Ameera

Ameera
Malam pertama setelah menikah



šŸ’„Tujuan pernikahan bukanlah untuk berpikiran sama, melainkan untuk berpikir bersamašŸ’„


"Tunggu !!" nyonya Amanda langsung menghentikan Awan dan Ameera saat mereka hendak meninggalkan pelaminan.


"Apalagi sih, ma ?" Awan terlihat kesal pada sang ibu.


"Mama cuma mau ingetin, kamu sedang sakit harus banyak istirahat." nyonya Amanda mengingatkan seraya melirik ke arah menantunya, seakan dalam ucapannya tersirat sebuah pesan.


"Iya ma, aku tahu." sahut Awan.


"Jangan begadang dan langsung tidur !!" perintah nyonya Amanda lagi.


"Iya ma, Iya. Mama juga cepat tidur ya !!" ucap Awan, setelah itu ia berpamitan pergi.


Pengantin baru itu nampak berjalan beriringan menuju kamarnya. "Sus, ngapain di sini ?" tegur Awan saat perawatnya mengikutinya hingga ke depan kamar.


"Ibu anda menyuruh saya untuk memastikan kalau anda benar-benar tidur." sahut perawat tersebut hingga membuat Awan mendesah kasar.


"Apa suster lupa ini malam pertama saya ?" ucapnya to the point.


"Saya mengerti, pak. Tapi anda belum boleh melakukan itu, luka bekas operasi di punggung bapak belum sepenuhnya sembuh." Perawat itu mengingatkan.


"Saya tahu." sinis Awan, lalu segera menutup pintu kamarnya. Namun perawat tersebut langsung menahan pintunya.


"Pak...."


"Saya mau tidur bersama istri saya, apa suster mau ikut juga ?" Awan nampak tersenyum mengejek hingga membuat perawat itu membuang wajahnya yang tiba-tiba memerah.


"Mengganggu saja." gerutu Awan kemudian ia segera menutup pintu kamar Ameera dengan sedikit keras.


Perawat itu langsung menghela napasnya, menghadapi pasien yang keras kepala seperti Awan dan bu Amanda yang semaunya sendiri memang harus banyak bersabar


"Sayang, kenapa kita nggak sewa hotel saja ?" keluh Awan sembari melepaskan pakaiannya, lalu ia berjalan ke arah sang istri yang sedang duduk di depan meja riasnya.


"Hotel jauh mas, lagi pula kamarku cukup nyaman kok buat kita beristirahat." sahut Ameera yang nampak sedang berusaha melepaskan sanggul beserta hiasannya.


"Iya nyaman, tapi nggak nyaman buat itu." tukas Awan yang langsung membuat Ameera menoleh menatapnya.


"Itu apa ?" tanyanya tak mengerti.


"Itu." Awan menautkan kedua telunjuknya dan tentu saja itu membuat Ameera melotot padanya.


"Mesum." cebiknya, kemudian ia kembali menghadap kaca lalu berusaha melepaskan sanggulnya.


"Sini ku bantu." Awan langsung mendekat.


"Memang mas bisa ?" Ameera menatap suaminya itu dari pantulan cermin depannya.


"Hm." Awan mulai melepaskan satu persatu ornamen bunga berwarna emas yang ada di atas kepala sang istri.


Namun sebelum benar-benar melepaskan sanggulnya ia nampak menurunkan bibirnya ke tengkuk wanita itu, lalu mendaratkan kecupannya di sana hingga membuat Ameera langsung tersentak.


"Mas." protesnya dengan suara tercekat saat suaminya memberikan beberapa kecupan lagi dan sesekali menyesap kulit lehernya hingga membuatnya meremang.


Ameera yang mengenakan pakaian pernikahan khas adat Jawa dengan model kemben terlihat seksi di mata Awan, kulit punggungnya yang kuning langsat nampak menggodanya untuk segera menyentuhnya.


"Hm, kenapa sayang ?" Awan menyentuh dagu istrinya lalu membawanya menghadap ke arahnya hingga kini mereka nampak saling bertatapan.


"Sanggulnya." Ameera mengingatkan, namun bukannya menjawab Awan justru mendekatkan wajahnya lalu mulai m3lum4t bibirnya dengan lembut.


Tapi tiba-tiba Awan langsung melepaskan panggutannya saat merasakan nyeri di punggungnya.


Sepertinya luka bekas operasi di tulang belakangnya yang belum sepenuhnya sembuh terasa sakit saat ia buat membungkuk.


"Mas, kamu baik-baik saja ?" Ameera langsung khawatir.


"Hm." Awan mengangguk.


"Ayo ku bantu melepaskan sanggulmu !!" imbuhnya lagi.


"Mas, kamu istirahat saja aku bisa sendiri." tolak Ameera.


"Nggak apa-apa, biar cepat selesai." Awan mulai melepaskan sanggul di kepala istrinya itu hingga selesai.


"Mas, aku mau ganti baju. Kamu keluar dulu ya !!" pinta Ameera setelah sanggulnya terlepas sempurna.


"Tapi aku malu." Ameera langsung menunduk menyembunyikan wajah kemerahannya dan tentu saja membuat Awan semakin tak sabar untuk melakukan ritual malam pertamanya.


Meski bukan malam pertama yang sesungguhnya, tapi baginya ini adalah malam pertama setelah mereka menikah.


Apalagi sudah sangat lama ia tak pernah menyentuh wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu dan sekarang keinginan untuk menyentuhnya semakin besar.


"Kenapa masih malu, hm ?" Awan mengangkat dagu Ameera lagi hingga kini mereka nampak bersitatap.


"Bukannya kita pernah melakukannya sebelumnya bahkan sampai dua kali, apa kamu lupa ?" imbuhnya lagi.


"Itu kamu yang mau." sahut Ameera saat mengingat suaminya itu dulu pernah dua kali memperkosanya.


"Maaf, waktu itu aku hanya tidak ingin kehilangan kamu." Awan nampak merasa bersalah.


"Sudah nggak apa-apa, sudah berlalu juga." Ameera mengulas senyumnya dan itu membuat Awan seakan mendapatkan kode untuk menyentuhnya.


"Ya sudah ayo !!" ucapnya seraya menarik istrinya itu lalu membawanya ke ranjangnya.


Di hempaskannya wanita itu ke atas ranjangnya, namun sebelum ia berhasil mengungkungnya istrinya itu langsung menjauh ke pinggir kasur.


Namun karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, Ameera justru jatuh ke lantai dengan kepala terjedok tembok.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Awan yang terkejut segera turun dari ranjangnya untuk menolong istrinya tersebut dan bersamaan itu tiba-tiba pintu di gedor dari luar.


"Aku baik-baik saja, tolong mas buka pintunya !!" Ameera yang baru bangun di bantu suaminya segera menyuruh pria itu untuk membuka pintu kamarnya.


"Kamu beneran baik-baik saja, sayang ?" Awan nampak merasa bersalah.


"Hm." Ameera mengangguk yakin.


Setelah itu Awan segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya yang sedari tadi di gedor dari luar.


"Apa yang terjadi? kami mendengar Ameera berteriak keras dan seperti ada yang jatuh ?" tanya pak Andre to the point setelah Awan membuka pintu kamarnya.


Nampak beberapa orang yang belum tidur berkumpul di depan pintu kamar tersebut, tak ketinggalan juga pak Djoyo beserta sang istri.


"Kami baik-baik saja kok yah." sahut Awan meyakinkan.


"Tapi tadi ayah mendengar Ameera sepertinya berteriak." pak Andre meyakini pendengarannya dan itu di anggukin oleh yang lainnya.


"Benar, kami juga mendengar seperti ada yang terjatuh." ucap yang lainnya.


Awan nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung harus mencari alasan apa.


"Aku baik-baik saja kok yah." teriak Ameera dari dalam, wanita itu nampak sedang berbaring di atas ranjangnya dengan selimut menutupi tubuhnya.


Pak Andre dan beberapa orang nampak memajukan kepalanya untuk memastikan keadaan Ameera.


Melihat kamar yang berantakan dengan beberapa pakaian berserakan di lantai, membuat mereka merasa malu sendiri.


"Baiklah kalau begitu, lanjutkan istirahatnya." ujar pak Andre lalu mengajak besannya untuk menjauh dari sana.


"Malam pertamanya pelan-pelan saja mas, kami nggak ganggu kok tenang saja." celetuk salah satu tetangga Ameera yang ikut berkumpul tadi.


Awan nampak meringis kecil, sementara Ameera sudah menyembunyikan wajahnya di dalam selimut karena malu.


Setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya kembali, Awan nampak terkejut saat melihat pakaian pernikahan yang Ameera kenakan tadi berserakan di lantai dengan bekas sobekan.


Lalu pandangannya ke arah ranjang di mana sang istri sedang bersembunyi di bawah selimut. "Sayang, kenapa pakaiannya sobek ?" tanyanya kemudian.


"Itu, mas...." sahut Ameera dari dalam selimut.


"Itu apa ?" tanya Awan.


"Itu, ba-bajunya sobek karena aku jatuh tadi." sahut Ameera jujur mengingat saat ia jatuh tadi pakaiannya langsung sobek memanjang.


Kemudian saat Awan berlalu untuk membuka pintu, ia segera membuang pakaiannya lalu bergegas menyembunyikan dirinya yang hampir polos dengan selimut.


Awan yang tak sabar segera menarik selimut yang menutupi tubuh Ameera dan ia langsung menelan salivanya saat melihat keadaan istrinya tersebut.


"Mas nggak marahkan karena aku sudah merobekkan pakaian yang mas belikan ?" Ameera nampak merasa bersalah mengingat pakaian yang ia kenakan tadi adalah pemberian sang suami.


Namun sepertinya wanita itu terlalu fokus dengan kesalahannya tanpa mempedulikan bagaimana sang suami yang kini nampak tak sabar untuk menerkamnya.