
Mendengar ucapan sang adik Ameera nampak tersenyum sinis, entah ini berita baik atau buruk baginya tapi ia tahu setiap perbuatan pasti ada balasannya entah itu sebutir pasir sekali pun.
"Mbak, tolong sudahi ini semua. Untuk apa mbak masih memikirkan pria brengsek itu dan ku harap setelah ini mbak tidak berniat untuk kembali pada mas Awan. Aku benar-benar nggak mau mbak di sakiti lagi oleh mereka." tegas sang adik saat kakaknya itu tak menanggapi apapun perkataannya.
Tak berapa lama ponsel Ameera berdering nyaring, saat adiknya hendak mengangkatnya tiba-tiba Ameera langsung merebutnya.
"Siapa yang telepon mbak ?" tanya sang adik tak sabar.
Ameera menunjukkan ponselnya dan di sana tertera nama sang mantan ibu mertua. "Kenapa mbak masih menyimpannya? ya Allah mbak mereka itu orang-orang jahat tidak punya hati tolong sudahi ini semua dan lupakan mereka." omel sang adik dengan kesal, lalu gadis itu langsung merebut ponsel milik sang kakak saat kembali berdering.
"Kita lihat apa yang di inginkan lagi oleh wanita tua itu." sang adik langsung menekan tombol hijau hingga sebuah suara melengking terdengar dari ujung telepon.
"Hei perempuan kurang ajar, berani sekali kamu guna-guna Karen sampai mati. Awas saja kamu ya, aku pasti akan membalasmu. Dasar perempuan....tut."
Adik Ameera langsung mematikan panggilan telepon tersebut saat melihat kakaknya kembali menangis, lalu ia memeriksa ponselnya dan rupanya kakaknya masih sering mengirim pesan pada mantan suaminya itu.
"Cukup kak, aku tidak akan membiarkan kakak seperti ini terus." sang adik langsung memblokir semua nomor yang berhubungan dengan mantan suami kakaknya itu lalu segera menghapusnya.
Mereka benar-benar keluarga toxic, bahkan saat wanita penggoda itu meninggal tetap kakaknya yang di salahkan. Padahal di sini kakaknya sangat menderita hingga beberapa kali hampir mengakhiri hidupnya sendiri.
Beberapa bulan setelah kejadian itu Ameera mulai bisa menerima keadaannya, rupanya ide sang adik untuk menghapus semua kontak yang berhubungan dengan mantan suaminya itu membuat Ameera perlahan mulai bisa move on.
"Dek, bisa antar mbak membeli pakaian ?" mohonnya pagi itu, adik Ameera yang melihat kakaknya keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi membuatnya sangat senang.
"Syukurlah mbak sudah mau keluar kamar, memang ada apa dengan pakaiannya mbak ?" timpal sang adik dengan semangat.
"Aku ingin berhijab dek." sahut Ameera dengan yakin setelah berbulan-bulan ia bergulat dengan pikirannya.
"Masya Allah, baiklah mbak ayo ku antar." sang adik nampak tak percaya dengan perubahan sang kakak, tapi ia juga merasa sangat senang.
Akhirnya pagi itu mereka pergi ke sebuah toko pakaian muslim dan Ameera nampak membeli beberapa stel gamis untuknya bahkan tak tanggung-tanggung wanita itu juga membeli serta niqap penutup wajah.
Ameera ingin benar-benar hijrah di jalan Allah yang mungkin selama ini telah ia tinggalkan, peristiwa dalam hidupnya membuatnya menyadari jika apa yang kita miliki di dunia ini hanya sementara.
Karena jika Allah sudah berkehendak maka apa yang kita miliki akan di ambil dalam sekejap.
Dahulu Ameera berpikir kebahagiaannya bersama sang suami akan kekal hingga akhir hayat, sampai ia melupakan Robbnya dan lebih memilih fokus mengejar duniawi.
Mungkin ini teguran baginya dan sekarang ia bertekad untuk mengejar surgaNya kelak dan memasrahkan hidupnya sepenuhnya pada sang maha kuasa.
Setelah memperbaiki mentalnya, Ameera mulai mencoba menekuni bisnisnya kembali dari awal. Pandemi covid yang melanda saat ini membuatnya harus jatuh bangun membangun usahanya.
Berkali-kali wanita itu gagal namun ia takkan menyerah, ia tidak ingin menjadi beban keluarganya lagi. Ia akan berdiri di kakinya sendiri meski itu pun berat jalannya.
Satu tahun telah berlalu, perlahan Ameera mulai bangkit kini ia sudah mempunyai penghasilan sendiri meski tak banyak. Wanita itu juga sudah bisa membeli mobil meski tidak bagus tapi paling tidak bisa bermanfaat untuk pekerjaannya.
Setelah 3 tahun perceraiannya kini Ameera benar-benar bisa move on, bahkan saat ada kabar perihal mantan suaminya itu Ameera sudah tak pernah merasakan apa-apa lagi.
"Mbak Meera, bagaimana kabarnya ?" tanya seseorang saat mengiriminya sebuah pesan.
Ameera yang melihat nomor tak di kenal itu nampak mengernyit. "Siapa ya ?" balasnya kemudian.
"Ini aku mbak, adik sepupu mas Awan." balas wanita itu lagi.
Ameera nampak mengerutkan dahinya, kemudian ia segera membalasnya.
"Ada apa mbak ?" balasnya kemudian.
"Mbak Ameera bagaimana kabarnya, aku kangen banget sama mbak ?" ucap sepupunya Awan yang dari dulu memang sangat baik dengan Ameera.
"Aku sangat baik, alhamdulillah." balas Ameera.
"Syukurlah, ngomong-ngomong mbak tahu nggak rumah mbak sekarang seperti rumah hantu tahu dan barang-barangnya mbak semua sudah di ambil tante Manda dan tante Manda juga sedang tidak baik-baik saja mbak, mereka sudah tidak punya apa-apa lagi dan mas Awan yang sekarang menjadi tulang punggung mereka." terang wanita itu.
Membaca itu Ameera sedikit terkejut, namun ia sudah memutuskan untuk tidak mencari tahu lebih jauh lagi.
Setelah meletakkan ponselnya, Ameera segera beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekati jendela rumahnya.
Menatap rintik-rintik hujan yang membuat hatinya semakin tenang, Tuhan sungguh tahu bagaimana membuat hambanya untuk selalu mengingatnya.
Meskipun pemerintah sudah memperbolehkan untuk melepas masker, namun Ameera sudah berikeras untuk istiqomah dengan cadarnya.
Setelah membahas masalah bisnisnya dengan relasinya, Ameera segera meninggalkan restoran di mana mereka tadi bertemu dan....
Brukkk
Ameera tiba-tiba menabrak seseorang. "Maaf saya tak sengaja." ucapnya kemudian, karena terlalu fokus dengan ponselnya ia sampai tak melihat jalan dan alhasil ponselnya pun jatuh terlempar.
"Kamu tidak apa-apa ?" ucap seorang pria yang di tabraknya tadi seraya mengulurkan ponselnya yang terjatuh.
Deg !!
"Suara itu ?" Ameera merasa tidak asing dengan suara pria itu dan ia yang tadi hendak memungut ponselnya di lantai bergegas bangun.
"Mas Awan." gumamnya saat melihat mantan suaminya itu sudah berdiri di hadapannya dengan mengulurkan ponselnya, beruntung ia bercadar hingga membuat pria itu mungkin takkan mengenalinya.
"Terima kasih." ucap Ameera setelah menerima ponselnya, lalu ia segera pergi dari hadapan pria itu.
"Tunggu !!" ucap Awan kemudian yang langsung menghentikan langkah Ameera.
"Ka-kamu Ameera kan ?" ucap Awan seraya melangkah ke hadapan wanita yang mirip dengan mantan istrinya itu.
Pandangan mereka nampak bertemu sesaat, sungguh Awan hampir tak mengenali wanita yang dahulu sangat menyukai berpenampilan seksi itu.
Kini wanita di hadapannya itu bagaikan bumi dan langit dengan mantan istrinya dahulu, pakaian tertutup yang di kenakan oleh wanita itu seakan membentangkan jarak di antara mereka.
Menyadarkan Awan jika ia manusia yang di penuhi oleh dosa yang mungkin tak termaafkan.
"Bagaimana kabarnya ?" tanya Ameera dengan memperhatikan pria di hadapannya itu yang kini nampak sangat kurus tak terawat, matanya terlihat cekung dengan rambut yang berantakan.
"A-aku baik, bagaimana kabarmu ?" tanya Awan dengan wajah tegang.
"Aku sangat baik, mas." sahut Ameera dengan mengulas senyum di balik cadarnya.
"Baiklah, sepertinya aku harus segera pulang." imbuh Ameera lagi lalu segera berlalu keluar dari restoran tersebut, namun rupanya Awan tak serta merta membiarkannya pergi begitu saja.
"Tunggu, Meera !!" Awan hampir memegang lengan Ameera, namun wanita itu langsung menatapnya dengan tajam hingga tangannya yang menggantung langsung ia turunkan.
"Maaf, maafkan atas semua kesalahan yang pernah ku perbuat dahulu. Aku memang pria jahat yang tak pantas di ampuni, tapi melihatmu baik-baik saja aku merasa sangat senang." ucap Awan dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Semua sudah berlalu mas dan aku sudah memaafkan semuanya, lihatlah saat ini aku sangat bahagia dengan hidupku." timpal Ameera lagi-lagi dengan mengulas senyumnya.
"Dan ku harap kamu juga berbahagia dan mungkin ini memang jalan yang sudah di gariskan oleh Allah, mari kita berbahagia dengan cara kita masing-masing." imbuh Ameera lagi.
"Baiklah aku harus segera pulang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." ucapnya lagi, lalu segera berpamitan.
"Assalamualaikum."
Setelah itu Ameera segera berlalu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana, sementara Awan nampak menatap mantan istrinya itu hingga mobil yang di kendarai menghilang dari pandangannya.
"Wa'alaikumsalam." sahutnya lirih.
"Aku sangat menyesal, tolong maafkan aku." gumamnya, namun penyesalan tinggallah penyesalan karena kini ia merasa sudah tak pantas untuk kembali mengejar cinta wanita itu lagi.
Sedangkan Ameera yang sedang mengendarai mobilnya, nampak tak berhenti mengulas senyumnya. Ia benar-benar yakin telah menghilangkan perasaan pada mantan suaminya itu dari hatinya.
Tak ada lagi getaran cinta yang ia rasakan seperti dahulu, hanya tinggal rasa kasihan yang mungkin sudah sewajarnya di miliki oleh setiap manusia.
...--------TAMAT--------...
Alhamdulillah akhirnya setelah 11 bulan novel yang di adaptasi dari real story seorang sahabat ini berhasil saya tamatkan, dengan tulus saya ucapkan terima kasih banyak pada para readers yang selama ini masih setia mengikuti cerita ini hingga End.
Mohon maaf jika endingnya tak sesuai dengan keinginan kalian, tapi inilah real story yang tak seindah kisah halu. Sekali lagi terima kasih buat semuanya, semoga ada pembelajaran yang bisa di ambil dalam cerita ini.
Minal Aidin wal fa'idzin, mohon maaf lahir & bathin🙏🙏