Ameera

Ameera
Part~118



"Maaf mas, aku kesiangan." Ameera yang baru mengerjapkan matanya langsung terkejut saat melihat sang suami sudah bersiap.


"Ini pasti gara-gara semalam." gumamnya.


"Ini masih pagi sayang, aku saja yang ingin berangkat lebih awal." sahut Awan seraya menyisir rambutnya di depan cermin.


Ameera nampak mengambil ponselnya di atas nakas, jarum jam baru menunjukkan pukul 6 lewat tapi suaminya itu sudah bersiap untuk pergi.


"Tumben berangkat cepat mas ?" ucapnya kemudian, karena pria itu kadang suka mengulur waktu jika akan pergi ke kantornya entah dengan bermalas-malasan di ranjang bersamanya atau mengganggunya saat ia sedang sibuk di dapur.


"Mas, kamu sedang tidak berselingkuhkan ?" sambungnya dalam hati, ia takut pria itu bermain hati dengan wanita di luar sana.


Awan yang sudah selesai menyisir rambutnya langsung melangkah mendekati istrinya itu. "Hari ini aku ada meeting." ucapnya kemudian.


"Kamu tidur saja lagi, hari ini tidak usah masak. Jika mau makan kamu bisa beli di warung depan, lagipuka kamu juga pasti masih capekkan ?" imbuhnya lagi seraya menatap wajah bantal istrinya itu, tangannya nampak telulur mengusap pipi wanita itu.


"Kamu beneran hanya meetingkan mas ?" tanya Ameera memastikan, entah kenapa tiba-tiba terbesit perasaan tidak enak di benaknya.


"Tentu saja meeting sayang, memang mau apalagi. Tapi jika kamu keberatan aku akan membatalkannya." sahut Awan menjelaskan.


Ameera langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan, kamu harus menunjukkan kinerjamu di kantor agar lekas naik jabatan. Kamu harus bisa membuktikan pada keluarga besarmu jika kamu mampu." ucapnya kemudian.


"Terima kasih sudah terus mendukungku, maaf belum bisa membahagiakan mu." Awan menatap istrinya itu dengan lekat, lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Ya sudah mas, nanti terlambat loh. Apa mau ku buatkan sarapan dulu." ajak Ameera kemudian, lalu segera turun dari ranjangnya.


Awan nampak menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tidak usah sayang, aku sarapan di kantin saja selepas meeting nanti." sahutnya kemudian, lalu ia mengajak istrinya itu keluar dari kamarnya.


"Hati-hati ya mas." ucap Ameera saat suaminya itu hendak memakai helmnya.


"Iya istriku yang cantik." Awan yang urung memakai helm langsung mengecup kening wanita itu, lalu turun ke kedua pipinya dan berakhir dengan sebuah kecupan di bibirnya.


"Ya sudah aku pergi dulu ya." Awan mengulurkan tangannya yang langsung di cium dengan takzim oleh wanita itu.


"Hm, selalu hati-hati ya mas. Jangan ngebut di jalan." pesan Ameera dan langsung di anggukin oleh suaminya itu.


"Maafkan aku mas, gara-gara aku kamu hidup menderita seperti ini." gumam Ameera seraya melihat kepergian sang suami, pria yang dari kecil selalu menggunakan mobil itu kini harus rela kepanasan dan kehujanan dengan motornya.


Setelah itu Ameera segera menutup pintu rumahnya dan kembali sibuk dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.


Sementara itu Awan yang mengendarai motornya nampak pergi ke kompleks perumahan di mana kedua orang tuanya tinggal di sana.


"Assalamualaikum." sapanya tanpa melepaskan helmnya, kedua orang tuanya yang sedang sarapan langsung menoleh ke sumber suara.


"Wa'alaikumsalam." sahut bibik yang baru membuka pintu.


"Lihatlah pa, anakmu sudah bagus-bagus naik mobil malah lebih memilih naik motor butut bikin malu saja." sindir nyonya Amanda dengan suara nyaring sembari melirik sang putra yang sedang melangkah mendekat.


"Ma, pa untuk terakhir kalinya aku mohon jangan lagi ikut campur masalah rumah tanggaku. Aku sudah dewasa ma, aku bisa mengatur masa depanku sendiri dan masalah Ameera yang tidak bekerja lagi aku memang yang menyuruhnya berhenti karena aku merasa mampu menafkahinya." tegas Awan to the point seraya menatap ayah dan ibunya itu bergantian.


"Tapi mama tidak rela ya kamu yang sudah mama besarkan sekarang justru capek menghidupi dia, harusnya dia juga ikut bekerja tidak hanya mengandalkan kamu saja." sahut nyonya Amanda tak kalah tegas.


"Ma, tapi itu memang sudah menjadi kewajibanku untuk menafkahi istriku dan apa mama juga bekerja? tidakkan ?" balas Awan dengan geram.


"Kamu jangan samakan mama dengan istrimu itu, mama tidak bekerja karena papamu mampu memberikan mama rumah dan mobil yang layak. Sedangkan kamu apa-apa belum punya dan seharusnya istrimu itu juga ikut membantu kesuksesan mu bukan hanya ongkang-ongkang kaki di rumah saja." Nyonya Amanda langsung bersungut-sungut.


Awan nampak menghela napasnya dengan kasar. "Percuma ngomong sama mama, intinya mulai sekarang mama jangan ikut campur rumah tanggaku lagi." tegasnya kemudian.


"Sudah-sudah, masih pagi kalian sudah ribut saja." pak Djoyo langsung menengahi.


"Anak mu itu pa yang mulai, sejak menikah dia melawan mama terus." Nyonya Amanda mulai mengadu.


Awan yang kesal langsung meninggalkan kediaman orang tuanya tersebut karena jika tidak maka amarahnya semakin tak terkendali.


Tadinya ia yang melihat perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba langsung mencurigai jika ada andil dari sang ibu. Maka dari itu ia berniat menemui ibunya itu pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kantornya.


Namun bukannya solusi yang ia dapatkan tapi justru emosi yang memenuhi kepalanya.


"Assalamualaikum, ma." sapa Ameera saat baru mengangkat panggilan dari ibu mertuanya sore itu.


"Wa'alaikumsalam, masak apa kamu Meer ?" tanya nyonya Amanda to the point dari ujung telepon.


"Ayam asam manis sama tumis kangkung ma." sahut Ameera.


"Itu saja ?"


"Iya ma, itu saja mas Awan sudah suka." sahut Ameera.


"Kamu sebenarnya bisa masak nggak sih, kalau masakin anak saya itu yang banyak macam biar Awan nggak kekurangan gizi dia itu sudah capek kerja." tegur nyonya Amanda dengan suara ketusnya.


"Iya ma, besok Meera masak yang banyak macam." timpal Ameera menanggapi.


"Hm, harus itu jangan sampai anak saya kurus kering gara-gara kamu tidak bisa mengurusnya." tegur nyonya Amanda lagi lalu mengakhiri panggilannya.


Ameera yang masih memegang ponselnya nampak mengelus dadanya, ia harus lebih bersabar menghadapi ibu mertuanya itu. Ia bisa saja melawan namun ia tak ingin menjadi anak durhaka, biar Allah yang membalas semuanya.


Mendengar suara mesin motor suaminya Ameera langsung kembali dari lamunannya, kemudian wanita itu segera beranjak dari duduknya.


"Kenapa tidak pakai mantel mas ?" Ameera merasa iba saat suaminya pulang dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan.


"Aku lupa tidak membawanya." sahut Awan seraya melepaskan helmnya.


"Sebentar aku ambilkan handuk." Ameera segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handuk.


"Harusnya mas berteduh dulu tadi." ucapnya seraya memberikan handuk pada suaminya itu.


"Nggak apa-apa, nanti kalau berteduh lama lagi pulangnya dan kamu pasti sudah berpikir macam-macam karena baterai ponselku juga habis." sahut Awan.


"Ya sudah ayo masuk." Ameera segera mengajak suaminya itu untuk masuk.


Setelah membersihkan dirinya Awan dan Ameera segera makan malam bersama. "Masakanmu enak sayang, bisa-bisa berat badanku naik." puji Awan yang nampak menambah nasi lagi, sepertinya pria itu sangat kelaparan.


Ameera hanya menanggapinya dengan senyumannya, lalu ia meletakkan beberapa potong ayam di atas piring pria itu. Bagus jika berat badan suaminya naik karena ia takkan di jadikan kambing hitam lagi oleh ibu mertuanya tersebut.


"Sepertinya aku mau bersin sayang." Awan segera meminta istrinya itu untuk mengambil tisu.


"Itu pasti akibat kehujanan tadi, mas." Ameera merasa kasihan pada suaminya itu.


"Nggak apa-apa." Awan langsung menenangkan dengan tersenyum kecil.


"Mas, bagaimana kalau kita kredit mobil nggak apa-apa kecil-kecilan yang penting kamu nggak kehujanan." ucap Ameera tiba-tiba yang langsung membuat Awan menghentikan kunyahannya.