
Melihat suaminya duduk bersama Bela membuat Ameera merasa kecewa, kemudian ia berlalu menuju toilet untuk meredakan sesak di dadanya.
Ia merasa ibu mertuanya sengaja mendekatkan Awan dan Bela, karena gadis itu adalah calon menantu pilihannya.
Saat akan membuka pintu toilet, tiba-tiba terdengar seorang pria berdehem yang langsung membuatnya menoleh.
Ia mendadak terkejut saat melihat pria berkepala plontos yang duduk satu meja dengan Bela tadi nampak tersenyum menatapnya.
Merasa tidak kenal dan tidak mau menimbulkan fitnah, Ameera mengabaikannya lalu membuka pintu toilet tersebut.
"Tunggu !!" ucap pria tersebut yang langsung membuat Ameera menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahnya.
"Kamu istrinya Awan kan ?" tanya Pria itu.
"I-iya." Ameera mengangguk kecil, matanya nampak waspada memperhatikan pria asing tak jauh darinya itu.
"Arka." pria itu mengulurkan tangannya, namun Ameera nampak enggan menyambutnya.
Karena tak ada reaksi dari wanita itu, Arka menarik tangannya kembali.
"Saya saudara jauh kak Amanda, ibu mertuamu." ucap Arka lagi saat melihat Ameera tak meresponnya.
"I-iya, Om." ucap Ameera pada akhirnya, ia tidak menyukai pandangan pria itu yang seakan seperti sedang menelanjanginya.
"Om? apa saya setua itu hm ?" Arka menaikkan sebelah alisnya menatap Ameera.
"Ma-maksud saya...." Ameera gugup.
"Jangan takut bukannya kita masih bersaudara ?" sela Arka tak sabar.
Ameera terdiam, ingin sekali ia melangkah menjauh namun kakinya terasa berat. Ia merasa Arka bukan pria baik, dari cara pria itu memandangnya sudah di pastikan Arka pasti laki-laki playboy.
"Semakin kamu diam saya semakin tertarik, pantas Awan tergila-gila padamu." ucap Arka lirih namun sukses membuat Ameera melotot.
"Kamu terlihat menggairahkan." imbuh Arka seraya menatap Ameera dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Ameera menelan salivanya, sudah ia duga pria yang bersama Bela itu bukan pria baik dan sekarang terbukti dari kata-katanya yang tak sopan.
Lagipula pakaian yang ia kenakan lumayan tertutup jauh dari kata seronok, berbeda dengan Bela yang meski suasana di puncak sangat dingin tapi gadis itu berpakaian sangat seksi dan menggoda.
"Sayang, kamu di sini ?" Awan yang baru datang langsung melangkah mendekati sang istri yang berada di depan pintu toilet.
Di lihatnya wanita itu nampak berkeringat dingin dengan wajah memucat.
"Om Arka ngapain di sini ?" tanyanya kemudian pada Arka dengan pandangan menelisik.
"Mau ke toilet kebetulan ketemu istrimu di sini." sahut Arka dengan santai, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi.
"Sayang kamu baik-baik saja ?" tanya Awan setelah Arka pergi menjauh.
"Aku takut, mas." sahut Ameera.
"Apa Om Arka mengganggumu ?" imbuhnya memastikan.
"Hm." angguk Ameera yang langsung membuat Awan memicing.
"Katakan apa yang dia lakukan ?" tanyanya kemudian.
"Dia bilang tertarik padaku dan aku menggairahkan ?" lirih Ameera.
Mendengar jawaban sang istri, Awan nampak mengepalkan tangannya. Sepertinya ia akan membuat perhitungan pada saudara jauhnya itu.
"Sudah tidak apa-apa, kita akan selalu bersama." Awan menenangkan, setelah itu ia mengajak istrinya kembali ke dalam restoran.
Awan menarik kursi untuk Ameera di seberang ibunya dan itu membuat Bela bersungut-sungut, karena harusnya pria itu duduk di sampingnya.
"Mas Awan kok duduk di situ ?" protesnya.
"Saya duduk dekat istri saya." sahut Awan menatap Bela sejenak lalu segera menarik kursi untuk ia duduki.
"Sudah-sudah ayo makan jangan ribut." sela pak Djoyo saat waitress baru selesai menghidangkan makanan yang di pesan.
"Sayang kamu mau makan apa ?" tanya Awan pada istrinya.
"Ayam saus saja mas." sahut Ameera.
Lalu Awan mengambilkan ayam yang di minta sang istri begitu juga dengan Arka yang nampak duduk di hadapan Ameera juga mengambil menu yang sama dengan wanita itu.
Ameera yang merasa di perhatikan oleh Arka nampak tak nyaman.
"Daging." Ameera menunjuk daging lada hitam.
Awan langsung mengambilnya yang juga di ikuti oleh Arka, entah pria itu sengaja atau memang kebetulan makan menu yang di inginkan oleh Ameera.
"Ada lagi sayang ?" tanya Awan lagi.
"Ikan sama sayurnya, mas." sahut Ameera seraya melirik ke arah Arka yang nampak juga mengambil menu yang di ambil suaminya, sepertinya pria itu sengaja mencari perhatiannya.
"Sayang, kamu beneran mau makan semua ini ?" Awan melihat banyak makanan di atas piring sang istri, padahal tak biasanya wanita itu makan sebanyak itu.
"Bisa mas, kan makannya berdua kamu." sahut Ameera sembari tersenyum manis yang langsung membuat Awan mencubit hidungnya dengan gemas.
Pasangan suami istri itu terlihat sangat mesra seakan lupa jika tengah berkumpul bersama keluarga besarnya.
Ehmmm
Pak Djoyo nampak berdehem saat semua orang urung makan karena sedang memperhatikan kemesraan Ameera dan Awan.
"Ayo makan !!" perintah pak Djoyo yang langsung membuat semuanya segera makan.
"Mas, bikin malu aku saja." lirih Ameera.
"Sengaja." sahut Awan cuek seraya melirik Arka, ingin rasanya ia mencolok mata pria itu karena tak berhenti menatap istrinya.
Tak berapa lama kemudian nampak pria berparas bule dan seorang wanita berwajah oriental datang menghampiri meja mereka.
"Sorry terlambat." ucap pria tersebut yang langsung membuat semua orang menoleh.
"Om, tante." Awan langsung berdiri saat adik dari ibunya itu datang bersama istrinya.
"Hai Wan sehat? sorry om dan tante tidak datang waktu kamu menikah." ucap sang paman yang masih terlihat sangat muda itu.
"Nggak apa-apa, Om di Ausy kan juga sibuk." sahut Awan memaklumi karena pamannya tinggal dan bekerja di negeri kanguru tersebut.
"Istrimu ?" tanya Erick sang paman saat melihat Ameera.
"Iya, Om." sahut Awan lalu memperkenalkan sang istri pada Om dan tantenya tersebut.
"Pintar kamu cari istri." puji Erick.
"Bukan Awan kalau tidak pintar, Om." Awan membanggakan dirinya sendiri, namun itu justru membuat sang ibu bermuka masam.
"Ini khusus kami bawakan dari Ausy buat hadiah pernikahan kalian." Erick nampak memberikan sebuah paper bag besar pada Ameera.
"Terima kasih, Om." ucap Ameera, entah hadiah apa yang di berikan namun itu sukses membuat keluarga besar suaminya menatap penasaran, terutama sang ibu mertua.
"Sudah-sudah, ayo makan." perintah nyonya Amanda, sepertinya wanita itu kurang suka jika sang menantu menjadi perhatian.
Beberapa saat kemudian setelah selesai menyantap makan malamnya, mereka bersiap meninggalkan restoran tersebut.
"Aku akan mengantarmu sampai kamar, jangan keluar kamar jika tidak bersamaku." lirih Awan pada istrinya itu.
"Iya." sahut Ameera.
"Aku sudah mengeceknya, semua kamar memang penuh." terang Awan dengan nada kecewa.
"Iya nggak apa-apa, mas." sahut Ameera, meski ia juga kecewa.
"Kalian di kamar nomor berapa ?" tanya Erick saat mencuri dengar ucapan Awan pada istrinya.
"Kamar hotel penuh semua Rick, jadi kami tidur beramai-ramai." nyonya Amanda yang menjawab.
"Jadi Awan dan istrinya juga tidur ramai-ramai ?" Erick mengerutkan dahinya menatap kakaknya tersebut.
"Tentu saja, ini akhir pekan jadi banyak yang liburan." sahut nyonya Amanda sedikit sewot.
Kemudian Erick mengambil card di saku celananya, lalu memberikan kunci kamar hotel tersebut pada Ameera.
"Ambillah ini sebagai hadiah pernikahan buat kalian, saya sudah membookingnya sejak lama." ucap Erick menatap Ameera dan Awan bergantian.
"Tapi Rick...." nyonya Amanda nampak protes namun adiknya itu langsung memotong perkataannya.
"Jangan ada yang mengganggu Ameera dan Awan." tegas Erick menatap keluarga besarnya satu persatu.