Ameera

Ameera
Awan mengetahui sesuatu ?



💥Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tetapi siapa yang bisa berbuat baik dan bukan pura-pura baik💥


"Mir, kamu sama Awan pergi cek pergudangan ya. Kalau ada barang yang habis sekalian kamu order." perintah pak Mario pagi itu.


"Nggak mau kalau sama dia pak, biasanya juga saya sendiri." tolak Ameera sembari menatap Awan dengan jengah.


"Siapa juga mau sama kamu, kepedean." balas Awan tak kalah pedas.


"Sudah-sudah, kalian ini ribut terus. Hati-hati nanti lama-lama jadi cinta loh." tukas pak Mario menengahi.


"Saya nggak bakal suka sama dia, pak. Lagipula saya sudah punya pacar kok." sewot Ameera.


"Jadi beneran gosip yang beredar itu ?" pak Mario menatap penuh tanya pada Ameera.


"Iya." Ameera menganggukkan kepalanya.


"Ck, norak." ejek Awan.


"Apa kamu bilang ?" Ameera langsung melotot menatap Awan.


"Sudah-sudah kalian ini tidak bisa apa akur sebentar." tegur pak Mario kemudian.


"Sekarang cepat pergi dari ruangan saya, pusing saya mendengarnya." imbuhnya sembari memijit pelipisnya.


Ameera dan Awan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan atasannya tersebut.


Beberapa saat kemudianan mereka sudah berada di parkiran, ini pertama kalinya Ameera semobil dengan Awan.


Sebelum masuk ke dalam mobil tersebut, Ameera nampak memperhatikan mobil Awan yang terlihat sangat bersih seperti baru.


"Padahal dia hanya staff biasa sepertiku, tapi bagaimana bisa mempunyai mobil sebagus ini? aku jadi penasaran dengan kamarnya apa juga berbeda dengan kamarku di mess." gumam Ameera, mengingat kamar messnya sangat sederhana hanya berisi kasur busa dan lemari saja.


"Astagfirullahaladzim, aku mikirin apa sih." gumamnya lagi.


"Ngapain di situ? cepat masuk, apa sebelumnya kamu tidak pernah melihat mobil bagus ?" teriak Awan yang langsung membuyarkan lamunan Ameera, gadis itu segera membuka pintu belakang lalu masuk kedalam.


"Dasar orang kaya sombong, kamu pikir aku silau dengan hartamu." gerutu Ameera seraya menghempaskan tubuhnya di kursi, entah Awan mendengarnya atau tidak ia tidak peduli.


"Turun." ucap Awan dengan nada dingin hingga membuat Ameera tersentak, baru juga ia duduk.


"Kamu mengusirku ?" sungut Ameera.


"Saya bukan sopir kamu." tegas Awan sembari menatap Ameera dari kaca spion depannya.


"Siapa juga yang bilang kamu sopir." sewot Ameera.


"Turun, duduk di depan." perintah Awan kemudian.


Ameera langsung mendesah kesal, kemudian ia menghentakkan kakinya lalu pindah ke kursi depan.


"Puas ?" sungutnya setelah duduk di samping Awan.


"Puas apanya, keluar saja belum." celetuk Awan sembari melajukan mobilnya dan itu membuat Ameera langsung membulatkan matanya.


"Dasar otak mesum." umpatnya kemudian dengan kesal.


"Mesum apaan? memang apa yang kamu pikirkan? bukannya kalau buang angin sudah keluar itu rasanya puas." tukas Awan dengan menahan tawanya, rasanya senang sekali bisa menggoda gadis itu.


Ameera yang salah menduga nampak membuang wajahnya ke jalanan sampingnya.


"Sial, apa yang sedang ku pikirkan sih." gerutunya dalam hati.


Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, bahkan saat melakukan pekerjaan pun mereka hanya berbicara seperlunya dan hingga jam makan siang tiba mereka baru kembali ke kantornya.


Beberapa saat kemudian ia tak sengaja melihat Awan masuk ke dalam kantin bersama dengan beberapa wanita.


"Beneran kami di traktir ?" ucap salah satu dari mereka.


"Tentu saja." sahut Awan yang baru mendudukkan dirinya di kursi tak jauh dari meja Ameera.


Tatapan mereka tak sengaja bertemu, namun Ameera langsung membuang mukanya.


Gadis itu nampak buru-buru menghabiskan makanannya, sebelum merasa eneg karena melihat wajah Awan.


"Aku sudah selesai." ucapnya sembari beranjak dari duduknya, kemudian ia segera meninggalkan kantin yang masih terlihat sangat ramai tersebut.


Sedangkan Derry dan Bimo yang melihat kepergian Ameera nampak saling mengedikkan bahu, mereka tak mengerti dengan sikap gadis itu.


"Ck, dasar pelakor." ejek salah satu wanita yang duduk satu meja dengan Awan yang di ketahui bernama Tiara.


"Siapa ?" Awan mengikuti arah mata Tiara yang nampak menatap kepergian Ameera.


"Cewek sok cantik itu, gara-gara dia Fajar memutuskan ku." keluh Tiara dengan wajah sedih bercampur kesal.


Sedangkan teman-temannya yang lain nampak menyemangatinya. "Ameera kan memang kecentilan, semua laki di sini dia godain." gerutu wanita lainnya yang bernama Viona.


"Benarkah ?" Awan nampak menautkan kedua alisnya penasaran.


"Tentu saja, padahal dia satu kota denganku tapi malas aku akrab sama dia. Nanti yang ada aku ikutan rusak." sahut Viona.


"Sebentar, jadi Ameera satu kota dengan kita juga ?" tanya Awan memastikan.


"Kamu nggak tahu? bukannya kalian satu ruangan." tukas Viona.


Awan langsung menggelengkan kepalanya, bagaimana ia bisa tahu tentang Ameera. Setiap bertemu saja mereka bagaikan kucing dan anjing.


"Baguslah kalau nggak tahu, itu lebih baik daripada namamu nanti ikutan rusak." imbuh Viona lagi.


Awan yang mendengar itu nampak menghela napasnya, benarkah begitu buruknya citra Ameera di kantor ini? tapi kenapa hati kecilnya tidak meyakini itu.


Tak mau menebak-nebak Awan langsung beranjak dari duduknya. "Kamu mau kemana ?" cegah Viona saat Awan hendak pergi.


"Aku banyak kerjaan, kalian makan saja aku yang akan bayar nanti." sahut Awan beralasan, kemudian ia berlalu pergi.


Sesampainya di ruangannya Awan melihat Ameera nampak sedang berbicara di telepon.


Terdengar sangat manis pasti sedang berbicara dengan kekasihnya pikir Awan dan itu membuatnya langsung meradang.


Apa dugaannya selama ini salah? entahlah dia merasa bingung harus percaya pada rumor yang beredar atau dengan hati kecilnya sendiri.


Merasa panas mendengar Ameera bermesraan dengan kekasihnya, Awan bergegas pergi meninggalkan ruangannya.


Hingga beranjak sore hari laki-laki itu tak nampak batang hidungnya dan itu membuat Ameera menggerutu kesal karena Awan meninggalkan pekerjaannya padanya.


"Dasar laki-laki nggak tanggung jawab, pasti lagi asyik-asyikkan sama cewek-cewek tadi." gerutunya, mengingat banyak sekali karyawan wanita yang menggilai Awan.


Sementara itu Awan yang berada di Messnya justru sibuk bermain game di kamarnya, ia tadi sengaja meninggalkan pekerjaannya pada Ameera agar gadis itu tidak pacaran terus pikirnya.


Saat ia sedang sibuk bermain game, samar-samar ia mendengar seorang wanita sedang menangis.


Karena penasaran ia segera berlalu membuka pintu kamarnya, lalu mencari sumber suara dan betapa terkejutnya saat ia melihat seorang gadis sedang menangis dalam pelukan seorang pria.


"Bukannya itu Fajar dan Tiara ?" gumamnya mengintip dari balik tembok saat melihat Fajar dan Tiara sedang berpelukan di depan pintu kamar wanita itu.


"*Ck, ini yang kamu bilang pri*a baik-baik ?" gumamnya lagi seraya melihat Fajar masuk ke dalam kamar Tiara.