Ameera

Ameera
part~110



Nyonya Amanda yang diam-diam mengikuti suaminya berangkat ke kantornya nampak kecewa karena pria itu tak mampir ke restoran wanita selingkuhannya tersebut.


Padahal ia sudah menghubungi teman-temannya untuk menggerebek mereka karena suaminya itu pasti akan malu jika hubungan perselingkuhannya di ketahui oleh banyak orang.


Mengingat keluarga Djoyo adalah salah satu keluarga yang sangat terhormat di kotanya tersebut, keluarga besarnya sangat menjunjung nama baiknya dan pria itu pasti akan sangat berhati-hati jika ingin menjalin hubungan dengan wanita lain.


Apalagi wanita rendahan seperti Selvi yang ia dengar usahanya hampir bangkrut karena sepinya pelanggan yang mengunjungi restoran kecilnya.


Nyonya Amanda yakin wanita itu pasti sengaja menggoda suaminya hanya untuk menumpang hidup mengingat wanita itu seorang janda dengan dua anak yang perlu biaya.


"Sial." gumam nyonya Amanda lalu akhirnya wanita itu memutuskan untuk berkumpul dengan teman-temannya saja.


Setelah ia pura-pura menerima hubungan suaminya dengan selingkuhannya kehidupan nyonya Amanda sekarang kembali seperti semula.


Wanita itu mulai menerima uang nafkah dari suaminya lagi dan uang bulanan untuk keperluan rumah tangga pun sekarang dia yang menghandel semuanya.


Namun itu semua tak membuat wanita itu merasa bahagia sebelum memisahkan sang suami dengan selingkuhannya.


"Ma, belum tidur ?" Ameera nampak melihat ibu mertuanya sedang mondar mandir di depan pintu rumahnya padahal malam mulai larut.


"Kalau saya tidur, saya tidak berada di sini." ketus nyonya Amanda.


"Iya ma Meera tahu, tapi ini sudah malam Ma lebih baik mama segera istirahat." timpal Ameera lagi.


"Ck, jangan sok ngatur saya. Kamu urusin saja rumah tanggamu bagaimana agar bisa cepat memberikan saya cucu." sahut nyonya Amanda yang terlihat sesekali menatap ke jendela rumahnya, sepertinya wanita itu sedang mengkhawatirkan sang suami karena hampir pukul 11 malam namun pria itu tak kunjung pulang.


"Iya ma, kalau begitu Meera ke atas dulu." Ameera menatap ibu mertuanya itu sejenak kemudian ia berlalu dari sana.


Wanita itu nampak menghela napasnya berkali-kali saat ibu mertuanya itu mengungkit perihal anak, dirinya pun juga sangat ingin namun jika Tuhan belum berkehendak dia bisa apa.


"Sayang, dari mana ?" Awan yang sedang memainkan ponselnya nampak menoleh saat istrinya itu baru masuk ke dalam kamarnya.


"Ambil minum, mas." Ameera menunjukkan tumbler yang ia bawa.


"Ya sudah yuk sini tidur." Awan langsung menepuk-nepuk kasur kosong di sisinya.


Ameera meletakkan air minumnya di atas nakas, kemudian ia segera naik ke atas ranjangnya.


"Mas, boleh aku bicara." ucapnya dengan ragu.


"Ada apa ngomong saja ?" Awan langsung meletakkan ponselnya di atas nakas saat melihat wajah serius sang istri.


"Kita pindah yuk mas, kita sewa rumah kecil-kecilan." sahut Ameera yang langsung membuat suaminya itu mengernyit.


"Kenapa? kamu tidak nyaman di sini ?" tanyanya kemudian.


"Nyaman kok mas, tapi aku ingin belajar mandiri saja lagipula hubungan mama dan papa kan sudah mulai membaik." sahut Ameera beralasan.


"Baiklah, nanti kita bicarakan sama mama dan papa dulu ya." Awan langsung menggenggam tangan istrinya itu.


"Hm." Ameera mengangguk kecil, namun sepertinya ia tak yakin kedua mertuanya itu menyetujui rencananya.


Keesokan harinya....


Subuh itu Ameera yang keluar kamarnya untuk membuat sarapan buat sang suami nampak mendengar kedua mertuanya sedang berbincang.


Akhirnya wanita itu mengurungkan niatnya untuk menuruni anak tangga dan lebih memilih menghempaskan bobot tubuhnya di sana, menunggu sambil duduk di anak tangga berharap sang mertua segera kembali masuk ke dalam kamarnya.


Nyonya Amanda yang melihat kedatangan sang suami langsung mengulas senyumnya, meski hatinya masih sangat kesal karena semalam pria itu pulang sangat larut malam.


Dirinya yang sudah mengantuk tak berselera lagi menggoda pria itu di atas ranjang dan lebih memilih tidur dengan memunggunginya.


"Bersih-bersih, pa." sahutnya kemudian.


"Ini masih gelap, ma." timpal pak Djoyo.


Sejak wanita itu ketahuan selingkuh dan hubungan mereka mulai renggang, pria itu melihat istrinya banyak sekali perubahan.


Tadinya wanita itu lebih banyak menghabiskan waktunya hanya untuk nongkrong dan liburan bersama teman-temannya dan sekarang justru sebaliknya menghabiskan waktunya di rumah bahkan tak segan untuk membersihkan rumahnya tersebut.


"Kalau bukan mama siapa lagi, pa? bibik juga lagi sibuk di belakang dan menantumu itu takkan bisa di harapin jangankan mengerjakan pekerjaan rumah kadang urus Awan juga asal-asalan." sambung nyonya Amanda lagi.


"Masa Ameera nggak mau bantu sih ma ?" timpal pak Djoyo.


Sepertinya pria itu mulai berdamai dengan keadaan dan mencoba bersikap baik pada istrinya itu, karena wanita itu juga telah mengizinkannya untuk tetap berhubungan dengan Selvi dan yang membuat pak Djoyo semakin senang, karena istrinya itu sangat pandai tutup mulut hingga hubungannya dengan Selvi tidak sampai terendus oleh keluarga besarnya.


"Ya begitulah pa, Ameera itu sangat manja. Entah apa yang di lihat oleh Awan dari wanita itu, sudah tidak bisa memberikan kita cucu tapi banyak sekali tingkahnya. Asal papa tahu Ameera itu maunya makan di restoran terus dan pakaiannya pun tidak mau di cuci di rumah, semua di bawa ke loundry mentang-mentang putra kita punya banyak uang." keluh nyonya Amanda dengan wajah sedihnya dan itu sontak membuat pak Djoyo nampak geram.


"Keterlaluan Awan harusnya dia bisa menasihati istrinya itu." ucapnya dengan nada kesal.


"Mungkin sudah nasib kita mendapatkan menantu seperti itu." keluh nyonya Amanda dengan wajah pasrah.


Sedangkan Ameera yang sedari tadi duduk di tangga nampak membungkam mulutnya sendiri saat mendengar fitnahan demi fitnahan yang di lontarkan oleh ibu mertuanya itu.


Kemudian wanita itu langsung beranjak dari duduknya lalu berbalik badan untuk kembali ke kamarnya, namun tanpa ia duga ia tiba-tiba menabrak suaminya yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.


"Mas...." Ameera tak bisa lagi menyembunyikan air matanya di depan suaminya itu, entah sejak kapan pria itu berada di sana.


"Maafkan orang tuaku ya." Awan nampak sangat bersalah pada istrinya itu, semua yang di tuduhkan oleh ibunya itu tidaklah benar dan ia harus menjelaskan pada mereka.


"Mas mau kemana ?" Ameera langsung menahan tangan suaminya saat pria itu hendak menuruni anak tangga.


"Diamlah sayang, biar aku yang mengurusnya." tegas Awan namun Ameera langsung menggeleng cepat.


"Mas, aku tidak ingin kamu ribut dengan mereka ku mohon jangan lakukan itu." mohon Ameera dengan wajah memelas dan tentu saja itu membuat Awan nampak tak tega.


Akhirnya pria itu menurut saat istrinya mengajaknya kembali masuk ke dalam kamarnya. "Mama sangat keterlaluan, ini tidak bisa di biarkan sayang aku akan menegurnya biar lain kali tak bicara sembarangan lagi." ucapnya masih dengan wajah geramnya, ia sangat tahu bagaimana istrinya itu selain bekerja wanita itu juga masih menyempatkan membantu pekerjaan rumah sang ibu.


Mereka sering makan di restoran menurutnya itu tak masalah lagipula mereka juga bekerja dan untuk urusan pakaian kotor ia memang yang menyuruhnya untuk membawanya ke loundry mengingat waktunya mereka habiskan di tempat kerja.


Lagipula Awan juga tak ingin merepotkan ARTnya atau pun ibunya tersebut, sebisa mungkin ia dan istrinya takkan menjadi beban mereka di rumah.


"Mas, bagaimana kalau kita sewa rumah saja? mungkin jika kita tinggal terpisah mama akan lebih menghargai kita." saran Ameera, sungguh ia tak ingin membuat suaminya itu durhaka pada orang tuanya hanya karena pria itu ingin membelanya.


"Sewa rumah ?" Awan langsung menatap istrinya itu.


"Hm, tidak apa kecil-kecilan mas dan tak semewah rumah ini yang penting selalu ada kedamaian di dalamnya." mohon Ameera.


"Ya kamu benar, nanti ku coba untuk mencari rumah sewaan ya sayang." sahut Awan menenangkan.


.


Ada yang kangen saya👀 eh Ameera & Awan maksudnya😁 Maaf baru nongol setelah dua bulan, bismillah semoga bisa menuntaskan cerita ini hingga akhir...