataan Awan, namun kemudian ia terpaksa menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah istirahat saja di kamar." perintah nyonya Amanda kemudian.


"Mas, kenapa kamu bicara begitu sih? aku malu tau." cebik Ameera setelah mereka berada di dalam kamarnya.


"Kenapa malu? sama mama juga, bukan orang lain." sanggah Awan.


"Tetap saja malu."


"Sudah nggak apa-apa, ayo !!"


"Mau ngapain ?" Ameera langsung melotot menatap suaminya tersebut.


"Itu." Awan menaikkan sebelah alisnya menggoda sang istri.


"Dasar mesum." rutuk Ameera seraya berjalan menjauh namun Awan yang sudah tak sabar langsung menahan tangannya lalu membawanya ke ranjangnya.


"Mas, ada mama di bawah." Ameera mengingatkan saat suaminya mulai mengungkung tubuhnya.


"Biarkan saja."


"Bagaimana kalau mereka dengar ?"


"Kita di lantai dua sayang, mereka nggak akan dengar." tukas Awan di sela mencumbu istrinya tersebut.


"Mas tunggu dulu, bagaimana kalau tiba-tiba papa atau mama kesini ?" cegah Ameera saat suaminya itu akan melepaskan kancing pakaiannya.


"Nggak." Awan meyakinkan, lalu kembali melucuti pakaian Ameera.


"Mas, bukannya kamu masih sakit ?"


"Nggak sayang."


"Mas, bagaimana kalau...." Ameera belum menyelesaikan perkataannya tapi Awan sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.


Pria itu nampak mencium sang istri dengan rakus dan menuntut, tak menunggu lama kini keduanya sudah tanpa busana.


Saat sang suami berusaha memasuki dirinya, Ameera nampak memejamkan matanya ketakutan. Namun ia tak tahan untuk tidak mendesah saat pria itu berhasil memasukinya dan mulai menghujamnya.


"Buka matamu sayang, apa yang kamu takutkan bukankah ini nikmat hm ?" suara Awan nampak berat seiring hasratnya yang mulai menggebu.


Pria itu terus saja menghujam kuat milik istrinya dan itu membuat Ameera mendesah tak karuan di buatnya.


Nampak keringat mengucur di dahinya dan itu terlihat seksi di mata sang suami.


Hingga 30 menit kemudian Awan nampak mendesah panjang saat mendapatkan pelepasannya, setelah itu ia ambruk di atas tubuh wanita itu.


Kamar yang tadinya riuh dengan suara d3s4h4n yang memabukkan, kini hanya deru napas kelelahan yang terdengar.


Sementara itu nyonya Amanda yang entah sejak kapan berada di depan kamar Awan nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia segera berlalu menuruni anak tangga dengan wajah kesalnya.