Ameera

Ameera
Part~93



Ameera nampak berdehem kecil saat melihat ibu mertuanya itu sedang asyik dengan ponselnya.


"Meera, kamu sudah pulang nak ?" sapa nyonya Amanda dengan salah tingkah saat melihat kedatangan anak menantunya tersebut.


"Iya Ma, mas Awannya lembur." sahut Ameera berjalan mendekat.


"Ya sudah istirahat di kamarmu sana, kamu pasti lelahkan ?" perintah ibu mertuanya itu yang entah kenapa tiba-tiba bersikap baik.


"Iya, ma." angguk Ameera, kemudian berlalu menaiki anak tangga.


Saat berada di tengah-tengah tangga, Ameera melirik ibu mertuanya itu yang terlihat kembali asyik dengan ponselnya.


"Semoga saja dugaanku salah." gumam Ameera, meski ia kurang di terima oleh keluarga sang suami tapi ia juga tidak ingin jika keluarga mertuanya itu berantakan karena sebuah skandal perselingkuhan.


Keesokan harinya....


"Mas, hari ini aku masuk siang ya." ucap Ameera pagi itu saat menyiapkan pakaian kerja suaminya.


"Kok mendadak ?" Awan yang baru keluar dari kamar mandi nampak menghentikan tangannya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Pria itu menatap istrinya yang sedang memunggunginya saat mencari pakaiannya di dalam lemari.


"Aaarggh." teriak Ameera setelah berbalik badan menatap suaminya itu.


Bagaimana tidak, Awan hanya mengenakan c3l4n4 d4l4m saja dan membiarkan tubuh lainnya nampak polos.


Ameera langsung berbalik badan kembali, meski sudah lumayan lama berumah tangga tapi tetap saja ada rasa malu di hati wanita itu.


"Mas, mesum ih. Kenapa nggak pake handuknya ?" gerutu Ameera dengan kesal.


"Handuknya kan buat keringin rambut sayang, syukur-syukur aku tadi bawa celana kalau tidak...." ucapan Awan terhenti saat Ameera menyela perkataannya.


"Stop, mas." potong Ameera seraya berjalan menjauh saat suaminya itu makin mendekatinya.


Awan nampak terkekeh, pria itu memang sengaja menggoda istrinya yang selalu malu-malu kucing jika menyangkut hal abnormal.


"Jadi kenapa kamu masuk siang ?" tanya Awan kemudian.


"Mas, ganti baju dulu." teriak Ameera yang enggan menatap suaminya itu.


"Nggak asyik kamu sayang." gerutu Awan seraya mengambil kemeja kerjanya yang sebelumnya telah di siapkan oleh istrinya itu.


Beberapa saat kemudian Awan nampak rapi dengan pakaian kerjanya, rambutnya yang juga telah di sisir rapi membuat pria keturunan Belanda dari sang ibu itu nampak sangat tampan.


"Baiklah, sekarang katakan kenapa kamu masuk siang ?" ucapnya seraya mendekati istrinya itu.


Ameera nampak mengulas senyumnya saat menatap pria itu. "Nah, kalau gitu kan cakep." ucapnya memuji.


"Katakan lagi sayang? jadi pengen lempar kamu ke ranjang." kelakar Awan yang langsung membuat Ameera melotot menatapnya.


"Mesum." cebik Ameera.


Awan nampak terkekeh nyaring melihat istri polosnya itu, lalu melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.


"Jadi istriku yang cantik ini kenapa mendadak masuk siang, hm ?" ucapnya dengan setengah gemas.


"Bukan mendadak mas, aku kemarin lupa mau kasih tahu. Hari ini aku nggak terlalu banyak kerjaan jadi masuk siang nggak apa-apa ya." terang Ameera, meski sebenarnya ia ada alasan lain yang tentunya berhubungan dengan ibu mertuanya itu.


"Baiklah, istirahat di rumah juga nggak apa-apa sayang besok saja masuk lagi." saran Awan yang nampak kasihan melihat istrinya itu sibuk bekerja.


"Jangan mas, nanti gajiku di potong lagi." tolak Ameera.


"Memang uang bulanan yang ku kasih masih kurang, hm ?" Awan nampak mengernyit.


Ameera menggeleng kecil. "Aku bosan di rumah mas, jadi aku ingin cari kesibukan di kantor." ucapnya.


"Baiklah, tapi jangan lelah-lelah ya." ucap Awan seraya membelai pipi istrinya itu.


"Hm." angguk Ameera.


"Ya sudah, ayo turun sarapan." imbuh Ameera dengan menarik lengan pria itu.


"Balas sayang atau ku gigit nih." ucap Awan kemudian saat istrinya tak membalas ciumannya.


Awan nampak kembali m3lum4t bibir istrinya itu dan Ameera mulai membalas ciumannya meski terlihat kaku.


"Jadi kepingin libur hari ini." ucap Awan setelah melepaskan panggutannya, namun langsung mendapatkan hadiah cubitan dari wanita itu.


"Dasar mesum." gerutu Ameera dengan pipi yang kemerahan seperti tomat.


Kemudian wanita itu berjalan menjauh lalu mengambil tas kerja suaminya di atas meja.


"Buruan mas, nanti terlambat loh." ajak Ameera.


"Aku sarapan di kantor saja sayang, kamu istirahat saja lagi." terang Awan.


"Baiklah, tapi ku antar sampai bawah ya." sahut Ameera menatap suaminya itu.


"Hm, ayo." angguk Awan lalu menggandeng tangan istrinya keluar kamarnya.


Setelah kepergian suaminya, Ameera kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Loh kamu nggak kerja nak ?" tanya pak Djoyo saat melihat Ameera masih memakai pakaian rumah.


"Masuk siang, pa." sahut Ameera.


Pak Djoyo yang baru keluar dari kamarnya dengan menenteng tas kerjanya nampak manggut-manggut menatap menantunya itu.


"Tumben pa baru berangkat, biasanya papa sudah berangkat dari pagi ?" tanya Ameera mengingat ayah mertuanya itu selalu berangkat kerja lebih pagi, berbeda sekali dengan suaminya yang suka mengulur waktu ke kantor hanya karena ingin menggodanya.


"Mamamu lagi kurang sehat." sahut pak Djoyo.


"Oh gitu ya, pa." sahut Ameera.


"Nak, sebenarnya ada yang ingin papa bicarakan. Ayo bicara di depan saja biar tidak ada yang dengar." ucap pak Djoyo dengan lirih.


Ameera yang tak mengerti nampak mengikuti langkah ayah mertuanya itu.


"Ada apa ya, pa ?" tanyanya saat mereka berada di ruang tamu.


"Duduk dulu !!" perintah pak Djoyo.


Ameera segera menghempaskan bobot tubuhnya di sofa ruang tamunya itu.


"Jadi begini, akhir-akhir ini papa merasa mamamu ada menyembunyikan sesuatu." ucap pak Djoyo memulai pembicaraan.


"Meera tidak mengerti maksud papa." sepertinya Ameera belum paham arah pembicaraan pria paruh baya tersebut.


"Papa merasa mamamu sekarang cuek sama papa, entah salah papa apa padahal selama ini papa sudah memberinya uang bulanan lebih dan juga sudah memberikan kebebasan untuk berkumpul dengan teman-temannya." terang pak Djoyo.


"Sabar ya pa, mungkin mama sedang lelah." Ameera menanggapi.


"Tapi tidak biasanya nak, apalagi ponselnya sekarang sering sekali di sembunyikan. Pernah papa memergokinya sedang senyum-senyum sendiri dengan ponselnya, saat papa tanya katanya lagi chat dengan teman-temannya." terang pak Djoyo lagi yang langsung membuat Ameera sedikit terkejut.


Rupanya kecurigaannya juga di alami oleh ayah mertuanya itu juga.


"Mungkin memang hanya teman-temannya, pa. Papa kan tahu sendiri temannya mama sangat banyak." ujar Ameera, sepertinya wanita itu tidak ingin membuat ayah mertuanya terlalu khawatir.


Lagipula Ameera belum menemukan bukti yang konkret mengenai bukti perselingkuhan ibu mertuanya, jadi untuk saat ini lebih baik tidak banyak bicara dahulu.


"Mungkin kamu benar, baiklah papa berangkat dulu ya." ucap pak Djoyo seraya beranjak dari duduknya.


"Baik, pa."


Setelah kepergian ayah mertuanya, Ameera segera kembali ke kamarnya. Sepertinya wanita itu ingin beristirahat sejenak sebelum pergi ke kantornya.


Namun saat baru pertengahan anak tangga, Ameera mendengar ibu mertuanya itu membuka pintu kamarnya dengan pakaian rapi layaknya akan bepergian.


"Mama mau kemana, bukankah tadi bilang papa sedang tidak enak badan." gumam Ameera.