Ameera

Ameera
Part~120



"Tante jangan repot-repot begini."


Ameera nampak menerima barang pemberian dari Selvi saat wanita itu berkunjung ke rumahnya pagi itu.


"Nggak repot kok sayang, tante hanya ingin membawakan mu oleh-oleh." timpal Selvi yang baru masuk ke dalam rumah Ameera.


"Bagaimana, betah di sini ?" sambung wanita itu lagi.


"Sangat betah tante, cuma sedikit kesepian saja saat mas Awan pergi kerja." balas Ameera.


"Sabar ya semoga sebentar lagi kamu akan hamil." Selvi mengusap lembut punggung Ameera, kemudian mereka menghabiskan siang itu dengan berbincang dan berbagi pengalaman hingga menjelang sore.


Ameera merasa senang saat bersama wanita itu, berbeda sekali jika bersama sang ibu mertua.


Saat Selvi baru keluar dari kompleks perumahan Ameera tiba-tiba wanita itu bertemu dengan nyonya Amanda. "Mbak Amanda, mau ke rumah Ameera ya? aku juga baru pulang dari sana. Rumah kontrakan Ameera bagus ya mbak, bersih lagi dan barang-barangnya juga tersusun rapi. Mbak Manda patut bersyukur mempunyai menantu seperti Ameera yang rajin." ucapnya memuji Ameera.


"Ck, asal kamu tahu yang membersihkan rumah itu aku semua. Ameera itu tidak bisa apa-apa, dia itu bisanya cuma habisin uang suaminya seperti kamu yang suka porotin uang suamiku." cibir Nyonya Amanda dengan tersenyum miring.


"Astagfirullah, aku nggak seperti itu mbak. Aku mempunyai usaha sendiri dan aku tidak meminta sedikit pun uang dari mas Djoyo meskipun beliau sering memaksaku untuk menerimanya." Selvi langsung membela diri.


"Halah, pelakor seperti kamu tidak usah bawa-bawa Tuhan bahkan Tuhan mungkin eneg melihat tingkahmu." sinis nyonya Amanda kemudian berlalu pergi, rupanya wanita itu tak ke rumah Ameera karena terus melajukan mobilnya entah kemana.


Selvi nampak menghela napasnya, ingin sekali ia mengakhiri ini semua tapi pria itu pasti takkan membiarkannya pergi.


...----------------...


"Sayang, sejak kapan kamu punya celana itu ?" Awan yang baru pulang kantornya nampak mengernyit saat melihat istrinya memakai celana baru yang menurutnya jauh dari kata layak.


"Bagaimana mas, bagus nggak? ini mama loh yang belikan." sahut Ameera seraya memamerkan celana pendek pemberian sang ibu mertua.


"Lepas sayang, itu celana sama sekali tak pantas kamu pakai. Mama benar-benar keterlaluan, pasti belinya di pinggir jalan." gerutu Awan dengan kesal.


"Ya nggak apa-apa mas, mau beli di mana itu nggak penting. Kita harus menghargai pemberian orang tua, apalagi baru kali ini mama belikan aku sesuatu." tolak Ameera, meski itu celana murahan tapi ia sangat senang.


"Terserah deh palingan nggak lama juga robek." timpal Awan seraya berlalu ke kamar mandi.


"Masa sih robek." gumam Ameera tak percaya, kemudian ia menghempaskan bobot tubuhnya di tepi ranjangnya lalu mengambil ponsel suaminya.


Sudah menjadi kebiasaan Ameera dan Awan untuk saling terbuka baik itu perihal telepon seluler sekalipun.


"Sayang, aku lapar nih ayo makan." ajak Awan setelah keluar dari kamar mandi, pria itu nampak bertelanjang dada dengan melilitkan handuk sebatas pusarnya.


"Ganti baju dulu dong mas, baru makan." timpal Ameera seraya melirik ke arah pria itu, lalu pandangannya kembali ke layar ponselnya.


Beberapa saat kemudian Awan yang baru berganti pakaian langsung menarik tangan istrinya yang nampak serius bermain ponselnya, perutnya sudah sangat lapar jadi perlu segera di isi.


Apalagi tadi ia melihat istrinya itu masak makanan kesukaannya, meski masakan wanita itu tak selezat makanan ibunya tapi ia bersyukur dan akan selalu menghargai jerih payahnya di dapur.


Kreekkkk


Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu yang membuat Awan dan Ameera saling menatap. "Apa yang robek sayang ?" tanya Awan kemudian.


"Sepertinya celanaku, mas." Ameera nampak meringis menatap suaminya itu.


"Apa ku bilang, ayo cepat ganti nanti ku belikan yang baru lagi." perintah Awan kamudian.


Ameera segera mengganti celananya dan Awan langsung mengambil celana tersebut beserta celana lainnya yang belum wanita itu pakai.


"Celana ini pantas buat lap bukan kamu pakai." Awan langsung melemparnya ke dapur dan menjadikannya sebagai lap.


"Mama benar-benar seperti kekurangan uang saja membelikanmu celana seperti itu." imbuhnya lagi seraya menghempaskan bobot tubuhnya di meja makan.


Ameera yang masih berdiri di dapurnya nampak menatap nanar celana tersebut, sayang sekali di jadikan lap padahal itu satu-satunya pemberian ibu mertuanya. Namun jika ia tak menurut suaminya itu pasti akan marah.


"Sayang kok diam ?" Awan menatap istrinya itu yang makan dalam diam, padahal biasanya wanita itu sangat banyak bicara.


"Nggak." Ameera menggelengkan kepalanya.


"Gara-gara celana itu? besok kita ke Mall beli yang baru ya. Oh ya kemarin aku sudah mengajukan berkas pengambilan mobil, jika di setuju mungkin besok kita sudah bisa mengambil mobilnya." timpal Awan kemudian.


"Beneran mas ?" Ameera nampak tak percaya, karena secepat itu prosesnya.


"Hm." Awan mengangguk kecil sembari mengunyah makanannya.


Ameera terlihat senang, akhirnya ia punya mobil sendiri. Meski masih kredit paling tidak ibu mertuanya pasti tidak akan terlalu menghinanya dan sang suami lagi.


Keesokan harinya setelah pulang kerja Ameera dan Awan mengambil mobil barunya. "Kita mau kemana mas ?" tanya Ameera saat suaminya tak membawanya langsung pulang.


"Ke rumah mama, kita tunjukkan jika kita juga bisa punya mobil seperti Arini." sahut Awan, Arini adalah satu-satunya adik kandungnya yang selama ini menjadi kebanggaan sang ibu karena sudah mempunyai rumah dan mobil bersama suaminya.


Sesampainya di rumah sang ibu, Awan langsung membunyikan klakson panjang hingga membuat sang ibu bergegas keluar rumahnya.


Wanita itu nampak mengernyit saat melihat sebuah mobil baru terparkir di halaman rumahnya.


"Siapa bi ?" tanya nyonya Amanda setelah pembantunya itu membukakan pagar.


"Itu bu, mas Awan sama mbak Ameera." sahut sang ART memberitahu yang langsung membuat wanita paruh baya itu melotot.


"Mobil siapa Wan ?" tanyanya setelah Anak dan menantunya itu turun dari mobil tersebut.


"Mobil kamilah ma, memang Arini dan suaminya saja yang bisa beli mobil." sahut Awan kemudian.


"Cash atau kredit ?" Nyonya Amanda nampak memperhatikan mobil milik anaknya yang masih mulus itu, berbeda sekali dengan mobilnya yang keluaran lama. Sejak suaminya selingkuh pria itu sangat pelit sekali hingga tak mau mengganti mobilnya dengan yang baru.


"Mau kredit atau cash yang bayar aku bukan mama." ucap Awan dengan ketus.


Nyonya Amanda nampak senyum-senyum sendiri, entah apa yang wanita itu pikirkan. "Mama sebentar lagi ada arisan, kamu anterin mama ya pakai mobilmu itu." ucapnya kemudian dan itu sudah bisa di tebak oleh Ameera, karena ibu mertuanya itu gengsinya sangat tinggi dan pasti mau pamer pada teman-teman sosialitanya.


"Memang mobil mama kenapa ?" Awan langsung menatap mobil ibunya yang terparkir tak jauh dari mobilnya itu.


"Mobil mama modelnya sudah kuno, boleh ya anterin mama. Ameera biar naik ojek saja pulangnya." mohon nyonya Amanda kemudian.


"Nggak bisa ma, aku mau anterin istriku ke Mall." tolak Awan.


"Ke Mall mau ngapain ?" Nyonya Amanda langsung melebarkan matanya.


"Beliin celana istriku yang layak, bukan celana yang sekali pakai langsung robek. Jika mama memang tidak niat belikan sesuatu buat istriku mending tidak usah di belikan ma dari pada mubazir karena rusak." sindir Awan lalu segera mengajak istrinya itu masuk ke dalam mobilnya.


"Meera pergi dulu ya, ma." Ameera langsung mencium tangan ibu mertuanya itu dengan takzim meski wanita itu seperti menolaknya.


Setelah putranya itu pergi nyonya Amanda nampak bersungut-sungut dengan kesal. "Dasar anak kurang ajar, ini semua pasti gara-gara Ameera."