Ameera

Ameera
Part~87



"Mala? apa yang kamu lakukan di kamar cucuku ?" hardik sang nenek dengan geram, karena bisa-bisanya pembantu anaknya itu bersikap kurang ajar dengan tidur di kamar majikannya sendiri.


"Nyonya besar." Mala yang rupanya baru bangun karena kaget mendengar teriakan nyonya besarnya langsung beranjak dari ranjang Awan.


"Maaf nyonya, tadi saya sedang membersihkan kamar ini tapi karena mengantuk tanpa sadar saya ketiduran di sini. Tolong maafkan saya." Mala memohon Ampun dengan berbagai alasan agar nyonya besarnya itu mengampuninya.


"Tidak sengaja kamu bilang? lalu ini apa? ternyata kamu sengaja makan snack juga di atas kasur sampai berantakan begini." tegur sang nenek dengan murka saat melihat beberapa bungkus snack juga ada di atas ranjang cucunya.


"Maaf nyonya, maaf." Mala memohon ampun.


"Ada apa sih ma, kenapa ribut-ribut ?" nyonya Amanda yang baru datang nampak terkejut saat melihat pertengkaran antara ibunya dan pembantu kesayangannya itu.


"Itu pembantumu bisa-bisanya tidur dan makan snack di kasur cucuku, coba sekali-kali kamu marahi biar tidak ngelunjak." tegur sang nenek.


"Iya ma, nanti ku marahi." sahut nyonya Amanda seraya menatap Mala yang sedang berdiri menunduk itu.


"Pembantu jaman sekarang di kasih hati sedikit ngelunjak." gerutu sang nenek sembari melangkah keluar, niatnya yang ingin beristirahat di kamar cucunya kini urung ia lakukan.


"Maaf bu." Mala nampak merasa bersalah.


"Sudah nggak apa-apa, rapikan kembali kasurnya sebelum Awan dan menantuku pulang." perintahnya nyonya Amanda kemudian, setelah itu wanita paruh baya itu segera meninggalkan kamar tersebut.


Beberapa hari sejak kejadian itu, Ameera dan Awan tak pernah tahu jika kamar tidurnya pernah atau bahkan mungkin sering di tempati oleh pembantunya tersebut.


Karena tak ada seorang pun yang memberitahukan pada mereka, nyonya Amanda yang notabennya nyonya besar di rumah tersebut nampak tak masalah dengan kelakuan pembantu kesayangannya itu.


"Dok, kenapa ya saya merasa jika akhir-akhir ini berat badan saya naik ?" Ameera nampak meminta pendapat dokter di kantornya saat jam istirahat tiba.


"Mungkin itu karena vitamin kesuburan yang ibu minum, nggak apa-apa bu itu normal. Semoga secepatnya ibu mendapatkan kabar baik." sahut sang dokter menanggapi.


"Mudah-mudahan ya dok." Ameera merasa lega setelah berbicara dengan dokter tersebut yang akhir-akhir ini menjadi satu-satunya temannya saat di kantor.


Mungkin akan terlihat aneh di mata karyawan lain tapi entah kenapa ia merasa nyaman dengan dokter tersebut, apalagi dokter Steven sangat sopan padanya dan juga ilmu yang di berikan sangat bermanfaat.


"Apa pak Awan sudah mau untuk cek Lab, bu ?" tanya dokter Steven kemudian.


"Belum sih dok, mas Awan sepertinya sedikit malu jika harus melakukan itu di rumah sakit." Ameera nampak sedikit ragu mengatakannya dan wajahnya yang terlihat polos membuat dokter Steven langsung terkekeh.


"Sudah nggak apa-apa bu, nanti di bujuk lagi pak Awannya." ucapnya kemudian.


"Baik dok, nanti saya bujuk mas Awannya." sahut Ameera.


Beberapa saat kemudian jam makan siang telah usai, Ameera segera keluar dari ruangan dokter tersebut dengan hati tenang.


Namun saat ia akan masuk ke dalam ruangannya tiba-tiba bu Dewi dan teman-temannya yang lain langsung menghalangi jalannya.


"Dari mana kamu, Mera ?" tanya atasannya tersebut.


"Dari ruangannya dokter Steven." sahut Ameera jujur.


"Ngapain kesana ?" tanya yang lainnya lagi.


"Konsultasi mbak-mbak yang cantik." sahut Ameera seraya melangkah maju hingga membuat teman-temannya itu terpaksa memberikannya jalan.


"Kalian sudah ada bukti ?" tanya bu Dewi setelah Ameera masuk ke dalam ruangannya.


"Belum ada bu, pintunya selalu di tutup dengan rapat." sahut salah satu dari mereka.


"Kita harus secepatnya mencari bukti, mengerti ?" perintah bu Dewi yang langsung di anggukin oleh bawahannya tersebut.


Sore harinya Ameera pulang lebih cepat dari pada suaminya, jadi wanita itu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena Awan sedang sibuk meeting.


"Nenek." panggil Ameera saat melihat neneknya itu berada di rumahnya, lalu ia langsung mencium tangan wanita tua itu dengan takzim.


"Nenek dari tadi ?" tanya Ameera seraya duduk di sisih neneknya tersebut.


"Baru saja, tapi mama mu malah pergi entah kemana." sahut sang nenek sedikit kesal.


"Sebentar lagi mama pasti pulang nek." ucap Ameera menenangkan.


"Kamu pulang sendiri? di mana suamimu ?" tanya nenek saat tak melihat Awan bersama Ameera.


"Oh, apa mamamu sudah cerita sama kamu ?" tanya nenek kemudian.


"Nggak ada nek, memang cerita apa ?" Ameera nampak tak mengerti.


"Itu loh Mala, pembantu kurang ajar itu kapan hari tidur di ranjang kalian." sahut sang nenek yang membuat Ameera nampak tercengang.


"Tidak hanya tidur tapi makan di atas kasur kalian juga." imbuh sang nenek yang langsung membuat lutut Ameera terasa lemas, bagaimana mungkin ranjang pribadinya bersama sang suami bisa di gunakan juga oleh wanita lain.


"Nenek nggak bohongkan ?" Ameera seperti belum percaya.


"Kapan hari nenek mau numpang cari angin di balkon kamarmu tapi pas nenek buka pintunya tiba-tiba pembantu kurang ajar itu tidur nyenyak di kasurmu." ucap nenek meyakinkan.


"Tapi sudah nenek suruh mamamu untuk menegurnya, entah sudah di tegur atau belum." imbuh sang nenek lagi.


Ameera nampak menahan rasa kesalnya dan yang paling membuatnya kecewa ternyata ibu mertuanya itu sudah tahu tapi justru membiarkannya.


Karena hari mulai gelap, nenek berpamitan pulang dan Ameera segera naik ke kamarnya.


"Baru pulang bu ?" tanya Mala yang seperti baru bangun tidur.


Ameera yang terlanjur kecewa dengan perbuatan pembantunya itu nampak tak menyahut, wanita itu terus saja melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sesampainya di kamarnya, Ameera langsung menarik seprai dan membuangnya ke lantai.


Kini kamar tersebut nampak berantakan dengan seprai dan sarung bantal di mana-mana.


Setelah itu ia tinggal ke balkon kamarnya dan duduk di kursi yang ada di sana.


Sungguh hati Ameera sangat lelah, ia selalu memaafkan segala perbuatan ibu mertuanya itu padanya tapi kali ini ia benar-benar kecewa dengan wanita itu.


Karena ia yakin Mala tidak mungkin berani melakukan hal kurang ajar jika tidak di dukung oleh ibu mertuanya tersebut.


"Sayang, kamu kenapa ?" Awan yang baru masuk ke dalam kamarnya nampak terkejut saat melihat kamarnya yang berantakan.


Namun Ameera yang sedang duduk nampak menggeleng kecil.


"Kenapa kasurnya berantakan, kamu tidak suka dengan seprainya ?" tanya Awan lagi yang langsung membuat Ameera menggelengkan kepalanya kembali.


"Terus apa, kalau kamu diam bagaimana aku bisa tahu ?" Awan mulai tak sabar.


"Yasudah aku ganti seprai yang baru ya." imbuh Awan saat tak ada jawaban dari istrinya, pria itu hendak beranjak namun Ameera langsung menahan tangannya.


"Jangan tidur di sana." ucap Ameera kemudian.


"Memang kenapa ?" Awan nampak tak mengerti.


"Pokoknya mulai sekarang jangan tidur di sana lagi." keukeh Ameera tanpa memberi tahukan alasannya, bukan karena ingin menyembunyikan dari pria itu tapi Ameera tidak ingin ada pertengkaran di rumahnya tersebut.


Apalagi melihat sifat Awan yang temperamen, bisa-bisa pembantunya itu langsung di habisi.


"Sayang, kamu tidak suka dengan kasurnya? apa perlu aku ganti ?" tawar Awan yang langsung di anggukin oleh Ameera.


"Ya sudah tapi besok ya, sekarang kita tidur di kasur itu dulu." sahut Awan yang langsung di tolak oleh Ameera.


"Aku nggak mau mas, aku mau tidur di bawah saja." mohon Ameera.


"Baiklah, kita tidur pakai kasur kecil itu saja ya." Awan menunjuk kasur kecil yang ada di sudut kamarnya tersebut yang langsung di anggukin oleh Ameera.


Keesokan harinya, ranjang yang ada di kamar Awan dan Ameera langsung di keluarin lalu di ganti dengan yang baru.


"Sudah senang ?" Awan nampak menatap gemas istrinya yang nampak tersenyum manis padanya, setelah ranjang di kamarnya di ganti dengan yang baru.


"Terima kasih." sahut Ameera.


"Terima kasih saja ?" Awan menaikkan sebelah alisnya menggoda istrinya itu.


"Terus apa ?" Ameera pura-pura tak mengerti.


"Dasar lelet." Awan langsung memegang tengkuk istrinya itu lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus dan bersamaan itu tiba-tiba pintunya yang terbuka lebar nampak di ketuk oleh Mala.