Ameera

Ameera
Usaha Awan



*💥*Nasihat itu ibarat bunyi alarm, ada kalanya menyakitkan telinga, namun dengan itulah mata kita terbuka💥


Ehmm


Awan langsung berdehem saat baru datang hingga membuat Ameera dan Rangga yang sedang asyik berbicara langsung menoleh padanya.


"Kamu di sini juga, Ngga ?" ucap Awan pada Rangga seraya mendudukkan dirinya di depan Ameera.


"Aku yang mengajaknya, kata orang tidak boleh berduaan karena yang ketiga adalah setan." sahut Ameera yang langsung membuat Rangga menahan tawanya.


"Kita sekarang bertiga, jadi menurutmu aku setannya ?" Awan langsung melebarkan matanya, kemudian ia melihat piring Ameera dan Rangga sudah kosong.


"Kalian makan duluan ?" geramnya saat melihat makanan di hadapan mereka telah tandas.


"Kamu lama sekali baru datang, karena kita kelaparan ya pesan duluan." sahut Ameera tak berperasaan.


Awan mendesah kesal, namun kemudian ia segera memesan makanan.


Saat menatap Rangga yang kebetulan sedang menatapnya, Awan nampak melototinya dan itu membuat Rangga langsung salah tingkah.


"Sepertinya aku harus kembali ke kantor." tukas Rangga seraya beranjak dari duduknya.


"Kenapa buru-buru sekali, masih 30 menit lagi." cegah Ameera setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku banyak sekali kerjaan." sahut Rangga beralasan.


"Kalau begitu aku pergi dulu." imbuhnya lagi kemudian berlalu pergi.


"Ada apa dengannya? tadi katanya tidak ada pekerjaan." gerutu Ameera melihat kepergian sahabatnya itu.


Sedangkan Awan nampak tersenyum puas, karena bisa mengusir Rangga hanya dengan menggunakan bahasa matanya.


Ia yakin Rangga tidak akan marah akan hal itu, karena akhir-akhir ini mereka memang akrab berkat pak Mario yang memperkenalkannya.


"Kamu tidak makan lagi ?" ucapnya kemudian sembari menatap Ameera.


"Tidak, aku sudah kenyang. Baiklah aku harus kembali ke kantor, kamu cuma pesan itu saja kan? aku akan segera membayarnya." tukas Ameera sembari beranjak dari duduknya, sebisa mungkin ia menghindari berduaan dengan Awan.


Bagaimana pun juga itu tidak pantas, karena dirinya sudah mempunyai kekasih.


"Tunggu !!" cegah Awan sebelum Ameera beranjak pergi.


"Apa ?" sahut Ameera menatap pria di depannya itu.


"Kamu tahu darimana aku hanya memesan ini, makan siangku selalu banyak dan bermacam-macam." sahut Awan yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya.


"Kamu mau merampokku ?" ucapnya tak terima.


"Bukannya kamu sudah janji untuk mentraktirku, jadi duduklah kembali dan bayar setelah aku selesai makan." perintah Awan kemudian.


Ameera nampak mendesah kesal, lalu dengan terpaksa ia mendudukkan dirinya kembali.


"Cepatlah makan, aku masih banyak kerjaan di kantor." perintahnya sembari menatap Awan menghabiskan makanannya.


"Masih 20 menit lagi untuk apa buru-buru, memang kantor membayarmu lebih." sela Awan dengan santai.


Pria itu nampak memesan lagi secangkir kopi dan puding cokelat ukuran jumbo.


"Kamu belum kenyang juga ?" Ameera melotot menatap puding yang baru di bawa oleh seorang waitress.


"Ini puding kesukaanku." sahut Awan seraya menyendok puding lalu segera memasukkannya ke dalam mulutnya.


Ameera yang melihat itu nampak menelan ludahnya, kelihatan enak sekali pikirnya. "Sial." umpatnya saat melihat Awan sangat menikmati puding tersebut, ia merasa tiba-tiba mulutnya sangat berliur.


"Kamu mau ?" tawar Awan saat melihat Ameera menatap pudingnya.


"Boleh ?" sahut Ameera memastikan.


"Tentu saja." Awan langsung menyendok puding tersebut lalu menyuapkannya pada Ameera.


Gadis itu nampak menikmatinya dan tak sadar jika ia sedang berbagi sendok dengan Awan.


Bahkan Awan tak segan ikut makan bareng, hingga puding itu tandas mereka makan bersama.


"Sebentar, sepertinya ada yang salah ?" Ameera nampak berpikir setelah melihat puding itu habis.


"Oh astaga, aku makan menggunakan sendok yang sama dengannya. Bagaimana ini, itu sama saja secara tidak langsung kita sudah berciuman." Ameera langsung memegang bibirnya dengan syok.


"Dasar kerakusan." Ameera merutuki dirinya sendiri, kemudian ia segera beranjak dari duduknya.


"Aku akan segera membayarnya, jam makan siang segera habis." ucapnya, setelah itu ia segera berlalu menuju kasir.


Kemudian setelah Ameera meninggalkan restoran tersebut, ia segera mengambil bungkus rokok di saku celananya lalu mulai menikmati benda putih panjang itu yang sepertinya sudah menjadi candu baginya.


Namun tanpa mereka sadari, sejak tadi Rangga mengawasi mereka dari kejauhan.


"Dasar modus, sudah tahu pacar orang masih saja usaha. Awan-Awan dan kamu juga Mira kenapa tidak peka sih, dasar lelet." Rangga nampak terkekeh melihat tingkah mereka berdua.


Setelah itu ia segera berlalu pergi sebelum Ameera memergokinya kalau sedari tadi ia mengintainya.


Beberapa hari kemudian, sejak saat itu hubungan Ameera dan Awan semakin membaik. Awan layaknya sahabat baik baginya, laki-laki itu selalu membantunya dalam hal apapun.


Namun tidak dengan Awan, ia masih mempunyai misi untuk menjadikan gadis itu sebagai miliknya.


Hanya saja Awan masih belum memiliki bukti mengenai perselingkuhan Fajar dan Tiara.


Sejak kejadian pagi itu, Fajar sama sekali tak mengunjungi Tiara lagi di kamarnya. Padahal Awan setiap hari selalu bangun lebih awal untuk mengintainya.


"Mir ?" sapa Awan pagi itu saat Ameera baru sampai di kantornya.


"Kamu berangkat sama Fajar ?" tanyanya lagi seraya menatap kepergian Fajar.


"Iya." sahut Ameera dengan mengulas senyumnya.


"Aku masuk duluan ya." imbuhnya lagi seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan Awan.


"Kamu mencintai Fajar ?" ucap Awan yang langsung membuat Ameera menghentikan langkahnya.


Ameera tidak tahu ia mencintai Fajar atau tidak, tapi ia mulai merasa sayang dengan pria itu.


"Apa kamu yakin Fajar setia denganmu ?" tanya Awan lagi saat Ameera tak menjawab pertanyaannya tadi.


Ameera langsung berbalik badan lalu menatap Awan. "Aku menyayanginya dan aku yakin dia setia." sahutnya yakin.


"Bagaimana kalau dia selingkuh di belakangmu ?" tanya Awan lagi yang langsung membuat Ameera berang.


"Dia tidak mungkin selingkuh, kamu jangan menuduh sembarangan." sinis Ameera menatap kesal Awan.


"Lebih baik, kamu tidak perlu ikut campur." imbuhnya lagi dengan tegas, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Awan yang nampak kecewa.


Seharian mereka terlihat tidak tegur sapa, bahkan sampai pulang pun Awan mendiamkan Ameera.


"Dia kenapa ?" gumamnya saat melihat Awan melewatinya begitu saja, tidak biasanya laki-laki itu mengabaikannya.


"Mas Awan, aku boleh nebeng gak ?" mohon Viona saat Awan melewatinya.


"Aku sedang ada urusan." tolak Awan.


Mendapatkan tolakan Viona tak menyerah, ia langsung mengejar langkah Awan.


"Ayolah mas, ke mess doang." mohon Viona dengan memegang lengan Awan hingga membuat Awan menghentikan langkah lalu menatap Viona.


Saat ia tak sengaja menoleh ke belakang, ia melihat Ameera sedang berjalan bersama Nita sahabatnya.


"Baiklah, ayo." sahut Awan kemudian yang langsung membuat Viona girang, gadis itu nampak menoleh ke belakang seakan ingin memamerkan jika ia sangat akrab dengan Awan.


"Dasar ganjen." gerutu Nita saat berjalan menuju Messnya.


"Udah biarkan saja kayak nggak tahu Viona saja." sahut Ameera.


Sesampainya di Messnya Ameera segera membersihkan dirinya kemudian ia merebahkan tubuhnya di kasur kecil miliknya.


Ia nampak menghubungi Fajar beberapa kali, namun sepertinya ponselnya sedang tidak aktif.


"Tidak biasanya." gumamnya, kemudian mencoba lagi namun tetap tidak bisa.


Karena lelah akhirnya ia tertidur, hingga tak terasa pagi hampir tiba.


"Iya hallo, mas." ucapnya saat menjawab teleponnya, ia pikir yang menghubunginya adalah Fajar karena ia tidak memeriksanya sebelumnya.


"Cepat bangun, pak Mario minta berkasnya suruh nganter ke kantor." teriak Awan dari ujung telepon hingga membuat Ameera langsung menjauhkan teleponnya lalu ia melihat siapa yang menghubunginya pagi buta begini.


"Sial, aku pikir mas Fajar." gerutunya kemudian.


"Woy dengar tidak, cepat bawa ke kamarku berkasnya." teriak Awan lagi.


"Iya-iya." sahut Ameera lalu menutup teleponnya.


"Astaga, ini masih gelap juga nggak bisa nanti apa." gerutunya sembari mengambil berkas di atas mejanya.


Dengan masih memakai celana kolor dan kaos kebesaran serta matanya yang masih mengantuk, Ameera segera keluar dari kamarnya lalu melangkah menuju kamar Awan.