
"Ini yang kamu bilang bekerja, Pa ?" sinis nyonya Amanda seraya melangkah mendekat dan....
Plakk
Sebuah tamparan keras ia layangkan pada Selvi hingga membuat pipi wanita cantik itu langsung memerah.
"Ma !!" Pak Djoyo langsung memicing, namun nyonya Amanda mengangkat tangannya agar pria itu diam.
"Selama ini aku berusaha diam bukan berarti memberikan mu izin untuk menikah dengan suamiku, karena aku masih menjaga nama baik keluarga besar kami dan ku harap dengan berjalannya waktu kamu akan mengerti jika perbuatanmu itu salah." ucapnya seraya menatap tajam ke arah Selvi.
"Maafkan aku mbak, mas Djoyo yang tidak pernah mau ku tinggal." timpal Selvi membela diri.
"Ck, seorang tamu tidak akan masuk jika tuan rumah tidak membuka pintunya lebar-lebar. Sebagai wanita kamu benar-benar tak bisa menjaga kehormatanmu." cibir Nyonya Amanda kemudian.
"Ma sudahlah, Papa yang salah." Pak Djoyo berusaha menenangkan istrinya itu.
"Mama memang pernah melakukan kesalahan Pa, tapi bukankah Mama sudah berubah dan berusaha menjadi istri yang lebih baik? rupanya usahaku tak pernah kamu hargai, jadi untuk apalagi aku berusaha mata-matian menjaga nama baikmu." ujar nyonya Amanda seraya merogoh ponselnya dari dalam tasnya.
"Ma, apa yang mau kamu lakukan ?" cegah Pak Djoyo saat istrinya hendak menghubungi seseorang.
"Aku akan menghubungi keluarga besarmu biar mereka semua tahu bagaimana ulahmu selama ini, toh teman-temanku semua juga sudah tahu dan apa salahnya semua orang juga tahu jika seorang Djoyo Kesuma yang seorang bangsawan dan selama ini di hormati di kotanya ternyata tega menyakiti keluarganya dengan menikahi seorang tukang cuci." sahut nyonya Amanda berapi-api.
"Ku mohon jangan lakukan itu Ma, mau di taruh di mana muka Papa nanti." mohon Pak Djoyo dan itu membuat Selvi nampak kecewa, rupanya pria itu tak serius mencintainya karena kehormatannya lebih penting dari pada perasaannya.
"Terserah Papa mau di taruh di mana, di atas piring juga nggak apa-apa biar di kira makanan bekas." timpal Nyonya Amanda dengan kesal.
"Baiklah, Papa tidak akan menikahinya. Tolong maafkan Papa." mohon Pak Djoyo lagi.
"Baguslah jika Papa masih ingat dengan harga diri Papa tapi aku tidak yakin setelah ini Papa tak berulah di belakangku, jadi aku sudah memutuskan pernikahan ini akan tetap berlanjut." ucap Nyonya Amanda yang tentu saja membuat suaminya maupun Selvi nampak saling pandang.
"Maksud Mama ?" tanya pak Djoyo tak mengerti, rasanya mustahil jika istrinya itu memberikannya izin untuk menikahi Selvi.
Nyonya Amanda yang sudah menyusun rencana bersama teman-temannya nampak memanggil seseorang, seorang pria yang usianya lebih tua dari sang suami.
"Pak Imran? ngapain Pak Imran datang ke sini ?" Pak Djoyo nampak salah tingkah, jangan sampai tetangga kompleksnya itu menyebarkan masalah ini ke warga lainnya bisa-bisa citranya akan rusak dalam sekejap.
"Selvi, kamu tidak ingin malukan karena acara pernikahanmu gagal ?" ucap nyonya Amanda seraya menatap calon madunya itu.
Selvi nampak diam menunduk, tentu saja ia malu bahkan jika bisa saat ini juga ia ingin menenggelamkan dirinya di dasar bumi.
"Menikahlah dengan pak Imran, meski usianya lebih tua dari suamiku paling tidak dia tak kalah kaya dan yang lebih penting beliau seorang duda dan bukan suami orang." tukas nyonya Amanda yang langsung membuat semua orang terperanga begitu juga dengan Selvi dan Pak Djoyo.
"Ma, apa-apaan sih kamu ?" protes Pak Djoyo, namun istrinya itu enggan menanggapinya.
"Bagaimana? seharusnya kamu tak menolak jika tidak aku bisa membuatmu sangat menyesal." tegas nyonya Amanda dengan menekankan kata-katanya.
"Aku tidak punya banyak waktu." ucap nyonya Amanda lagi dengan tak sabar.
"Ma." sela Pak Djoyo yang terlihat bingung harus berbuat apa.
"Baiklah, aku akan menikah dengan pak Imran." ucap Selvi pada akhirnya seraya melirik ke arah Pak Djoyo yang sama sekali tak punya keberanian membelanya dan ia telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan rumit ini.
"Bagus."
Nyonya Amanda terlihat sangat puas, akhirnya rencananya berhasil juga. Meski ia sakit hati dengan perbuatan suaminya, tapi pernikahan mereka tidaklah sebentar dan ia harus mempertahankannya apapun yang terjadi.
Akhirnya siang itu juga Selvi telah resmi di persunting oleh pak Imran yang mana adalah teman pak Djoyo sendiri dan setelah ini pria itu pasti takkan berani mengganggu wanita itu lagi.
Beberapa bulan setelah kejadian itu pak Djoyo sepertinya sudah mulai menerima keadaan dan belajar melupakan Selvi yang selama ini menjadikan hidupnya lebih berwarna.
"Wan, kapan kamu akan memberikan Papa cucu? menikah sudah lama tapi sama sekali tak ada hasil." gerutu pak Djoyo sore itu saat sang putra mampir ke kediamannya.
Semenjak berpisah dengan Selvi, pak Djoyo merasa sangat kesepian meski sudah ada nyonya Amanda tapi tetap saja sebagian hatinya tetap sepi dan ia membutuhkan seorang cucu sebagai pelipur laranya.
Karena cucu dari anak keduanya tinggal jauh darinya dan tak bisa setiap hari mengunjunginya.
Jalan satu-satunya adalah putra sulungnya itu yang harus memberikannya seorang cucu, mengingat mereka tinggal berdekatan dan setiap hari bisa bertemu.
Selama ini pak Djoyo terlalu sibuk dengan Selvi hingga begitu acuh saat Ameera tak kunjung hamil, tapi setelah ia pikir-pikir di pernikahan mereka yang ke sekian tahun rasanya tak wajar jika mereka belum memiliki anak.
"Sabar, Pa. Kami juga sudah berusaha." timpal Awan setelah menyesap secangkir kopinya.
"Ini sudah hampir 9 tahun kalian menikah Wan, kurang sabar apa Papa." tegur pak Djoyo.
"Apa kalian sudah periksa ke dokter ?" ucapnya lagi.
"Sudah Pa dan Ameera sangat sehat." sahut Awan.
"Pasti ada yang tidak beres atau jangan-jangan dokter salah memeriksanya ?" rupanya pak Djoyo masih belum yakin.
"Masa salah periksa sampai berkali-kali, Pa." timpal Awan, mengingat ia telah membawa istrinya itu ke dokter kandungan beberapa kali dan wanita itu tetap di nyatakan sehat.
"Itu pasti karena karma." ujar Nyonya Amanda yang baru datang lalu menghempaskan bobot tubuhnya di samping suaminya tersebut.
"Karma apa sih Ma? jangan aneh-aneh kalau bicara." timpal pak Djoyo kemudian.
"Karma, karena dari dulu anakmu itu selalu melawan Mama. Dia pikir melawan orang tua itu tidak berdosa, apalagi melawan seorang ibu yang telah melahirkannya dan mengasuhnya dengan penuh kasih sayang." sahut nyonya Amanda yang langsung membuat Awan terdiam.
Benarkah apa yang di katakan oleh ibunya itu, jika sampai sekarang ia belum memiliki seorang anak di karenakan sebuah karma?