Ameera

Ameera
Part~91



Nyonya Amanda langsung melangkah mendekati Mala. "Siapa yang mengizinkan mu pulang ?" ucapnya dengan geram.


"Saya mau pulang sendiri, bu." sahut Mala dengan wajah menunduk, gadis itu terlihat ketakutan menghadapi majikannya tersebut.


"Saya tidak akan mengizinkan kecuali kamu mempunyai alasan yang tepat." keukeh nyonya Amanda.


"Sa-saya mau menikah." sahut Mala.


"Apa ?" nyonya Amanda langsung melotot saat mendengar pembantu kesayangannya itu akan menikah.


"Benar bu, saya akan menikah." ulang Mala.


"Hei, kamu itu masih kecil belum cukup umur untuk menikah." nyonya Amanda bertambah geram.


"Orang tua saya sudah mengurus semuanya bu." sahut Mala.


Nyonya Amanda nampak menghela napasnya. "Apa suami mu nanti mampu menghidupimu ?" ucapnya mencoba memengaruhi pembantunya itu.


"Menikah itu tidak gampang, apalagi kalau suamimu tidak bekerja." imbuhnya lagi, berharap Mala mengubah keputusannya.


"Calon suami saya orang kaya bu." sahut Mala yang langsung membuat nyonya Amanda lagi-lagi melotot.


"Kamu bohong kan ?' tanyanya tak percaya.


"Meski beliau sudah 35 tahun tapi calon suami saya orang kaya bahkan yang membiayai acara pernikahan beliau semua." sahut Mala.


Nyonya Amanda terdiam sejenak. "Terserah kamu lah." ucapnya dengan kesal kemudian berlalu pergi.


Mala nampak kecewa melihat sikap ketus majikannya itu.


"Sudah nggak apa-apa, kamu bisa pulang sekarang." ucap Ameera yang langsung di anggukin oleh Mala.


Gadis itu segera mengambil tas pakaiannya, setelah pamit pada Ameera dan Awan ia langsung meninggalkan rumah tersebut.


"Sepertinya kita harus cari orang lagi mas, aku tidak sanggup jika harus mencuci pakaian satu keluarga. Mas tahu sendirikan aku pulang kerja jam berapa ?" keluh Ameera saat mereka sedang menyantap sarapan.


"Iya aku tahu, aku juga tidak mungkin menyuruh istriku ini untuk bekerja keras, nanti aku minta tolong tante Ratna untuk carikan orang. Jadi sementara pakaian kotor kita bawa ke tempat Laundry saja." sahut Awan.


"Terima kasih, mas." Ameera langsung mengulas senyumnya, ia bersyukur mempunyai suami yang pengertian seperti Awan karena tinggal bersama mertua sungguh tidaklah mudah.


Sebenarnya ingin sekali ia mengajak suaminya untuk tinggal sendiri, meski harus menyewa rumah pun ia tak masalah. Namun ibu mertuanya itu selalu melarang dengan berdalih jika anak laki-laki memang wajib tinggal di rumah ibunya.


"Kok bengong ?" ucap Awan yang langsung membuyarkan lamunan Ameera.


"Nggak bengong kok mas." kilah Ameera lalu kembali menyantap sarapannya.


"Jangan khawatir, selama ada aku tidak akan ada yang bisa menyakitimu." Awan seolah memahami kekhawatiran istrinya.


Sebenarnya pria itu juga ingin meninggalkan rumah orang tuanya dan hidup mandiri bersama sang istri, namun ia juga tidak bisa menyakiti hati sang ibu.


Bagaimana pun juga ia satu-satunya anak lelaki di keluarganya, namun suatu saat mungkin ia akan bertekad meninggalkan rumah ini jika sang ibu terus-menerus mengganggu pernikahannya.


Dua bulan kemudian...


Ameera nampak berdiri di depan cermin kamarnya, berkali-kali ia menghela napasnya saat melihat perubahan bentuk tubuhnya.


Ameera terlihat semakin berisi dan itu membuatnya menjadi kurang percaya diri, namun karena ingin sekali mempunyai seorang anak ia tetap melanjutkan program kehamilannya dengan mengkonsumsi vitamin kesuburan dari dokter.


Meski risikonya tubuhnya akan semakin melar dan ia yakin suatu saat nanti Tuhan akan menganugerahi seorang anak di tengah keluarga kecilnya.


"Mas, bikin kaget saja."


Ameera nampak terkejut ketika suaminya tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Kenapa melamun ?" ucapnya kemudian.


"Aku gemuk ya mas ?" Ameera mengutarakan kerisauannya.


"Itu namanya gemuk, mas." cebik Ameera.


"Tapi aku lebih suka kamu seperti ini sayang, lebih anget kalau di peluk." goda Awan yang langsung mendapatkan cubitan dari sang istri.


"Aku merasa semakin jelek." keluh Ameera kemudian.


Awan yang gemas langsung memutar tubuh istrinya agar menghadap padanya.


"Sayang dengerin aku, bagaimana pun keadaan mu aku tidak masalah dan jujur aku lebih suka kamu seperti ini." Awan meyakinkan.


"Beneran ?"


"Tentu saja, kamu terlihat lebih montok, seksi dan menggairahkan." sahut Awan yang lagi-lagi langsung mendapatkan cubitan dari istrinya itu.


"Sakit, sayang." Awan nampak meringis kesakitan dan Ameera justru terkekeh melihatnya, kemudian berlalu menjauh.


Namun Awan yang seperti tak terima di tinggal begitu saja langsung mengejar istrinya.


"Kamu harus mendapatkan hukuman, sayang." ucapnya kemudian.


"Hukuman apa, memang salahku apa ?" Ameera masih tak bisa berhenti tertawa.


"Kamu mencubit ku dua kali." sahut Awan seraya menarik tangan istrinya lalu membawanya ke ranjangnya.


"Mas, aku mau bersiap-siap kerja dulu." protes Ameera, namun Awan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya.


"Mas, nggak lucu tahu. Sebentar lagi jam kantor di mulai." protes Ameera.


"Kita akan izin agak siangan ke kantor." sahut Awan seraya melucuti pakaian istrinya itu satu persatu.


"Nggak bisa begitu dong, mas." Ameera tetap protes, bagaimana ia bisa ke kantor jika tubuhnya kelelahan dan suaminya itu selalu lama jika menginginkannya.


Awan yang telah membuat dirinya sendiri dan sang istri tanpa sehelai benang, langsung m3lum4t bibir wanita itu agar tidak mengeluarkan protes lagi dan selanjutnya terjadi pergulatan panas mereka yang di pastikan akan membutuhkan waktu lumayan lama.


"Istirahat saja, besok saja ke kantor." ucap Awan beberapa jam kemudian.


Matahari sudah semakin meninggi dan dua insan tersebut masih nampak bergelung dalam selimut setelah pergulatan panasnya tadi.


"Aku juga nggak kuat kalau ke kantor, mas." sahut Ameera yang nampak kelelahan.


"Nggak ke kantor seterusnya malahan bagus sayang." ucap Awan yang langsung membuat istrinya itu melotot.


"Nggak mau, aku masih ingin bekerja mas." mohon Ameera.


"Iya terserah kamu saja tapi tolong jangan lelah-lelah." sahut Awan seraya mengusap puncak kepala istrinya, kemudian ia beranjak dari ranjangnya dan berlalu ke kamar mandinya.


Beberapa saat kemudian, setelah Awan pergi ke kantornya Ameera nampak terlelap kembali dan menjelang siang wanita itu baru mengerjakan matanya.


Ameera segera membersihkan dirinya, kemudian ia berlalu meninggalkan kamarnya karena perutnya yang mulai keroncongan.


Saat akan menuruni anak tangga, Ameera nampak mendengar pembicaraan seseorang di bawah sana.


"Mama sedang bicara dengan siapa ?" gumamnya seraya menuruni anak tangga dengan perlahan.


"Iya, aku juga merindukan mu. Kapan kamu mengajakku traveling lagi ?" ucap nyonya Amanda saat berbicara melalui sambungan telepon dengan seseorang.


"Beneran? aku sudah tak sabar bertemu kamu sayang." ucap nyonya Amanda lagi yang langsung membuat Ameera mengerutkan dahinya


Tak biasanya ibu mertuanya itu berbicara mesra dengan suaminya bahkan mereka terkesan dingin.


"Tenang aja aku akan mencari alasan pada suamiku nanti."


Deg!!


Ameera langsung terkejut mendengar ucapan terakhir ibu mertuanya itu. "Apa Mama selingkuh ?"