
š„Manusia sejatinya tidak bisa menentukan benar dan salah, semuanya hanya tentang sudut pandangš„
"Nak, kamu baik-baik saja ?" nyonya Amanda nampak cemas saat melihat Awan mendadak pucat.
"Aku tidak perlu tongkat ini, ma." Awan langsung menyerahkan tongkatnya tersebut pada sang ibu.
"Tapi, nak....."
"Aku bisa jalan tanpa itu." sela Awan.
Kemudian dengan perlahan ia melangkahkan kakinya, tak perduli kakinya berdenyut sakit. Karena ia ingin terlihat kuat di depan calon mertuanya.
"Loh nak Awan bukan ?" ibunya Ameera nampak terkejut saat melihat Awan bersama dengan beberapa orang yang terlihat rapi dengan penampilan khas orang kota, begitu juga dengan sang suami yang terlihat sedang membaca koran di teras rumahnya.
"Assalamu'alaikum tante, Om." sapa Awan lalu mencium tangan calon ibu mertuanya itu dengan takzim.
"Wa'alaikum salam, ada apa ya nak kok ramai-ramai ?" tanya nyonya Ana dengan wajah penasaran.
"Kenalkan tante, Om, ini kedua orangtua saya dan keluarga besar saya." Awan mengenalkan orang tuanya beserta keluarga besarnya yang ikut hadir.
Nyonya Amanda yang sedang sibuk sendiri mengamati keadaan rumah Ameera langsung di sikut sang suami.
"Eh, saya Mamanya Awan." ucapnya dengan nada angkuh, bahkan ia segera menarik kembali tangannya setelah berjabat tangan.
Seolah-olah tangan calon besannya itu mengandung kuman hingga membuatnya jijik.
"Baiklah kalau begitu mari masuk." nyonya Anna segera menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumahnya.
Beruntung ia mempunyai ruang tamu yang cukup luas dengan sofa dua pasang, jadi semua tamu tidak ada yang berdiri atau lesehan di lantai.
"Sebelumnya saya minta maaf tante dan Om, karena saya dan keluarga saya mendadak datang kemari tanpa pemberitahuan dulu." Awan memulai membuka pembicaraan.
Sementara pak Andre dan sang istri nampak mendengarkan perkataan Awan tanpa berniat menyelanya, namun ia sedikit terganggu dengan nyonya Amanda yang terlihat memperhatikan setiap sudut rumahnya dengan wajah masam.
"Saya dan keluarga saya datang kemari karena berniat ingin melamar Ameera." imbuh Awan yang langsung membuat kedua orangtua Ameera terkejut.
"Melamar ?" tanya pak Andre dengan melebarkan matanya.
"Benar pak, saya selaku ayah kandungnya Awan ingin meminta putri bapak untuk di jadikan istri anak kami." timpal pak Djoyo.
"Putri saya banyak." tegas pak Andre.
"Ameera, Om." sahut Awan, suaranya nampak tercekat saking gugupnya menghadapi pria paruh baya yang terlihat sangat tegas itu.
"Bukannya kalian cuma berteman ?" pak Andre memicing, selama ini yang ia tahu Awan dan Ameera hanya teman kerja.
Awan langsung menggeleng. "Sudah beberapa bulan ini kami pacaran Om, tapi kami sengaja menyembunyikannya karena peraturan dari kantor yang tidak mengizinkan berhubungan dengan rekan satu divisi." ucapnya kemudian yang langsung membuat pak Andre kesal karena merasa di bohongi.
"Apa kamu benar-benar serius dengan putri saya ?" tegas pak Andre kemudian.
"Serius Om dan saya ingin meminang Ameera untuk menjadi istri saya." Awan menegaskan.
"Apa kamu sedang sakit ?" tanyanya saat melihat Awan nampak pucat.
"Iya, om. Sekarang masih dalam masa pemulihan." sahut Awan, lagi-lagi ia merasa tidak percaya diri jika sakitnya akan di jadikan alasan oleh ayahnya Ameera untuk menolak pinangannya.
"Tenang saja kalau soal nafkah pak, meski Awan sedang sakit atau tidak bekerja sekalipun kami cukup mampu menafkai putri bapak." timpal nyonya Amanda dengan nada angkuh dan itu membuat pak Andre nampak ragu.
Sepertinya ia ragu merelakan putrinya untuk Awan, melihat bagaimana perangai wanita itu yang nantinya akan menjadi ibu mertua Ameera.
"Sebelumnya saya minta maaf Nak Awan, bapak dan ibu. Apa nak Awan sudah yakin dengan Ameera? Ameera dari kecil terlalu kami manjakan, dia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti nyapu, ngepel, mencuci piring dan baju. Apalagi memasak Ameera sama sekali tidak bisa." tukas Pak Andre yang sengaja menjelek-jelekkan putrinya sendiri agar Awan dan keluarganya berpikir ulang untuk meminangnya.
Sungguh ia sangat menyayangi Ameera dan saudaranya yang lain, ia tidak ingin mereka tidak bahagia setelah menikah hanya karena tidak cocok dengan pihak keluarga suaminya.
Ia tidak pernah memandang harta, karena ia merasa masih mampu membahagiakan semua anaknya meski tidak semewah orang kaya.
"Saya sebenarnya juga belum menginginkan Awan menikah pak, karena dia masih muda juga." timpal nyonya Amanda yang langsung mendapatkan sikutan dari sang suami.
"Maaf pak Andre, istri saya memang suka becanda ya meski kadang garing." pak Djoyo menegaskan yang langsung membuat wanita paruh baya itu melotot menatapnya.
"Ma." tegur Awan saat sang ibu mulai membuat ulah.
"Om jangan khawatir, saya tahu semua tentang Ameera dan saya tidak mempermasalahkan hal itu. Jika Ameera tidak bisa memasak kami bisa membelinya, jika dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah saya akan mempekerjakan orang untuk membantunya." tegas Awan bersungguh-sungguh.
Nyonya Amanda yang baru di pelototi oleh sang suami dan putranya itu, ia langsung membuka suaranya.
"Kami juga tidak masalah kok pak, bu. Asal mereka saling mencintai itu sudah cukup bagi kami." ucapnya kemudian meski dengan nada terpaksa.
Pak Andre nampak belum sepenuhnya yakin, tapi saat melihat sang istri menganggukkan kepalanya ia mungkin akan mempertimbangkannya.
Mengingat saat terakhir kali putrinya itu pulang sebulan lalu, ada hal yang membuatnya sedikit syok.
Namun ia belum bisa memastikan, karena Ameera terlihat baik-baik saja padahal sebelumnya gadis itu selalu cerita apapun jika sedang ada masalah.
"Bunda yakin ?" ucapnya kala itu saat sang istri sedang memeriksa tubuh Ameera yang nampak terlelap tidur.
"Bunda yakin yah, sepertinya anak kita sudah tidak perawan lagi." sahut nyonya Anna dengan keyakinannya.
Wanita paruh baya yang mengelolah catering di sebuah rumah sakit itu nampak menatap nanar putrinya.
Seorang putri yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang itu sepertinya telah merusak kepercayaan yang telah ia berikan.
"Sebaiknya kita selidiki dulu bun, jika itu benar ayah yakin itu perbuatan nak Awan. Karena dialah satu-satunya pria yang mengaku dekat dengan Ameera dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya segera." tegas pak Andre.
"Jadi bagaimana pak ?" ujar pak Djoyo yang langsung membuyarkan lamunan pak Andre.
Pria paruh baya itu nampak ragu, banyak sekali yang harus ia pertimbangkan demi kebahagiaan sang putri.
Karena jawabannya nanti akan menentukan masa depan putrinya dan ia tentu saja menginginkan putrinya itu bahagia dengan siapa pun bersanding.
Entah itu Awan atau pria lain yang bisa menerima Ameera apa adanya dan menyayanginya dengan sepenuh hati.