
"Bagaimana kalau nanti siang saya traktir makan siang ?" tawar Tommy pada Ameera.
"Maaf pak sepertinya pekerjaan saya hari ini banyak." tolak Ameera dengan halus.
Tommy melihat tumpukan berkas di atas meja Ameera yang nampak menggunung, lalu ia manggut-manggut.
"Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu dulu nanti siang saya kesini lagi." ucap Tommy, setelah itu ia segera keluar dari ruangan departemen keuangan tersebut.
Setelah Tommy pergi, Ameera nampak menghela napas panjang dan ia berharap semoga pria itu lupa dengan perkataannya sendiri dan tidak datang lagi.
Namun tidak seperti dugaannya, siang harinya justru pria itu datang ke ruangannya sebelum jam makan siang tiba.
"Ayo Meer makan siang !!" ajak Tommy to the point.
"Tapi pekerjaan saya masih numpuk pak." tolak Ameera lagi dengan halus.
Tommy nampak menghela napasnya pelan, ia merasa wanita cantik di depannya itu ingin menghindarinya.
"Semuanya, kalian mau makan apa katakan saja? akan saya pesankan." ucap Tommy tak kehilangan akal, jika wanita itu menolaknya maka ia akan menarik perhatiannya dengan mentraktir semua teman-temannya yang ada di ruangan tersebut.
Seluruh karyawan di sana nampak bersorak, kemudian mereka segera memesan makanan yang mereka inginkan.
"Jadi kamu mau pesan apa ?" tanya Tommy kemudian pada Ameera.
"Sa-saya belum lapar pak." sahut Ameera beralasan.
"Baiklah, kamu pesan seperti saya saja." Tommy segera memesan makanan tanpa menunggu persetujuan wanita itu.
"Dasar pemaksaan, apa dia tidak tahu aku sudah bersuami." gerutu Ameera dalam hati.
Beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan telah datang, semua karyawan di sana segera makan. Begitu juga Ameera dengan terpaksa ia makan pemberian Tommy.
"Saya masih beberapa hari ngantor di sini, jika kalian ingin pesan makan siang katakan saja pada Ameera nanti akan saya pesankan." ucap Tommy setelah selesai menghabiskan makan siangnya.
Lagi-lagi semua karyawan di ruangan tersebut nampak antusias namun tidak dengan Ameera, wanita itu terlihat tertekan karena sepertinya Tommy mempunyai segala cara untuk mendekatinya.
Sore harinya....
"Bagaimana kerjaanmu hari ini? maaf tadi aku ada meeting jadi tak sempat mengajakmu makan siang." ucap Awan dari balik kemudinya.
"Seperti biasanya mas." Ameera mengulas senyumnya menatap suaminya itu, ia tidak mungkin cerita yang sebenarnya.
"Aku kangen." ucap Awan, namun Ameera yang sedang melamun tak menanggapinya.
"Sayang." panggil Awan saat ucapannya tak mendapatkan tanggapan.
"Iya, mas." Ameera langsung menatap suaminya dengan tersenyum lebar, berharap suaminya tidak berpikir macam-macam.
"Aku kangen." Awan menggenggam tangan Ameera lalu mengecup punggung tangannya.
"Mas, hati-hati aku belum mau mati." pekik Ameera saat Awan tak fokus dengan jalanan di depannya.
"Iya, jangan khawatir." Awan menenangkan, namun genggaman tangan istrinya tidak ia lepaskan.
Beberapa saat kemudian pria itu menepikan mobilnya di pinggir jalan yang nampak sepi.
"Mas, kenapa berhenti di sini ?" Ameera nampak tak mengerti.
Awan terlihat melepaskan sefty beltnya, lalu mendekati istrinya itu. "Aku kangen." lirihnya.
Tanpa menunggu tanggapan wanita itu, Awan langsung mendekatkan wajahnya lalu di panggutnya bibir ranum istrinya dengan lembut.
Ameera yang sudah paham dengan sikap suaminya nampak memejamkan matanya, mencoba menikmati setiap lum4t4n lembut yang pria itu berikan padanya.
Beberapa saat kemudian setelah puas menyalurkan rasa rindunya Awan menarik tubuhnya lalu kembali ke tempat duduknya, sementara Ameera segera merapikan penampilannya yang berantakan.
Rambutnya sedikit acak-acakan serta beberapa kancing bajunya nampak terlepas.
"Nanti kita lanjutkan di rumah." Awan nampak tersenyum nakal saat melihat istrinya mencebikkan bibirnya, lalu ia segera melajukan mobilnya kembali.
Setelah sampai mereka segera masuk ke dalam rumahnya karena hari mulai gelap.
"Selamat malam pak, ibu." sapa seorang gadis muda setelah membuka pintu untuk Awan dan Ameera.
"Kamu siapa ?" Awan nampak memicing melihat gadis asing yang terlihat sedikit lusuh itu di rumahnya.
"Saya Mala pak, pembantu baru di sini." sahut gadis yang di ketahui bernama Mala tersebut.
"Memang bibik kemana ?" tanya Awan kemudian, perasaan ARTnya tadi pagi masih bekerja.
"Pulang kampung pak." sahut Mala dengan mencuri-curi tatapan kearah Awan.
"Oh." Awan nampak tak mengerti kenapa ibunya mencari asisten sangat muda bahkan mungkin masih sekolah.
"Biar saya bawakan bu." Mala menawarkan untuk membawakan tas Ameera.
"Tidak usah mbak, biar saya bawa sendiri." tolak Ameera, ia merasa enggan jika barang pribadinya di bawa oleh orang lain.
"Bibik kemana ma ?" tanya Awan penasaran.
"Ada urusan di kampung jadi minta pulang, lagipula sudah ada Mala juga yang gantiin lebih cekatan lagi dan masakannya sangat enak." sahut nyonya Amanda memuji pembantu barunya itu.
Awan menarik kursi untuk sang istri lalu ia segera mendudukkan dirinya di samping wanita itu.
Sejenak ia melebarkan matanya saat tiba-tiba Mala ikut duduk di samping istrinya.
"Kenapa dia juga ikutan duduk ?" Awan menunjuk Mala, karena tak biasanya ARTnya ikut makan dalam semeja.
"Mulai hari ini Mala akan makan satu meja dengan kita, kasihan masa makan sendirian di dapur." tegas nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera mengerutkan dahinya.
Sejak kapan ibu mertuanya itu mau makan semeja dengan pembantunya, bukannya wanita itu selalu merendahkan siapa pun yang tak sederat dengannya.
Ameera mencoba menghilangkan pikiran negatifnya, mungkin ibu mertuanya mulai berubah dan ia akan sangat bersyukur jika itu terjadi.
Keesokan harinya....
"Pagi pak, ibu." sapa Mala saat Ameera dan Awan baru menuruni anak tangga.
"Pagi Mala." Ameera balik menyapa ART barunya itu.
"Ibu sama bapak mau sarapan apa, biar saya siapkan ?" tawar Mala kemudian.
"Kami akan sarapan di kantor saja." tegas Awan, entah kenapa ia jadi tidak mood makan semeja dengan orang asing apalagi saat menyadari gadis itu diam-diam suka memperhatikannya.
"Baik pak." Mala terlihat kecewa, namun kemudian ia mencoba memaksakan senyumnya.
Awan dan Ameera segera pergi ke kantornya, namun sebelumnya ia mampir ke Cafe dekat kantornya untuk sarapan.
Beberapa saat kemudian sesampainya di kantornya Ameera nampak menghela napasnya pelan saat melihat Tommy sudah duduk di pinggiran meja kerjanya.
"Pagi Meera." sapa Tommy dengan mengulas senyumnya lebar.
"Pagi pak." sahut Ameera, jujur pria di hadapannya itu memang tampan tapi ia segera mengingatkan dirinya sendiri bahwa dirinya sudah menikah dan tidak pantas mengagumi pria lain.
"Sudah sarapan, Meer ?" tanya Tommy lagi saat Ameera baru menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi kerjanya.
"Sudah pak sama...." ucapan Ameera terjeda saat bu Dewi baru masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat pagi, eh ada pak Tommy. Pasti mau traktir kita lagi kan, kami sih dengan senang hati menerimanya iya kan Meera ?" sela bu Dewi kemudian.
"Boleh, nanti pesan saja sama Ameera." sahut Tommy dengan tersenyum lebar.
"Terima kasih, pak." ucap beberapa karyawan di sana.
Setelah Tommy pergi, beberapa karyawan langsung ke meja Ameera.
Mereka nampak memesan beberapa makanan lalu memberikan kertas pesanan itu pada Ameera.
"Aku kan belum bilang setuju." protes Ameera dengan kesal.
"Ayolah Meer kapan lagi kita bisa makan gratis selama satu minggu." bujuk salah satu dari mereka.
"Tapi aku tidak mau." keukeh Ameera.
"Kamu mah enak Meer jadi istri pak Awan yang notabennya salah satu dari keluarga besar pemilik perusahaan ini yang pasti sudah tajir melintir, sedangkan kita mah apa kadang uang gaji saja kurang." keluh yang lainnya.
"Iya Meer ayolah, ibuku sedang sakit dan aku butuh banyak biaya. Jadi lumayan kan jika uang makan ku seminggu ini bisa untuk membantu biaya ibuku." bujuk yang lainnya dengan nada memelas.
"Suamiku pasti marah jika tahu." ucap Ameera.
"Tenang saja pak Awan tidak akan tahu, jadi kamu mau kan membantu teman-temanmu ?" kali ini bu Dewi menimpali dengan nada meyakinkan.
Ameera nampak berpikir sejenak. "Baiklah." ucapnya kemudian yang langsung membuat teman-temannya bersorak senang.
Sungguh Ameera tak bisa melihat wajah sedih teman-temannya itu, meski selama ini mereka kurang menganggap keberadaannya.
Jam makan siang pun hampir tiba dan seperti dugaan Ameera, Tommy masuk kedalam ruangannya dan langsung memesan makanan sesuai catatan yang ia berikan.
Tak menunggu lama seorang OB membawa beberapa bungkus makanan ke dalam ruangan tersebut dan sontak membuat semua karyawan di sana menghentikan pekerjaannya.
Sementara itu Awan yang baru selesai meeting nampak mengerutkan dahinya saat melihat OB di kantornya membawa banyak bungkusan ke ruangan istrinya.
"Di, kamu sedang ngapain di ruangan itu ?" tanya Awan saat OB tersebut baru keluar.
"Mengantar pesanan makanan pak." sahut OB tersebut.
"Siapa yang pesan ?" Awan makin penasaran.
"Pak Tommy untuk bu Ameera." sahut OB tersebut yang langsung membuat Awan memicing.
"Apa ?" Awan nampak geram, kemudian ia langsung mendatangi ruangan istrinya tersebut.