
š„Hari kemarin sudah berlalu, biarlah masa kelam terkubur dalam-dalam, sesekali boleh menyesali tapi tidak untuk di ratapiš„
"Mas Fajar ?" ucap Ameera dengan melebarkan matanya saat melihat Fajar sudah berdiri di depan kamarnya.
Ameera segera menutup pintu tapi Fajar langsung menahannya. "Aku ingin bicara." ucapnya.
"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan, mas." sahut Ameera dengan ketus.
"Bagaimana kabarmu ?" tanya Fajar kemudian.
"Seperti yang kamu lihat." sahut Ameera tak ramah.
"Meera, aku ingin mengakhiri semuanya. Mulai sekarang kita tidak ada hubungan lagi." tegas Fajar yang langsung membuat Ameera menatapnya.
"Kita putus, kita ambil jalan kita masing-masing. Aku di jalanku, kamu di jalanmu." imbuhnya lagi menegaskan.
Ameera menghela napasnya pelan. "Baiklah." sahutnya menanggapi.
Fajar nampak kecewa karena Ameera menerima keputusannya begitu saja, padahal ia ingin gadis itu memohon padanya.
Laki-laki itu langsung mengepalkan tangannya, kemudian berlalu pergi meninggalkan mantan kekasihnya tersebut.
Keesokan harinya.....
Pagi itu Ameera nampak berjalan menuju kantornya, saat baru sampai lobby Rangga langsung mendekatinya.
"Ada apa lagi ?" tanya Rangga.
Gadis yang biasanya selalu ceria itu kini nampak mendung tak bersemangat, senyum yang biasanya menghiasi bibirnya kini tak terlihat lagi.
"Kami benar-benar berakhir." sahut Ameera kemudian.
"Benarkah? ini berita yang sangat bagus." Rangga nampak antusias, ia langsung tersenyum lebar.
"Dasar teman nggak ada akhlak." sungut Ameera kesal, lalu pandangannya tak sengaja menatap Fajar yang terlihat sedang bergandengan tangan dengan Tiara menuju ke arahnya.
"Sudah jangan di hiraukan." Rangga langsung menarik tangan Ameera lalu membawanya menjauh.
"Terima kasih selalu mendukungku." tukas Ameera sembari berjalan menuju ruangannya.
"Tentu saja, bukannya kita berteman." sahut Rangga, kemudian mereka nampak terkekeh bersama dan bersamaan itu Awan juga berjalan ke arahnya.
"Ini kantor tempat bekerja, bukan untuk pacaran." sinisnya saat menatap Ameera dan Rangga, setelah itu ia segera masuk ke dalam ruangannya yang langsung di ikuti oleh Ameera.
"Kamu belum sarapan, mas ?" sapanya, mungkin saja laki-laki itu sedang menahan lapar hingga menjadi emosi.
"Hm." sahut Awan.
"Mau ku belikan sarapan? mau makan apa ?" tanya Ameera perhatian, gadis itu memang selalu perhatian pada semua teman-temannya.
"Mau makan kamu." sahut Awan yang nampak menatap Ameera sekilas kemudian kembali menatap layar komputernya.
"Mas bilang apa barusan ?" tanya Ameera lagi, ia bukannya tidak mendengar tapi ingin memastikan jika yang ia dengar itu salah.
"Lupakan, cepat kembali bekerja." sahut Awan tak ramah.
"Ada apa dengannya, seperti wanita sedang pms aja." gerutu Ameera tak mengerti, ia melirik lagi Awan yang sedang fokus dengan komputernya.
Tak berapa lama kemudian, Derry atasannya yang menjabat sebagai kepala bagian keuangan itu masuk ke dalam ruangannya.
"Hai Meera, kamu sudah sarapan ?" sapa Derry.
Sejak berhembus Ameera sudah putus dengan Fajar, beberapa pria mulai mendekatinya termasuk Derry.
"Sudah, mas." sahut Ameera.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mentraktirmu." Derry terlihat kecewa.
"Maaf, mas." Ameera merasa tidak enak hati.
"Baiklah nggak apa-apa, mungkin lain kali aja." ucap Derry, setelah itu ia berlalu keluar dari ruangannya tersebut. Namun tanpa ia sadari Awan menatapnya dengan geram.
Kemudian pandangannya beralih ke arah Ameera, saat gadis itu mendesah kesal di depan layar komputernya.
Beberapa waktu lalu pria itu bersikap ketus padanya, lalu sekarang justru tersenyum menatapnya.
"Sepertinya kamu benar-benar mengalami sindrom pms." batin Ameera.
"Eh, ini aku kurang mengerti mas." sahutnya sembari menunjuk layar komputernya.
Awan segera menarik kursinya lalu membawanya mendekat ke meja Ameera, kini mereka nampak duduk bersisihan.
"Seperti ini caranya, coba kamu yang mengerjakan." ucapnya mengajari Ameera dengan sabar.
Ameera yang baru mendapatkan ilmu baru, terlihat antusias. Ia nampak serius menatap layar di depannya tersebut dan tanpa ia sadari Awan sedari tadi memandangnya dari samping.
"Cantik." gumamnya.
Namun ia langsung mendesah kesal saat merasakan miliknya di bawah sana seketika menegang hanya karena menatap wajah Ameera.
"Sial." gumamnya.
"Kenapa, mas ?" tanya Ameera saat mendengar Awan mengumpat pelan.
"Tidak." sahut Awan menatap balik Ameera dan saat ia melihat bibir merah alami gadis itu, miliknya semakin sesak.
Ingin sekali ia merasakan manisnya bibir ranum tersebut yang mungkin sebelumnya pernah di cicipi oleh Fajar.
Mengingat Fajar ia langsung meradang, ingin sekali ia mengubur pria itu hidup-hidup.
"Bagaimana hubunganmu dengan Fajar ?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Kami sudah berakhir." sahut Ameera.
"Benarkah? aku ikut senang." sahut Awan yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya.
"Apa mas bilang ?" tanyanya kemudian.
"Maksudku, kamu harus senang jangan sedih terus." sahut Awan salah tingkah.
"Tentu saja aku happy kok, aku bebas sekarang. Sebelumnya mas Fajar selalu melarangku untuk berteman dengan siapa pun termasuk teman-temanku dulu dan sekarang aku tidak harus sembunyi-sembunyi lagi." sahut Ameera dengan antusias namun itu justru membuat Awan semakin meradang.
Tidak, kali ini ia tidak boleh kecolongan lagi. Apalagi teman-temannya Ameera sebagian besar berjenis kelamin pria.
Ameera harus menjadi miliknya dan tak ada yang boleh mendekatinya lagi.
Beberapa hari kemudian Ameera sudah bisa melupakan sakit hatinya terhadap Fajar, ia beruntung cintanya tak begitu dalam hingga tidak membuatnya berlarut-larut dalam kesedihan.
Kini ia bebas berteman dengan teman-temannya dahulu yang mungkin kebanyakan laki-laki di kantornya.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pacaran lagi dan sepertinya ia akan menurut pada orang tuanya jika memang mereka ingin menjodohkannya dengan pria pilihannya.
.........
Siang itu Ameera makan siang bersama Nita, Rangga, Derry dan juga Bimo di kantin. Ia nampak tertawa lepas saat teman-temannya itu membuat celetukan yang terdengar lucu di telinganya.
Namun tidak dengan Awan yang sedari tadi duduk di ujung kantin seorang diri, pria itu nampak mengawasi Ameera dari kejauhan.
Sesekali ia menatap sinis saat Derry dan Bimo mencoba mencari perhatian Ameera.
Sejak kedatangannya di kantor tersebut, Awan memang tidak mempunyai teman dekat dan baginya ia tidak memerlukan seorang teman.
Semua hanya rekan kerja tapi bukan teman dalam artian yang sebenarnya, karena baginya semua pria yang mendekati Ameera adalah rivalnya.
Sepertinya Ameera tak melihat keberadaan Awan di sana, karena gadis itu justru asyik mengobrol dengan Rangga saat berlalu keluar dari kantin tersebut.
Sedangkan Awan nampak mengepalkan tangannya, kemudian ia menyusul Ameera yang sedang berjalan menuju wastafel yang ada di belakang ruangan kerjanya.
Gadis itu mencuci tangannya seorang diri, namun saat berbalik badan ia langsung terkejut saat melihat Awan sudah berdiri di depannya.
"Mas Awan ?" ucapnya terkejut.
"Mas Awan mau mencuci tangan juga ?" tanyanya lagi sembari menggeser tubuhnya, namun bukannya menjawab tapi Awan justru berjalan mendekat.
"Mas, ka-kamu mau ngapain ?" Ameera langsung pucat saat Awan tiba-tiba mendorong tubuhnya lalu memepetnya di dinding belakangnya.