
Ameera nampak urung menuruni anak tangga dan diam terpaku karena terkejut.
Ia mendengar ibu mertuanya itu bak anak remaja yang sedang jatuh cinta, wanita paruh baya itu tak enggan melemparkan canda yang langsung membuat lawan bicaranya di ujung telepon tergelak.
Akhirnya Ameera memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah mencuri dengar pembicaraan sang ibu mertua yang menurutnya tidak wajar.
Sepertinya ia akan tetap berpura-pura tidak mendengar sembari mencari bukti jika ibu mertuanya benar-benar selingkuh.
Tak berapa lama kemudian, Ameera mencium wangi parfum yang menyengat dari pintu kamarnya yang sengaja ia buka agar bisa mendengar aktivitas ibu mertuanya di lantai satu tersebut.
Ameera bergegas keluar dari kamarnya, berjalan mengendap-endap untuk mengintip apa yang sedang di lakukan oleh wanita paruh baya itu.
Ibu mertuanya itu nampak berpenampilan glamor dan sepertinya akan segera pergi.
"Apa kamu sudah sampai ?" ucap wanita itu pada seseorang di ujung telepon.
"Baiklah, aku segera kesana." imbuhnya lagi.
"Tenang saja, aman." ucap nyonya Amanda lagi kemudian menutup panggilannya.
Lalu wanita itu segera meninggalkan kediamannya dan Ameera langsung berlari menuruni anak tangga untuk mengintip.
"Kira-kira mama pergi kemana ya ?" gumam Ameera, ingin sekali ia mengikuti wanita itu tapi tak ada lagi kendaraan di rumahnya yang bisa ia gunakan.
Hingga sore menjelang nyonya Amanda nampak baru kembali dengan wajah kelelahan namun senyumnya terus mengembang di bibirnya.
"Kamu sudah pulang ?" tanyanya saat melihat Ameera sedang menyapu lantai, sepertinya ibu mertuanya itu tidak tahu jika ia sedari pagi ada di rumah.
"Hari ini saya izin kerja karena sedikit kurang fit." sahut Ameera.
"Oh." nyonya Amanda hanya ber oh ria menanggapi kemudian berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Malam harinya Ameera nampak duduk termenung di sofa kamarnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar tadi siang.
"Sayang." panggil Awan tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunan Ameera.
"I-iya mas." Ameera nampak gelagapan, sungguh ia tak tahu jika suaminya telah datang.
"Suami datang bukannya di sambut malah melamun." tegur Awan.
"Maaf, aku tidak dengar mas datang." Ameera merasa bersalah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hm? berat badanmu lagi ?" Awan berjalan mendekati istrinya lalu melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.
Ameera nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sepertinya perihal mengenai ibu mertuanya jauh lebih penting dari pada perubahan berat badannya yang makin melonjak.
Karena jika seluruh keluarga besar tahu maka akan menjadi berita besar dan betapa tercorengnya keluarga besarnya nanti.
"Malah bengong." tegur Awan lagi.
"Eh nggak, nggak apa-apa mas." Ameera nampak tersenyum nyengir, belum waktunya ia bercerita pada suaminya sebelum menemukan bukti yang akurat.
"Ya udah mas mandi dulu sana." imbuh Ameera kemudian.
"Temenin sayang." Awan nampak menggoda istrinya itu.
"Ih nggak mau, mas saja sana mandi." Ameera langsung mendorong suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
"Nggak asyik kamu, sayang." gerutu Awan seraya menutup pintu kamar mandinya tersebut.
Setelah itu Ameera segera keluar kamarnya dan berjalan mengendap-endap untuk mengintip keberadaan ibu mertuanya yang biasanya selalu bersama ayah mertuanya di ruang keluarga.
Terlihat ibu mertuanya dan juga ayah mertuanya sedang menonton televisi bersama, nyonya Amanda terdengar sedang bercanda dengan sang suami mengomentari acara yang di tonton tersebut.
"Mereka terlihat baik-baik saja, apa aku salah dengar tadi siang ya." gumam Ameera.
Merasa tak ada yang mencurigakan Ameera segera kembali ke kamarnya.
"Sayang, dari mana ?" Awan yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya nampak terkejut saat melihat istrinya berjalan tergesa masuk ke dalam kamarnya.
"A-ambil minum, mas." sahut Ameera beralasan.
"Terus mana minumnya ?" Awan nampak menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya itu.
"Su-sudah ku minum di bawah, mas." Ameera nampak tersenyum nyengir.
"Terus kenapa lari-lari begitu ?" gerutu Awan seraya berlalu menuju lemarinya.
"Olah raga, mas. Siapa tahu timbangan bisa turun dikit." seloroh Ameera.
"Itu mah maunya, mas." cebik Ameera, kemudian naik ke atas ranjangnya, lalu mengambil ponsel sang suami.
Sudah menjadi kebiasaan Awan dan Ameera untuk selalu bertukar ponsel saat mereka akan beranjak tidur dan itu semua mereka lakukan agar tak ada apapun yang di sembunyikan di antara mereka.
Keesokan harinya....
"Mbak Ameera hamil ya kok aku perhatian makin berisi ?" tanya salah satu teman di ruangannya.
"Iya nih hampir mau nyaingi aku aja." timpal bu Dewi dari kubikelnya.
"Namanya juga lagi promil, jadi efeknya dikit melar." sahut Ameera dengan senyum mengembang padahal sudut hatinya sedikit tercubit dengan ucapan mereka.
"Jadi iri sama anak marketing, body nya pada aduhai." ucap wanita tadi yang langsung membuat Ameera merenung.
Karyawan bagian marketing memang cantik-cantik semua, apalagi SPGnya dan itu membuat Ameera semakin minder.
"Bagaimana kalau mas Awan tertarik sama salah satu dari mereka ?" gumamnya kemudian.
Ameera jadi kepikiran, sepanjang hari wanita itu nampak tak semangat bekerja.
Sore harinya saat Ameera baru keluar dari kantornya, wanita itu melihat beberapa karyawan marketing yang juga akan pulang nampak curi-curi pandang ke arah Awan yang sedang berjalan ke arahnya dan itu membuatnya langsung cemburu.
"Mau pulang sekarang ?" tanya Awan kemudian.
"Hm." angguk Ameera.
"Mau di anterin atau ku pesankan taksi ?" tawar Awan kemudian.
"Memang mas belum pulang ?" tanya Ameera.
"Masih banyak kerjaan." sahut Awan.
"Banyak kerjaan atau yang lain." sindir Ameera.
"Sayang, kamu kenapa sih? Biasanya aku lembur kamu juga nggak masalah." Awan nampak tak mengerti dengan sikap istrinya itu.
"Nggak apa-apa, ya sudah sana lembur." sahut Ameera kemudian ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan suaminya tersebut.
Awan yang merasa ada sesuatu pada istrinya, langsung mengejar wanita itu.
"Ayo aku anterin." Awan langsung menggenggam tangan Ameera saat wanita itu hendak melangkah ke jalan raya untuk mencari taxi, kemudian di bawanya istrinya itu ke arah parkiran mobilnya.
"Katanya mau lembur." sindir Ameera.
"Nggak jadi, biar yang lain saja yang mengerjakan." sahut Awan seraya membuka pintu mobilnya.
"Jangan gitu dong mas, aku tadi cuma becanda kok. Mas lanjutkan saja kerjanya, aku bisa naik taksi." sahut Ameera kemudian, ia tahu suaminya memang sedang banyak kerjaan dan sepertinya terlalu kekanak-kanakan jika dirinya cemburu buta tanpa bukti yang jelas.
Lagipula Ameera juga ingin segera pulang ke rumah untuk melakukan penyelidikan pada ibu mertuanya tersebut.
"Kamu nggak marah ?" Awan nampak khawatir.
Ameera menggeleng cepat seraya mengulas senyum manisnya dan Awan yang melihat itu langsung di bawahnya istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Jangan seperti itu lagi, aku bisa gila kalau kamu ngambek." ucapnya seraya mengusap surai indah istrinya itu.
"Nggak mas." sahut Ameera meyakinkan, meski dalam hati kecilnya masih ada rasa takut jika suaminya akan berpaling darinya.
Awan mengurai pelukannya, lalu di kecupnya bibir istrinya sekilas. "Ayo ku carikan taxi." ajaknya kemudian.
Beberapa saat kemudian Ameera sudah sampai di kediaman mertuanya tersebut, rumah nampak sepi namun kendaraan ibu mertuanya terparkir di halaman rumah dan sudah ia pastikan jika ibu mertuanya pasti juga sedang berada di rumah.
Ameera langsung mengetuk pintu dan seorang ART nampak membukakan pintu untuknya.
"Sore mbak Ameera." sapa ART setengah baya itu.
"Sore bik, mama ada ?" tanya Ameera dengan lirih.
"Ada bu, lagi nonton televisi." sahut sang ART.
Ameera segera masuk ke dalam dan saat melewati ruang keluarga ia melihat ibu mertuanya sedang fokus dengan ponselnya.
Wanita paruh baya itu nampak sesekali tersenyum saat sedang berbalas pesan dengan seseorang hingga kehadirannya pun tak di ketahui.
Ehmm
Ameera berdehem kecil hingga membuat ibu mertuanya itu langsung salah tingkah menatapnya.