
š„Terkadang lebih baik memendam daripada menjelaskan, karena terasa lebih sakit ketika mereka bisa mendengar tapi tak bisa mengertiš„
Malam itu Ameera baru keluar dari ruangan pak Mario setelah menyerahkan pekerjaannya Awan, sungguh badannya sangat lelah.
"Dasar laki-laki nggak bertanggung jawab." gerutunya dengan kesal mengingat Awan pergi begitu saja tadi siang lalu meninggalkan pekerjaannya padanya.
Saat ia berlalu pergi, tiba-tiba seseorang meneriakinya. "Ngapain kamu dari ruangan pak Mario malam-malam begini? habis godain beliau ya ?" tuduh seseorang yang langsung membuat Ameera menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan.
"Viona ?" sapa Ameera sedikit terkejut saat melihat gadis itu.
"Aku habis menyerahkan laporan." sahut Ameera kemudian.
"Malam-malam begini? memang seharian ngapain saja ?" sewot Viona.
"Aku mengerjakan pekerjaan mas Awan, dia pergi begitu saja tanpa menyelesaikan pekerjaannya." sahut Ameera menjelaskan.
"Ck, kamu pikir aku percaya? mas Awan itu orang pintar dan sangat bertanggung jawab dalam bekerja." bela Viona.
"Terserah kamulah." Ameera nampak jengah, kemudian ia berlalu pergi.
"Dasar ganjen, cari alasan saja bisanya." gerutu Viona yang kesal di tinggal Ameera begitu saja.
Sedangkan Ameera hanya bisa menghela napas panjangnya sembari berlalu pergi, tidak hanya badannya saja yang lelah tapi hatinya juga.
Setelah mengambil tasnya di ruangannya, ia segera meninggalkan kantornya tersebut. Ia bukannya langsung pulang ke messnya, namun justru berlalu ke taman yang ada di depan kantornya.
Taman yang terlihat rimbun itu selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah saat dirinya merasa sedang tidak baik-baik saja.
"Ayah, bunda aku kangen." ucapnya kemudian setelah ia menghempaskan tubuhnya di bangku taman.
"Apa kabar kalian? aku ingin bertemu, aku ingin bertemu kakak dan juga adik." imbuhnya lagi yang langsung membuat air matanya jatuh tak terbendung.
"Aku sedih ayah, kenapa mereka semua memusuhiku. Apapun yang aku lakukan selalu salah di mata mereka. Aku harus bagaimana ?" keluhnya lagi sembari terisak.
"Haruskah aku pulang? tapi aku ingin membuktikan pada kalian kalau aku bukan anak manja yang nggak bisa apa-apa." imbuhnya, kemudian ia menatap langit malam itu yang di penuhi kerlip bintang.
"Tuhan, kenapa menjadi dewasa sangat sulit ?" ucapnya lagi seraya memandang langit.
Ehmmm
Tiba-tiba terdengar deheman seorang laki-laki hingga membuat Ameera terlonjak kaget.
"Ku kira kuat, ternyata rapuh, cengeng pula." cibir laki-laki tersebut yang ternyata duduk tak jauh dari Ameera.
Taman yang rimbun serta penerangan yang minim, membuat Ameera tak melihat pria itu sebelumnya.
"Mas Awan, apa yang kamu lakukan di sini ?" teriak Ameera saat Awan memunculkan kepalanya dari balik daun-daun.
"Suka-suka aku dong ini tempat umum." sahut Awan cuek.
"Kamu selalu saja mengganggu ketenanganku." gerutu Ameera sembari beranjak dari duduknya, kemudian menghentakkan kakinya meninggalkan taman tersebut.
Namun baru beberapa langkah Awan sudah mencegahnya. "Tetap di sini." perintah Awan kemudian.
"Apa hakmu memerintahku ?" sungut Ameera dengan kesal.
"Aku bilang tetap di sini dan kembali duduk." perintah Awan lagi yang entah sejak kapan pria itu duduk di bangku Ameera tadi.
"Aku tidak mau." tolak Ameera.
"Kamu bilang rindu orang tuamu kan? kalau begitu sama, aku juga sedang merindukan orang tuaku." tukas Awan yang langsung membuat Ameera menoleh ke arahnya.
"Duduklah, bukankah kita sama-sama merindukan orang tua kita ?" perintah Awan dengan melembutkan suaranya.
Ameera yang mendengar itu, sedikit luluh lalu kembali duduk di bangku tersebut.
"Kamu merindukan orang tuamu kan? begitu pun juga dengan aku, ternyata hidup jauh dari orang tua itu tak semudah yang kita bayangkan." ucap Awan memulai pembicaraan hingga membuat Ameera menoleh menatapnya.
"Benarkah ini laki-laki itu, dia bukan hantu kan ?" gumam Ameera saat mendengar Awan berkata lembut padanya, bukan ucapan pedas seperti biasanya.
"Mari kita genjatan senjata." ucap Awan kemudian sembari menatap lekat Ameera, gadis itu terlihat sangat lelah dengan wajah sembabnya.
"Apa maksudmu ?" sahut Ameera tak mengerti, seharian otaknya sudah terkuras untuk bekerja kini ia berada pada mode lemot.
Awan langsung mengangkat jari kelingkingnya sendiri. "Ayo kita berdamai ?" ucapnya kemudian.
"Baiklah aku yang salah, jadi baikan nggak ?" tukas Awan dengan wajah mengharap.
Sedangkan Ameera nampak berpikir sejenak, kemudian ia menautkan jari kelingkingnya pada jari Awam.
"Hm, baiklah." ucapnya kemudian dengan menatap Awan, pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat.
Namun Ameera segera menjauhkan tangannya, kemudian memalingkan wajahnya.
"Aku mau pulang, sepertinya sudah cukup malam." ucapnya sembari beranjak dari duduknya yang langsung di ikuti oleh Awan.
Mereka nampak berjalan beriringan menuju Messnya, setelah sampai di sana mereka segera masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Tapi tanpa mereka sadari, Fajar nampak memperhatikan mereka dari kejauhan.
Keesokan harinya....
Pagi itu seperti biasanya Ameera berangkat kerja bersama Fajar, sepanjang jalan banyak sekali wanita yang menyapa laki-laki itu.
Melihat itu hati Ameera sedikit tercubit, apa dia sedang cemburu? entahlah, dia belum bisa mengartikan perasaannya sendiri.
Selain terkenal rajin beribadah dan ucapannya yang santun, Fajar juga tak kalah tampan dengan karyawan kantor lainnya.
"Sayang, bisa nggak kamu jauhi semua teman laki-lakimu." mohon Fajar membuka pembicaraan, mengingat kekasihnya itu lebih banyak berteman dengan laki-laki daripada wanita.
"Aku nggak pernah mendekati mereka kok, lagipula selama ini entah kenapa tidak ada teman perempuan yang mau akrab denganku kecuali Nita." sahut Ameera jujur.
Ameera bukannya tidak mau berteman dengan perempuan hanya saja kadang perkataan mereka selalu membuat hatinya panas dan mereka lebih banyak hanya berpura-pura baik tapi di belakang menusuknya diam-diam.
Jadi ia lebih nyaman berteman dengan lelaki, paling tidak walaupun mereka mungkin tidak menyukainya tapi mereka tidak menunjukkannya secara langsung kecuali Awan tentunya.
"Ya sudah kamu berteman dengan Nita saja tidak usah dengan laki-laki lagi." perintah Fajar kemudian.
"Mereka yang mau berteman denganku, lagipula mereka juga sangat baik." Ameera membela diri.
"Tapi aku cemburu melihat kamu bersama mereka, sayang." tegur Fajar yang langsung membuat Ameera menatap kekasihnya itu.
"Baiklah." sahutnya kemudian, meski ia tidak nyaman dengan sikap Fajar yang mulai posesif namun ia menyanggupinya.
"Lagipula selama ini mereka yang mendekatiku, bukan aku." imbuhnya lagi membela diri.
"Iya aku tahu, mulai sekarang jangan dekat-dekat mereka lagi ya." mohon Fajar.
"Hm." Ameera langsung mengangguk setuju.
Sepanjang jalan mereka nampak bergandengan tangan dan itu membuat Awan merasa cemburu saat melihatnya.
"Pagi." sapa Awan pagi itu saat baru masuk ke dalam ruangannya.
"Hm." sahut Ameera yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
"Mir ?" Awan nampak menghampiri meja Ameera.
"Hm." sahut Ameera tanpa menoleh ke arah pria itu.
"Kamu yakin menyukai Fajar ?" tanya Awan to the point.
"Hm, kalau nggak ngapain pacaran." sahut Ameera menatap Awan, meski saat ini ia belum yakin dengan perasaannya sendiri tapi jujur ia mulai ada perasaan sayang pada Fajar.
"Kamu yakin Fajar setia ?" pancing Awan.
"Tentu saja, dia orang baik kok." bela Ameera.
"Tapi aku nggak yakin." tukas Awan yang langsung membuat Ameera melotot menatapnya.
"Mas, kamu nggak usah cari gara-gara deh." kesal Ameera.
"Memang dia pria nggak baik." keukeh Awan.
"Kamu mau kita berantem lagi ?" sungut Ameera.
"Lihat saja nanti, laki-laki yang kamu banggakan itu ternyata tidak sebaik itu." cibir Awan mengingat tadi subuh ia melihat Fajar baru keluar dari kamar Tiara mantan kekasihnya itu lagi.
Namun ia tidak mungkin memberitahukan pada Ameera, tanpa bukti akurat yang ada hubungannya dengan gadis itu akan semakin memburuk.