
Setelah tak mempunyai apa-apa lagi selain rumah yang ia tempati, nyonya Amanda lebih banyak murung. Ia tak percaya dengan keadaannya saat ini, dalam sekejap semua hartanya telah ludes.
Sang suami yang tadinya diam-diam menggunakan beberapa tanah dan bangunan miliknya untuk modal bisnis setelah pensiun nyatanya itu justru menjadi awal kebangkrutannya.
Kini wanita itu hanya bisa meratapi nasibnya, karena ia pun sendiri sedang dalam masalah tanpa sepengetahuan suaminya itu.
"Wan, syukurlah kamu datang Nak." ucapnya saat putranya itu mengunjunginya ke rumah, sejak menikah dengan Karen pria itu jarang sekali menjenguknya dengan alasan sedang sibuk membantu istrinya itu menjaga anaknya.
"Papa bilang katanya mama kurang enak badan ?" tanya Awan dengan wajah kusutnya.
"Sejak Papamu menghabiskan harta kita, mama benar-benar tak pernah sehat." sahut nyonya Amanda dengan wajah pucatnya.
"Semua sudah berlalu untuk apa Mama sesali." timpal Awan seraya mematik api untuk menyalakan rokok di tangannya.
"Tapi Mama masih belum terima Wan, bahkan mobilmu juga ikut kejual gara-gara hutang Papa yang menggunung itu." teriak nyonya Amanda dengan kesal, karena kini ia sudah tak mempunyai kendaraan lagi kecuali motor usang milik mantan menantunya itu.
"Sudahlah Ma, saat ini yang penting kalian bisa makan dulu. Nanti setiap bulan aku akan memberikan kalian uang untuk keperluan sehari-hari." ucap Awan menenangkan.
"Tetap saja Mama pusing Wan." keluh nyonya Amanda lagi.
"Lalu apalagi yang Mama pusingkan? apa karena Mama tidak bisa bergaya hidup mewah seperti dulu lagi? Sudahlah Ma lupakan itu semua, sekarang Mama harus belajar hidup seadanya." tegas Awan yang terlihat sedikit kesal dengan tingkah sang ibu.
"Bukan itu Wan, sebenarnya Mama sedang ada masalah besar." ucap nyonya Amanda memberanikan diri.
"Maksud Mama ?" Awan langsung mengernyit menatap ibunya ibu.
"Sebenarnya Mama juga mempunyai beberapa hutang di teman Mama." terang nyonya Amanda dengan wajah memelas.
"Astaga Ma." Awan langsung menghela napasnya dengan kasar.
"Mama bingung bagaimana membayarnya Wan, dulu sebelum Papamu pensiun Mama masih bisa mengatasinya tapi semenjak Papamu tidak bekerja lagi Mama tidak pernah di nafkahi lagi. Mama hanya mengandalkan beberapa bangunan yang kita sewakan tapi sekarang bangunan itu telah ludes oleh perbuatan Papamu." keluh nyonya Amanda di tengah isak tangisnya.
Awan nampak memijat pelipisnya yang tiba-tiba nyeri, semenjak bercerai dengan Ameera masalah selalu saja datang menghampirinya.
"Mama tidak mungkin menjual rumah ini Wan, karena Mama nanti bingung harus tinggal di mana." ucap nyonya Amanda lagi.
"Bagaimana jika rumahmu dengan Ameera itu saja yang di jual Wan ?" bujuk nyonya Amanda kemudian yang langsung membuat Awan menatapnya.
"Tidak Ma, itu sudah ku berikan pada Ameera." tolak Awan.
"Tapi itu kamu yang beli Wan, lagipula dia juga tidak mau menempati jadi lebih baik kamu jual saja." bujuk nyonya Amanda lagi.
"Aku bilang tidak ya tidak Ma, tolong untuk kali ini jangan paksa aku." teriak Awan yang membuat ibunya itu langsung menelan ludahnya.
Awan memang tidak akan pernah menjual rumah itu, meski mantan istrinya tak ingin menempatinya. Kesalahannya sudah terlalu besar pada wanita itu, bahkan ia bisa memiliki rumah itu juga berkat mantan istrinya itu.
Jadi mana mungkin ia akan menjualnya, meski kini ia telah mempunyai keluarga baru. Kenangan bersama wanita itu akan selalu tersimpan di ingatannya.
"Ya sudah, bagaimana jika pinjam uang Karen saja dia pasti punyakan ?" ucap nyonya Amanda lagi berharap menantunya itu dapat memberikannya secercah harapan.
"Tapi kenapa Wan, kalian berdua itu seorang manager jadi tidak mungkin tidak mempunyai simpanan." hardik nyonya Amanda mulai geram, karena anak dan menantunya itu sudah mulai perhitungan padanya.
"Sejak pandemi, perusahaan mengalami krisis Ma dan kantor terpaksa mengurangi banyak sekali karyawan agar perusahaan tidak ikut koleb." terang Awan yang langsung membuat ibunya itu melebarkan matanya.
"Tapi kamu tidak termasuk kan Wan ?" tanyanya khawatir.
"Perusahaan membuat peraturan tak boleh suami istri bekerja bersama, jadi harus salah satu di antara kami yang harus keluar Ma." sahut Awan.
"Astaga, tapi kamu tetap bekerjakan Wan dan Karen yang keluar ?" tanya sang ibu memastikan.
Awan menggelengkan kepalanya pelan. "Karen bersikeras dia yang tetap di kantor, jadi terpaksa aku yang mengalah." tukasnya kemudian.
"Jadi kamu nggak kerja sekarang ?" Nyonya Amanda langsung geram, sungguh putranya itu sangat bodoh bagaimana bisa patuh begitu saja pada istrinya itu.
"Kamu benar-benar bodoh Wan." hardiknya yang membuat putranya itu semakin kesal lalu segera beranjak dari duduknya.
"Sudahlah Ma, aku juga sedang pusing." sahut Awan seraya berlalu pergi.
"Terus hutang-hutang Mama bagaimana Wan ?" Nyonya Amanda langsung mengekori putranya itu.
"Nanti aku pikirkan bagaimana cara membayarnya Ma, sekarang jangan ganggu aku dulu aku juga setres." sela Awan lalu segera berlalu meninggalkan kediaman ibunya tersebut.
"Kenapa semua jadi seperti ini ?" Nyonya Amanda langsung terduduk lemas di kursi dengan wajah frustasi.
Hutang-hutangnya tidaklah sedikit, lalu bagaimana ia akan membayarnya nanti ?
Sementara Awan yang kini berada di sebuah Cafe nampak memesan minuman beralkohol, tekanan hidup yang ia lalui akhir-akhir ini membuatnya sangat frustasi.
Benarkah ini semua karma dari perbuatannya ?
...----------------...
Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan, tak terasa 6 bulan telah berlalu sejak perceraiannya dengan Awan namun Ameera rupanya belum bisa move on dari sang mantan suami.
Wanita itu hanya menghabiskan harinya di dalam kamarnya, tubuhnya pun semakin kurus bahkan untuk bangun pun ia tak kuat. Tubuhnya terasa lemas seiring dengan tingkat depresi yang semakin menjadi.
Rupanya untuk melupakan semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan, selama ini hidup Ameera hanya berputar di sekitar Awan. Saat pria itu tak ada lagi di sisinya, Ameera seperti kehilangan jiwanya.
Ia benar-benar tertekan hingga membuatnya berkali-kali ingin mengakhiri hidupnya.
"Mbak, tolong bangunlah aku ada berita entah ini penting atau tidak bagi mbak." ucap adik Ameera sore itu saat masuk ke dalam kamar kakaknya itu.
Ameera nampak diam dengan pandangan kosong, seakan tak mendengar ucapan sang adik.
"Aku baru saja mendapatkan informasi jika istri baru mas Awan meninggal dunia karena covid." ucap sang adik lagi yang langsung membuat Ameera menatap adiknya itu.