
"Oh, ini tadi kebetulan ketemu teman yang bawa anaknya sayang. Kamu tahu, anaknya sangat lucu dan saat lihat aku langsung minta gendong." ucap Awan saat istrinya menanyakan aroma bedak bayi yang menempel di kemejanya.
"Oh." Ameera ikut tersenyum saat melihat suaminya antusias bercerita, namun dalam relung hatinya ia kecewa karena belum bisa memberikan pria itu seorang anak.
"Memang umur berapa anaknya mas ?" tanyanya seraya mengajak suaminya itu masuk ke dalam kamarnya.
"Empat tahun sayang." sahut Awan, lalu segera berlalu ke dalam kamar mandi.
"Maafkan aku ya mas, belum bisa memberikan malaikat kecil untukmu." gumam Ameera seraya menatap suaminya yang telah menghilang dari balik pintu.
Keesokan harinya....
Pagi itu Ameera yang selesai menjalankan ibadah dua raka'atnya nampak tersenyum tipis kala membaca pesan dari pak ustad.
Pria yang sudah ia anggap seperti pengganti ayahnya itu selalu mengingatkan dirinya agar tidak lupa dengan kewajiban 5 waktunya.
Nasihat-nasihat pria itu juga membuat Ameera semakin sabar menjalankan takdirnya dan kini wanita itu juga mulai meninggalkan pakaian seksinya meski belum menutup kepalanya menggunakan hijab.
Karena apapun yang ia lakukan harus di bicarakan dahulu dengan sang suami, di mana pria itu masih menyukai jika dirinya berpenampilan seksi.
Setelah membalas pesan pak ustad, Ameera segera meletakkan ponselnya di atas nakas untuk ia isi baterai. Kemudian ia bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya itu sarapan.
Sementara Awan yang baru mengerjapkan matanya nampak mencari ponselnya yang sengaja ia matikan, karena terkadang Karen suka mengirimkan pesan tiba-tiba dan ia tak mau istrinya itu tahu dan menjadi salah paham.
Karena Awan sama sekali tak berniat untuk menghianati wanita itu meski saat ini Karen menawarkan sesuatu yang tak pernah istrinya itu bisa berikan.
Awan tidak mungkin menceraikan wanita yang telah menemaninya dari nol hanya karena seorang anak, sedikit pun tak pernah terlintas dalam benaknya ia akan melakukan itu.
Setelah ponselnya kembali nyala, Awan nampak melebarkan matanya saat melihat pesan beruntun dari Karen, beruntung akhir-akhir ini istrinya itu tak pernah lagi mengecek ponselnya lagi, jika tidak mungkin akan terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Papa, kapan datang ke sini lagi ?"
Salah satu pesan yang di kirim oleh Karen beserta foto anak bungsunya yang membuat Awan tanpa sadar mengulas senyumnya.
Hatinya tiba-tiba menghangat ketika melihat wajah mungil bocah itu dan keinginannya kembali bertemu semakin besar.
"Astaga, ada apa denganku ?" ucapnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar ketika menyadari perbuatannya itu pasti akan menyakiti hati sang istri.
Akhirnya Awan memutuskan untuk segera bangun dan beranjak dari tempat tidurnya kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Saat melewati meja rias, pria itu menatap ponsel sang istri yang tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi. "Siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini ?" gumamnya, lalu meraih ponsel wanita itu.
Deg!!
Awan langsung mencengkeram ponsel tersebut setelah membaca isi pesannya dan bersamaan itu Ameera masuk ke dalam kamarnya.
"Syukurlah, kamu sudah bangun mas. Baru saja mau ku bangunin." ucapnya dengan tersenyum simpul, namun Awan yang sudah di kuasai oleh amarah nampak menatap tajam ke arahnya.
"Jadi seperti ini kelakuanmu di belakangku selama ini ?" hardiknya seraya mendekati istrinya itu.
"Ada apa sih mas ?" Ameera nampak mengernyit meski sebenarnya ia juga terkejut melihat kemarahan pria itu yang tiba-tiba.
"Sudah berapa kali ku bilang jauhi pria itu." teriak Awan penuh emosi.
"Pria siapa sih mas? pak ustad ?" tanya Ameera karena satu-satunya pria yang dekat dengannya hanya pas ustad, itu pun hubungan mereka tak lebih seperti seorang guru dan murid.
"Aku tidak pernah berselingkuh mas, lagipula apa salahnya beliau mengingatkan ku dalam kebaikan yang seharusnya itu menjadi tugasmu." ucapnya dengan menahan isak tangisnya.
"Ck, jadi kamu mau membanding-bandingkan ku dengannya ?" sentak Awan lagi dengan menatap nyalang ke arah istrinya itu.
"Nggak mas, sumpah aku nggak pernah melakukan itu." mohon Ameera.
Awan nampak menghela napasnya dengan kasar lalu segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintunya hingga meninggalkan bunyi keras yang langsung membuat Ameera berjingkat.
"Kenapa, kamu berubah mas ?" ucapnya seraya terduduk di pinggiran ranjang.
Seharian itu Ameera dan Awan kembali saling mendiamkan, Awan yang tak terima karena istrinya masih berhubungan dengan pak ustad membuatnya sangat marah.
Harga dirinya tersakiti saat justru pria lain yang berhasil membimbing istrinya itu dan bukan dirinya.
Sedangkan Ameera juga merasa kecewa karena suaminya terus menerus tak percaya padanya, seakan ia benar-benar melakukan perselingkuhan sesuai tuduhan pria itu.
Bahkan masalah-masalah mereka sebelumnya pun kembali mereka bahas saat keduanya saling menyalahkan, mungkin ini adalah pertengkaran terhebat mereka sejak 10 tahun pernikahannya.
Hingga beberapa hari kemudian hubungan mereka tak kunjung membaik, Awan tetap mempertahankan egonya begitu juga dengan Ameera.
Sampai pada akhirnya untuk pertama kalinya Awan tak pulang ke rumahnya malam itu padahal Ameera yang mulai menurunkan egonya ingin meminta maaf pada pria itu berharap hubungan mereka kembali membaik seperti sebelumnya.
"Belum pulang Wan ?" ucap nyonya Amanda malam itu saat melihat putranya merokok di teras rumahnya.
"Aku ingin menginap di sini Ma, bolehkan ?" sahut Awan yang tentu saja membuat nyonya Amanda langsung tercengang, karena sejak sepuluh tahun yang lalu baru kali ini putranya itu meminta menginap di rumahnya seorang diri tanpa sang istri.
Apa putranya itu sedang bertengkar dengan istrinya? mengingat beberapa hari ini pria itu nampak murung dan tak bersemangat.
"Tumben ?" timpal pak Djoyo yang baru bergabung lalu duduk di kursi sebelah putranya itu.
"Nggak apa-apa Pa, ingin saja tidur di sini." sahut Awan yang enggan menceritakan masalah rumah tangganya pada kedua orang tuanya tersebut.
"Apa kamu ada masalah dengan istrimu ?" tanya nyonya Amanda to the point.
"Nggak ada." timpal Awan datar.
"Kamu jangan bohong Wan, Mama lebih tahu kamu dari siapa pun karena Mama yang mengandung dan membesarkan mu. Jadi Mama tahu kamu sedang ada masalah dengan Ameera kan ?" desak nyonya Amanda kemudian.
Awan nampak menghela napasnya sejenak. "Hanya masalah kecil." sahutnya kemudian.
"Masalah kecil tapi Mama lihat kamu murung sampai berhari-hari, masalah itu di selesaikan Wan bukan di diamkan jadi katakan pada Mama kalian sedang ada masalah apa Nak ?" tanya nyonya Amanda tak menyerah.
Awan yang memang butuh solusi, nampak mulai bercerita pada ayah dan ibunya tersebut hingga membuat wanita yang melahirkannya itu terlihat geram.
"Ameera sungguh keterlaluan, dia benar-benar telah menginjak harga dirimu Wan. Dia pikir kamu suami yang tidak becus menjadi kepala rumah tangga apa? bisa-bisanya dia lebih memilih pak ustad itu sebagai penganutnya. Aku curiga mereka memang memiliki hubungan spesial di belakanganmu." Nyonya Amanda berucap dengan berapi-api dan itu membuat Awan semakin panas hati.
"Lebih baik segera ceraikan dia Wan, untuk apa wanita tak tahu diri itu kamu pertahankan. Sudah mandul, tak bisa menjaga kehormatan suami pula." imbuh nyonya Amanda lagi dan itu membuat hati Awan mulai bimbang.
.
Maaf ya guys jarang balas komen kalian, tapi saya baca satu-satu semua. Sekedar mengingatkan lagi jika cerita ini di adaptasi dari kisah nyata ya jadi jangan meminta saya untuk mengubah karakter tokohnya karena memang seperti itu adanya.
Tapi percayalah di akhir cerita ini akan ada banyak sekali pelajaran hidup yang bisa kita ambil, karena setiap perbuatan baik atau buruk itu pasti akan ada balasannya.