
"Pa, sampai kapan papa akan seperti ini ?" teriak nyonya Amanda pada akhirnya hingga menghentikan langkah suaminya itu.
Kemudian pak Djoyo berbalik badan lalu menatap istrinya itu.
"Sampai kapan? sampai aku bisa melupakan perbuatanmu itu, hanya saja sepertinya butuh waktu lama. Karena setiap saat aku selalu membayangkan bagaimana tubuhmu di nikmati oleh bajingan itu, di jelajahi setiap incinya seperti aku melakukannya." ucapnya dengan geram.
"Maafkan aku, pa." nyonya Amanda mulai menangis, nampak gurat penyesalan di wajahnya.
"Kamu tahu, seandainya kamu melakukannya sebelum kita menikah tentu saja dengan besar hati aku memaafkan mu karena dulu aku sangat mencintaimu. Tetapi, ini kamu lakukan saat kita sudah lama menikah." terang pak Djoyo yang langsung membuat nyonya Amanda semakin menyesali perbuatannya.
"Membayangkan saja itu membuatku jijik, aku seperti sedang memakai barang bergantian dengan orang lain. Ngomong-ngomong...." pak Djoyo menjeda ucapannya lalu melangkah mendekati istrinya itu.
"Apa dia lebih bisa memuaskan mu? apa milik dia lebih besar ?" lirih pak Djoyo dengan nada getir yang sontak membuat nyonya Amanda menggeleng cepat namun saat ia akan bersuara pria itu langsung memotongnya.
"Apa dia lebih kaya dariku dan bisa membuatmu bahagia? jika itu benar silakan, silakan bersamanya dan aku tak akan menghalangimu." sela pak Djoyo yang langsung membuat nyonya Amanda bersimpuh di kakinya.
"Nggak pa, aku nggak mau. Aku sayang sama papa, aku khilaf pa. Waktu itu aku hanya merasa kesepian, karena papa selalu sibuk dengan kerjaan papa..."
"Kenapa kamu baru protes? bukannya dari dulu kamu tidak keberatan, toh selama ini aku bekerja keras dari pagi hingga malam juga demi kamu." potong pak Djoyo dengan menatap tajam istrinya yang masih bersimpuh di kakinya itu.
"Maafkan aku, pa. Tolong berikan aku kesempatan." mohon nyonya Amanda kemudian.
"Aku sudah memaafkan mu, tapi untuk bisa seperti semula mungkin akan butuh waktu lama. Setiap kali aku melihatmu, selalu saja perbuatan bejatmu terlintas di kepalaku dan aku tak sanggup akan hal itu." terang pak Djoyo, kemudian pria itu berbalik badan lantas melangkahkan kakinya pergi meninggalkan istrinya yang masih bersimpuh di lantai itu.
Pak Djoyo nampak menutup pintu ruang kerjanya dengan sedikit kasar hingga membuat nyonya Amanda terperanjat kaget lalu wanita itu nampak menangis sejadi-jadinya.
Keesokan harinya....
Pagi itu nyonya Amanda nampak bangun sangat pagi, biasanya wanita itu akan merias wajahnya namun lain halnya dengan pagi ini.
Nyonya Amanda terlihat memakai daster lusuh dengan wajah pucatnya tanpa make up.
Kemudian wanita itu segera mengambil sapu lalu membersihkan seluruh rumahnya dan ARTnya yang melihat itu bergegas mendatangi.
"Bu, biar saya saja." mohon ART tersebut meminta sapu di tangan sang nyonya.
"Sudah nggak apa-apa bik, bibik kerjakan yang lain saja." tolak nyonya Amanda.
"Tapi, nyonya..." pembantunya itu nampak tak enak hati.
"Bibik kerjakan saja pekerjaan bibik di belakang untuk urusan di dalam rumah ini biar saya yang mengerjakan." keukeh nyonya Amanda, entah apa yang di rencanakan wanita itu karena biasanya dia hanya main perintah saja.
"Baik, bu." pembantunya langsung patuh kemudian berlalu pergi.
Tak berapa lama kemudian pak Djoyo keluar dari ruang kerjanya dengan memakai pakaian kerjanya, pria itu nampak menatap istrinya yang sedang membersihkan debu di antara pajangan lemari hias.
Kemudian segera mengalihkan pandangannya saat wanita itu balas menatapnya.
Tak ada pembicaraan di antara mereka dan pak Djoyo melewatinya begitu saja saat akan mengambil air minum di dapur.
"Ma, biar aku saja yang membersihkannya." Ameera yang baru datang nampak tak enak hati saat ibu mertuanya sibuk bersih-bersih padahal biasanya adalah tugasnya.
"Nggak usah biar mama saja, kamu urusin saja suamimu yang akan berangkat kerja." perintah nyonya Amanda dengan lembut dan itu membuat Ameera sedikit tercengang.
"I-iya, ma." sahut Ameera kemudian ia segera ke dapur untuk membuatkan suaminya secangkir teh.
"Papa sudah sarapan ?" sapa Ameera saat melihat ayah mertuanya itu sedang membaca koran di meja makan.
Di hadapan pria itu nampak terhidang secangkir kopi dan kue namun tak pria itu sentuh sama sekali.
Ameera nampak menatap kepergian ayah mertuanya itu dengan helaan nafasnya.
Sampai kapan ketegangan di rumah ini akan selesai pikirnya.
Pak Djoyo segera berlalu keluar dan melewati istrinya yang sedang menyapu itu tanpa sepatah kata.
Sedangkan nyonya Amanda yang melihat suaminya pergi begitu saja nampak melempar sapunya.
"Meera." teriaknya kemudian.
"Iya, ma." Ameera yang sedang menyeduh teh untuk suaminya bergegas datang.
"Lanjutkan semuanya !!" perintahnya seraya menatap lantai yang masih kotor, kemudian wanita itu segera pergi ke kamarnya.
Ameera nampak menghela napasnya pelan, kemudian mengambil sapu yang tergeletak di lantai lantas segera membersihkannya.
"Mbak, rajin banget pagi-pagi." sapa Rafael tiba-tiba yang langsung membuat Ameera berjingkat kaget.
"Bisa tidak jangan kagetin aku Raf." tegur Ameera sedikit kesal.
"Maaf, mbak." Rafael nampak tersenyum nyengir.
"Di meja makan ada kopi dan kue punya siapa mbak ?" tanya Rafael kemudian.
"Buat kamu makan saja." sahut Ameera.
"Mbak yang buat ya ?" tanya Rafael lagi.
"Sudah makan saja Raf, jangan banyak tanya." Ameera sedikit kesal karena kegiatannya jadi terganggu.
Rafael segera berlalu ke meja makan. "Kopi dan kue buatan mbak sangat enak, terima kasih ya." teriak Rafael namun Ameera mengabaikannya karena sibuk menyapu lantai.
Beberapa saat kemudian Awan nampak berdehem kecil hingga membuat Ameera yang sedang menyapu di teras langsung terperanjat.
"Astagfirullah, mas." teriaknya kemudian.
"Orang lain di siapkan sarapan, suami sendiri tidak." sindir Awan seraya duduk di kursi terasnya dan mulai memakai sepatunya.
"Aku nggak menyiapkan sarapan untuk siapa-siapa mas, lagipula kamu bilang nggak mau sarapan dan minta teh saja." Ameera segera mendekati suaminya lalu menggeser secangkir teh di atas meja teras ke hadapan pria itu.
"Terus siapa yang menyiapkan sarapannya Rafa ?" tanya Awan kemudian.
"Oh jadi karena itu, mas tiba-tiba cemburu. Itu sebenarnya sarapannya papa yang di siapkan oleh Mama tapi tidak di makan oleh papa." terang Ameera.
"Jadi aku yang salah ya ?" Awan nampak tersenyum kecil menatap istrinya itu.
"Hm, tentu saja." cebik Ameera.
"Baiklah, untuk menebus kesalahanku kamu ingin apa katakan saja !!" perintah Awan kemudian.
"Apapun itu ?" Ameera ingin memastikan.
"Hm, apapun itu." tegas Awan.
"Aku ingin kamu juga ikut menjalani pemeriksaan di dokter kandungan, mas." mohon Ameera mengingat suaminya itu sangat susah jika ia ajak untuk ikut periksa.
Akhir-akhir ini Ameera mulai cemas, pernikahannya sudah hampir satu tahun tapi dirinya pun belum kunjung hamil.