Ameera

Ameera
part 2 "kejar-mengejar part 1"



Praaaaankkk


"APA YANG KALIAN KERJAKAN DASAR BODOH!!"


Tak ada yang menjawab satupun dari mereka. Suasana yang begitu mencekam membuat setiap orang yang hadir disana merasa akan mati saat itu juga. Amarah ketua mereka bagaikan ancaman mengerikan yang pernah mereka dengar.


"BAGAIMANA BISA KALIAN PULANG TANPA MENDAPATKAN KUNCI ITU HAH?!"


"Kunci itu tidak ada padanya ketua. Seseorang datang tiba-tiba dan membuat kami kualahan."


Ketua organisasi Red Snow itu nampak marah. Matanya mengisyaratkan rasa kesal yang lebih.


Tangannya menarik kerah  baju milik bawahnnya, "APA KATAMU?! BODOH!"


DUAAAKK


jatuh terkapar adalah hal yang masih terbilang cukup untung bagi mereka. Walau tulang mereka harus patah sekalipun akibat tonjokan ketua mereka. Memilih patah tulang daripada mati adalah hal yang paling baik menurut mereka.


"KEJAR ORANG ITU! BUNUH ANAKNYA DAN SEMUA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUARGA PASSIERA!"


"SIAP!"


"Aku tidak akan mengampuni mu dasar sampah!"


.


.


.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ORANGTUA KU HAH?! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA?!"


Zilong. Pria bertopeng perak itu tersenyum remeh. Apa katanya tadi? Membunuh?


"Akan ku tunjukkan arti dari membunuh yang sebenarnya."


Ameera terdiam dalam duduknya saat pistol milik orang yang tak dia kenal itu mengarah pada keningnya.


Takut? Tentu saja Ameera takut. Ini adalah pertama kalinya ia melihat pembantaian satu keluarga dengan begitu sadis seperti ini. Dalam sekejap saja semuanya mati tak bersisa.


"Kau bilang aku pembunuh? Lalu bagaimana menurutmu dengan ayahmu yang membunuh keluargaku secara diam-diam?"


Runtuh sudah pertahanan Ameera. Benarkah begitu? Benarkah ayahnya sendiri membunuh keluarga dari pria asing yang berjongkok di hadapannya saat ini?


Ameera menggeleng keras, "tidak! Ayahku bukan pembunuh! Dia adalah orang baik!"


"Ahahahahaha orang baik?! KAU BILANG ******** TUA SEPERTI DIA ORANG BAIK?!"


Ameera tersentak saat pria asing itu berteriak dengan marah. Rasa takutnya membuatnya diam tak berkutik, ia hanya mampu meredam tangisnya.


Kendati demikian, rasa kesepian dalam hatinya kian mendalam. Orang yang ia sayangi telah dibunuh dengan kejam. Apa yang bisa ia harapkan sekarang? Semuanya habis tak bersisa.


"Akhh lepaskan aku!"


Ameera berusaha melepaskan diri dari pria asing yang tiba-tiba menyeretnya dengan paksa. Tubuhnya terhempas kedalam jok mobil. Tanpa ada celah untuk melarikan diri, pria itu membawanya pergi. Yang pasti Ameera tahu bahwa hidupnya akan berubah saat ini juga.


.


.


.


.


Gorden yang terbakar, pecahan kaca yang berserakan di lantai. Cahaya redup dari lilin yang tersisa menambah kesan membunuh dalam acara reuni kali ini. Semua yang hadir mati bagaikan kertas tak berguna yang pada akhirnya menjadi sampah.


Aksi tembak menembak masih berlangsung sengit. Monaco, Richard dan Leonard masih setia berpencar mencari pelaku utama kekacauan malam ini.


"Hiks..."


Monaco menaikkan sebelah alisnya. Suara tangisan yang terdengar samar itu mengganggu indra pendengarannya.


Benar saja, dibawah meja sana teman-teman Ameera tengah memeluk lutut mereka dan menangis dalam diam.


"Hei, apa kalian baik-baik saja? Keluarlah aku tidak akan menyakiti kalian."


Suara yang lembah lembut dari pangeran kerjaan mesir kuno itu membuat ketiga perempuan yang sedang bersembunyi tersebut mendongak. Secara perlahan ketiganya keluar dengan hati-hati. Perasaan mereka masih diliputi rasa takut yang mendalam. Mereka takut jika adegan baku tembak akan kembali terulang lagi.


"Richard! Bawa mereka ke mobil dan kita akan pergi dari sini."


Richard mengangguk, "ikuti aku, kalian akan baik-baik saja."


Ketiganya mau tak mau menuruti perkataan pria yang dipanggil Ricard tersebut. Ini adalah kesempatan mereka untuk keluar hidup-hidup.


Beberapa kali Monaco melirik ke segala arah. Harap-harap cemas akan apa yang terjadi selanjutnya.


Monaco mengeluarkan hp dan mendial nomor Leonard. Tidak lama sambungan telpon itu akhirnya terjawab.


"Kita pergi dari sini."


Tut.


Monaco bergegas pergi menyusul teman-temannya yang sudah ada didalam mobil.


"Apa yang kau dapatkan?," Tanya Monaco kearah Leonard yang baru saja datang. Tangannya menutup pintu mobil dan memasang sabuk pengaman.


"Kita akan bahas setelah sampai di markas."


"Eeehh?"


Leonard sedikit terkejut saat melihat 3 sosok perempuan yang duduk di bangku belakang. Sesaat dirinya merasa linglung dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Korban selamat."


"Oh"


Leonard tahu dengan betul maksud dari perkataan Monaco. Korban selamat yang berarti hanya mereka ber 3 lah yang berhasil keluar dari ruangan itu tanpa kurang satu apapun. Termasuk dirinya dan kedua sahabatnya itu.


Sejujurnya, Leonard agak sedikit canggung jika harus duduk berdekatan dengan 3 perempuan sekaligus. Tapi apa yang bisa diperbuatnya sekarang? Ini adalah satu-satunya mobil yang tersisa.


Monaco dan Richard tergelak mendengar desahan frustasi yang keluar dari bibir Leonard.


.


.


.


.


Zilong semakin menambah kecepatan mobilnya saat mobil asing dibelakangnya semakin brutal mengikuti mereka. Bukan hanya satu tapi sekitar 6-10 mobil.


"Cih! Sialan!"


Zilong tidak bisa berbuat banyak sekarang. Tugasnya saat ini adalah keluar dari aksi kejar mengejar ini dengan selamat.


"Bisakah kau melakukan satu hal untukku?"


"Apa?"


Tanpa persetujuan Ameera, Zilong dengan tiba-tiba melemparkan pistol yang ia gunakan kepada Ameera.


"Tembak ban mobil itu."


Itu bukanlah kalimat minta tolong, melainkan perintah mutlak.


"Tapi...


" Tidak ada tapi-tapian. Segera tembak atau nyawamu akan melayang saat ini juga."


Glek.


Ameera terpaksa harus menuruti perkataan Zilong. Mau tidak mau ia harus berhadapan dengan yang namanya menyambut Ajal. Jika ia beruntung maka ia akan hidup, tetapi jika tidak ia hanya bisa mati.


"Kau tidak akan mati tanpa izin dariku."


Aah... sepertinya laki-laki itu selain bersifat bengis dan dingin juga bisa membaca pikiran orang.


Dor!


Ciiiiiiiittttt... Brak!!


Beberapa tembakan berhasil mengenai sasaran.


"AMEERA HENTIKAN!"


Ameera bergegas menghentikan kegiatan menembaknya saat teriakan Zilong menginstrupsi dirinya.


"Kenapa? Apa yang—


" MENUNDUK!"


Dor dor!


Traaankk


Belum sempat bertanya dirinya kembali dikagetkan akibat tembakan yang mengenai kaca mobil bagian belakang.


Pantas saja Zilong menyuruhnya berhenti menembak dan menunduk sesegera mungkin. Ternyata, pria itu sudah menyadari semuanya dari awal.


"********! Tidak ada habis-habisnya!"


Dengan cepat Zilong memutar mobilnya menuju tempat terpencil diluar kota. Sebuah tempat pengasingan yang jarang diketahui orang.


Ameera menatap aneh kearah Zilong yang tiba-tiba berhenti di pertigaan jalan.


"Apa? Kenapa kau berhenti?"tanya Ameera merasa tekejut karena Zilong tiba-tiba saja berhenti disaat-saat genting seperti ini.


" Buka baju."


"Hah?"


Buka baju? Untuk apa pria itu menyuruhnya untuk membuka baju?


"Kau berniat memperkosa ku?!"


"Tidak ada gunanya aku memperkosa mu. Aku tidak suka wanita dengan dada rata sepertimu. Cepatlah buka bajumu!"


"Tidak! Aku tidak mau!"


Zilong menatap kesal Ameera yang terus menerus bersikukuh dengan sikap arogannya itu. Baru kali ini Zilong bertemu dengan wanita seperti Ameera.


"Kita tidak punya waktu lagi! Cepat lepaskan semua bajumu dan buang keluar!"


"Tapi kenapa?!"


"MEREKA PASTI SUDAH MENARUH ALAT PELACAK DITUBUH MU!"


glek


"Huh... baik! Aku buka, kau jangan menghadap kemari."


Zilong menuruti perkataan Ameera. Masih dengan wajah datar dan dinginnya, pria itu benar-benar tidak melihat kearah Ameera walau hanya sedetik pun.


"Selesai, sudah kubuang semuanya."


Zilong kembali mengemudikan mobilnya kearah kiri. Membelah kegelapan dan kesunyian tempat terpencil itu. Mereka tidak tahu bahwa semua ini hanyalah awal untuk memastikan apakah mereka benar-benar bisa selamat atau tidak.


.


.


.


Tbc...