
Sepanjang malam Ameera nampak kepikiran dengan apa yang ia lihat tadi sore, melihat ayah mertuanya yang sedang berbincang akrab dengan seorang wanita cantik membuatnya tak bisa tidur malam itu.
Meskipun suaminya sudah meminta jatahnya hingga dua ronde, namun tetap saja tak bisa membuatnya tidur nyenyak Meski tubuhnya sangat lelah.
"Kok belum tidur ?" Awan yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan sebatang rokoknya di balkon kamarnya nampak mendekati istrinya yang nampak melamun.
"Nggak tahu nih mas aku susah tidur." keluh Ameera kemudian.
"Mau di temani ngobrol ?" tawar Awan seraya naik ke atas ranjangnya.
"Hm." angguk Ameera.
"Mas, boleh aku tanya ?" ucap Ameera kemudian.
"Hm, katakan !!"
"Jika seorang pria itu berteman dengan wanita apa mereka benar-benar murni berteman ?" tanya Ameera dengan wajah penasarannya.
"Kenapa kamu bertanya begitu? siapa pria itu aku akan menghajarnya." Awan tiba-tiba emosi.
"Bukan aku mas, tapi aku hanya sekedar bertanya. Lagipula kapan aku sempat berteman dengan pria mata-matamu saja ada di mana-mana." cebik Ameera.
Awan nampak terkekeh, karena sebelumnya ia memang menyuruh semua OB di kantornya untuk mengawasi istrinya itu.
"Jadi bagaimana menurutmu ?" ulang Ameera saat suaminya belum juga menanggapi perkataannya.
"Tidak ada namanya pertemanan laki-laki dan perempuan sayang, salah satu dari mereka pasti ada yang baper dan ku harap orang itu bukan kamu dan Rafael." sahut Awan dengan nada mengancam yang langsung membuat Ameera menelan ludahnya.
"Ya nggaklah mas, Rafael sudah ku anggap seperti adikku sendiri." Ameera meyakinkan.
"Ayo bobo sepertinya aku sudah mulai ngantuk." imbuh Ameera seraya melingkarkan tangan suaminya di pinggangnya, sepertinya wanita itu enggan melanjutkan obrolannya dari pada nanti berakhir dengan kesalahpahaman di antara mereka.
Keesokan harinya....
Pagi itu pak Djoyo yang baru selesai lari pagi langsung masuk ke dalam rumahnya lalu mengambil air es dalam lemari pendinginnya.
"Habis olahraga Om ?" tanya Rafael tiba-tiba, pria itu nampak rapi dengan tas di punggungnya.
"Iya, meski sudah berumur kita harus tetap menjaga stamina agar tetap bugar." sahut pak Djoyo.
"Kamu mau kuliah ?" imbuhnya lagi saat menatap keponakannya itu yang sudah rapi.
"Iya, Om." angguk Rafael.
"Ya sudah sana biar nggak terlambat." perintah pak Djoyo kemudian.
Setelah kepergian Rafael, pak Djoyo langsung menuju ruang kerjanya yang kini menjadi kamarnya.
Sementara itu nyonya Amanda yang sedari tadi menguping pembicaraan suaminya nampak terdiam di dalam kamarnya yang tak tertutup rapat.
Selama ini suaminya itu jarang sekali berolah raga dan entah kenapa akhir-akhir ini justru jogging hampir setiap pagi.
Apalagi saat mengingat perkataan suaminya yang ingin menjaga staminanya agar tetap bugar, membuat nyonya Amanda bertanya-tanya.
"Tidak mungkin." gumamnya menangkis pikiran buruknya, tapi mengingat penampilan pria itu yang nampak berubah akhir-akhir ini membuat wanita itu curiga.
"Aku harus menyelidikinya."
...----------------...
"Terima kasih Vi, kopi buatanmu selalu pas di lidah saya." puji pak Djoyo saat Selvi baru menghidangkan secangkir kopi buatannya sore itu sepulang ia kerja.
"Sama-sama, mas." Selvi nampak tersenyum manis, sejak beberapa hari ini panggilan mereka memang berubah seiring semakin akrab hubungan pertemanan keduanya.
Kemudian Selvi pamit ke belakang dan tak berapa lama wanita cantik itu kembali dengan membawa sepiring pisang goreng.
"Buat teman kopi mas, tapi ini tidak ada di menu jadi lain kali kalau mas pesan tidak akan ada." seloroh Selvi seraya meletakkan pisang goreng buatannya di atas meja pak Djoyo.
Selvi nampak ragu, selama ini ia sebisa mungkin menjaga jarak dengan pria itu.
Namun sepertinya pak Djoyo makin kesini makin membuatnya tak bisa menolak.
Pria itu selalu saja memintanya menemani saat sedang mampir ke restorannya.
Pak Djoyo yang berlaku sebagai pelanggan tetap tentu saja tak mampu wanita itu tolak, karena kepuasan pelanggan itu yang utama baginya dan tentunya masih dalam batas wajar pikirnya.
Saat sedang mengunyah pisang goreng tersebut, seketika pak Djoyo mengingat sang istri.
Entah sejak kapan istrinya itu tak pernah lagi membuatkannya cemilan seperti ini, padahal sebelumnya wanita itu tak pernah melewatkan sekecil apapun untuknya.
Karena akhir-akhir ini wanita itu selalu sibuk dengan teman-temannya dan pada akhirnya perubahan istrinya itu karena ada pria lain di hatinya.
Seketika pak Djoyo nampak menghela napasnya dan itu tak luput dari perhatian Selvi.
"Sepertinya mas capek banget ya, jangan terlalu di forsir kerjanya nanti kalau sakit kan mas sendiri yang repot." nasihat Selvi.
"Hati saya yang lelah Vi." lirih pak Djoyo entah dalam keadaan sadar atau tidak saat mengucapkannya.
"Maksud mas ?" Selvi nampak tak mengerti, ingin sekali ia tak peduli tapi melihat wajah pak Djoyo yang teramat sedih membuat wanita itu menjadi penasaran.
"Istriku selingkuh." sahut pak Djoyo yang langsung membuat Selvi nampak tak percaya.
"Yang sabar ya mas, aku tahu bagaimana rasanya di hianati." ucap Selvi tanpa sadar wanita itu memegang punggung tangan pak Djoyo namun saat keduanya menyadari Selvi langsung menarik tangannya kembali.
"Maaf mas, aku terlalu terbawa perasaan." ucapnya dengan menunduk, wanita itu nampak merutuki dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa." pak Djoyo justru balik menggenggam tangan Selvi yang berada di atas meja.
"Kita berdua adalah korban dan sudah sewajarnya saling menguatkan." imbuh pak Djoyo yang entah mendapatkan keberanian dari mana hingga berani menyentuh wanita anggun di hadapannya itu.
Sementara itu Ameera yang baru pulang dari kantornya nampak membersihkan dirinya di dalam kamar mandinya.
Sebentar lagi suaminya itu pulang dan ia ingin menyambutnya dengan penampilan terbaiknya.
Mengingat di kantornya ia tak mempunyai banyak waktu bertemu karena kesibukannya masing-masing.
Ameera juga tidak ingin rumah tangganya hancur seperti mertuanya karena kurangnya komunikasi dan saling perhatian di antara mereka.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Ameera segera keluar dari kamarnya.
Saat baru menuruni anak tangga tiba-tiba Rafael mendekatinya dengan tersenyum lebar.
"Mbak Meera cantik banget mau kemana ?" goda Rafael.
"Nungguin suamiku lah." sahut Ameera.
"Mas Awan belum datang mbak." terang Rafael.
"Iya aku tahu paling sebentar lagi." sahut Ameera.
"Oh ya mbak, di kampusku akan ada kegiatan. Mbak bisa memberikan ide nggak." mohon Rafael seraya menunjukkan lembaran kertas di tangannya.
"Bisa." Ameera langsung mengambil kertas dari tangan Rafael lalu selanjutnya mereka nampak berdiskusi bersama.
Beberapa saat kemudian, Awan yang baru pulang langsung di sambut oleh ibunya. Namun Awan langsung mengabaikannya dan itu membuat nyonya Amanda nampak kesal.
"Lihat istrimu itu Wan, suami pulang bukannya di sambut tapi malah asyik ngobrol sama laki lain." ketus nyonya Amanda, sepertinya wanita itu tak rela jika rumah tangganya hancur sendirian.
Melihat rumah tangga putranya yang adem ayem pun mulai di usiknya kembali.
.
Maaf ya teman-teman jika alurnya bikin gemes dan tak sesuai dengan keinginan kalian, berhubung cerita ini di adaptasi dari kisah nyata jadi saya menulis berdasarkan ceita narasumber meski saya bumbui dengan sedikit kehaluan ala saya.