Ameera

Ameera
Part~113



"Kita harus bagaimana Pa? pasti Ameera yang sudah mempengaruhi anak kita. Kurang ajar memang, kurang apa kita selama ini. Mama selalu manjaain dia seperti anak mama sendiri." Nyonya Amanda nampak geram saat mendapatkan fakta jika anak dan menantunya telah kabur dari rumahnya.


"Sudah Ma, tenang dulu. Papa yakin mereka akan segera kembali. Awan mana betah berlama-lama di kampung, anak itu dari lahir gaya hidupnya sudah kota jadi mana mungkin betah di sana." pak Djoyo mencoba menenangkan sang istri, lalu membawanya ke dalam pelukannya. Hal yang akhir-akhir ini tak pernah pria itu lakukan sejak dirinya menjalin hubungan dengan Selvi.


Ngomong-ngomong soal Selvi apa kabar wanita itu sekarang? sejak Awan meninggalkan rumahnya pak Djoyo sama sekali belum bertemu dengannya, karena istrinya selalu bersikap manja dan tidak ingin di tinggal sendirian di rumahnya.


Bagaimana pun juga sudah puluhan tahun ia tinggal bersama wanita itu dan di balik kekurangannya masih banyak kelebihan-kelebihannya yang di milikinya dan itu membuatnya sulit untuk meninggalkannya meski kini hatinya telah bercabang.


"Mama benar-benar kecewa, pa." Nyonya Amanda semakin terisak, sepertinya ia akan memanfaatkan momen ini untuk kembali menarik pria itu ke dalam pelukannya.


"Sudah-sudah mama tenang dulu, lebih baik mama istirahat sekarang." pak Djoyo langsung membawa istrinya itu masuk ke dalam kamarnya.


"Papa temani ya ?" mohonnya setelah wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, tangannya nampak menahan lengan suaminya yang hendak beranjak pergi.


Pandangan mereka bertemu dan entah siapa yang memulai karena kini bibir mereka sudah saling memanggut.


Nyonya Amanda yang sudah lama sekali tak di sentuh nampak semakin liar m3lum4t bibir sang suami hingga kini keduanya terlihat saling menanggalkan pakaiannya satu sama lainnya.


Kemudian kembali menyatukan bibir mereka dengan pak Djoyo berada di atas tubuh istrinya itu, namun saat Nyonya Amanda sudah siap untuk bermain lebih jauh suaminya itu nampak mendesah kasar.


"Kenapa, Pa ?" Nyonya Amanda langsung mengernyit saat suaminya hendak menjauh, padahal wanita itu sudah sangat berhasrat terlihat dari wajahnya yang memerah.


"Tidak mau bangun, Ma." pak Djoyo memperhatikan miliknya yang nampak layu padahal pemanasan mereka tadi sangatlah hebat.


"Kok bisa Pa ?" Nyonya Amanda segera beranjak lalu memperhatikan milik suaminya itu, tangannya terulur untuk mengusapnya dengan lembut namun tetap tak mau bereaksi.


"Sejak kapan ?" nampak guratan kecewa di wajah wanita 45 tahun itu, meski usianya mendekati kepala 5 namun tubuhnya tetap ramping dan terawat. Staminanya pun masih energik berkat senam yang ia jalani setiap hari.


"Entahlah ma, sepertinya sudah lama." dusta pak Djoyo, ia tidak mungkin mengatakan jika sering main dengan Selvi dan entah kenapa jika bersama dengan wanita itu miliknya selalu bangun meski hanya dengan melihat wajahnya saja.


"Ya udah nggak apa-apa, mungkin Papa kecapekan saja lagipula kita juga lama tidak main dan sepertinya kita harus sering-sering mencobanya. Siapa tahu dengan begitu Papa bisa berminat kembali." Nyonya Amanda mencoba untuk legowo, ia yakin jika suaminya tak bisa bermain dengannya pasti dengan Selvi juga tidak bisa dan saat ini tugasnya hanya membuat pria itu nyaman di sisihnya hingga melupakan wanita murahan itu.


Akhirnya malam itu mereka memutuskan untuk segera beristirahat tanpa melakukan apa-apa dan pak Djoyo yang belum bisa terlelap nampak memikirkan keanehan pada pusakanya dan terbesit perasaan bersalah terhadap istrinya itu.


...----------------...


Jam berganti hari dan hari pun berganti bulan, tak terasa sudah dua bulan Awan dan Ameera tinggal di rumah orang tuanya.


Awan yang merasakan kehangatan keluarga Ameera sampai tidak rela jika harus meninggalkan mereka untuk menyewa rumah sendiri.


Pria itu begitu di istimewakan di keluarga istrinya itu padahal di sana ia hanya orang lain yang kebetulan menikah dengan putrinya, namun ia justru di perlakuan bak anak kandungnya sendiri.


"Nak, kapan kamu pulang ?"


Sore itu Awan yang baru keluar dari kantor bersama istrinya nampak mendapatkan panggilan telepon dari sang ibu.


"Nanti kalau ada waktu kami akan mengunjungi mama dan papa." sahut Awan yang sambil duduk di jok motornya.


"Bukan mengunjungi Nak tapi pulang untuk selamanya." tegas nyonya Amanda dari ujung telepon.


"Ma, tolong mengertilah. Aku sudah berumah tangga, aku bukan anak kecil lagi yang bisa mama atur." terang Awan.


"Pokoknya mama nggak mau tahu, sekarang juga kamu pulang !!"


"Maaf ma aku tidak bisa, di mana istriku berada maka aku akan ikut bersamanya." tegas Awan.


"Maaf ma, sudah mau maghrib aku harus segera pulang." Awan langsung mematikan panggilannya, tak sopan memang tapi hatinya sangat panas mendengar ucapan sang ibu.


"Kenapa mas? mama nyuruh kita pulang ya ?" Ameera yang tak bisa mendengar obrolan suaminya dengan sang ibu mertua nampak penasaran.


"Hm, ayo pulang." Awan mengangguk kecil, kemudian ia mengambil helm lalu memakaikannya pada istrinya itu dan selanjutnya mereka segera meninggalkan kantornya tersebut.


"Pegangan yang kencang sayang." Awan langsung menarik tangan istrinya hingga kini melingkar di perutnya.


"Iya mas, maaf." Ameera yang sedang melamun nampak terkejut lalu ia segera memeluk suaminya dengan erat.


"Kenapa melamun ?" tanya Awan membuka percakapan, perjalanan mereka memakan waktu hampir satu jam dan ia selalu memanfaatkannya dengan mengobrol dengan istrinya itu.


Entah sekedar bercanda atau serius namun ia merasa sesuatu yang berbeda saat itu di lakukan di atas motor, meskipun kini kehidupan mereka sangat sederhana namun Awan merasa sangat bahagia.


Istrinya itu sekarang lebih banyak tertawa dan sangat ceria hingga membuatnya ikut senang.


"Nggak melamun, mas. Hanya lelah saja." sahut Ameera beralasan, meski sejujurnya ia sedang memikirkan ibu mertuanya tersebut.


Saat ini Ameera memang merasa sangat bahagia namun rasanya kebahagiaannya ada yang kurang jika ibu mertuanya belum benar-benar memberikannya restu.


"Yaudah tidur gih, bersandar saja nggak apa-apa nanti kalau sudah sampai aku bangunin." ucap Awan.


"Nggak apa-apa, mas ?" Ameera merasa tidak enak karena suaminya itu juga pasti sangat lelah.


"Hm, nggak apa-apa." sahut Awan dengan lembut.


"Terima kasih." akhirnya Ameera menyandarkan kepalanya di punggung suaminya itu dan mulai mengeratkan pelukannya.


"Besok-besok jangan lupa bawa selendang." seloroh Awan hingga membuat istrinya itu membuka matanya.


"Buat apa ?" tanyanya tak mengerti.


"Buat gendong kamu biar tidak jatuh dari motor." sahut Awan yang langsung mendapatkan cubitan kecil dari istrinya itu.


Awan langsung meringis namun bukannya marah pria itu justru terkekeh, kemudian ia mengusap lembut punggung tangan wanita itu yang berada di atas perutnya namun napasnya langsung berat saat mengingat perkataan ibunya tadi.


Jujur pria itu pun tak merasa lengkap kebahagiaannya karena belum bisa membuat sang ibu bisa tulus menyayangi istrinya itu.


Keesokan harinya....


"Bu Amanda bagaimana kabarnya ?" teriak seseorang hingga membuat nyonya Amanda yang sedang berada di halaman rumahnya langsung menoleh.


"Bu Mansyur ya, kapan balik dari kampung bu ?" Nyonya Amanda langsung mendekat saat tetangga yang tinggal tak jauh dari rumahnya itu menyapanya pagi itu.


"Ya bu, semalam saya baru datang." sahut wanita itu dari luar pagar.


"Oh ya bu, saya tidak menyangka loh ternyata menantunya ibu itu satu kampung dengan saudara saya." sambung bu Mansyur yang langsung membuat nyonya Amanda mengernyit.


"Ameera maksudnya ibu ?" Nyonya Amanda memastikan.


"Benar bu, saya juga tidak menyangka tiba-tiba ketemu di sana. Mbak Ameeranya juga sepertinya bertambah gemuk dan selalu ceria terus, apalagi mas Awan sepertinya sangat betah tinggal di sana. Pokoknya mereka itu auranya semakin kelihatan bu, mbak Ameeranya tambah cantik dan mas Awannya juga tambah ganteng." ucap bu Mansyur yang membuat nyonya Amanda langsung nampak meradang.