Ameera

Ameera
Hari pernikahan ?



šŸ’„Pernikahan itu bukan hanya saja menyatukan dua insan, melainkan dua keluarga. Jadi bersikaplah bijak jika ada sebuah perbedaan pendapat di antara merekašŸ’„


"Aku, tetap ingin melanjutkan pernikahan ini yah. Aku yakin Mama Amanda pasti bisa berubah." ucap Ameera menanggapi ucapan sang ayah pagi itu.


"Bagaimana kalau tidak ?" sela pak Andre, mengingat watak seseorang adalah bawaan dari lahir.


"Selama ini mas Awan selalu melindungiku yah dan aku yakin dia juga akan melindungiku dari keluarganya." Ameera meyakinkan.


"Tapi Awan sedang sakit nak, ayah takut kamu nanti...." pak Andre menggantung ucapannya saat Ameera memotong perkataannya.


"Yah, aku sudah memikirkan semuanya. Ayah jangan khawatir ya, mas Awan pasti akan segera sembuh." potong Ameera.


Pak Andre nampak menghela napasnya. "Baiklah jika itu yang kamu inginkan, ayah bisa bilang apa." ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu sang putri.


"Yah...." Ameera berkaca-kaca.


"Meski kamu sudah menikah, Ayah akan selalu ada buat kamu." imbuhnya meyakinkan yang langsung membuat Ameera terisak.


"Terima kasih, yah." Ameera langsung memeluk Ayahnya tersebut.


Beberapa hari kemudian....


Hari pernikahan yang di tunggu-tunggu telah tiba, pagi itu Ameera terlihat cantik dengan memakai kebaya pengantin berwarna putih.


Rambutnya yang di sanggul dan di padu dengan make up tipis alami membuatnya terlihat sangat menawan.


"Nak, masih ada waktu jika kamu berubah pikiran." ucap pak Andre setelah masuk ke dalam kamar anak gadisnya yang sebentar lagi akan menikah itu.


"Benar, Nak. Bunda tidak masalah jika harus menanggung rugi karena acara pernikahanmu batal, tolong jangan pikirkan kami tapi pikirkan kebahagiaanmu karena menikah itu sekali seumur hidup." timpal sang ibu menasihati.


"Benar kak, mas Awan terlihat sakit parah. Masa dari waktu itu sampai sekarang belum sembuh juga, perawatnya saja sampai ngikutin dia kemana-mana." celetuk sang adik.


"Apa mas Awan sudah datang ?" tanya Ameera kemudian.


"Hm." Adiknya Ameera mengangguk.


"Pikirkan sekali lagi mbak, apa dengan keadaan Mas Awan seperti itu akan bisa memberikan mbak nafkah nantinya." imbuhnya lagi dengan nada memohon.


Ameera menghela napasnya, kemudian ia mengulas senyumnya. "Sudah mbak pikirkan semuanya, jadi kamu tenang saja. Ayah dan bunda juga jangan banyak pikiran, percayalah aku akan baik-baik saja." ucapnya meyakinkan.


"Tentu saja kami akan selalu mendoakan mu." sahut sang ibu.


"Terima kasih, tolong restui kami." mohon Ameera menatap kedua orangtuanya itu.


"Kami merestuimu." sahut pak Andre yang langsung di angguki oleh sang istri, meski masih ragu tapi ia akan selalu berdoa untuk kebahagiaan putrinya.


Beberapa saat kemudian prosesi ijab kabul di mulai. Dengan di saksikan kedua orang tuanya, Awan mulai megikrarkan ijab kabul dengan menjabat tangan pak Andre sebagai wali Ameera.


Dengan sekali tarikan nafas, pria itu berhasil mengucapkan kalimat ijab kabul yang berarti mulai detik ini Ameera akan beralih menjadi tanggung jawabnya dunia maupun akhirat.


Doa yang di ucapkan para saksi dan tamu undangan menandakan prosesi ijab kabul telah usai dan kini waktunya Ameera di bawa oleh sang ibu dan saudaranya kepada suaminya.


Gadis itu terlihat mengulas senyumnya saat menatap Awan yang kini telah menjadi suaminya.


Kemudian ia langsung mencium tangan pria itu dengan takdzim lalu di balas oleh Awan dengan kecupan di dahinya.


"Kecup bibir juga bolehkan ?" goda Awan yang langsung membuat Ameera melotot padanya.


"Jangan macam-macam, mas." sungutnya dengan lirih karena perhatian semua tamu kini ke arah mereka.


Awan nampak tersenyum nakal, kemudian ia melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dengan erat saat seorang fotografer mengarahkan mereka untuk di ambil gambarnya.


"Mas jangan lihatin aku seperti itu !!" tegur Ameera saat pandangan Awan tak berpaling darinya, sungguh ia merasa malu karena menjadi pusat perhatian para tamu.


"Kenapa memangnya? aku lihatin istriku sendiri bukan istri orang lain." sahut Awan dengan cuek.


"Orang lain saat menikah akan terlihat malu-malu mas. Bukan seperti kamu yang seperti mau menerkamku saja." gerutu Ameera.


"Aku memang mau menerkammu." sahut Awan hingga membuat Ameera langsung membuang muka karena malu.


"Kenapa pipimu tiba-tiba memerah sayang, apa kamu sedang membayangkan malam pertama kita ?" goda Awan lagi.


"Mas !!" teriak Ameera hingga membuat beberapa tamu undangan yang sedang menyantap makanan langsung menatap ke arahnya.


Ameera nampak serba salah, ia langsung tersenyum nyengir pada mereka semua.


Sedangkan Awan nampak terkekeh saat melihat istrinya itu mencebikkan bibirnya.


"Tersenyum dong sayang !!" bujuk Awan seraya mengusap-usap pinggang Ameera hingga membuat istrinya itu kegelian.


"Mas, geli." Ameera langsung menjauhkan tangan Awan dari pinggangnya.


Astaga, kapan suaminya itu berhenti menjahilinya. Sepanjang acara pria itu sepertinya tak henti menggodanya.


"Teriakan manjamu membuat adik kecilku bangun, sayang." Awan mengadu dengan wajah mesumnya.


Ameera yang mengerti maksud suaminya itu langsung membuang 8mukanya dan pura-pura tak mendengar apapun.


Menghadapi suami yang kemesumannya tingkat tinggi membuatnya harus banyak-banyak mencari cara untuk menghindar.


Karena Awan adalah tipe suami yang tak ada malunya jika menyangkut tentang dirinya.


Hingga malam hari Ameera dan Awan nampak sibuk menyambut tamu yang datang.


Teman-teman Ameera seakan tidak ada habisnya dan itu membuat Awan nampak kesal.


"Sayang, apa kamu mengundang tamu sekabupaten? kenapa dari tadi siang nggak selesai-selesai ?" gerutu Awan yang terlihat mulai kelelahan.


Beberapa kali perawat yang merawatnya menyuruhnya untuk beristirahat saja agar luka bekas operasinya cepat sembuh, namun pria itu selalu menolak dengan alasan baik-baik saja.


"Namanya juga di kampung mas, pasti banyak yang datang. Kalau kamu capek istirahat saja, biar aku yang temui mereka." sahut Ameera seraya mengulas senyumnya menyambut beberapa tamu yang berjabat tangan dengannya.


"Enak saja yang ada nanti pengantin prianya akan di ganti oleh pria lain." gerutu Awan saat melihat beberapa pria yang nampak menatap kagum pada Ameera.


Ingin sekali ia mencolok mata mereka satu persatu, namun ia tidak mau membuat pesta pernikahannya menjadi pesta berdarah karena perbuatannya.


"Mana bisa seperti itu mas, wanita itu tidak boleh mempunyai dua suami. Mereka boleh menikah lagi pun harus menunggu bercerai dengan suaminya dulu lalu menunggu masa idah selama 4 bulan baru boleh menikah lagi." tukas Ameera menjelaskan.


Awan bukannya tidak tahu tentang hukum dan syarat pernikahan, hanya saja kadang rasa cemburunya menutupi logikanya.


"Sayang, teman-temanmu kapan pulang? apa mereka tidak tahu setelah menikah itu ada malam pertama." bisik Awan kemudian yang langsung membuat Ameera melotot menatapnya.


"Maskan lagi sakit." balas Ameera tak kalah lirih.


"yang sakitkan badan mas, tapi adik kecil mas berdiri terus dari tadi." sahut Awan dan langsung mendapatkan cubitan dari Ameera.


"Nak, kamu baik-baik saja ?" nyonya Amanda yang berdiri tak jauh dari Awan nampak khawatir saat mendengar sang putra berteriak kesakitan.


"Nggak apa-apa, ma. Sepertinya kakiku di gigit semut." sahut Awan beralasan.


"Ya maklumi saja namanya juga di kampung ya banyak semut, nanti setelah ini mama akan adakan resepsi di hotel bintang lima." tukas nyonya Amanda dengan nada angkuhnya yang membuat Ameera hanya bisa menghela napasnya.


Mendapati istrinya nampak muram, Awan langsung menggenggam tangan istrinya itu.


"Maafkan aku, jangan di ambil hati perkataan mama." bisiknya tepat di telinga sang istri.


Ameera langsung mengulas senyumnya. "Hm." angguknya.


"Senyumnya membuatku ingin segera memakanmu, sayang." goda Awan yang langsung membuat Ameera menyurutkan senyumnya.


"Mas bisa nggak keromantisan kita jangan di nodai dengan kemesumanmu." gerutunya kemudian.


"Nggak bisa sayang, itu sudah satu paket." sahut Awan lagi-lagi dengan wajah mesumnya dan itu membuat Ameera ingin sekali mencuci otak mesum suaminya itu.


"Sudah kalian istirahat saja." ucap pak Andre kemudian saat tamu mulai sepi malam itu.


Awan nampak bersorak dalam hati sedangkan Ameera terlihat gelisah.


"Tamunya masih banyak yah." ucapnya pada sang ayah, berharap ia semalaman akan menyambut tamu dan melewatkan malam pertamanya.


"Nggak apa-apa tinggal tamunya ayah, mereka bisa sampai pagi baru pulang. Kalian istirahat saja, pasti capekkan !!" tegas pak Andre.


Awan semakin mengulas senyumnya. "Terima kasih, yah." ucapnya penuh syukur.


"Ayah saja mendukung kita untuk segera memberikannya cucu." imbuhnya lagi seraya berbisik di telinga istrinya itu.


Ameera yang mendengar itu nampak menggigit bibir bawahnya, jantungnya pun terasa berdegup kencang. Walaupun ini bukan malam pertama baginya tapi tetap saja ada perasaan takut bercampur malu.


"Tunggu !!" panggil nyonya Amanda saat Awan dan Ameera hendak meninggalkan pelaminan.